Kamis, 04 Agustus 2016

Presiden Perluas Tanggung Jawab Perum Bulog

Rabu, 3 Agustus 2016

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah menugaskan Perum Bulog dalam menjaga ketersediaan pangan dan stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen dan produsen untuk jenis pangan pokok beras, jagung, dan kedelai dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Sementara untuk jenis pangan pokok selain yang ditugaskan kepada Bulog, pemerintah melalui menteri terkait dapat menugaskan kepada badan usaha milik negara di luar Bulog atau Bulog dengan persetujuan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang badan usaha milik negara dan berdasarkan keputusan rapat koordinasi.

Hal itu tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan Kepada Perum Bulog Dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional yang ditandatangani Joko Widodo pada tanggal 25 Mei 2016.

Jenis pangan pokok selain tiga itu adalah gula, minyak goreng, tepung terigu, bawang merah, cabe, daging sapi, daging ayam ras, serta telur ayazm.

Perum Bulog dalam melaksanakan penugasan melakukan pengamanan harga pangan di tingkat produsen dan konsumen, pengelolaan cadangan pangan pemerintah, penyediaan dan pendistribusian pangan, pelaksanaan impor pangan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, pengembangan industri berbasis pangan, dan pengembangan pergudangan pangan.

Dalam upaya menjaga ketersediaan pangan dan stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen dan produsen untuk jenis pangan pokok beras, Bulog melakukan pengamanan harga beras di tingkat produsen dan konsumen, pengelolaan cadangan beras pemerintah, penyediaan dan pendistribusian beras kepada golongan masyarakat tertentu.

Juga pelaksanaan impor beras dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, pengembangan industri berbasis beras, termasuk produksi padi/gabah, pengolahan gabah dan beras, dan pengembangan pergudangan beras.

Perpres yang terdiri dari 19 pasal itu menyebutkan pula menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertanian menetapkan besaran jumlah Cadangan Pangan Pemerintah yang akan dikelola oleh Bulog, besaran jumlah cadangan beras pemerintah.

"Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan cadangan pangan pemerintah, menteri menetapkan harga patokan pemerintah (HPP) berdasarkan keputusan rapat koordinasi," sebut Perpres itu.

Stabilisasi harga pangan pada tingkat produsen, dilaksanakan dengan pembelian pangan oleh Bulog dengan HPP di gudang Perum Bulog, dalam hal rata-rata harga pasar setempat di tingkat produsen di bawah harga Acuan atau HPP.

Dalam hal rata-rata harga pasar setempat di tingkat produsen di atas harga acuan atau HPP, Bulog diberikan fleksibilitas harga pembelian pangan. Besaran fleksibilitas pembelian harga pangan dan jangka waktu pemberian fleksibilitas pembelian harga pangan ditetapkan dengan keputusan rapat koordinasi.

Stabilisasi harga pada tingkat konsumen dilaksanakan melalui pelaksanaan operasi pasar oleh Bulog dengan harga paling tinggi sama dengan harga eceran tertinggi (HET).

Bulog melakukan pengendalian ketersediaan dan distribusi pangan, yang meliputi kegiatan pengadaan, pengolahan, pemerataan stok antarwilayah sesuai kebutuhan, dan distribusi.

Pengadaan pangan oleh Perum Bulog diutamakan melalui pengadaan pangan dari dalam negeri dan jika hal pengadaan pangan dari dalam negeri tidak mencukupi untuk pemenuhan stok, menjaga stabilitas harga dalam negeri, dan atau memenuhi kebutuhan penugasan pemerintah, dapat dilakukan pengadaan pangan dari stok operasional Bulog maupun dari luar negeri dengan tetap menjaga kepentingan produsen dan konsumen dalam negeri.

Jumlah dan waktu pelaksanaan pengadaan pangan dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan oleh Menteri berdasarkan keputusan Rapat Koordinasi. Ketentuan mengenai pelaksanaan pengadaan pangan dan tata niaga pangan dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

Penggunaan cadangan pangan pemerintah dan atau cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog digunakan untuk kekurangan pangan, stabilitas harga pangan, bencana alam, bencana sosial, keadaan darurat, kerja sama internasional, dan atau pemberian bantuan pangan luar negeri.

