Rabu, 13 Juli 2016

Mantan Dirut Bulog: Bulog Harusnya Bukan Jadi Importir Daging

Selasa, 12 Juli 2016

JAKARTA, KOMPAS.com - Melihat persoalan pangan baik itu distribusi pasokan, fluktuasi harga komoditas dan juga kebijakan impor yang terus berjalan.

Mantan Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso menilai seharusnya pemerintah mengoptimalkan peran Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai penyeimbang dan menjaga stabilisasi.

"Negara sebesar indonesia, dengan berbagai persoalannya termasuk prouksi yg nggak merata sepanjang tahun, harusnya ada instrumen yang kuat menjaga stabilisasi. Stok harus merata di mana saja, instrumen ini yang melakukan siapa? Kalau mengandalkan swasta, nggak mungkin, pemerintah itu ya Bulog," ujarnya di Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (12/7/2016).

"Jadi peran Bulog jauh dari pada impor, Bulog jadi pelaksana pemerintah dalam menjaga stabilitas," tutur Sutarto.

Sementara itu, Sutarto menambahkan terkait keputusan pemerintah mengimpor daging kerbau asal India sebanyak 10.000 ton, memang bukan keinginan Bulog tapi instrumen pemerintah.

"Jangan lihat bulognya. Ini kan instrumen pemerintah," papar Sutarto.

Sutarto menilao bila Bulog ditugaskan menjadi penyeimbang nantinya stok di Bulog mesti diperbanyak (impor). Pasalnya, pemasok daging saat ini kan pemainnya tidak banyak.

"Ini bukan monopoli. Pada persentase tertentu ada peluang juga untuk masyarakat lain yang bisa memasok daging. Bulog itu hanya penyeimbang, yang tujuannya bukan untuk memonopoli," pungkasnya.

Selasa, 12 Juli 2016

Masuki Kekeringan, Waspadai Penimbunan Beras

Senin, 11 Juli 2016

SUKOHARJO, suaramerdeka.com – Tim Serap Gabah Petani atau Sergap Kodim 0726/Sukoharjo mewaspadai ancaman penimbunan beras memasuki kekeringan yang bisa terjadi pada beberapa daerah saat kemarau ini.

Dandim 0726/Sukoharjo, Letkol (Inf) Taufan Widiyantoro mengungkapkan, pihaknya mewaspadai aksi penimbunan saat kekeringan. Karena ancaman penimbunan yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab, bisa terjadi. Apalagi kekeringan saat kemarau ini, bisa lebih panjang dari pada tahun sebelumnya.

“Tim Sergap kami sudah mengantisipasi sejak dini. Kami awasi ketat bersama Dispertan. Karena penimbunan menganggu stabilitas harga. Kasian masyarakat,” jelas, Senin (11/7).

Lebih lanjut Taufan menjelaskan, tidak hanya mewaspadai penimbunan. Tim Sergap juga diminta terus meningkatkan kinerja di setiap daerah penghasil padi.

Berdasarkan evaluasi, Tim Sergap mampu melampaui target hingga batas waktu yang telah ditentukan, yakni dengan mendapatkan 109 persen atau 15 ribu ton gabah kering panen (GKP).

“Hanya saja, kapasitas gudang Bulog sudah overload. Sebenarnya itu Tim Sergap bisa menambah serapan gabah petani ke Bulog,” ungkap dia.

Dia meminta Bulog diminta untuk menambah kapasitas gudang penampung beras dari para petani di Kota Makmur. Meskipun selama ini, serapan 10 persen sudah terpenuhi.

Bahkan Tim Sergap dari Kondim 0726/Sukoharjo bisa bekerjasama dengan kelompok petani di daerah lain yang meminta pendampingan.

“Alat-alat kami juga lengkap. Biasanya tim memetakan dahulu potensi dan masalah di lapangan. Yang ingin kami raih, hanya menjaga kondusivitas harga gabah dari petani,” tuturnya.

