Selasa, 04 Oktober 2016
JAKARTA. Demi stabilitas harga, pemerintah memilih membuka keran impor pangan selebar-lebarnya. Hanya, di sisi lain, pemerintah juga semakin selektif dalam memberikan izin impor. Yakni memperketat syarat importir dengan memberi berbagai kewajiban tambahan.
Lihat saja, beberapa kebijakan impor pangan seperti daging sapi (sapi bakalan), gula mentah bagi industri rafinasi, serta jagung. Untuk impor sapi semisal, pemerintah mensyaratkan importir sapi bakalan atau usaha penggemukan sapi (feedloter) untuk menyiapkan sapi indukan dengan komposisi 1:5. Ini artinya, feedloter harus menyediakan minimal 20% sapi indukan dari total sapi bakalan yang diimpor.
Sedangkan impor gula mentah untuk rafinasi, pemerintah mewajibkan pengusaha membuka perkebunan tebu di dalam negeri. Adapun, perusahaan pakan yang akan mengimpor jagung lewat Bulog juga wajib bermitra dengan petani jagung lokal untuk menyerap hasil panen mereka.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, syarat impor ketat merupakan komitmen pengusaha. "Pemerintah hanya menagih janji. Bila tak dipenuhi, (izin impor) tak diberikan," ujarnya. Enggar mengklaim, upaya ini dilakukan untuk menciptakan kedaulatan pangan. Bila impor pangan dibebaskan hanya untuk menekan harga, peternak dan petani lokal akan gulung tikar.
Problemnya, tujuan jangka panjang tersebut terbentur dengan kebutuhan mendesak. Ketua Umum Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman mengatakan, industri pengguna membutuhkan gula mentah untuk kuartal IV-2016.
Kata dia, untuk mengimpor gula mentah dari Brasil butuh waktu lama. Sementara, di akhir tahun, biasanya ada kenaikan permintaan gula rafinasi dari industri makanan dan minuman. Jika menunggu memenuhi syarat membuka kebun, importir tak bisa mendatangkan gula dan industri bakal kekurangan pasokan.
Dilema itu juga terjadi di feedloter. Syarat harus membiakkan sapi berat lantaran investasinya tinggi dan feedloter kurang kompeten di bidang ini. Masalahnya, jika tak dituruti, izin impor tak akan turun. Konsekuensinya, pasokan daging impor minim. Upaya mengerem impor pangan dengan syarat ketat mustahil membawa hasil stabilitas harga pangan.
"Butuh pemantauan betul jika ingin sukses," ujar pengamat pertanian Hermanto Siregar (3/10).
Apalagi, kata pengamat industri pangan Andre Vincent Wenas, kebijakan pengetatan impor pangan belum berdampak pada peningkatan produksi pangan dalam negeri. Kebijakan mengerem impor pangan akan berhasil, jika ada peningkatan produksi dalam negeri. Ada baiknya, pemerintah tak membuat kebijakan jangka pendek untuk tujuan jangka panjang.
http://nasional.kontan.co.id/news/beleid-impor-pangan-membingungkan
Rabu, 05 Oktober 2016
Dirut Bulog Sebut Irman Gusman Kenalkan dengan Memi Lewat Telepon
Selasa, 4 Oktober 2016
JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti, mengaku bahwa dalam percakapan telepon dengan mantan Ketua DPD Irman Gusman, dirinya sempat dikenalkan dengan seseorang bernama Memi.
Memi ialah istri Direktur Utama CV Semesta Berjaya Xaveriandy, yang menjadi tersangka dalam operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. OTT ini juga menjaring Irman. Memi pun kini berstatus tersangka.
Sebelumnya, Djarot telah mengaku bahwa dirinya dihubungi lewat telepon oleh Irman beberapa bulan sebelum Irman tertangkap.
Namun tak hanya itu, Djarot pun mengakui saat ditelepon Irman selepas Idul Fitri, Irman menyebut nama Memi ketika menghubungi Djarot.
"Selain Beliau mengeluhkan harga gula yang mencapai Rp 16 ribu di Sumatera Barat, lalu dia mengatakan ada kenalan yang bisa dipercaya untuk urusan gula dan Pak Irman menyebut nama Memi," kata Djarot di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/10/2016).