Pelaksanaan penggunaan untuk kekurangan pangan dan stabilitas harga pangan dilakukan melalui operasi pasar umum atau operasi pasar khusus pada sasaran tertentu.

Bulog dapat melakukan penyaluran pangan yang dikelolanya untuk kebutuhan masyarakat berpendapatan rendah untuk beras, industri pakan ternak untuk jagung, perajin tahu dan tempe untuk kedelai, dan kebutuhan lainnya.

Penyaluran beras ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial, sedangkan penyaluran jagung dan kedelai ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang perindustrian. Jenis kebutuhan lainnya dan penyalurannya ditetapkan oleh Menteri.

Soal perluasan wewenang Bulog dalam mengendalikan harga dan stok kebutuhan pokok mendapat dukungan penuh dari kalangan DPR agar masyarakat tak mengalami kesulitan saat membeli.

Ketua DPR Ade Komarudin mendesak pemerintah untuk merevitalisasi Perum Bulog sebagai badan pengendali harga dan cadangan pangan nasional sehingga tidak selalu terulang kenaikan harga bahan pangan, khususnya menjelang bulan suci keagamaan.

"Saya sudah kerap diskusikan untuk mewacanakan kembali revitalisasi Perum Bulog sebagai pengendali harga dan cadangan pangan nasional," katanya saat sidak ke pasar induk Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) Cibitung dan pasar tradisional Tambun, kepada Antara.

Salah satu penyebab terjadinya lonjakan harga pangan karena menyusutnya peran negara dalam mengendalikan stok pangan nasional. Utamanya karena direduksinya peran Perum Bulog yang hanya menjadi "manager" stok dan harga beras saja.

Menurut Ade, sekurang-kurangnya Perum Bulog harus diberikan wewenang kembali mengatur tujuh komoditas strategis yang kerap mengalami fluktuasi harga, serta perlunya diambil alih kembali wewenang mengatur oleh negara itu agar perut rakyat diisi oleh makanan yang bergizi dan stabil serta terjangkau harganya.

Meskipun Bulog sudah menjadi perum, namun fungsi negara harus terus dan tetap menjalankan misi negara dan tinggal bagaimana mengaturnya agar tidak bertabrakan dengan aturan yang ada.


Rabu, 03 Agustus 2016

Harga Beras Stabil

Rabu,3 Agustus 2016

JAKARTA, KOMPAS — Pasokan beras ke Jakarta mencukupi sehingga harga stabil sebelum dan sesudah Lebaran. Fenomena kemarau hujan tidak mengganggu pasokan, hanya menurunkan kualitas beras.

"Harga beras tetap stabil dan terjaga sebelum dan setelah Lebaran sebab ada operasi pasar," ujar Wakil Ketua Dewan Pengurus Daerah Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Billy Haryanto, dihubungi pada Selasa (2/8).

Pantauan Kompas di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, harga beras berkisar Rp 7.000-Rp 10.000 per kilogram. Ketika sampai di toko-toko beras di seputar Jabodetabek, seperti Toko Cap Naga Sakti Setiabudi di Pamulang, Tangerang Selatan, harga beras menjadi Rp 10.000-Rp 14.000 per kilogram karena ongkos distribusi.

Edi (27), pedagang beras di toko itu, membenarkan, pasokan yang stabil dan terjaga sebelum dan sesudah Lebaran menjaga harga stabil di periode itu. Pasokan datang ke toko itu setiap dua bulan sekali sebanyak 95 karung dengan muatan total 4,75 ton. Mereka memperoleh pasokan beras itu dari Pasar Induk Cipinang dan toko agen di Tangerang.

Buka keran komunikasi

Billy mengatakan, operasi pasar yang dilakukan pada masa menjelang Lebaran membuka keran komunikasi sehingga pedagang dan pemerintah sama-sama mengetahui jumlah stok beras.