(Asep Abdullah/CN34/SM Network)

http://berita.suaramerdeka.com/masuki-kekeringan-waspadai-penimbunan-beras/

Impor Daging Kerbau India Diprotes, Ini Kata Bulog

Senin, 11 Juli 2016

Jakarta -Kebijakan ini diprotes sejumlah pihak mulai dari pedagang hingga asosiasi peternak. Menurut Direktur Utama (Dirut) Bulog, Djarot Kusmayakti, sebenarnya daging kerbau dari India juga dikonsumsi negara tetangga Indonesia, yaitu Malaysia, dan negara di kawasan Timur Tengah.

Namun, karena di sana tidak ada penolakan, maka daging kerbau dari India dianggap biasa saja. Sedangkan di Indonesia, kebijakan impor daging kerbau India justru ditolak.

"Sebetulnya, konsumen itu kan hanya diajari oleh orang-orang yang kadang-kada menurut saya tidak bertanggung jawab. Kalau pernah ke Timur Tengah atau Malaysia, yang dimakan itu daging kerbau dan dagingnya dari India. Hanya, karena tidak ada black campaign di sana, jadi biasa aja," kata Djarot di Istana Negara, Senin (11/7.2016)

Djarot juga memaklumi protes dari asosiasi peternak. Sebab, kata Djarot, selama ini mereka menikmati margin yang cukup tinggi dari berdagang sapi.

Menurutnya, setelah ada daging kerbau, maka margin daging sapi akan tertekan.

"Iya jelas. Wong selama ini dia dengan daging sapi itu, mohon maaf ya, ada cukup margin yang signifikan. Dengan adanya kerbau, malah akan menekan margin sapi mereka," kata Djarot.

Kebijakan impor ini diprotes oleh PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia) karena Pasal 36 Undang Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 41 Tahun 2014, yang merupakan landasan hukum pembukaan impor daging kerbau dari India, sedang digugat ke Mahkamah Konstitusi (MK).

PPSKI menyatakan harusnya pemerintah menunggu dulu keputusan MK, apakah impor daging kerbau dengan sistem berbasis zona (zona base) sah atau tidak.
(hns/ang)

http://finance.detik.com/read/2016/07/11/163818/3250882/4/impor-daging-kerbau-india-diprotes-ini-kata-bulog

Jokowi Beri Tugas Baru untuk Bulog, Jaga 11 Komoditas Pangan

Senin, 11 Juli 2016

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru saja mengumpulkan beberapa menteri dan pimpinan lembaga negara. Pemanggilan tersebut yang pertama untuk membahas tax amnesty dan yang kedua untuk membahas masalah pangan.

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, Presiden Jokowi meminta kepada seluruh menteri dan perusahaan terkait pangan untuk menjaga 11 komoditas pangan, salah satunya adalah pengendalian harga sampai akhir tahun.

"Roadmap-nya udah dibikin, tapi kemarin kan masih banyak. Jadi ada dua hal, roadmap terus dipertahankan dan kenaikan harga terus dikendalikan," kata Djarot di Komplek Istana, Jakarta, Senin (11/7/2016).

Komponen yang harus dijaga, kata Djarot, seperti beras, gula, daging sapi, dan komoditas prioritas lainnya. Bentuk konkretnya, kata Djarot, selama tiga bulan kedepan Presiden Jokowi meminta untuk menjaga harga 11 komoditas pangan.

Djarot menuturkan, cara yang akan diterapkan guna menjaga harga bisa dilakukan dari produksi dan juga impor. "Langkah menjaga harga pada saat terjadi goncangan harga karena over produksi atau under produksi tentu harus ada penyeimbang, entah itu ekspor maupun impor," tambahnya.

Untuk daging sapi, sambung Djarot, pada Juli 2016 diharapkan masuk 9.000 ton daging sapi impor dan akan digelontorkan langsung ke pasar. Tidak hanya itu, secara bertahap total daging sapi impor tersebut akan dicoba melalui industri.

"Sebetulnya, konsumen itu kan hanya diajari oleh orang-orang yang kadang-kadang menurut saya tidak bertanggung jawab. Kalau adek pernah ke Timur Tengah, atau Malaysia, yang dimakan itu daging kerbau dan daging India. Hanya karena tidak ada black campaign di sana jadi biasa aja. Begitu masuk sini, pemilik-pemilik untung besar itu kan rebut, begitu," tukasnya.