Namun, Djarot menegaskan, pada 30 Juni sebelum dirinya dihubungi Irman, CV Semesta Berjaya telah mengajukan permohonan pembelian gula impor dari Bulog.
"Jadi tidak benar kalau CV Semesta Berjaya mendapat rekomendasi dari Pak Irman. Karena tak ada rekomendasi yang mengikat dari Pak Irman kepada kami," kata Djarot.
"Dan telepon Pak Irman beberapa waktu setelah Lebaran bukan untuk memaksa kami memberi kuota impor," ucapnya.
KPK menangkap Irman bersama Direktur CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto, istri Xaveriandy, yaitu Memi, dan adik Xaveriandy, yaitu Willy Sutanto.
Penyidik KPK juga mengamankan uang Rp 100 juta yang dibungkus plastik berwarna putih.
Uang tersebut diduga merupakan suap dari Xaveriandy kepada Irman untuk pengurusan kuota gula impor yang diberikan Bulog.
Berdasarkan gelar perkara yang dilakukan pimpinan KPK dan penyidik, Irman, Xaveriandy, dan Memi ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara suap ini.
JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti, mengaku bahwa dalam percakapan telepon dengan mantan Ketua DPD Irman Gusman, dirinya sempat dikenalkan dengan seseorang bernama Memi.
Memi ialah istri Direktur Utama CV Semesta Berjaya Xaveriandy, yang menjadi tersangka dalam operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. OTT ini juga menjaring Irman. Memi pun kini berstatus tersangka.
Sebelumnya, Djarot telah mengaku bahwa dirinya dihubungi lewat telepon oleh Irman beberapa bulan sebelum Irman tertangkap.
Namun tak hanya itu, Djarot pun mengakui saat ditelepon Irman selepas Idul Fitri, Irman menyebut nama Memi ketika menghubungi Djarot.
"Selain Beliau mengeluhkan harga gula yang mencapai Rp 16 ribu di Sumatera Barat, lalu dia mengatakan ada kenalan yang bisa dipercaya untuk urusan gula dan Pak Irman menyebut nama Memi," kata Djarot di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/10/2016).
Namun, Djarot menegaskan, pada 30 Juni sebelum dirinya dihubungi Irman, CV Semesta Berjaya telah mengajukan permohonan pembelian gula impor dari Bulog.
"Jadi tidak benar kalau CV Semesta Berjaya mendapat rekomendasi dari Pak Irman. Karena tak ada rekomendasi yang mengikat dari Pak Irman kepada kami," kata Djarot.
"Dan telepon Pak Irman beberapa waktu setelah Lebaran bukan untuk memaksa kami memberi kuota impor," ucapnya.
KPK menangkap Irman bersama Direktur CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto, istri Xaveriandy, yaitu Memi, dan adik Xaveriandy, yaitu Willy Sutanto.
Penyidik KPK juga mengamankan uang Rp 100 juta yang dibungkus plastik berwarna putih.
Uang tersebut diduga merupakan suap dari Xaveriandy kepada Irman untuk pengurusan kuota gula impor yang diberikan Bulog.
Berdasarkan gelar perkara yang dilakukan pimpinan KPK dan penyidik, Irman, Xaveriandy, dan Memi ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara suap ini.
Selasa, 04 Oktober 2016
Anggota DPR: Bulog Jangan Gunakan Kekuasaan Tekan Petani
Senin, 03 Oktober 2016
Palu - Anggota Komisi III DPR Ahmad Ali mengkritik Bulog Sulawesi Tengah yang mengaku sulit mencapai target pengadaan beras stok nasional tahun 2016 yang ditetapkan 40.000 ton.
Menurut Ahmad Ali, kebijakan Bulog dalam menyerap produksi petani yang dinilai tidak membantu mengatasi kesulitan petani.
Metode yang digunakan Bulog, katanya, justru membuat petani semakin tertekan. “Dampak buruknya, target yang diharapkan tidak mungkin tercapai karena petani merasa dirugikan dengan standar harga yang jauh di bawah pasar,” katanya, Senin (3/10).
Ia mengatakan, bagaimana mungkin Bulog mendapatkan stok beras yang besar kalau harga yang ditetapkan tidak bisa bersaing dengan harga pasar.