Situs Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan saat ini menyebutkan, harga beras medium nasional rata-rata Rp 10.540 per kilogram. Adapun harga beras medium di Jakarta rata-rata Rp 10.840 per kilogram. (C11)

http://epaper1.kompas.com/kompas/books/160803kompas/#/18/

Pemkab Sumenep Tuding Bulog Persulit Kinerja Pemerintah

Selasa, 2 Agustus 2016

Sumenep, 2/8 (Media Madura) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Madura, Jawa Timur menuding pejabat di lingkungan Gudang Bulog setempat tidak kooperatif. Bahkan, terkesan mempersulit kinerja pemerintah daerah.

Hal itu dikemukakan oleh Asisten II Setkab Sumenep, Hery Koentjoro. menurutnya, pelayanan di Gudang Bulog Sumenep perlu dievaluasi, karena terkesan tertutup dalam urusan administrasi distribusi Beras Untuk Rakyat Miskin (Raskin).

“Bulog itu terkesan tertutup, bahkan kami pun kesulitan untuk masuk kesana,” ujar Asisten II Setkab Sumenep, Hery Koentjoro kepada wartawan, Selasa (2/8/2016).

Menurutnya, terkadang untuk meperoleh data harus menunggu hingga berhari-hari. Padahal di Gudang bulog sudah ada tiga pejabat dari unsur PNS yang ditugaskan, salah satunya Kepala Gudang, dan Korlap Raskin.

”Kami tak tahu apa alasannya. Yang jelas saat kami minta sesuatu tidak lagsung dikasih, masih dijanjikan besok, dan besok,” tegas mantan Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sumenep itu.

Namun, dari sebanyak 1.745.670 ton beras yang harus didistribusikan terhadap masyarakat penerima manfaat, pihaknya mengaku sudah mencapai 84,87 persen, sekitar 15,13 persennya yang belum terdistribusikan.

”Kami harap, semua elemen melakukan pengawasan, karena samakin banyak dilakukan pengawasan, program itu akan semakin bagus,” pungkasnya.

http://mediamadura.com/pemkab-sumenep-tuding-bulog-persulit-kinerja-pemerintah/

Komisi IV DPR Kunjungi Perum Bulog Ternate

Selasa, 2 Agustus 2016

Ternate, 2/8 (Antara Maluku) - Anggota Komisi IV DPR RI melakukan Kunjungan kerja (Kuker) ke Perum Bolog Sub Dive Wilayah I Maluku Utara (Malut), untuk memantau kesiapan dalam penyediaan pangan bagi kebutuhan masyarakat.

"Kunjungan kerja (Kuker) Komisi IV DPR RI untuk mengetahui kinerja bulog, penyediaan pangan, sekaligus meninjau gudang-gudang bulog serta persedian beras di perum bulog sub Drive wilayah I Ternate Malut," kata Kepala Perum Bulog Sub Drive Wilayah I Malut Nazamudin Kotarumalos di Ternate, Selasa.

Dia mengatakan kunjungan DPR RI Komisi IV adalah bagian dari program kerja dan masa reses karena komisi IV adalah membidangi ekonomi.

"DPR RI Komisi IV melakukan pertemuan dengan pihak bulog, dalam pertemuan itu sebagaimana merupakan progtam kerja, sekaligus memantau bidang pertanian dan Bulog, karena bulog juga termasuk BUMN," ujarnya.

Dia mengatakan, paparan di depan Komisi IV lanjut Nazamudin, pihak bulog telah mengusulkan program baru yang memudahkan pembeli. sehingga kemandirian pangan di daerah itu mudah tercapai.

Sedangkan untuk ketahanan stok pangan di Kota Ternate dan wilayah Maluku Utara tersedia di gudang di ternate sebanyak 5.100 ton, sedangkan gudang yang ada di Tobelo sebanyak 800 ton.

