Selasa, 05 April 2016

Sang Jenderal dan Gubernur Kompak Nih Kritik Bulog

Senin, 04 April 2016

LOMBOK – Sikap inkonsisten Badan Urusan Logistik (Bulog) terhadap pembelian pangan hasil petani, kembali mendapat kritikan pedas. Kritikan kali ini disampaikan langsung Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan Gubernur NTB,  TGH M Zaenul Majdi, usai melakukan panen raya di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, akhir pekan kemarin.

Di hadapan perwakilan kelompok tani pada Panen Raya Bersama Panglima TNI, KSAD Jenderal TNI Mulyono, dan Gubernur NTB, di Balai Benih NTB Puyung, Jenderal Gatot menegaskan bahwa pihaknya ‘memusuhi’ Bulog sejak lama. Ini karena selama ini Bulog tidak pernah berpihak kepada petani.  

Beberapa kali ia harus angkat bicara kepada presiden dan turun tangan langsung mengatasi masalah petani. Hal ini dimaksudkan agar persoalan petani di Indonesia bisa teratasi. Akibatnya, beberapa pimpinan Bulog sebelumnya harus dipecat, karena tidak konsisten membantu petani.

“Sudah lama saya nyatakan, saya ini musuhnya Bulog. Makanya Pak Kadivre Bulog sekarang ini tidak berani hadir kalau ada saya,” ucap Panglima TNI seperti dilansir radar Lombok (Grup JPNN).

Gubernur NTB, TGH M Zaenul Majdi sebelumnya juga menyindir langsung Bulog yang diwakili Direktur Operasional Bulog, Wahyu Supariono. Gubernur menyebut, ada 47 persen masyarakat NTB bekerja di sektor pertanian. Setiap tahunnya menghasilkan 12 persen kenaikan produksi pangan. Angka ini melebihi rata-rata kenaikan nasional.(dal/cr-ap/fri/jpnn)

Langkah Mentok Perum Bulog

Senin, 04 April 2016

Metrotvnews.com, Jakarta: Dengan nada bicara yang tenang dan tersenyum ramah, Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti tidak menganggap begitu soal  terkait adanya petani yang lebih merelakan gabahnya diangkut para tengkulak ketimbang diserap oleh lembaga yang dipimpinnya sekarang. Menurut dia,  keberanian swasta untuk menawarkan harga beli lebih tinggi dibanding penetapan harga pembelian pemerintah (HPP)  akan menguntungkan pihak petani.

Ketentuan HPP termaktub dalam Inpres Nomor 5 Tahun 2015 yang  memuat tentang kebijakan pengadaan gabah dan beras serta penyalurannya yang dilakukan pemerintah. Dalam Inpres tersebut dicantumkan bahwa harga Gabah Kering Panen (GKP) adalah sebesar Rp3.700 per kilo gram, Gabah Kering Giling (GKG) Rp4.600 per kilo gram, dan beras ditetapkan Rp7.300 untuk setiap kilo gramnya.

Sementara dalam praktiknya, seperti dikutip dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 April 2016,  selama Maret 2016 harga rata-rata GKP di petani mencapai Rp 4.703 per kilo gram dan di penggilingan Rp 4.783 per kilo garam. Untuk komoditas beras di tingkat petani Rp8.800 per kilo gram dan di tingkat penggilingan Rp8.850 per kilo gram. Sedangkan harga terendah di tingkat petani dan penggilingan masing-masing Rp2.700 dan 2.770 per kilo gram.

“Itu memang kondisi pasar. Untuk petani yang bisa mendapatkan harga di atas HPP ya untung alhamdulillah. Sementara bagi petani yang tidak bisa di atas HPP, ya kami beli. Tapi yang jelas kami mengerahkan satker (satuan kerja) untuk lekas menyerap gabah dari petani,” ujar Djarot saat ditemui Metrotvnews.com di Kantor Pusat Perum Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat (1/4/2016).

Didorong Inpres, tersandera HPP

Tujuan diterbitkannnya Inpres Nomor 5 Tahun 2015 sudah barang tentu didorong keinginan pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional. Di dalam instruksi tersebut dijelaskan bahwa kepentingan munculnya panduan ini dalam rangka stabilisasi ekonomi nasional, melindungi tingkat pendapatan petani, stabilisasi harga beras, pengamanan cadangan beras pemerintah, dan penyaluran beras untuk keperluan yang ditetapkan pemerintah serta sebagai kelanjutan dari kebijakan perberasan.