(dni)

http://economy.okezone.com/read/2016/07/11/320/1435644/jokowi-beri-tugas-baru-untuk-bulog-jaga-11-komoditas-pangan

Senin, 11 Juli 2016

Ini kata INDEF soal impor daging kerbau India

Senin, 11 Juli 2016

JAKARTA. Direktur Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan impor daging kerbau dari India tidak akan berdampak signifikan pada penurunan harga daging sapi di dalam negeri.

Pasalnya, pasar tetap lebih membutuhkan daging segar ketimbang daging beku. Sementara daging kerbau yang diimpor Perum Bulog dalam bentuk daging beku.

Menurut Enny, permintaan daging di Indonesia didominasi oleh masyarakat menengah ke bawah. Di mana mereka ini adalah para pedagang bakso dan pedagang skala Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) seperti warung padang dan warung Tegal.

"Mereka ini tetap akan mencari daging segar demi mempertahankan kualitas dagangan mereka dan untuk mempertahankan pelanggan mereka," ujar Enny kepada KONTAN, Minggu (10/7).

Sementara, permintaan masyarakat skala rumah tangga untuk daging sapi dan kerbau akan menurun pasca perayaan lebaran tahun ini. Sebab masih banyak pilihan protein lain yang dapat menggantikan daging sapi yang harganya lebih terjangkau.

Karena itu, Enny bilang, pemerintah mau tidak mau harus menambah kuota daging segar di pasaran melalui penambahan pasokan sapi lokal dan sapi bakalan.

http://industri.kontan.co.id/news/ini-kata-indef-soal-impor-daging-kerbau-india

Akhir Harga Mahal

Senin,11 Juli 2016


Pekan lalu, sebuah laporan tentang harga pangan dikeluarkan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Ada hal yang mengejutkan, yaitu tentang akhir dari masa harga pangan mahal dalam waktu 10 tahun ke depan. Apakah demikian?

Laporan ini pada satu sisi memberi kabar baik bagi penyediaan pangan sehingga harga pangan turun. Beberapa prediksi menyebutkan peningkatan produksi di beberapa kawasan, seperti secara global produksi pangan akan naik 1,5 persen dalam satu dekade, produksi pangan di Asia Selatan serta Asia Timur akan tumbuh hingga 20 persen, dan di Amerika Latin budidaya kedelai akan naik 24 persen dalam satu dekade ke depan. Secara umum ada perbaikan produktivitas panen pada masa sepuluh tahun ke depan meski dalam ringkasan eksekutifnya tidak disebut faktor-faktor kenaikan produksi itu.

Meski demikian, dunia masih meninggalkan masalah pangan di Afrika, terkhusus di wilayah sub Sahara dan Tiongkok. Sub Sahara sudah lama mengalami masalah pangan akut dan kerap terjadi kelaparan meski ada proyeksi jumlah orang kelaparan akan menurun. Tiongkok dengan industrialisasi yang besar-besaran telah mengurangi lahan pertanian sehingga sumber pangan harus diimpor. Langkah Tiongkok membeli pangan di pasar global selalu mengguncang harga pangan.

Untuk itulah, laporan FAO dan OECD harus dibaca lebih cermat. Kedua lembaga itu tetap mengingatkan semua pihak harus waspada. Potensi harga pangan naik juga cukup besar mengingat perubahan iklim dan juga kenaikan permintaan.

Pertumbuhan kelas menengah dan perbaikan pendapatan akan menaikkan permintaan terhadap daging sapi, ayam, dan ikan. Kenaikan permintaan ini akan menaikkan pula permintaan beberapa komoditas pangan untuk pekan ternak, seperti gandum, bungkil kedelai, dan juga beras.

Pertambahan penduduk dunia juga tetap menjadi masalah penting karena akan menaikkan kebutuhan pangan.

Secara khusus, bila kita melihat ke dalam negeri, perbaikan produksi masih membutuhkan beberapa langkah. Ketersediaan lahan pertanian masih menjadi masalah. Penambahan lahan baru dalam skala luas belum bisa diwujudkan. Alih fungsi lahan malah lebih terlihat di beberapa sentra pangan, seperti di Kabupaten Karawang dan Subang di Jawa Barat.