"Jadi stok yang ada iti terhitung dalam 5 bulan ke depan kategori aman, karena jika di totalkan sebanyak 5.900," katanya.

Jumlah stok pangan yang ada, sudah termasuk ketersedian Raskin, komersial dan operasi pasar.

Hadir dalam pertemuan Kunker DPR ini Wakil Komisi IV DPR RI Daniel Djohan, PT Pupuk Haltim Parman, Bulog pusat Pengembangan pemesaran Imam Subowo.

15 Persen Raskin Belum Terdistribusi, Bulog Diminta Transparan

Selasa, 2 Agustus 2016

TIMESINDONESIA, SUMENEP – Sebanyak 15 persen bantuan beras untuk rakyat miskin atau raskin di gudang Bulog untuk warga Sumenep, Jawa Timur belum terdistribusi.

Berdasarkan data di lingkungan Pemkab Sumenep, hingga saat ini realisasi raskin baru mencapai 84,87 persen. Sedangkan 15,13 persen  masih belum terdistribusi. Adapun kuota raskin yang harus direalisasikan setiap bulan sebanyak 1.745.670 ton.

Terkait hal ini, Asisten II Setkab Sumenep, Hery Koentjoro mendesak pelayanan di Gudang Bulog Sumenep perlu dievaluasi. Ini karena pelayanan di Gudang Bulog Sumenep terkesan tertutup, terutama soal adminitrasi tentang bantuan raskin.

”Saya  kesulitan untuk masuk ke Gudang bulog. Untuk meperoleh data harus menunggu hingga berhari-hari. Padahal sudah ada tiga orang dari unsur PNS yang ditugaskan, salah satunya Kepala Gudang, dan Korlap Raskin. Kami tidak tahu apa alasannya,” terangnya.

Menurutnya, ketika akan meminta data ke Bulog Sumenep, masih selalu dipersulit. Mereka hanya berjanji dan berjanji besok. Namun, nyatanya hingga berhari-hari data yang diminta tidak dikasih.

”Makanya, kami berharap semua elemen melakukan pengawasan, karena samakin banyak pengawasan, maka program itu akan semakin bagus,” tegasnya. (*)

Selasa, 02 Agustus 2016

Bulog Temukan Kehilangan 864 Ton Beras

Selasa, 2 Agustus 2016

Kasus Dugaan Korupsi Stok Opname

SEMARANG – Perum Bulog Divre Jateng akhirnya menemukan adanya kehilangan beras sebanyak 864 ton di gudang setelah muncul laporan setelah pergantian Kepala Gudang Bulog Baru (GBB) Mangkang Kulon Sub Divre Semarang Sudarmono.

”Saat pergantian itu oleh kepala gudang baru, Agus Sudarno, kami lakukan stock opname membandingkan dengan stok fisiknya. Tetapi hasilnya masih diragukan, maka kami lakukan overstaple untuk kehilangan koli dan kesusutannya,” ujar Kepala Perum Bulog Divre Jateng Usep Karyana dalam persidangan lanjutan kasus dugaan korupsi stock opname beras GBB Mangkang Kulon di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (1/8).

Adapun terdakwa dalam kasus ini adalah Sudarmono dan juru timbang Agus Priyanto. Ditambahkan Usep, secara regional Perum Bulog dipimpin Kepala Divre dan di tingkat karisidenan adalah Subdivre.

Hal itu seperti di Subdivre Wilayah 1 Semarang membawahi di antaranya Demak, Kendal, Grobogan, Purwodadi, dan Semarang. Secara online sistem dan riil sistem sebenarnya bisa diketahui posisi stok masuk dan keluar beras. Sementara untuk pengecekan dilakukan pemeriksaan fisik yang secara eksternal dilakukan BPK dan internal oleh satuan pengawasan internal. Pascatemuan tersebut, dari internal sendiri berupaya supaya yang bersangkutan bisa secepatnya mengembalikan kerugian negara akibat tindakannya tersebut. Pihaknya pun sudah menindaklanjuti supaya para pelaku bisa mempercepat pengembalian. ”Kalau dilakukan pembiaran terus tidak baik karena kami ingin kerugian bisa cepat kembali. Tetapi kami tunggu tidak ada itikad untuk mengembalikan, akhirnya kami laporkan kasus ini ke kejaksaan,” papar Usep di hadapan majelis hakim yang dipimpin Anastacia.