“Saya berharap Bulog tidak menggunakan pendekatan kekuasan untuk menekan petani agar menjual beras ke Bulog. Kalau Bulog mau mengejar target, maka dia harus mampu bersaing dengan harga pasar,” kata Ketua DPW Partai Nasdem Sulawesi Tengah ini.
Posisi Bulog, lanjut Ahmad Ali, disamping untuk mengamankan stok beras nasional, juga sebagai stabilisator harga komoditi petani. “Bulog jangan ngotot untuk menekan petani lewat kekuasan untuk mendapat beras di bawah harga pasar. Bulog harus bisa memberikan kepastian harga yang menguntungkan petani bukan merugikan,” katanya.
Kata Ahmad Ali, bagi kita, yang terpenting saat ini adalah petani mendapatkan harga bagus. “Tidak penting siapa yang membeli yang harus dipastikan semua hasil produksi petani dapat terserap oleh pasar dengan harga yang tertinggi,” ujarnya.
Menurutnya, kalau Bulog mau mengamankan stok nasional, maka menjadi suatu kewajiban bagi Bulog menyesuaikan harga pasar bukan menekan petani agar mau menyerahkan hasil produksinya di bawah harga pasar.
“Sebesar apapun target yang ditetapkan oleh pemerintah dan Bulog, kalau jauh dibawah standar harga pasar, petani tetap tidak melirik program tersebut,” ujarnya.
Perum Bulog Sulteng sendiri menyatakan baru berhasil mengadakan beras sebesar 7.900 ton dari target 40.000 tahun ini. Hal itu terjadi karena harga yang diajukan petani di bawah HPP (harga pembelian pemerintah) yang digunakan oleh Bulog. Sementara, sisa waktu tiga bulan memasuki akhir tahun, dirasakan mustahil untuk bisa memenuhi target untuk memenuhi stok nasional.
http://www.beritasatu.com/nasional/390133-anggota-dpr-bulog-jangan-gunakan-kekuasaan-tekan-petani.html
Palu - Anggota Komisi III DPR Ahmad Ali mengkritik Bulog Sulawesi Tengah yang mengaku sulit mencapai target pengadaan beras stok nasional tahun 2016 yang ditetapkan 40.000 ton.
Menurut Ahmad Ali, kebijakan Bulog dalam menyerap produksi petani yang dinilai tidak membantu mengatasi kesulitan petani.
Metode yang digunakan Bulog, katanya, justru membuat petani semakin tertekan. “Dampak buruknya, target yang diharapkan tidak mungkin tercapai karena petani merasa dirugikan dengan standar harga yang jauh di bawah pasar,” katanya, Senin (3/10).
Ia mengatakan, bagaimana mungkin Bulog mendapatkan stok beras yang besar kalau harga yang ditetapkan tidak bisa bersaing dengan harga pasar.
“Saya berharap Bulog tidak menggunakan pendekatan kekuasan untuk menekan petani agar menjual beras ke Bulog. Kalau Bulog mau mengejar target, maka dia harus mampu bersaing dengan harga pasar,” kata Ketua DPW Partai Nasdem Sulawesi Tengah ini.
Posisi Bulog, lanjut Ahmad Ali, disamping untuk mengamankan stok beras nasional, juga sebagai stabilisator harga komoditi petani. “Bulog jangan ngotot untuk menekan petani lewat kekuasan untuk mendapat beras di bawah harga pasar. Bulog harus bisa memberikan kepastian harga yang menguntungkan petani bukan merugikan,” katanya.
Kata Ahmad Ali, bagi kita, yang terpenting saat ini adalah petani mendapatkan harga bagus. “Tidak penting siapa yang membeli yang harus dipastikan semua hasil produksi petani dapat terserap oleh pasar dengan harga yang tertinggi,” ujarnya.
Menurutnya, kalau Bulog mau mengamankan stok nasional, maka menjadi suatu kewajiban bagi Bulog menyesuaikan harga pasar bukan menekan petani agar mau menyerahkan hasil produksinya di bawah harga pasar.
“Sebesar apapun target yang ditetapkan oleh pemerintah dan Bulog, kalau jauh dibawah standar harga pasar, petani tetap tidak melirik program tersebut,” ujarnya.
