Minggu, 20 Maret 2016
Jombang pojokpitu.com, Di tengah upaya melakukan mekanisasi pengelolaan lahan pertanian, harga gabah panen petani cenderung anjlok. Di Jombang saat ini harga gabah kering panen hanya mampu dijual seharga Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per kilogram. Harga ini masih jauh dari harga pokok pembelian (HPP) pemerintah Rp 3.700 per kilogram.
Pemerintah Kabupaten Jombang saat ini terus meningkatkan mekanisasi pengelolaan lahan pertanian. Seperti saat ini memasuki musim panen dan musim tanam pemerintah melakukan pembagian sejumlah alat pertanian, seperti alat tanam dan panen padi.
Sayangnya, di tengah mekanisasi ini, sejumlah petani mengeluhkan rendahnya harga gabah. Saat ini di sejumlah daerah harga gabah kering panen hanya dibeli dengan harga Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per kilogram oleh tengkulak. Padahal harga sesuai HPP seharusnya Rp 3.700 per kilogram.
Nyono Suherli Bupati Jombang mengatakan mekanisasi lahan pertanian diyakini bisa memangkas ongkos produksi petani hingga 15 persen, sehingga pemerintah terus berupaya memberikan bantuan peralatan modern kepada seluruh kelompok tani. Soal harga, dia optimis Bulog bisa membeli sesuai ketentuan pemerintah.
Muhammad Suryo Alam anggota dewan Komisi IV yang membidangi pertanian, pangan, maritim dan kehutanan mendesak Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk pro aktif menjemput bola ke petani langsung, sehingga bisa menyerap gabah sesuai harga yang sudah ditentukan.
Anggota DPR RI ini juga mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas produksi pertanian. Caranya, dengan terus membantu memberikan alat pertanian agar petani bisa maju dan bisa meningkatkan tingkat produksi padinya.(end)
http://www.pojokpitu.com/baca.php?idurut=24312&&top=1&&ktg=J%20Pantura&&keyrbk=Peristiwa&&keyjdl=Harga%20Gabah
Minggu, 20 Maret 2016
Susah Diterima Bulog, Petani Terpaksa Jual Gabah ke Tengkulak
Sabtu, 19 Maret 2016
Pasuruan (wartabromo) – Petani Pasuruan masih kesulitan memenuhi persyaratan Bulog dalam penyerapan gabah hasil panenan mereka karena persyaratan yang dipatok dianggap terlalu berat. Para petani pun memilih menjual gabah mereka ke tengkulak.
M Mahsun, anggota kelompok Tani asal Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, mengatakan standar gabah yang bisa diserap oleh Bulog terlalu tinggi dan mereka tidak bisa memenuhinya karena keterbatasan alat, berupa mesin pengering atau dryer.
“Bulog lebih memilih membeli gabah kering giling (GKG). Petani kesulitan untuk memenuhinya karena mesin pengering jumlahnya se-Pasuruan sangat terbatas. Kalau mengeringkan dengan cara tradisional, saat ini kami kesulitan dengan keterbatasan lahan untuk menjemur,” kata Mahsun, Sabtu (19/3/2016).
Mahsun mengungkapkan rata-rata petani mengeluhkan keterbatasan lahan untuk menjemur secara tradisional. Waktu yang dibutuhkan untuk menjemur hingga memenuhi syarat GKG juga cukup lama.
Abd Adhim, kelompok tani asal Rembang, menyampaikan hal senada. Kata dia jika dipaksakan pengeringan hingga memenuhi standar harga Bulog, maka petani malah merugi.
“Harga GKG yang dipatok Bulog di Pasuruan, sekitar Rp 4.300/kg, itu terlalu rendah. Kami justru merugi jika memaksa menjualnya ke Bulog. Lebih baik ke tengkulak, nggak usah repot-repot,” tandas Adhim.
Menurut Adhim, kebijakan pemerintah saat ini yang membantu petani dengan pemberian bibit atau benih hingga mempermudah mendapatkan pupuk, hasil akhirnya masih belum bisa membuat petani lebih sejahtera. “Karena pasca panennya nggak dipikirkan,” pungkasnya. (hrj/fyd)
http://www.wartabromo.com/2016/03/19/susah-diterima-bulog-petani-terpaksa-jual-gabah-ke-tengkulak/
Pasuruan (wartabromo) – Petani Pasuruan masih kesulitan memenuhi persyaratan Bulog dalam penyerapan gabah hasil panenan mereka karena persyaratan yang dipatok dianggap terlalu berat. Para petani pun memilih menjual gabah mereka ke tengkulak.
M Mahsun, anggota kelompok Tani asal Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, mengatakan standar gabah yang bisa diserap oleh Bulog terlalu tinggi dan mereka tidak bisa memenuhinya karena keterbatasan alat, berupa mesin pengering atau dryer.
“Bulog lebih memilih membeli gabah kering giling (GKG). Petani kesulitan untuk memenuhinya karena mesin pengering jumlahnya se-Pasuruan sangat terbatas. Kalau mengeringkan dengan cara tradisional, saat ini kami kesulitan dengan keterbatasan lahan untuk menjemur,” kata Mahsun, Sabtu (19/3/2016).
Mahsun mengungkapkan rata-rata petani mengeluhkan keterbatasan lahan untuk menjemur secara tradisional. Waktu yang dibutuhkan untuk menjemur hingga memenuhi syarat GKG juga cukup lama.
Abd Adhim, kelompok tani asal Rembang, menyampaikan hal senada. Kata dia jika dipaksakan pengeringan hingga memenuhi standar harga Bulog, maka petani malah merugi.
“Harga GKG yang dipatok Bulog di Pasuruan, sekitar Rp 4.300/kg, itu terlalu rendah. Kami justru merugi jika memaksa menjualnya ke Bulog. Lebih baik ke tengkulak, nggak usah repot-repot,” tandas Adhim.
Menurut Adhim, kebijakan pemerintah saat ini yang membantu petani dengan pemberian bibit atau benih hingga mempermudah mendapatkan pupuk, hasil akhirnya masih belum bisa membuat petani lebih sejahtera. “Karena pasca panennya nggak dipikirkan,” pungkasnya. (hrj/fyd)
http://www.wartabromo.com/2016/03/19/susah-diterima-bulog-petani-terpaksa-jual-gabah-ke-tengkulak/
Sabtu, 19 Maret 2016
Perbaiki Sistem Kerja Bulog
Sabtu, 19 Maret 2016
MASIH minimnya penyerapan gabah dan beras oleh Perum Bulog dikritisi sejumlah kepala daerah. Bupati Wonogiri Joko Sutopo menyatakan Bulog selalu kalah sigap dengan barisan spekulan atau tengkulak. Hal itu, misalnya, terjadi di musim panen MT I di Wonogiri, Jawa Tengah. Tengkulak begitu leluasa melakukan pembelian gabah petani tanpa ada sikap jelas dari Bulog. Ia pun mengusulkan kepada pemerintah pusat supaya membentuk Bulog di tingkat kabupaten sebagai upaya untuk membatasi gerak tengkulak dan upaya percepatan penyerapan gabah petani. “Kantor subdivre membawahkan gudang-gudang kabupaten. Kepala gudang tidak memiliki otoritas untuk menentukan pembelian, semua dari subdivre. Begitu halnya dalam penetapan HPP (harga pembelian pemerintah), yang menjadi permainan pasar. Semua harus diperbaiki,” kata Joko kepada Media Indonesia, kemarin. Bekas petani dari Selogiri itu juga berpandangan pelibatan tenaga honorer petugas penyuluh lapangan (PPL) untuk menyerap gabah petani tidak tepat. “Ini kok kayak memadamkan kebakaran saja?” sahutnya. Secara terpisah, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengingatkan Bulog untuk tetap beroperasi pada akhir pekan agar penyerapan gabah dan beras dari petani bisa optimal. “Selama Maret hingga awal April 2016, Bulog harus stand by,” katanya di Semarang.
Kritikan lain datang dari anggota Komisi B DPRD Jateng Riyono. Ia menyebutkan penyerapan gabah dan beras dari petani oleh Bulog selama
2015 hanya 87% dari target 505 ribu ton. “Mereka mungkin lebih senang mengambil gabah-gabah melalui pengepul atau pedagang besar,”
bebernya. Kepala Perum Bulog Subdivisi Regional Wilayah V Kedu, Jateng, Imron Rosidi, mengatakan penyerapan di wilayahnya belum berjalan maksimal karena sejumlah daerah penghasil beras belum panen. “Saat ini Satuan Kerja Bulog masih keliling nyari beras dan gabah. Jika ada gabah dan beras yang bagus dan harganya sesuai HPP, berapa pun akan kita beli.” Kepala Bulog Divre Sulsel Abdul Muis mengatakan dalam merespons tuntutan kenaikan HPP, pihaknya tetap menunggu rencana penyesuaian HPP yang dijanjikan Mentan. Saat ini Bulog masih berupaya keras bersaing dengan para tengkulak. “Kami menunggu petani menjual gabahnya sesuai dengan harga kita (HPP) Rp3.700 per kg,” jelas Muis.
Beda kualitas
Imanuel Polin, petani di Kupang, NTT, mengatakan, selain perbedaan harga yang cukup jauh sebesar Rp2.700 per kg, ada perbedaan warna dan rasa antara beras Bulog yang terlalu lama ditimbun di gudang dan beras yang dibeli tengkulak dari tempat penggilingan.
Tingginya curah hujan memang menjadi momok menjelang panen raya padi di beberapa daerah. Hujan deras yang mengguyur Cilacap, Jateng, misalnya, mengakibatkan tanggul sepanjang 3 meter di Sungai Cikalong di Desa Mulyasari jebol dan merendam 25 hektare lahan padi.
Karena menyadari hal ini, Bulog Divre Jatim berupaya menjaga kualitas hasil panen dengan keberadaan 33 drying centre atau pusat pengeringan padi di Jatim. (Tim/Ant/N-4)
MASIH minimnya penyerapan gabah dan beras oleh Perum Bulog dikritisi sejumlah kepala daerah. Bupati Wonogiri Joko Sutopo menyatakan Bulog selalu kalah sigap dengan barisan spekulan atau tengkulak. Hal itu, misalnya, terjadi di musim panen MT I di Wonogiri, Jawa Tengah. Tengkulak begitu leluasa melakukan pembelian gabah petani tanpa ada sikap jelas dari Bulog. Ia pun mengusulkan kepada pemerintah pusat supaya membentuk Bulog di tingkat kabupaten sebagai upaya untuk membatasi gerak tengkulak dan upaya percepatan penyerapan gabah petani. “Kantor subdivre membawahkan gudang-gudang kabupaten. Kepala gudang tidak memiliki otoritas untuk menentukan pembelian, semua dari subdivre. Begitu halnya dalam penetapan HPP (harga pembelian pemerintah), yang menjadi permainan pasar. Semua harus diperbaiki,” kata Joko kepada Media Indonesia, kemarin. Bekas petani dari Selogiri itu juga berpandangan pelibatan tenaga honorer petugas penyuluh lapangan (PPL) untuk menyerap gabah petani tidak tepat. “Ini kok kayak memadamkan kebakaran saja?” sahutnya. Secara terpisah, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengingatkan Bulog untuk tetap beroperasi pada akhir pekan agar penyerapan gabah dan beras dari petani bisa optimal. “Selama Maret hingga awal April 2016, Bulog harus stand by,” katanya di Semarang.
Kritikan lain datang dari anggota Komisi B DPRD Jateng Riyono. Ia menyebutkan penyerapan gabah dan beras dari petani oleh Bulog selama
2015 hanya 87% dari target 505 ribu ton. “Mereka mungkin lebih senang mengambil gabah-gabah melalui pengepul atau pedagang besar,”
bebernya. Kepala Perum Bulog Subdivisi Regional Wilayah V Kedu, Jateng, Imron Rosidi, mengatakan penyerapan di wilayahnya belum berjalan maksimal karena sejumlah daerah penghasil beras belum panen. “Saat ini Satuan Kerja Bulog masih keliling nyari beras dan gabah. Jika ada gabah dan beras yang bagus dan harganya sesuai HPP, berapa pun akan kita beli.” Kepala Bulog Divre Sulsel Abdul Muis mengatakan dalam merespons tuntutan kenaikan HPP, pihaknya tetap menunggu rencana penyesuaian HPP yang dijanjikan Mentan. Saat ini Bulog masih berupaya keras bersaing dengan para tengkulak. “Kami menunggu petani menjual gabahnya sesuai dengan harga kita (HPP) Rp3.700 per kg,” jelas Muis.
Beda kualitas
Imanuel Polin, petani di Kupang, NTT, mengatakan, selain perbedaan harga yang cukup jauh sebesar Rp2.700 per kg, ada perbedaan warna dan rasa antara beras Bulog yang terlalu lama ditimbun di gudang dan beras yang dibeli tengkulak dari tempat penggilingan.
Tingginya curah hujan memang menjadi momok menjelang panen raya padi di beberapa daerah. Hujan deras yang mengguyur Cilacap, Jateng, misalnya, mengakibatkan tanggul sepanjang 3 meter di Sungai Cikalong di Desa Mulyasari jebol dan merendam 25 hektare lahan padi.
Karena menyadari hal ini, Bulog Divre Jatim berupaya menjaga kualitas hasil panen dengan keberadaan 33 drying centre atau pusat pengeringan padi di Jatim. (Tim/Ant/N-4)
Petani Jombang Keluhkan Rendahnya Harga Gabah
Jumat, 18 Maret 2016
KBR, Jombang - Memasuki musim panen, petani padi di Jombang, Jawa Timur mengeluhkan anjloknya harga gabah ditingkat petani. Harga gabah kini hanya berkisar Rp 2500 - 3000 per kilogramnya. Sedangkan, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) terendah dipatok sebesar Rp 3.700.
Salah satu petani di Desa Dapur Kejambon, Fatikin mengaku terpaksa tidak menjual gabah ke Bulog. "Ini jualnya ke tengkulak dulu," kata Fatikin, Jumat (18/03/16).
Selain harga anjlok, hasil panen padi musim ini juga tidak bisa maksimal akibat cuaca buruk. Hujan deras disertai angin kencang yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir membuat bulir padi rontok sehingga hasilnya menurun drastis dari semestinya. "“Saat ini turun semua. Kalau hasilnya ya seperti ini padinya banyak yang roboh," ujarnya. Sehingga ia berharap ada penaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) padi.
Dia menjelaskan, lahan seluas satu hektar umumnya bisa menghasilkan sekitar 8-9 ton gabah kering sawah. Tetapi pada musim ini petani hanya mampu memanen sekitar 5-6 ton.
http://portalkbr.com/03-2016/petani_jombang_keluhkan_rendahnya_harga_gabah/79501.html
KBR, Jombang - Memasuki musim panen, petani padi di Jombang, Jawa Timur mengeluhkan anjloknya harga gabah ditingkat petani. Harga gabah kini hanya berkisar Rp 2500 - 3000 per kilogramnya. Sedangkan, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) terendah dipatok sebesar Rp 3.700.
Salah satu petani di Desa Dapur Kejambon, Fatikin mengaku terpaksa tidak menjual gabah ke Bulog. "Ini jualnya ke tengkulak dulu," kata Fatikin, Jumat (18/03/16).
Selain harga anjlok, hasil panen padi musim ini juga tidak bisa maksimal akibat cuaca buruk. Hujan deras disertai angin kencang yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir membuat bulir padi rontok sehingga hasilnya menurun drastis dari semestinya. "“Saat ini turun semua. Kalau hasilnya ya seperti ini padinya banyak yang roboh," ujarnya. Sehingga ia berharap ada penaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) padi.