Perbaikan kualitas benih yang bisa meningkatkan produksi memang sudah dilakukan oleh swasta, tetapi kontroversi benih transgenik akan berlanjut sehingga lonjakan produksi melalui rekayasa genetika ini masih akan menemui jalan terjal. Cara-cara konvensional masih akan dipilih dan dipastikan tidak akan meningkatkan produksi secara signifikan. Sebuah pilihan yang tidak mudah.

Mekanisasi pertanian sudah terlihat di beberapa tempat meski jumlahnya minim. Untuk menekan biaya produksi dan menekan kehilangan hasil saat panen, mekanisasi dalam skala luas masih diperlukan.

Meski demikian, pemerintah sekarang masih memberi harapan untuk meningkatkan produksi. Pembangunan bendungan dan irigasi di berbagai tempat memberi harapan makin banyak lahan yang bisa digunakan untuk produksi pangan.

Subsidi dari pemerintah, seperti untuk benih dan pupuk untuk menaikkan produksi, masih besar dan bisa memberi insentif kepada petani. Akan tetapi, pemerintah perlu memastikan subsidi itu jatuh ke tangan yang berhak dan tidak disalahgunakan karena tidak menutup kemungkinan subsidi ini menjadi lahan korupsi.

Melihat laporan FAO dan OECD, kita memiliki keraguan sekaligus harapan. Harapan bawa produksi pangan dunia dan Indonesia meningkat. Perbaikan dan kerja keras masih perlu dilakukan agar produksi pangan yang melimpah bisa terwujud.

(ANDREAS MARYOTO)
http://epaper1.kompas.com/kompas/books/160711kompas/#/17/

Harga Bawang Mahal, Bulog Dianggap Telat Lepas Stok

Minggu, 10 Juli 2016

JAKARTA – Harga bawang merah masih melambung pasca-Lebaran. Padahal sebelum Ramadan lalu, Presiden Joko Widodo menargetkan agar harga bawang merah dapat turun hingga Rp25 ribu per kg.

Faktanya, harga bawang merah masih belum dapat sesuai dengan harapan Jokowi. Tengok saja hari ini, Minggu, (10/7/2016), harga bawang merah bahkan telah menyentuh Rp70 ribu per kg.

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Ikhwan Arif, tingginya harga bawang merah ini tidak terlepas dari minimnya peran Bulog dalam mengantisipasi kenaikan harga. Bawang ‘kerdil’ pun juga tidak dapat diserap yang berdampak pada mulai berkurangnya pasokan bawang merah pada beberapa pasar di Jakarta.

“Untuk bawang kecil akhirnya ya ditahan semua sama petani,” kata Ikhwan kepada Okezone, Jakarta, Minggu (10/7/2016).

Sebelumnya, Bulog memang telah menyerap bawang merah dari para petani untuk disimpan di gudang Bulog. Hanya saja, karena minimnya perencanaan, akhirnya sebagian bawang tersebut membusuk. Padahal, Bulog telah memiliki cadangan bawang hingga lebih dari 1.000 ton ketika akhir Juni lalu.

“(Di gudang Bulog) memang sepertinya masih banyak. Tapi ya banyak (ditahan),” jelasnya.

Akibatnya, harga bawang merah hingga saat ini masih melambung tinggi. Keadaan ini diperparah dengan kemungkinan molornya musim panen raya akibat cuaca hingga tidak adanya stok bawang merah dari negara pengimpor seperti Vietnam, Thailand, dan Filipina karena tidak memasuki musim panen.

Berdasarkan informasi dari infopangan.jakarta.go.id, harga bawang tertinggi terdapat di Pasar Minggu. Kemudian diikuti oleh Pasar Glodok sebesar Rp60 ribu per kg, hingga Pasar Sunter Podomoro dan Pasar Senen Blok III-IV sebesar Rp50 ribu per kg.

http://economy.okezone.com/read/2016/07/10/320/1434970/harga-bawang-mahal-bulog-dianggap-telat-lepas-stok