Perum Bulog Sulteng sendiri menyatakan baru berhasil mengadakan beras sebesar 7.900 ton dari target 40.000 tahun ini. Hal itu terjadi karena harga yang diajukan petani di bawah HPP (harga pembelian pemerintah) yang digunakan oleh Bulog. Sementara, sisa waktu tiga bulan memasuki akhir tahun, dirasakan mustahil untuk bisa memenuhi target untuk memenuhi stok nasional.
http://www.beritasatu.com/nasional/390133-anggota-dpr-bulog-jangan-gunakan-kekuasaan-tekan-petani.html
Harga Beras Naik, BPS: Bulog Perlu Intervensi Pasar
Senin, 3 Oktober 2016
JAKARTA - Musim hujan yang terjadi belakangan ini berdampak terhadap tingginya harga beras. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras mengalami kenaikan maksimum hingga 0,89 persen. Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Sasmito Hadi Wibowo, diperkirakan harga beras akan terus mengalami kenaikan hingga Oktober 2016. Kenaikan ini juga disebabkan karena Indonesia saat ini tidak sedang memasuki musim panen.
"Oktober kemungkinan harga beras naik, karena indikasinya gabah naik di September. Tapi Oktober, November, Desember, untuk bahan makanan memang pada umumnya musim tanam atau musim pemeliharaan, jadi panen sedikit. Jadi ada pengaruh bahan makanan di situ," ujarnya di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (3/10/2016). Menurut Sasmito, apabila tidak segera diatasi, maka hal ini akan berdampak kepada tingginya inflasi hingga akhir tahun. Untuk itu, perlu intervensi dari Bulog. Utamanya untuk menjamin ketersediaan beras di pasaran. "Bulan September ini kan harga gabah naik, kalau beras bulan ini turun (beras kelas premium) karena gabahnya pakai stok bulan sebelumnya. Tapi gabah sekarang belum keluar, keluarnya di Oktober jadi makanya saya bilang harga beras kemungkinan naik di Oktober. Kan ada proses panjang juga, penjualannya baru di Oktober," ujar Sasmito. "(Inflasi bulan Oktober diperkirakan) di bawah setengah persen lah. Faktor terbesarnya khawatir harga beras, mudah-mudahan dari warning bulan ini bisa teratasi. Misalnya Bulog intervensi, jadi harga beras enggak terlalu mempengaruhi," tutupnya.
(rai)
http://economy.okezone.com/read/2016/10/03/20/1504891/harga-beras-naik-bps-bulog-perlu-intervensi-pasar?utm_source=wp&utm_medium=box&utm_campaign=wpbr2
JAKARTA - Musim hujan yang terjadi belakangan ini berdampak terhadap tingginya harga beras. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras mengalami kenaikan maksimum hingga 0,89 persen. Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Sasmito Hadi Wibowo, diperkirakan harga beras akan terus mengalami kenaikan hingga Oktober 2016. Kenaikan ini juga disebabkan karena Indonesia saat ini tidak sedang memasuki musim panen.
"Oktober kemungkinan harga beras naik, karena indikasinya gabah naik di September. Tapi Oktober, November, Desember, untuk bahan makanan memang pada umumnya musim tanam atau musim pemeliharaan, jadi panen sedikit. Jadi ada pengaruh bahan makanan di situ," ujarnya di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (3/10/2016). Menurut Sasmito, apabila tidak segera diatasi, maka hal ini akan berdampak kepada tingginya inflasi hingga akhir tahun. Untuk itu, perlu intervensi dari Bulog. Utamanya untuk menjamin ketersediaan beras di pasaran. "Bulan September ini kan harga gabah naik, kalau beras bulan ini turun (beras kelas premium) karena gabahnya pakai stok bulan sebelumnya. Tapi gabah sekarang belum keluar, keluarnya di Oktober jadi makanya saya bilang harga beras kemungkinan naik di Oktober. Kan ada proses panjang juga, penjualannya baru di Oktober," ujar Sasmito. "(Inflasi bulan Oktober diperkirakan) di bawah setengah persen lah. Faktor terbesarnya khawatir harga beras, mudah-mudahan dari warning bulan ini bisa teratasi. Misalnya Bulog intervensi, jadi harga beras enggak terlalu mempengaruhi," tutupnya.
