KANALSATU - Kementrian Pertanian (Kementan) akan mengubah fungsi Perum Badan Urusan Logistik (Bulog), sebagai stabilisator (penyeimbang) harga komoditas beras dan bukan menjadi lembaga yang mencari pendapatan. Wacana tersebut terkait dengan kondisi harga jual gabah dan beras petani yang tidak sebanding dengan harga jual di tingkat pedagang.
"Kami sudah melakukan rapat terbatas dengan Pak Presiden, Bulog harus langsung masuk ke petani, hadir di tengah petani. Jadi bukan `profit oriented` lagi," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Rabu (3/6/15).
Menurut Andi, terjadi ketimpangan marjin keuntungan antara petani dan pedagang dalam menjual beras ke pasar. Sehingga diperlukan upaya penanganan yang lebih menguntungkan petani. "Selama ini Bulog membeli beras di penggilingan, bukan di petani. Ini artinya harga pembelian pemerintah (HPP) malah berfungsi menyangga pengusaha, bukan menyangga ekonomi petani," papar Andi.
Ia pun mengajak agar seluruh pihak terkait turut bekerjasama dalam menyelesaikan masalah tersebut, karena Bulog dianggap tidak bisa jika harus bergerak sendiri. Berdasarkan data yang dipaparkan diketahui, keuntungan yang diperoleh petani dari penjualan gabah hanya sekitar 10-20%.
Harga gabah di lapangan sekitar Rp3.500-Rp4.000 per kg. Tetapi jika melihat fakta yang ada, maka ada ketimpangan antara komoditas yang dijual petani dan pedagang atau pengusaha. "Jika harga beras Rp12.000 per kilogram, maka harga gabah Rp5.000 per kilogram. Kalau harga gabah turun jadi Rp3.500, artinya turun 30%. Tapi berdasarkan data BPS, harga beras cuma turun 3%," urai Andi.(win6)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar