Senin, 27 Juli 2015

Panen Padi di Klaten, Mentan Amran Pakai Mesin Potong Modern

Senin, 27 Juli 2015

Klaten -Hari ini, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman melakukan kunjungan ke beberapa kabupaten, salah satunya di Klaten, Jawa Tengah. Amran melakukan panen padi hingga membagikan pompa air ke petani.

Panen raya dilakukan di Desa Tumpukan, Kecamatan Karang Dowo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (27/7/2015). Amran didampingi Bupati Klaten Sunarna, Direktur Bulog Wahyu Suparyono, Kepala Drive Bulog Jawa Tengah Usep Karyana, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jateng Surya. Dengan menggunakan arit dia memanen padi pertama.

"Ini panen masuk ke Bulog ya, sudah siap bayar ini, truk sudah disiapkan," ujar Amran usai memanen padi.

Tak hanya dengan arit, Amran juga memanen padi dengan menggunakan combine harvester atau mesin pemanen atau pemotong padi modern.

"Baru saja kita lakukan panen perdana, harapannya Bulog serap gabah pertani, total luas panen Jateng 500.000 hektar Agustus-September. Kalau hasilnya rata-rata 6 ton/hektar, ada 3 juta ton. Minimal Bulog serap 500.000 ton. Baru saja presiden tanda tangani dana PMN untuk Bulog serap panen. Dana sudah siap. Produksi padi meningkat hampir 1 juta ton tahun 2015 ini," ungkap Amran.

Ia menambahkan, mengantisipasi kekeringan yang melanda Indonesia, salah satunya Jawa Tengah, akan dibagikan sebanyak 24.000 pompa air kepada para petani. Selain pompa, pihaknya juga memberikan dana bantuan untuk pembuatan embung (tandon air).

"Dibandingkan tahun lalu, ada serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), banjir dan kekeringan kita kehilangan area sawah 130.000 hektar. Tapi, upaya kita tahun ini sudah membuahkan hasil ada tambahan 102.000 hektar. Bila dikalikan 5 ton, maka akan ada tambahan panen 500.000 ton atau senilai Rp 2 triliun," tutup Amran.

http://finance.detik.com/read/2015/07/27/101019/2975700/4/panen-padi-di-klaten-mentan-amran-pakai-mesin-potong-modern

Minggu, 26 Juli 2015

Stabilisasi Pangan Tantangan Pemerintahan Jokowi

Sabtu, 25 Juli 2015

JAKARTA, GRESNEWS.COM - Pergolakan harga barang-barang pokok pra, saat, dan pasca lebaran lalu relatif stabil. Namun, Indonesia kini sedang menghadapi El-Nino yang membawa musim kemarau berkepanjangan, dikhawatirkan kestabilan harga pangan terganggu. Mampukah pemerintah tetap menyetabilkan harga? Apa saja tantangannya?

Pengamat pangan Chudori menyatakan harga pada pra, saat, dan pasca lebaran relatif stabil. Namun hal tersebut semata-mata bukanlah prestasi Kementerian Perdagangan (Kemendag) saja. Tetapi juga sumbangsih kementerian lain, terutama Kementerian Pertanian (Kementan) yang telah memberikan pasokan dan info cepat terhadap pangan yang dibutuhkan masyarakat dan Bulog.

"Misal kemarin selalu dipantau mana daerah yang kekurangan dan mana daerah yang sedang panen atau cukup pasokan, lalu di mix and balance," katanya kepada gresnews.com, Jumat (24/7).

Pola mix and balance tersebut efektif mempertemukan daerah-daerah yang kelebihan dan kekurangan pasokan pangan. Terlebih sistem itu ternyata ditangani tanpa melewati jalur distribusi yang panjang. Bulog lah yang memegang peran sentral menjalankan pola tersebut dengan menghubungkan daerah sentra produksi dengan konsumen. Tapi, tantangan prestasi kinerja Bulog yang sesungguhnya baru terlihat awal Agustus mendatang, apakah mampu meredam inflasi dan mengendalikan harga pangan.

EL NINO MENGHADANG - Apalagi, Indonesia saat ini sedang menghadapi El Nino yang menyebabkan kekeringan pada September, Oktober bahkan hingga November 2015 mendatang. Imbasnya, sebagian lahan pertanian kemungkinan akan kering dan gagal panen.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Widodo Sulistyo menjelaskan kekeringan di musim kemarau terasa lebih dari sebelumnya. Penyebabnya tahun ini ada penyimpangan iklim akibat adanya gangguan El Nino.