(rai)
http://economy.okezone.com/read/2016/10/03/20/1504891/harga-beras-naik-bps-bulog-perlu-intervensi-pasar?utm_source=wp&utm_medium=box&utm_campaign=wpbr2
Duh, Raskin Ini Kok Rasanya Seperti Ampas?
Senin, 3 Oktober 2016
BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - SUDAH sepekan terakhir, Warga Desa Gudang Tengah Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, ini diliputi rasa heran. Terutama bagi mereka yang terdaftar menerima bantuan raskin (beras miskin).
Kini mereka memilih pasrah lantaran raskin yang diterima sudah dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Beras yang semestinya berwarna putih meskipun disertai menir (red, pecahan), kini berwarna kusam kekuning-kuningan.
Lestari, warga Gudang Tengah sempat terkejut ketika mendapati raskin miliknya berbeda seperti biasanya.
Terutama warna beras nampak kusam dan kekuning-kuningan.
“Setelah mengambil satu sak raskin, saya langsung langsung membawanya pulang ke rumah dan ternyata berasnya lain dari biasanya, “ terang warga Desa Gudang Tengah itu.
Tidak hanya dalam berbentuk beras, saat dimasak pun nasi terlihat kekuning-kuningan. “Rasanya juga berubah seperti ampas,” imbuhnya.
http://banjarmasin.tribunnews.com/2016/10/03/duh-raskin-ini-kok-rasanya-seperti-ampas
BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - SUDAH sepekan terakhir, Warga Desa Gudang Tengah Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, ini diliputi rasa heran. Terutama bagi mereka yang terdaftar menerima bantuan raskin (beras miskin).
Kini mereka memilih pasrah lantaran raskin yang diterima sudah dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Beras yang semestinya berwarna putih meskipun disertai menir (red, pecahan), kini berwarna kusam kekuning-kuningan.
Lestari, warga Gudang Tengah sempat terkejut ketika mendapati raskin miliknya berbeda seperti biasanya.
Terutama warna beras nampak kusam dan kekuning-kuningan.
“Setelah mengambil satu sak raskin, saya langsung langsung membawanya pulang ke rumah dan ternyata berasnya lain dari biasanya, “ terang warga Desa Gudang Tengah itu.
Tidak hanya dalam berbentuk beras, saat dimasak pun nasi terlihat kekuning-kuningan. “Rasanya juga berubah seperti ampas,” imbuhnya.
http://banjarmasin.tribunnews.com/2016/10/03/duh-raskin-ini-kok-rasanya-seperti-ampas
Senin, 03 Oktober 2016
Kepala Bulog: Irman Meminta 3000 Ton, Saya Sanggupi Hanya 1000 Ton
Senin, 3 Oktober 2016
MetroSiantar.com,Jakarta – Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati menjelaskan, pemeriksaan terhadap Djarot ini penting dilakukan. Sebab, lanjut Yuyuk, KPK ingin mengorek tentang kewenangan Bulog terkait peredaran gula. Khususnya yang berhubungan dengan gula impor berujung suap yang menjerat Irman ini.
Sementara itu, usai menjalani pemeriksaan selama 10 jam, Djarot mengaku pernah dihubungi Irman terkait mahalnya gula di Sumbar. Komunikasi itu, kata Djarot, terjadi sekitar bulan Januari tahun 2016.
Dalam komunikasi tersebut, lanjut Djarot, Irman meminta Bulog menambah distribusi gula ke Sumbar sebanyak 3000 ton gula, namun, Djarot hanya menyanggupi dengan mengirim 1000 ton gula impor ke Perum Bulog di Padang.
“Yang saya tangkap, beliau cuma mengabarkan kalau di sana harga gula mahal. Saya jawab, ya saya akan segera tindaklanjuti. Nanti kalau saya punya barang, saya akan kirim, sudah dikirim 1000 ton dari total 3000 ton,” kata Djarot di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Kamis (29/9).
Lebih lanjut, Djarot membantah jika gula yang distribusikan tersebut merupakan alokasi untuk DKI Jakarta. Menurutnya, gula impor Bulog disalurkan untuk seluruh Indonesia.