Menurut Djarot, Bulog bermain di dua sisi itu. Pertama, melakukan penyerapan gabah petani untuk menjaga stabilisasi harga pangan, yakni beras. Kedua, melindungi tingkat pendapatan petani.

“Maka, ketika harga gabah di lapangan berada di atas ketentuan HPP, Bulog tidak bisa apa-apa,” kata Djarot.

Dalam menentukan HPP, pemerintah mengajak banyak pihak,  meskipun diktum kedua dalam inpres tersebut dikatakan bahwa penentuan HPP  ditetapkan oleh Kementerian Pertanian. Sementara Bulog, dalam posisi ini hanya ditempatkan sebagai pelaksana penyerapan gabah.

Bulog tidak dalam posisi yang berhak menentukan HPP. Djarot menjelaskan, itu tanggungjawab regulator. Banyak pihak yang dilibatkan. Antara lain Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Penentuan HPP juga berdasarkan pertimbangan dan masukan beberapa ahli.

Kondisi harga gabah di lapangan yang terkadang melebihi HPP ini membuat Bulog harus bekerja keras. Meskipun begitu, penjualan gabah petani ke pihak lain juga tidak mesti ditafsirkan secara berlebihan.

Istilah tengkulak itu tidak bisa dipahami sebagai pihak yang akan menimbun dan mengambil keuntungan berlebihan dan mengganggu stabilisasi harga. Ia menyebut tengkulak tidak banyak. Tengkulak pun diyakini tidak bisa bersaing dengan pemerintah.

“Bayangannya begini, kalau dia (tengkulak) harus beli satu juta ton setara beras, itu kan setara dengan 1,7 triliun rupiah. Tidak banyak orang memiliki uang segitu,” kata Djarot.

Bulog beranggapan bahwa transaksi penjualan gabah yang dilakukan petani di atas HPP dan diberikan kepada pihak lain masih di batas wajar. Untuk saat ini, Bulog masih berkeyakinan bisa mencapai target yang diharapkan pemerintah, yakni memenuhi perolehan beras sebanyak dua sampai empat juta ton selama panen raya Maret – Juni 2016.

“Untuk saat ini saja sudah diperoleh 1,5 juta ton lebih. Kan ini panen raya,” kata Djarot.

Persoalan HPP yang terkesan jomplang dengan kondisi lapangan ini masih dianggap wajar di mata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Menurut dia, belum dibutuhkan adanya perubahan angka HPP mengingat biaya operasional produksi pertanian pun menurun.

“Hal terpenting, petani mendapatkan harga yang wajar seperti HPP gabah saat ini," ujar Amran kepada awak media saat melakuka kunjungan di Desa Bungo, Kecamatan Wedung Kabupaten Demak, Jawa Tengah pada Jumat (1/4/2016).

Terbentur minimnya sarana

Awal Maret memberikan catatan penting bagi Bulog untuk secara total melaksanakan secara serius tanggungjawabnya dalam penyerapan gabah petani. Masalah lain yang terdapat dalam lembaga yang pernah menjadi “anak emas” pemerintahan era Orde Baru ini adalah terbatasnya sarana dan prasarana pengolahan gabah dan beras.

Dalam inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan di gudang Bulog Triyagan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada 11 Maret lalu, Presiden Joko Widodo mengeluhkan mangkraknya tiga mesin pengering gabah. Menurut perhitungan Presiden, kerusakan mesin dengan kapasitas 80 ton sehari ini cukup mengganggu proses penyerapan gabah petani yang sedang menjadi pekerjaan rumah Perum Bulog.

“Ini yang mau kami cari tahu, kendalanya di mana. Karena duitnya ada lho atau ada sesuatu yang lain,” ujar Presiden Joko Widodo kepada sejumlah awak media.

Menanggapi hal ini, menurut Djarot, keterbatasan sarana prasarana dan kerusakan mesin-mesin pengolah gabah di daerah menjadi objek penanganan serius yang dilakukan pihaknya sejak Januari 2016. Kata dia, seiring memasuki masa panen raya, persoalan itu sedikit demi sedikit bisa Bulog tertangani.

Sewaktu disidak Presiden, sebenarnya Bulog juga sedang melakukan peremajaan mesin. Untuk kasus di Jawa Tengah misalnya, Bulog memiliki 14 unit rice mill yang kini telah diremajakan dari berbahan bakar minyak tanah dan solar dialihkan ke bahan bakar gas. Tiap unit menghabiskan sekitar 30 sampai 40 juta rupiah untuk bisa berfungsi kembali.

Penanganan sarana prasarana ini menambah beban kerja Bulog di samping waktu penyerapan gabah petani yang terbatas mengingat hanya bisa dimaksimalkan pada masa panan raya.

“Ya ini juga menjadi bahan evaluasi yang menjadi perhatian kami untuk terus memperbaiki kinerja,” kata Djarot.

Tugas yang tak kian jelas

Djarot menerangkan, Bulog yang kini hanya mencakup pada kewenangan sebagai operator guna menjaga kestabilan pangan nasional tidak bisa berbuat banyak. Karena harus menunggu instrumen pelaksanaan tugas dari berbagai pihak terkait. Selain penentuan HPP dalam program penyerapan gabah petani misalnya, wacana Bulog yang akan diposisikan sebagai lembaga pangan nasional juga belum mendapatkan kejelasan.

“Apakah kami hanya berkewenangan pada komoditi beras, atau tiga komoditi lain seperti jagung dan kedelai. Atau muncul juga wacana kewenangan terhadap 11 komoditi. Kami masih menunggu hasil rapat koordinasi di pemerintah,” kata dia.

Sebagaimana yang ditekankan dalam bentuk Inpres, Djarot mengaku masih mengerahkan konsentrasi penuh pada penyerapan gabah petani di masa panen raya. Selebihnya, Bulog menunggu arah kebijakan lanjutan sembari terus memperbaiki kinerja perusahaan.

“Bulog ini kan Perum. Jadi selain memiliki tugas sebagai tangan pemerintah di lapangan untuk stabilisasi pangan, kami juga memiliki pekerjaan untuk menghidupi diri sendiri sebagai perusahaan. Soal kesiapan, kami juga telah melakukan berbagai usaha perbaikan, termasuk kesiapan sumberdaya manusia di lapangan. Kami merekrut tenaga-tenaga muda yang berpengalaman agar mampu melakukan pekerjaan secara lebih cepat,” kata Djarot.

Terkait stabilisasi tiga komoditi pangan yang diwacanakan menjadi tanggungjawab Bulog, Djarot menjelaskan untuk beras dan jagung pihaknya optimis tidak sampai melakukan impor. Lain lagi untuk kedelai, berbagai faktor yang menyertai satu jenis pangan ini menjadikannya harus ekstra dalam melakukan stabilisasi.

“Stok beras saat ini di gudang mencapai 1,5 juta ton lebih dan akan ada tambahan selama musim panen. Jagung juga masih aman, sekarang ada 250 ribu ton. Tidak perlu impor. Sementara kedelai ketersediaan di dalam negeri menurun berbanding terbalik dengan permintaan yang tidak bisa turun. Faktornya banyak, salah satunya sisi produksi di mana kedelai bukan tanaman tropis dan lahan yang terus berkurang,” ujar Djarot.

Bulog memahami ketahanan pangan nasional terlebih terwujudnya swasembada merupakan cita-cita yang sedang didorong secara total oleh pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Hanya saja, kata Djarot, jika berkaca dari masa lalu, keberhasilan swasembada pangan  juga didukung oleh kesepakatan instrumen yang dipakai sebagai titik awal pelaksanaan pencapaian target.

“Kalau melihat kejayaan swasembada dulu, saya kira di sana terdapat satu kesepakatan instrumen dan data yang dipakai. Semisal, berapa luas total lahan pertanian kita? Berapa jumah sumberdaya manusia tani Indonesia? Itu memakai satu sumber. Sehingga kita berangkat dari tolok ukur yang sama,” kata Djarot.

Kondisi saat ini, kata Djarot, masing-masing yang terlibat bisa memakai data yang cenderung berbeda. “Ya itu, jumlah luas lahan pertanian kita sekarang saja masih ada  perbedaan pendapat,” kata Djarot.

IMPOR JAGUNG JANGAN DIMONOPOLI BULOG‎

SENIN, 04 APRIL 2016
 
RMOL. ‎Bulog diminta supaya tidak melakukan monopoli impor terhadap produk jagung yang digunakan untuk pakan ternak. Sebelum menerapkan kebijakan strategis yang berkaitan dengan impor, semestinya pemerintah dapat melibatkan pihak swasta dan jangan memusuhinya.

‎Pendapat tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (Gappi), Anton J Supit menyikapi kebijakan pemerintahan dalam membatasi impor terhadap produk jagung dan kedelai pakan ternak. Kebijakan yang telah dilakukan sejak Agustus 2015 itu ternyata membuat konsumen merugi karena harga melambung tinggi.

‎"Puncaknya terjadi pada saat dimulainya pembatasan impor. Harga jagung naik dari sebelumnya Rp 3.000 menjadi Rp 7.000 per kilogramnnya," kata Anton kepada wartawan di Jakarta, Senin (4/4).

‎Anton sependapat bahwa perlu adanya pemberdayaan petani dalam negeri. Namun jika pemerintah ingin memberlakukan pembatasan impor tentunya harus dibarengi dengan data produksi dalam negeri yang akurat.

‎Lebih jauh Anton juga mengingatkan bahwa cara berpikir yang keliru kalau semangat anti-impor itu dijadikan dogma yang bersifat dosa. ''Itu sudah tidak benar. Kalau negara lain sudah berpikir seperti itu, lantas barang kita nanti mau dijual kemana?'' ujarnya sambil mengingatkan pentingnya meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia.

‎Lantas berkaitan dengan peran Bulog yang sekarang ini diberi kewenangan mengendalikan keran impor, Anton berharap pemerintah seharusnya bisa mengikuti aturan. Semestinya, kata dia, kewenangan ekspor dan impor itu ada di bawah kendali Kementerian Perdagangan. Sementara kementerian pertanian itu bertanggungjawab untuk membela petani.

‎''Tentunya harus ada koordinasi agar tidak ada overlapping. Oleh karena itulah, peranan menteri koordinator menjadi penting (untuk mekanisme impor) karena di sini ada dua kepentingan, konsumen dan petani,'' cetus dia.

‎Secara terpisah, Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Edhy Prabowo mengingatkan dalam kaitannya dengan mekanisme impor sebaiknya diserahkan kepada BUMN, bukan menempatkan Bulog sebagai alat impor. Pihak BUMN perlu diberikan kewenangan supaya terjadi pengendalian harga yang jelas. ''Selama ini kan Bulog fungsi utamanya menjaga kestabilan harga di pasar,'' katanya.

‎Berkaitan dengan harga yang melambung tinggi pascapenerapan pembatasan impor, Edhy menilai hal yang perlu dilihat adalah tata kelola dalam distribusi produk pertanian tersebut. Ia juga meminta agar pihak Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan bisa melakukan koordinasi secara intensif agar gejolak harga bisa lebih diantisipasi.

‎"Kalau ada yang dirugikan, tinggal ditanya permasalahannya dimana. Kementerian Pertanian pasti sudah punya data, misalnya jagung bagaimana, kedelai bagaimana. Kalau itu sudah tidak ada, baru dipikirkan impor," tandasnya.

‎Selain permasalahan tata kelola, Edhy juga menilai permasalahan lainnya terletak pada proses distribusi. ''Perlu juga diperhatikan proses distribusi dari daerah produsen ke pasar sehingga tidak terjadi kenaikan harga pangan di pasaran,'' ujarnya. [sam]‎

http://www.rmol.co/read/2016/04/04/241976/Impor-Jagung-Jangan-Dimonopoli-Bulog%E2%80%8E-

Senin, 04 April 2016

Penyerapan Gabah Bulog Masih Rendah

Senin, 4 April 2016

PURWOKERTO, suaramerdeka.com – Meski sudah memasuki panen raya, namun penyerapan gabah petani di wilayah eks Karisidenan Banyumas oleh Bulog Sub Divre IV Banyumas bersama mitra kerja, sejauh ini masih rendah.

Kondisi ini disebabkan, harga gabah di pasaran masih tinggi dibanding harga patokan pemerintah (HPP). Sementara di sisi lain, Bulog tetap harus melaksanakan penyaluran rutin raskin ke rumah tangga sasaran 9RTS) di wilayah tersebut.