Dia menjelaskan, lahan seluas satu hektar umumnya bisa menghasilkan sekitar 8-9 ton gabah kering sawah. Tetapi pada musim ini petani hanya mampu memanen sekitar 5-6 ton.
http://portalkbr.com/03-2016/petani_jombang_keluhkan_rendahnya_harga_gabah/79501.html
Jumat, 18 Maret 2016
Isi Kurang 2 Kg, Bulog Tarik Beras
Kamis, 17 Maret 2016
KISARAN, WOL – Kantor Sub Divisi Regional Kisaran menarik beras Bulog karena terjadi kekurangan isi akibat kesalahan proses penimbangan, Kamis (17/3). Kasub Divisi Regional Kisaran, Pengadilan Lubis, mengatakan permasalahan beras Bulog yang mengalami kekurangan isi di Kelurahan Tebing Kisaran telah diselesaikan.
“Permasalahan kita selesaikan dengan menurunkan petugas ke lapangan. Beras yang kurang timbangannya telah kita tarik dan diganti,” jelas Lubis.
Kurangnya isi disebabkan banyaknya karung beras yang disalurkan. Untuk Asahan saja, sebanyak 671, 775 Kg setiap bulan. Karena pekerjanya manusia, tentu berpotensi terjadi kesalahan. Namun demikian Bulog tetap bertanggungjawab dengan menarik beras yang beratnya tidak sesuai standar.
“Untuk awal tahun ini hanya di Kelurahan Tebing Kisaran kasus ini ditemukan. Di tempat lain belum kita temukan. Namun demikian, kita tetap lakukan pengecekan ulang,” jelas Lubis.
Kasi Pelayanan Publik Sub Divisi Regional Kisaran, Gabriel Marbun, menambahkan pihaknya selalu melakukan tindakan sesuai prosedur dalam pendistribusian beras. Karena itu, dengan ditemukannya kasus ini pihaknya terus melakukan pengawasan.
“Tahun ini kita baru menyalurkan untuk Januari dan Februari, sedangkan Maret belum menyalurkan beras. Hal ini diakibatkan pembayaran Februari belum selesai,” jelas Marbun lagi.
Sebelumnya, warga Kelurahan Tebing Kisaran berunjukrasa di kantor lurah. Mereka menuntut pendistribusian beras Bulog lebih transparan, karena beras yang dibeli seharga Rp2.000 per kilogram dengan berat 15 Kg hanya berisikan 13 kilogram.(wol/aa/waspada/data2)
http://waspada.co.id/sumut/isi-kurang-2-kg-bulog-tarik-beras/
KISARAN, WOL – Kantor Sub Divisi Regional Kisaran menarik beras Bulog karena terjadi kekurangan isi akibat kesalahan proses penimbangan, Kamis (17/3). Kasub Divisi Regional Kisaran, Pengadilan Lubis, mengatakan permasalahan beras Bulog yang mengalami kekurangan isi di Kelurahan Tebing Kisaran telah diselesaikan.
“Permasalahan kita selesaikan dengan menurunkan petugas ke lapangan. Beras yang kurang timbangannya telah kita tarik dan diganti,” jelas Lubis.
Kurangnya isi disebabkan banyaknya karung beras yang disalurkan. Untuk Asahan saja, sebanyak 671, 775 Kg setiap bulan. Karena pekerjanya manusia, tentu berpotensi terjadi kesalahan. Namun demikian Bulog tetap bertanggungjawab dengan menarik beras yang beratnya tidak sesuai standar.
“Untuk awal tahun ini hanya di Kelurahan Tebing Kisaran kasus ini ditemukan. Di tempat lain belum kita temukan. Namun demikian, kita tetap lakukan pengecekan ulang,” jelas Lubis.
Kasi Pelayanan Publik Sub Divisi Regional Kisaran, Gabriel Marbun, menambahkan pihaknya selalu melakukan tindakan sesuai prosedur dalam pendistribusian beras. Karena itu, dengan ditemukannya kasus ini pihaknya terus melakukan pengawasan.
“Tahun ini kita baru menyalurkan untuk Januari dan Februari, sedangkan Maret belum menyalurkan beras. Hal ini diakibatkan pembayaran Februari belum selesai,” jelas Marbun lagi.