Saat disinggung mengenai rekomendasi Irman agar gula yang didistribusikan untuk Sumbar disalurkan melalui CV Semesta Berjaya. Djarot membantah ada permintaan tersebut saat Irman menghubunginya. Dirinya juga menegaskan, tak mengenal Dirut CV Semesta Berjaya, Xaveriandy Sutanto yang diduga memberikan suap kepada Irman agar menjadi penyalur gula dari Bulog untuk daerah pemilihan Irman.
Diketahui, komunikasi antara Irman dengan Djarot ini memang menjadi pintu masuk KPK untuk mengungkap dugaan permainan kuota distrubusi gula impor di Sumbar.
Wakil Ketua KPK, Laode Muhamad Syarif mengisyaratkan pihaknya tengah mendalami komunikasi antara Djarot dengan Irman. Menurut Laode ada beberapa hal yang dikejar pihaknya untuk mengungkap kasus dugaan permainan distribusi gula impor di Sumbar ini. Satu di antaranya mengenai rekomendasi. Apakah hanya Irman atau ada pihak lain yang diduga terlibat kasus serupa. Yang pasti, tegas Laode, pihaknya juga menelurusi dugaan keterlibatan pihak Bulog dalam kasus ini.
“Sehingga tergantung hasil dari pengembangan kalau ada buktinya yang mengarah ke sana (pihak Bulog) kami pasti akan lakukan penyelidikan dan penyidikan,” kata Laode beberapa waktu lalu.
Irman sendiri, pada 17 September 2016, terjaring operasi tangkap tangan KPK. Ia diduga menerima suap Rp 100 juta dari Sutanto dan istrinya Memi, terkait rekomendasi kuota distribusi gula impor di Sumbar.
Kasus ini bermula dari KPK menyelidiki dugaan pemberian uang Sutanto kepada Jaksa Penuntut Umum Kejati Sumbar Fahrizal. Pemberian uang terkait kasus penjualan gula oleh CV Rimbun Padi Berjaya tanpa label SNI di Sumbar yang tengah bergulir di Pengadilan Negeri Padang.
Dalam proses pengadilan, Sutanto yang adalah mantan Direktur CV Rimbun Padi Berjaya diduga membayar Jaksa Fahrizal untuk membantunya dalam persidangan. Fahrizal diduga menerima duit Rp365 juta dari Sutanto.
Di tengah penyelidikan perkara ini, KPK mengetahui ada pemberian uang untuk Irman, tapi dalam kasus lain. Irman diduga menerima duit Rp100 juta karena menggunakan jabatannya untuk mempengaruhi pejabat tertentu terkait pengurusan kuota distribusi gula impor yang diberikan Bulog pada CV Semesta Berjaya tahun 2016 di Sumbar. [sam]
http://www.metrosiantar.com/news/nasional/2016/10/02/259256/kepala-bulog-irman-meminta-3000-ton-saya-sanggupi-hanya-1000-ton/
MetroSiantar.com,Jakarta – Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati menjelaskan, pemeriksaan terhadap Djarot ini penting dilakukan. Sebab, lanjut Yuyuk, KPK ingin mengorek tentang kewenangan Bulog terkait peredaran gula. Khususnya yang berhubungan dengan gula impor berujung suap yang menjerat Irman ini.
Sementara itu, usai menjalani pemeriksaan selama 10 jam, Djarot mengaku pernah dihubungi Irman terkait mahalnya gula di Sumbar. Komunikasi itu, kata Djarot, terjadi sekitar bulan Januari tahun 2016.
Dalam komunikasi tersebut, lanjut Djarot, Irman meminta Bulog menambah distribusi gula ke Sumbar sebanyak 3000 ton gula, namun, Djarot hanya menyanggupi dengan mengirim 1000 ton gula impor ke Perum Bulog di Padang.
“Yang saya tangkap, beliau cuma mengabarkan kalau di sana harga gula mahal. Saya jawab, ya saya akan segera tindaklanjuti. Nanti kalau saya punya barang, saya akan kirim, sudah dikirim 1000 ton dari total 3000 ton,” kata Djarot di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Kamis (29/9).