Humas Bulog Sub Divre IV Banyumas, M Priyono mengatakan, hingga saat ini, pihaknya baru mampu menyerap gabah petani sebanyak 2.700 ton dari target tahun 2016, sebanyak 80 ribu ton. Sedangkan kebutuhan raskin tiap bulan yang harus disalurkan di empat kabupaten, yakni Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara sebagyak 6.229.995 kilogram.

“Penyerapan tetap berjalan karena masa panen masih berlangsung dan untuk penyaluran raskin bulan ini tetap kami salurkan karena masih ada simpanan atau cadangan bulan sebelumnya,” katanya, Minggu (3/4).

rendahnya penyerapan beras petani tersebut, diakui karena harga gabah dan beras di pasaran masih di atas HPP. Untuk HPP beras Rp 7.300/kg. Sedang HPP gabah kering panen (GKP) Rp 3.700/kg. Menurutnya, saat ini rata-rata penyerapan beras atau gabah dalam sehari antara 300 ton hingga 400 ton. Bulog juga sudah menurunkan 19 orang petugas yang langsung membeli gabah petani.

Pihaknya tetap optimis, kuota tetap terpenuhi karena masa panen masih berlangsung dan harga gabah dan beras di pasaran kini mulai ada penurunan. “Ada 50 mitra kerja pengusaha perberasan yang sudah kontrak dengan kami dan ini masih ditambah Gapokan dan KUD yang tersebar di eks Karesidenan Banyumas. Mudah-mudahan target pengadaan tetap terealisasi,” tandasnya.

(Agus Wahyudi/CN39/SM Network)

http://berita.suaramerdeka.com/penyerapan-gabah-bulog-masih-rendah/

Target Panen 4 Juta Ton Dua Bulan

Minggu, 3 April 2016

JAKARTA, (PR).- Pemerintah menargetkan dapat menyerap 4 juta ton gabah di tingkat petani dalam waktu dua bulan ke depan. Gabah serapan dari petani itu akan langsung memenuhi gudang-gudang Bulog.

Demikian terangkum dalam kunjungan kerja Menteri Pertanian Amran Sulaiman di kawasan pantai utara Jawa, mulai dari Indramayu hingga wilayah Jawa Tengah, pekan kemarin.

Di daerah-daerah yang dikunjungi Mentan melakukan panen raya, penyerapan gabah petani, dan melakukan percepatan pengolahan tanah untuk penanaman padi musim berikutnya.

“Target pemerintah adalah membeli gabah petani sebanyak 4 juta ton dalam waktu dua tiga bulan ke depan,” ujar Mentan kepada wartawan, Jumat, 1 April 2016.

Amran menuturkan, ada beberapa daerah harga gabahnya turun di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). “Kita bergerak cepat bersama Bulog, PPL, dan lainnya untuk menyelamatkan harga gabah di lapangan, sehingga petani tidak rugi,” katanya.

Mentan menegaskan, perlunya mengubah struktur pasar. “Kita lihat panjang rantai pasok. Solusinya antara lain pemerintah harus hadir di tengah petani. Caranya, bangun sistem beli gabah, bukan beli beras,” katanya.

Menurut dia, kalau membeli gabah, maka mau tak mau pemerintah ketemu petani. Bulog ketemu petani.

Mentan juga mencontohkan, pengenalan produk berlabel “Beras Premium 7500” merupakan upaya untuk memotong rantai pasokan yang terlalu panjang. Beras ini dijual Rp 7.500 per kilogram.

“Rencana tahun ini 1.000 titik toko tani Indonesia,” katanya.

Pada kesempatan itu Mentan menyambut baik langkah Kabupaten Pemalang, Provinsi Jawa Tengah yang merespons dengan mengenalkan beras premium 7500.

Pada bagian lain, Mentan mengatakan bahwa selama satu tahun ini petani sudah dapat menggunakan alat-alat mesin pertanian (alsintan) modern. Mereka telah mendapat manfaat alsintan, seperti “combine harvester” dan “rice transplanter”. Keberadaan alsintan bisa menekan biaya.

“Tahun ini 100 ribu unit alsintan akan disebar ke petani,” katanya.

Mentan juga menegaskan pentingnya menaikkan indeks pertanaman. Bisa lebih cepat tanam, misalnya tanam satu kali menjadi dua kali, tanam dua kali menjadi tiga kali. Selain itu, ada gerakan masif “tanam cepat”. “Sehingga, indeks pertanaman naik dan produksi naik,” katanya.