Sebelumnya, warga Kelurahan Tebing Kisaran berunjukrasa di kantor lurah. Mereka menuntut pendistribusian beras Bulog lebih transparan, karena beras yang dibeli seharga Rp2.000 per kilogram dengan berat 15 Kg hanya berisikan 13 kilogram.(wol/aa/waspada/data2)
http://waspada.co.id/sumut/isi-kurang-2-kg-bulog-tarik-beras/
Bulog Lakukan Terobosan Pengadaan Beras
Kamis, 17 Maret 2016
JAKARTA, KOMPAS — Dalam rangka memaksimalkan pengadaan gabah/beras hingga 4,6 juta ton setara beras untuk stabilisasi harga, Perum Bulog melakukan berbagai langkah terobosan. Pemanfaatan sarana pengering gabah termasuk lantai jemur milik sendiri ataupun menyewa menjadi prioritas dalam pengadaan gabah/beras di musim hujan ini.
Hal itu dikemukakan Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu, Kamis (17/3/2016), saat dihubungi di Sragen, Jawa Tengah.
Wahyu mengatakan, sesuai permintaan Presiden Joko Widodo, Bulog memaksimalkan pembelian gabah/beras dari produksi dalam negeri. Selama puncak musim panen di musim hujan ini atau periode Maret-Mei 2016, Bulog diminta membeli 3 juta ton setara beras.
Secara umum harga gabah relatif bagus di tingkat petani. Rata-rata di atas harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 3.700 per kilogram untuk gabah kering panen.
Memang masih ada harga gabah yang di bawah HPP, tetapi umumnya kualitasnya rendah karena kadar air sangat tinggi.
Bulog terus melakukan pembelian. Strategi yang dilakukan adalah membeli gabah langsung dari petani/kelompok tani. Selanjutnya, gabah dikeringkan sendiri oleh Bulog, baru digiling ke unit penggilingan beras Bulog.
Bulog menjalin kerja sama dengan pemilik alat pengering dan lantai jemur milik BUMN, BUMD, ataupun swasta.
Pada 2016, kerja sama pemanfaatan fasilitas pengering dengan swasta mencapai kapasitas 1.500 ton per hari, BUMN 750 ton, dan BUMD 500 ton. Total kapasitas pengering Bulog hasil kerja sama 2.750 ton per hari.
Agar mudah membeli gabah petani, Bulog menjalin kerja sama dengan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), yang anggotanya petani, kelompok tani, dan gabungan kelompok tani.
Bulog juga membentuk satuan kerja (satker) pengadaan gabah/beras di setiap wilayah, kerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.
Informasi peta wilayah panen dari Kementan, kapan bisa dipanen, dan di mana saja padi akan dipanen selalu dikoordinasikan dengan Bulog.
Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi daerah yang terlewat dan gabahnya tidak terserap Bulog. Satker akan langsung membeli gabah dari petani dan kelompok tani.
Di luar itu, Bulog masih melakukan kerja sama pengadaan beras dengan mitra Bulog, misalnya dari penggilingan padi seperti yang selama ini berjalan. Termasuk dengan penggilingan padi skala kecil, menengah, dan besar.
Tahun ini, Perum Bulog menargetkan pengadaan gabah kering giling dari produksi dalam negeri sebanyak 1,25 juta ton, pengadaan beras melalui jalur PSO 3,2 juta ton, dan jalur komersial 800.000 ton. Adapun total target pengadaan 2016 sebanyak 4,6 juta ton setara beras.
Bangun kepercayaan
Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia Sutarto Alimoeso mengatakan, yang terpenting yang harus dibangun pemerintah adalah membangun kepercayaan di antara para pemangku kepentingan.
Para pengusaha penggilingan padi tetap berkomitmen memasok beras ke Bulog sepanjang secara bisnis perhitungannya masuk.
Kerja sama Bulog dengan para pelaku usaha termasuk penggilingan skala kecil sangat penting. Tujuannya agar Bulog bisa mendapat beras dengan harga sesuai HPP.