Lebih lanjut, Djarot membantah jika gula yang distribusikan tersebut merupakan alokasi untuk DKI Jakarta. Menurutnya, gula impor Bulog disalurkan untuk seluruh Indonesia.
Saat disinggung mengenai rekomendasi Irman agar gula yang didistribusikan untuk Sumbar disalurkan melalui CV Semesta Berjaya. Djarot membantah ada permintaan tersebut saat Irman menghubunginya. Dirinya juga menegaskan, tak mengenal Dirut CV Semesta Berjaya, Xaveriandy Sutanto yang diduga memberikan suap kepada Irman agar menjadi penyalur gula dari Bulog untuk daerah pemilihan Irman.
Diketahui, komunikasi antara Irman dengan Djarot ini memang menjadi pintu masuk KPK untuk mengungkap dugaan permainan kuota distrubusi gula impor di Sumbar.
Wakil Ketua KPK, Laode Muhamad Syarif mengisyaratkan pihaknya tengah mendalami komunikasi antara Djarot dengan Irman. Menurut Laode ada beberapa hal yang dikejar pihaknya untuk mengungkap kasus dugaan permainan distribusi gula impor di Sumbar ini. Satu di antaranya mengenai rekomendasi. Apakah hanya Irman atau ada pihak lain yang diduga terlibat kasus serupa. Yang pasti, tegas Laode, pihaknya juga menelurusi dugaan keterlibatan pihak Bulog dalam kasus ini.
“Sehingga tergantung hasil dari pengembangan kalau ada buktinya yang mengarah ke sana (pihak Bulog) kami pasti akan lakukan penyelidikan dan penyidikan,” kata Laode beberapa waktu lalu.
Irman sendiri, pada 17 September 2016, terjaring operasi tangkap tangan KPK. Ia diduga menerima suap Rp 100 juta dari Sutanto dan istrinya Memi, terkait rekomendasi kuota distribusi gula impor di Sumbar.
Kasus ini bermula dari KPK menyelidiki dugaan pemberian uang Sutanto kepada Jaksa Penuntut Umum Kejati Sumbar Fahrizal. Pemberian uang terkait kasus penjualan gula oleh CV Rimbun Padi Berjaya tanpa label SNI di Sumbar yang tengah bergulir di Pengadilan Negeri Padang.
Dalam proses pengadilan, Sutanto yang adalah mantan Direktur CV Rimbun Padi Berjaya diduga membayar Jaksa Fahrizal untuk membantunya dalam persidangan. Fahrizal diduga menerima duit Rp365 juta dari Sutanto.
Di tengah penyelidikan perkara ini, KPK mengetahui ada pemberian uang untuk Irman, tapi dalam kasus lain. Irman diduga menerima duit Rp100 juta karena menggunakan jabatannya untuk mempengaruhi pejabat tertentu terkait pengurusan kuota distribusi gula impor yang diberikan Bulog pada CV Semesta Berjaya tahun 2016 di Sumbar. [sam]
http://www.metrosiantar.com/news/nasional/2016/10/02/259256/kepala-bulog-irman-meminta-3000-ton-saya-sanggupi-hanya-1000-ton/
Bulog Tak Beli Beras Kualitas Baik, Program Sergap Kabupaten Kendal Belum Capai Target
Senin, 3 Oktober 2016
KENDAL, INDONESIANINDUSTRY.com – Program serap gabah petani (Sergap) tahun 2016 di akhir bulan September Kabupaten Kendal yang dilakukan Kodim 0715/Kendal mencapai sebesar 83 persen.
Dandim 0715/Kendal, Letkol Inf Piter Dwi Ardianto, mengatakan, pihaknya ditarget untuk melakukan pembelian gabah petani di Kendal melalui program Sergap ini sebesar 42 ribu ton. Belum tercapainya target disebabkan Bulog hanya membeli beras dengan kualitas menengah. Padahal, banyak petani yang menanam padi dengan kualitas baik, sehingga tidak bisa terbeli.
“Bulog tidak menerima beras dengan kualitas baik, karena harganya terlalu tinggi, sehingga tidak bisa dibeli,” kata Piter saat panen padi Demplot di Kelurahan Bugangin, Kamis (29/9).