"Akibat penyimpangan ini, Indonesia dilanda kekeringan yang lebih dibandingkan beberapa tahun terakhir," kata Widodo, Jumat (24/7) malam.

Arti El Nino berarti suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut di Samudera Pasifik sekitar equator (equatorial pacific) khususnya di bagian tengah dan timur (sekitar pantai Peru). Penyimpangan ini akhirnya berdampak penyimpangan kondisi laut hingga terjadi penyimpangan iklim.

Ia mengatakan kekeringan ini tak hanya dirasakan di Bogor dan pulau Jawa tapi hampir sebagian wilayah Indonesia terlebih bagian timur. Namun, Bogor menjadi sorotan karena sebagian wilayah yang kerap hujan di musim kemarau, di tahun ini curah hujannya sangat minim.

"Normalnya dalam sebulan masih ada satu atau beberapa kali hujan, namun tahun ini berbeda. Meski sempat terjadi gerimis, tapi itu pengaruhnya tidak signifikan," sambungnya.

Menurutnya, kekeringan adalah kondisi yang paling kering seperti ini akan berlangsung sepanjang musim kemarau atau hingga September bahkan bisa berkepanjangan hingga Oktober dan November. Meski beberapa kali langit terlihat mendung, tetapi beberapa faktor penunjang terjadinya hujan tidak terpenuhi seperti kondisi iklim yang lembab dan angin yang bertiup tenang.
KEBIJAKAN STABILISASI HARGA - Pengamat pangan Chudori pun mengusulkan pemerintah untuk tetap meneruskan cara penyetabilan harga yang dilakukan pada bulan Ramadhan lalu. Ditambah pengecekan ketersediaan sejumlah komoditas, apakah tetap bisa diproduksi atau kurang, jika kurang maka hendaknya segera memutuskan impor agar tidak mendadak.

"Jangka pendek ini bisa memastikan produksi dan konsumsi per bulan," ujarnya.

Jangka panjang tantangan penyetabilan harga ini harus dilakukan kebijakan untuk mningkatkan produktivitas seperti memperluas lahan, dan memastikan petani tak berisiko gagal dalam mengusahakan komoditas tertentu. Hal ini bisa dengan cara mengajarkan petani menerjemahkan iklim dan memastikan ketersediaan sumber air hulu agar saat musim kering tak kekurangan air.

"Perlu juga ada peraturan hukum di bawah UU Perdagangan dan UU Pangan untuk menstabilkan harga, Malaysia sudah punya ini sejak tahun 1950-an," katanya.

Pemerintah juga harus membentuk cadangan pangan pusat dan daerah serta menentukan harga-harganya sebelum November tahun ini. Dengan disokongnya setiap lini pangan jangka panjang ini, pemerintah tak perlu khawatir adanya fluktuasi harga pangan pada hari-hari besar keagamaan.

"Jika semua sudah dilakukan maka tinggal mengendalikan instrumen stabilisasi untuk mengelola cadangan, dan memastikan anggarannya cukup," katanya.

Ia menilai selama ini selain belum adanya Permen yang menetapkan harga pangan, pemerintah juga kurang dalam mengatur anggaran cadangan pangan.
ANDALKAN OPERASI PASAR - Operasi pasar yang dilakukan pemerintah selama dan saat lebaran ternyata juga dianggap efektif menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan oleh DPD RI. Selama ini banyak pihak meragukan efektivitas operasi pasar yang dilakukan Kemendag karena bersifat parsial dan reaktif. Kemendag dinilai seperti pemadam kebakaran, karena menjelang lebaran baru melakukan operasi pasar. Namun, ternyata langkah tersebut efektif, harga-harga stabil dan ketersediaan atau pasokan pangan aman.

"Diharapkan prestasi baik ini tetap dipertahankan sehingga rakyat dapat merasakan betul apa yang dilakukan pemerintah saat ini," kata Wakil Ketua DPD RI, Farouk Muhammad kepada wartawan di Jakarta, Kamis (23/7).

Ia juga mengapresiasi Kemendag yang mampu memberantas mafia pangan, yang selama ini membuat harga-harga mahal karena menimbun barang kebutuhan pokok. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dianggap bisa mengendalikan harga dan distribusi barang serta memotong rantai mafia pangan, sehingga harga relatif stabil sejak Ramadhan, lebaran dan paska lebaran.

Walaupun memang ada kenaikan harga pada beberapa daerah namun tidak terlalu signifikan. Hal terjadi karena distribusi barang belum merata ke seluruh daerah di Indonesia, yang pada akhirnya berdampak pada kenaikan harga beberapa komoditas pangan di tingkat lokal.

Sementara, Tulus Abadi Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan walaupun operasi pasar yang dilakukan Kemendag sukses menstabilkan harga-harga, namun ia khawatir operasi pasar tak bisa membuat harga-harga stabil untuk ke depannya.

"Apalagi paska lebaran ini harga pangan malah tinggi, hingga H+6 dinyatakan alasannya akibat gangguan distribusi, para pelaku pasar belum pulang ke daerah masing-masing," katanya kepada gresnews.com, Jumat (24/7).

Dalam jangka panjang, Kemendag juga perlu menfokuskan penyetabilan harga pada persoalan harga pangan hulu. Dimana terdapat banyak mafia dan kartel, pemerintah harus melihat struktur pasar yang tak sehat karena ada dominasi kelompok tertentu sementara selama ini pemerintah kurang mampu mengintervensi harga pasokan.

Harga kebutuhan pokok yang diserahkan kepada pasar secara 100 persen ini membuat persaingan oligopoli dan monopoli di pasar tak diendus pemerintah. Walaupun begitu, ia tetap mengapresiasi langkah Mendag melakukan operasi pemberantasan mafia dan kartel pangan karena masalah pokok harga pangan ada di permainan keduanya.

"Tapi operasi pasar tak bisa menyelesaikan masalah jangka panjang, persaingan tak sehat yang tak bisa diendus pemerintah ini membuat mereka sulit mengambil alih dan mengintervensi pasar," katanya.

Ia mengingatkan, dalam UU Pangan telah diamanatkaan membentuk lembaga pangan yang kuat untuk mengintervensi dari segi pasokan dan harga serta mewujudkan ketahanan pangan. Namun, mulai dari UU tersebut dibentuk, hingga saat ini, lembaga yang diamanatkan belumlah ada.

"Jika belum terbentuk, maka jangka panjangnya, saya yakin konsumen akan terus terombang-abing dalam kenaikan harga saat terjadi gonjang-ganjing apapun," ujarnya.


Daging Sapi di Jakarta Rp 130.000/Kg, Bulog Akan Operasi Pasar Lagi

Sabtu, 25 Juli 2015

Jakarta -Harga daging sapi di pasar tradisional di Jakarta yang juga belum beranjak turun pasca lebaran, Perum Bulog berencana kembali melakukan operasi pasar (OP) di pasar-pasar tradisional di Jakarta, agar harga daging stabil.

"Kita baru terima informasinya (harga daging sapi). Sudah pasti Bulog akan langsung tindak lanjuti dengan menggelar lagi operasi, terpaksa gitu. Tapi sementara baru akan kita laporkan ke direksi Bulog," ujar Wakil Kepala Divisi Regional (Divre) Jakarta-Banten Perum Bulog Fatah Yasin dihubungi detikFinance, Sabtu (25/7/2015).

Perum Bulog, kata Yasin, memiliki kewajiban untuk menstabilkan harga, sehingga tidak akan berhenti melakukan OP hingga harga kebutuhan pokok, termasuk daging sapi kembali normal. Yasin mengatakan, harga normal pada komoditas daging sapi seharusnya berada pada kisaran Rp 90.000/kg.

"Kita terus OP selama daging sapi masih mahal, nggak cuma pas mau lebaran saja, setiap hari kita siap kapanpun kalau ada penugasan, kalau saat ini kan kita baru tahu kalau harga daging masih tinggi," tutur Yasin.

Untuk waktu pelaksanaan OP setelah Lebaran, menurut Yasin, pihaknya masih harus berkoordinasi dengan direksi Bulog. "Pokoknya secepatnya bisa OP, kalau siap, kita sudah siap, kan baru mau dilaporkan ke atas apa langkah selanjutnya dengan harga daging yang masih mahal ini," imbuhnya.

Sementara untuk harga daging sapi untuk OP pasca Lebaran, Bulog tetap memakai harga lama sebesar Rp 88.000/kg. "Harganya masih sama kayak sebelum Lebaran. Kita akan siapkan 8 truk freezer khusus daging buat OP, 5 punya kita sendiri, 3 truk kita sewa, kapasitasnya 400 kg/truk. Kalau titik-titik pasarnya kita juga masih sama, tapi ada beberapa evaluasi," jelas Yasin.

(rrd/rrd)

http://finance.detik.com/read/2015/07/25/185004/2975146/4/daging-sapi-di-jakarta-rp-130000-kg-bulog-akan-operasi-pasar-lagi

Sabtu, 25 Juli 2015

Harga Bahan Pokok Turun

Sabtu, 25 Juli 2015

Pasokan Kembali Normal Seusai Arus Balik

JAKARTA, KOMPAS — Harga sejumlah bahan pokok dan sayuran setelah Lebaran berangsur turun. Di tingkat grosir dan pengecer, harga bawang merah, bawang putih, dan cabai turun Rp 5.000-Rp 30.000 per kilogram. Proses distribusi yang menuju normal mendukung peningkatan pasokan.

Suasana Pasar Induk Cipinang, Jakarta, pada Jumat (24/7) masih sepi. Sebagian besar kios masih tutup, tetapi sudah ada kegiatan bongkar muat beras dari empat truk yang diparkir di pasar itu.

Kepala Pasar Induk Beras Cipinang Eri Muhtarsyid mengatakan, pekan depan aktivitas sudah mulai normal. Pasokan akan bertambah karena permintaan warga Jakarta yang kembali dari mudik juga meningkat.

Menurut dia, permintaan terhadap beras sepekan sebelum dan sesudah Lebaran sangat minim karena para pelanggan ikut mudik.

"Walaupun aktivitasnya belum normal, stok beras aman," ujar Eri. Ia menambahkan, harga beras di tingkat pengecer tidak akan melonjak karena harga beras di pasar induk stabil.

Hingga Kamis lalu, pasokan beras tersedia 39.147 ton. Tambahan pasokan seiring dengan selesainya arus mudik dan arus balik diperkirakan mencapai 5.000 ton per hari. Selama puasa lalu, pasokan beras hanya sekitar 1.000 ton per hari.

Dari pantauan Kompas di Perusahaan Daerah (PD) Pasar Induk Kramatjati, Jakarta Timur, harga cabai rawit merah turun dari Rp 45.000 per kg sebelum Lebaran menjadi Rp 32.000 per kg. Harga cabai merah keriting turun tajam dari Rp 40.000 per kg menjadi Rp 17.000 per kg.

Turun bertahap

Berdasarkan data PD Pasar Induk Kramatjati, harga turun secara bertahap sejak sehari setelah Lebaran. Harga rata-rata cabai rawit merah turun dari Rp 44.000 per kg sebelum Lebaran menjadi Rp 35.750 per kg saat ini.

Radit Syarifuddin (32), pedagang cabai, mengakui adanya peningkatan pasokan. "Saat puasa sampai sebelum Lebaran, saya hanya punya stok 100 kg paling banyak, sekarang bisa sampai 500 kg," katanya.

Kondisi yang sama terjadi di Pasar Inpres Senen Jaya, Jakarta Pusat. Aktivitas jual beli di lantai dua yang menjual bahan kebutuhan pokok kembali normal.

Meski beberapa los masih tutup, ada puluhan pembeli yang datang untuk berbelanja.

Meski demikian, di daerah terpantau harga komoditas belum stabil. Di Pasar Tradisional Peunayong, Banda Aceh, misalnya, harga cabai merah bahkan naik dalam dua hari ini. Harganya rata-rata dari Rp 28.000 per kg menjadi Rp 35.000 per kg.

(B05/B08/B09/DRI)

http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150725kompas/#/15/

Jumat, 24 Juli 2015

Etos Setelah Lebaran

Jumat, 24 Juli 2015

LOGIKANYA setelah Ramadan ini etika dan etos publik yang menjalankan ibadah puasa akan meningkat. Artinya, jika puasa secara serius dijadikan momentum penggemblengan diri secara total, maka kualitas spiritual, intelektual, emosional dan fisikal kita pun otomatis meningkat. Kita pun akan sampai pada fase kelahiran kembali, menjadi manusia baru yang serba bersih dan fresh.

Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Setelah akhir puasa dan memasuki suka cita Lebaran banyak orang justru terjebak pada kubangan hedonisme, nafsu mengejar kenikmatan baik secara biologis maupun psikologis. Ada semacam dendam yang harus dilampiaskan. Meja makan kita penuh beraneka menu, serba enak dan nikmat. Begitu pula dengan berbagai kesenangan lainnya.

Dalam pertarungan kepentingan antara dunia daging (hawa nafsu memburu kenikmatan) dengan dunia roh (nilai-nilai spiritual, intelektual dan emosional), manusia harus memenangkan dunia roh secara vertikal dan horizontal. Jalan vertikal berorientasi pada nilai-nilai Illahiyah, dimana manusia menyatu dengan Allah SWT melalui berbagai ibadah dan amalan mulia lainnya yang berbuah kesucian batin, jiwa.