Dalam situasi sekarang, yang paling ideal Bulog menjalin kerja sama di awal budidaya dengan petani. Bulog juga masuk dalam on farm, bekerja sama dengan petani sejak dari penanaman. Kalau hanya menunggu panen, sulit mendapat beras. Kalaupun ada, harga cenderung sudah tinggi.
http://print.kompas.com/baca/2016/03/17/Bulog-Lakukan-Terobosan-Pengadaan-Beras
JAKARTA, KOMPAS — Dalam rangka memaksimalkan pengadaan gabah/beras hingga 4,6 juta ton setara beras untuk stabilisasi harga, Perum Bulog melakukan berbagai langkah terobosan. Pemanfaatan sarana pengering gabah termasuk lantai jemur milik sendiri ataupun menyewa menjadi prioritas dalam pengadaan gabah/beras di musim hujan ini.
Hal itu dikemukakan Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu, Kamis (17/3/2016), saat dihubungi di Sragen, Jawa Tengah.
Wahyu mengatakan, sesuai permintaan Presiden Joko Widodo, Bulog memaksimalkan pembelian gabah/beras dari produksi dalam negeri. Selama puncak musim panen di musim hujan ini atau periode Maret-Mei 2016, Bulog diminta membeli 3 juta ton setara beras.
Secara umum harga gabah relatif bagus di tingkat petani. Rata-rata di atas harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 3.700 per kilogram untuk gabah kering panen.
Memang masih ada harga gabah yang di bawah HPP, tetapi umumnya kualitasnya rendah karena kadar air sangat tinggi.
Bulog terus melakukan pembelian. Strategi yang dilakukan adalah membeli gabah langsung dari petani/kelompok tani. Selanjutnya, gabah dikeringkan sendiri oleh Bulog, baru digiling ke unit penggilingan beras Bulog.
Bulog menjalin kerja sama dengan pemilik alat pengering dan lantai jemur milik BUMN, BUMD, ataupun swasta.
Pada 2016, kerja sama pemanfaatan fasilitas pengering dengan swasta mencapai kapasitas 1.500 ton per hari, BUMN 750 ton, dan BUMD 500 ton. Total kapasitas pengering Bulog hasil kerja sama 2.750 ton per hari.
Agar mudah membeli gabah petani, Bulog menjalin kerja sama dengan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), yang anggotanya petani, kelompok tani, dan gabungan kelompok tani.
Bulog juga membentuk satuan kerja (satker) pengadaan gabah/beras di setiap wilayah, kerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.
Informasi peta wilayah panen dari Kementan, kapan bisa dipanen, dan di mana saja padi akan dipanen selalu dikoordinasikan dengan Bulog.
Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi daerah yang terlewat dan gabahnya tidak terserap Bulog. Satker akan langsung membeli gabah dari petani dan kelompok tani.
Di luar itu, Bulog masih melakukan kerja sama pengadaan beras dengan mitra Bulog, misalnya dari penggilingan padi seperti yang selama ini berjalan. Termasuk dengan penggilingan padi skala kecil, menengah, dan besar.
Tahun ini, Perum Bulog menargetkan pengadaan gabah kering giling dari produksi dalam negeri sebanyak 1,25 juta ton, pengadaan beras melalui jalur PSO 3,2 juta ton, dan jalur komersial 800.000 ton. Adapun total target pengadaan 2016 sebanyak 4,6 juta ton setara beras.
Bangun kepercayaan
Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia Sutarto Alimoeso mengatakan, yang terpenting yang harus dibangun pemerintah adalah membangun kepercayaan di antara para pemangku kepentingan.
Para pengusaha penggilingan padi tetap berkomitmen memasok beras ke Bulog sepanjang secara bisnis perhitungannya masuk.
Kerja sama Bulog dengan para pelaku usaha termasuk penggilingan skala kecil sangat penting. Tujuannya agar Bulog bisa mendapat beras dengan harga sesuai HPP.
Dalam situasi sekarang, yang paling ideal Bulog menjalin kerja sama di awal budidaya dengan petani. Bulog juga masuk dalam on farm, bekerja sama dengan petani sejak dari penanaman. Kalau hanya menunggu panen, sulit mendapat beras. Kalaupun ada, harga cenderung sudah tinggi.
http://print.kompas.com/baca/2016/03/17/Bulog-Lakukan-Terobosan-Pengadaan-Beras
Langganan:
Postingan (Atom)