Kepada para petani Mentan berharap untuk mengoptimumkan kondisi saat ini, di mana musim hujan sudah datang, panen, olah, langsung tanam.***

Begini Saran Komisi IV Agar Serapan Bulog Maksimal

Minggu, 3 April 2016

Bisnis.com, BANDUNG - Agar penyerapan beras oleh Bulog berjalan maksimal, Komisi IV DPR RI mendorong BUMN tersebut diberikan kewenangan supaya bisa membeli beras di luar Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron mengatakan, Bulog jangan terpaku pada HPP, tapi Bulog berpatokan yang besarannya ditetapkan pemerintah. Nanti pembayarannya audited BPK sehingga riil berapa yang dibeli sesungguhnya.

"Tapi, pemerintah mengeluarkan policy atas batas anggaran yang disiapkan. Kurangnya pembayaran akan dibayar pada tahun berikutnya," katanya, kepada Bisnis, Minggu (3/4/2016).

Menurutnya, dengan sistem tersebut Bulog bisa membeli lebih banyak beras maupun gabah dari petani dalam negeri. Pembelian harga bulog kepada pemerintah dan kekurangan anggarannya audited tergantung dari perkembangan harga di pasar.

Sedangkan apabila, harga beras maupun gabah nasional melebihi harga referensi dan psikologis yang menyulitkan konsumen, tentu Bulog harus mencari dari luar. Sehingga intervensi harga internasional berlaku di pasar.

Dia menyebutkan, sebenarnya produktifitas padi Indonesia sudah tinggi. Produksi beras nasional pada tahun 2015 mencapai 42 juta ton dengan tingkat konsumsi 34 juta ton atau surplus 8 juta ton.

"Kenapa Indonesia harus impor karena 8 juta ada di pedagang dan masyarakat. Bulog sebagai institusi negara yang ditugaskan untuk mempersiapkan pangan nasional tentu tidak bisa berebut stok yang pas-pasan berada di masyarakat dan pedagang,"ujarnya.

Untuk itu Bulog selalu mencari pada HPP. Selama ini Bulog harus mencari beras hingga ke luar negeri yang surplusnya banyak seperti Thailand.

"Saya kira hukum ekonomi berlangsung. Ketahanan pangan, produktifitas Indonesia lebih baik dari Thailand dan Malaysia. Masalahnya, konsumsi di negara lain lebih rendah dari pada negara kita," ujarnya.

Selain itu, dirinya berpandangan semestinya pemerintah berpikir jangan fokus pada nilai konsumsi yang akan naik terus dan dikejar oleh produksi. Menurutnya, kurang tepat apabila tanpa memikirkan bagaimana memberikan pangan alternatif bagi masyarakat yang basisnya kekuatan lokal.

"Seperti Cimahi makan beras singkong lantas dipaksa dikasi beras. Papua Sagu. Pemerintah menetapkan standar kesejahteraan juga beras kenapa tidak dikonversi ke pangan lokal. Dengan beras sekian kilo, pangan lokal sekian kilo dengan protein sekian," paparnya.

http://bandung.bisnis.com/read/20160403/5/552705/begini-saran-komisi-iv-agar-serapan-bulog-maksimal

Minggu, 03 April 2016

Petani Lombok Adili Bulog Depan Panglima TNI

Sabtu, 02 April 2016
Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo

kicknews.today Loteng – Momen panen raya di Desa Puyung Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok  Tengah NTB, dimanfaatkan jadi ajang pelampiasan petani kepada Badan Urusan Logistik (Bulog). Dihadapan Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo, mereka mengadili perusahaan negara itu karena tidak maksimal menyerap gabah petani dan selalu kalah oleh tengkulak.

Petani asal Kabupaten Lombok Utara, Jumarsah mengaku tidak percaya lagi kepada Bulog. “Waktu harga kedelai anjlok, kami nangis pak. Kemana Bulog?,” kata Ketua Kelompok Tani Lendang Baong, Desa Gegelang ini.