Beras ini sedianya digunakan untuk keperluan move nasional dengan tujuan Kalimantan Barat sebanyak 500 ribu kilogram dari gudang Bulog 102 Mangkang dan sudah ditindaklanjuti Sudarmono. Selain itu, juga dikeluarkan 500 ribu kilogram dari gudang filial Bulog Mutiara Jaya milik Edhi Wijaya. Agus Priyanto sebagai juru timbang sendiri saat melaksanakan tugas di gudang filial Bulog ternyata tidak sesuai dengan yang telah ditentukan dan sudah dicampur menir oleh Edhi Wijaya. Namun kejadian itu tidak dilaporkan kepada Sudarmono dan keesokan harinya baru Sudarmono bersama Kasubdivre Semarang saat itu dijabat Mustafa Kamal mendatangi gudang filial dan dilakukan pembicaraan bertiga secara tertutup. Pada hari berikutnya, tersangka melihat beras ditimbang tidak sesuai ketentuan, bahkan angka digital dimatikan dan beras masih juga bercampur menir. Hal ini tidak dilaporkan kepada Sudarmono, selaku kepala gudang, namun membiarkan hal itu tetap dilakukan Edhi Wijaya. Kerugian negara dalam kasus ini diperkirakan sekitar Rp 7 miliar lebih. (J14-71)

http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/bulog-temukan-kehilangan-864-ton-beras/

Tangerang Tunggak Bayar Raskin Bulog

Senin, 01 Agustus 2016

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Tangerang Iis Aisyah mengakui Kota Tangerang masih memiliki tunggakan untuk pembayaran beras miskin (raskin) dari Badan Usaha Logistik (Bulog)

“Utang berjalan raskin kota Tangerang  sampai dengan 22 Juli 2016 sebesar Rp 964.242.000," katanya kepada Republika.co.id, Senin (1/8).

Iis menyampaikan tunggakan tersebut juga mengakibatkan terhambatnya distribusi raskin dari Bulog ke kelurahan-kelurahan yang melakukan penunggakan pembayaran. Menurut dia, kalau pelunasan sudah diberikan, maka otomatis raskin dari Bulog juga akan dikirim lagi.

Dia menjelaskan,  Bulog memang tidak akan mengirim beras terlebih dahulu sebelum tunggakan dilunasi. "Misal untuk bulan ini, Agustus, tidak semua raskinnya untuk jatah bulan Juli, ada yang untuk Juni juga,” tutur dia.

Menurut Iis Kota Tangerang tidak pernah melampaui satu periode untuk membayar tunggakan tersebut. Biasanya akhir periode, sekitar bulan Desember-Januari, semua tunggakan akan dilunasi.

Selain itu saat ini Iis  mengaku kesulitan dalam melakukan permintaan alokasi. Hal itu dikarenakan Bulog Sub divisi regional (Subdivre) Tangerang Raya sudah jarang mengirimkan rekapitulasi data pelunasan pembayaran raskin di Kota Tangerang. Padahal sebelumnya, Bulog Subdivre Tangerang Raya rajin mengirimkan rekapitulasi tersebut. Hal itu tentu memudahkan pihaknya untuk membuat surat permintaan alokasi.

"Jadi bagi kelurahan yang sudah lunas sampai akhir Juli bisa dikirim alokasi untuk agustus. Tapi sekarang saya belum terima laporan sampe akhir Juli, biasanya mereka tiap bulan mengirim email, sejak Kasubdivre yang baru ini tidak setiap bulan diberitahukan," ujarnya.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/16/08/01/ob8csh394-tangerang-tunggak-bayar-raskin-bulog