Panen padi Demplot di Kel Buganin Kendal merupakan kerjasama dengan sebuah perusahaan pupuk hayati EvaGrow. Petani menggunakan pupuk hayati EvaGrow sebagai pengganti pupuk kimia. Hasil panen ternyata meningkat cukup baik, antara 20-50 persen. Kualitas padi juga baik dan lebih sehat, karena tidak menggunakan pupuk kimia.
Ketua Kelompok Tani Rahayu, H Tardi mengatakan, tanaman padinya mengalami peningkatan yang cukup baik. Panen kali ini bisa mencapai hasil panen rata-rata di atas 10 ton per hektar, padahal biasanya hanya 8 ton per hektar.
“Lahan yang di Kel.Ngilir kemarin hasilnya 11,89 ton per hektar dan yang di Kel Jetis panennya 10,10 ton per hektar,”katanya.
Pada kesempatan tersebut, Dandim Piter berharap agar para petani selalu terbuka dengan hal yang baru.
“Saya harap para petani selalu terbuka dengan temuan teknologi baru, karena ternyata bisa menghasilkan panen yang meningkat,”himbaunya.
Piter juga meminta kepada perusahaan supaya melakukan kerjasama Demplot kepada banyak kelompok petani, supaya Inovasi untuk petani lebih baik untuk kesejahteraan petani. Dengan banyak kerjasama Demplot kepada kelompok tani di berbagai lokasi, maka akan semakin memberikan kepercayaan bagi para petani untuk menggunakan pupuk hayati yang diproduksinya.
“Tiap daerah itu kondisinya berbeda, sehingga harus dicoba di banyak tempat,” pungkasnya. (Hariyanto)
KENDAL, INDONESIANINDUSTRY.com – Program serap gabah petani (Sergap) tahun 2016 di akhir bulan September Kabupaten Kendal yang dilakukan Kodim 0715/Kendal mencapai sebesar 83 persen.
Dandim 0715/Kendal, Letkol Inf Piter Dwi Ardianto, mengatakan, pihaknya ditarget untuk melakukan pembelian gabah petani di Kendal melalui program Sergap ini sebesar 42 ribu ton. Belum tercapainya target disebabkan Bulog hanya membeli beras dengan kualitas menengah. Padahal, banyak petani yang menanam padi dengan kualitas baik, sehingga tidak bisa terbeli.
“Bulog tidak menerima beras dengan kualitas baik, karena harganya terlalu tinggi, sehingga tidak bisa dibeli,” kata Piter saat panen padi Demplot di Kelurahan Bugangin, Kamis (29/9).
Panen padi Demplot di Kel Buganin Kendal merupakan kerjasama dengan sebuah perusahaan pupuk hayati EvaGrow. Petani menggunakan pupuk hayati EvaGrow sebagai pengganti pupuk kimia. Hasil panen ternyata meningkat cukup baik, antara 20-50 persen. Kualitas padi juga baik dan lebih sehat, karena tidak menggunakan pupuk kimia.
Ketua Kelompok Tani Rahayu, H Tardi mengatakan, tanaman padinya mengalami peningkatan yang cukup baik. Panen kali ini bisa mencapai hasil panen rata-rata di atas 10 ton per hektar, padahal biasanya hanya 8 ton per hektar.
“Lahan yang di Kel.Ngilir kemarin hasilnya 11,89 ton per hektar dan yang di Kel Jetis panennya 10,10 ton per hektar,”katanya.
Pada kesempatan tersebut, Dandim Piter berharap agar para petani selalu terbuka dengan hal yang baru.
“Saya harap para petani selalu terbuka dengan temuan teknologi baru, karena ternyata bisa menghasilkan panen yang meningkat,”himbaunya.
Piter juga meminta kepada perusahaan supaya melakukan kerjasama Demplot kepada banyak kelompok petani, supaya Inovasi untuk petani lebih baik untuk kesejahteraan petani. Dengan banyak kerjasama Demplot kepada kelompok tani di berbagai lokasi, maka akan semakin memberikan kepercayaan bagi para petani untuk menggunakan pupuk hayati yang diproduksinya.
“Tiap daerah itu kondisinya berbeda, sehingga harus dicoba di banyak tempat,” pungkasnya. (Hariyanto)
Langganan:
Postingan (Atom)