Waktu itu, anjloknya harga kedelain Rp 6.500. Sementara Harga Pembelian Petani (HPP) Rp 7500, namun Bulog tak bisa berbuat banyak dengan menaikkan harga kedelai petani dengan membeli sesuai HPP. “Kami nangis. Kami minta kepada pemerintah agar ini segera ditangani,” tegas Sahriman.

Dialog itu dipandu Assisten II Sekretariat Daerah Provinsi NTB, Ir.Nasrun, memberi kesempatan kepada petani Lombok Tengah. Perwakilan petani, Lalu Budiarta secara terang terangan meminta Bulog bertanggungjawab atas sengkarutnya serapan gabah petani.

Menurutnya, Bulog selalu terlambat dalam banyak hal. “Kenapa Bulog selalu telat? Telat tentukan harga lah, telat datang ke petani lah, kalah dengan tengkulak. Harga HPP jauh dibwah tengkulak. Kenapa sih bisa begitu pak? Ungkapkan lah rasa hati bapak. Apa masalahnya. Toh uang yang dipakai untuk beli gabah petani kan uang negara, untuk rakyat,” kritik Lalu Budiarta yang disambut teriakan “setujuuuu” dari ribuan anggota kelompok tani dan warga yang hadir saat itu.
Dia heran, Bulog masih bertahan dengan harga Rp 3700, sementara tengkulak berani di atas itu.

Curhat dan kekecewaan petani itu selain disampaikan kepada Panglima TNI, juga Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jendral TNI Mulyono, sekaligus berharap ditindaklanjuti Gubernur NTB TGH.M Zainul Majdi. Emosi petani juga didengar langsung Direktur Operasi dan Pelayanan Publik (OPP) Bulog pusat, Dr. Wahyu Suparyono.

Panglima TNI setuju yang disampaikan petani itu. Perasaan sakit yang dirasakan petani pun sama dengan dirasakannya. “Perasaan petani sama dengan saya. Bahkan saya musuhnya Bulog. Kalau saya datang ke suatu acara, Kabulog biasanya ndak datang,” sindir panglima TNI.
Dia meminta Bulog tidak menyakiti perasaan rakyat khususnya petani yang sudah bersusah payah mulai dari tanam sampai panen. “Kemarahan saya sama dengan kemarahan petani,” tegas Panglima TNI.

Padahal menurut dia, Pemerintah melalui Menteri Pertanian sudah berjanji di hadapan Presiden RI Joko Widodo untuk untuk capaian target swasembada pangan dalam kurun waktu tiga tahun. Jika tidak, maka menteri dicopot. Taruhan jabatan juga pada dirinya, ketika itu masih menjabat Kasad.
Petani menurutnya sudah di support maksimal oleh pemerintah, dengan pemberian bantuan bibit, alat pertanian, bantuan pupuk, kemudian wujudnya hasil panen yang bagus bahkan melebihi target. “Tapi setelah dijual, kemudian tidak laku, siapa lagi yang mau jadi petani?,” sesalnya.
Jika itu terjadi, maka petani eksodus ke kota menjadi buruh. Maka ini adalah permulaan kehancuran bangsa bagi Panglima TNI. “Ini adalah salah satu bentuk kehancuran bansa,” ujarnya khawatir.

Wahyu Suparyono menanggapi itu, dengan tegas menyampaikan, tidak akan mempersulit petani. Dia mengaku baru tujuh bulan menjabat dan pertama kali turun ke daerah NTB. “Soal harga, Bulog tidak akan mempersulit petani,” kata dia.

Keluhan sama juga sering didengarnya di daerah lain. Persoalan memang ditemukan diinternal, padahal masih bisa dikeluarkan kebijakan pembelian gabah petani sesuai dengan pasar sehingga tidak kalah saing dengan tengkulak.
Ada beberapa kepala bulog yang dilihatnya tidak becus mengurus persoalan serapan gabah ini, maka siap siap dipecat. “Kalau sampai ada kepala bulog yang menyulitkan petani, saya sikat duluan sebelum disikat Panglima,” ujarnya lantang. Bahkan jika di Bulog NTB terjadi masalah sama, dia akan turun tangan langsung memecat.
Pihaknya secepatnya melakukan pembenahan internal. Kalau pun masih ada sengkarut, menurutnya itu menjadi persoalan lawas pada roda organisasi Bulog sebelumnya. (*)

http://kicknews.today/index.php/2016/04/02/petani-lombok-adili-bulog-depan-panglima-tni/