Adapun jalan horizontal berorientasi pada nilai-nilai sosial, budaya dan kemanusiaan. Dimana manusia membangun kapasitas dirinya secara intelektual, emosional dan <I>skill<P> (pada dimensi personal) dan secara sosial membangun  solidaritas atas sesama dengan cara berbagi nilai-nilai dan materi yang dimilikinya. Dengan cara itu manusia menemukan makna kehadiran sebagai makhluk sosial yang migunani tumpraping liyan (berguna/bermanfaat untuk orang lain). Manusia pun mempertinggi martabatnya.

Untuk mencapai martabat personal dan sosial yang tinggi manusia dituntut untuk membangun etika dan etos. Etika adalah orientasi kebaikan bagi moralitas manusia yang berkaitan dengan kehidupan personal dan kolektif. Adapun etos adalah nilai-nilai spritual dan kultural yang mendorong daya cipta manusia melahirkan berbagai karya atau kreativitas baik pada tataran idealistik maupun pragmatik. Kreativitas secara idealistik misalnya ide atau gagasan, ilmu, pengetahuan dan estetika. Kreativitas secara pragmatik adalah ciptaan yang memiliki nilai guna secara langsung bagi kehidupan manusia baik secara fisik maupun nonfisik.

Dalam operasionalisasi, etika dan etos selalu beriringan. Lahirlah kebudayaan yang menjadi jalan bagi manusia untuk membangun peradaban. Krisis bangsa kita adalah krisis etik dan etos. Krisis etika antara lain tampak pada dilabraknya nilai-nilai, etika, norma dan hukum. Contoh yang paling menyolok maraknya korupsi.

Adapun krisis etos tampak pada lemahnya inisiasi atau hasrat dan tindakan kreatif, sehingga tidak lahir karya-karya yang bermakna baik secara gagasan maupun nongagasan. Bangsa ini pun jatuh pada tradisi copy-paste, jiplakan mentah-mentah dari model-model yang ada. Bangsa kita gagal menjadi bangsa produsen melainkan bangsa konsumen.

Pada dimensi etik dan etos boleh dikata bangsa kita tidak mengalami peningkatan signifikan. Di bidang politik, yang terjadi hanyalah politik transaksional, sehingga demokrasi ditentukan kelompok elite politik dan ekonomi. Muncullah juragan-juragan politik yang menyuburkan oligarki dimana kekuasaan hanya ditentukan sedikit orang. Kedaulatan tak lagi di tangan rakyat tapi di tangan kaum elite yang menyembah kepentingan kapital dan pasar bebas sesuai doktrin neoliberalisme. Kecenderungan elitis juga terjadi pada bidang ekonomi yang tidak memberi akses pada rakyat tapi lebih memberi peluang kepada penguasa kapital.

Konsep Trisakti (kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan) hanya menjadi pepesan kosong. Padahal jauh sebelumnya, digembar-gemborkan rezim yang kini berkuasa. Begitu pula dengan revolusi mental yang hanya jadi wacana.

Momentum puasa, mestinya menjadi peluang bagi kekuatan hulu (pemerintah, penguasa) untuk lahir kembali menjadi rezim yang visioner, mau bekerja keras, penuh integritas dan produktif, sehingga lahir berbagai kebijakan untuk menyejahterakan rakyat, tidak hanya dalam teks tapi praksis. Rakyat mampu bernapas, tidak lagi didera sulitnya mencari pekerjaan/penghidupan, tingginya harga kebutuhan pokok, jasa transportasi, jasa kesehatan dan pendidikan. Kita berharap para penyelenggara kekuasaan mengalami pencerahan sehingga mereka lahir menjadi negarawan-negarawan sejati.

(Indra Tranggono. Pemerhati kebudayaan)

http://krjogja.com/liputan-khusus/analisis/4106/etos-setelah-lebaran.kr

Klik! Gara-gara Ini, Beras Petani Sulit di Serap Bulog

Mentan bilang, Bulog masih kesulitan menyerap beras petani

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengakui bahwa hingga saat ini Perum Bulog masih kesulitan dalam upaya menyerap beras petani. Kendala tersebut bukan karena Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras dan gabah, melainkan masih tingginya kadar air pada beras yang beredar di kalangan para petani.  Jumlah kadar air beras petani sudah melampaui batas yang ditentukan oleh perum Bulog.
" Kadar air yang ditentukan oleh perum Bulog kan kurang dari 25 persen, sementara beras yang beredar diantara para petani kadar airnya masih 30 persen," kata Amran, Kamis (23/7), di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa untuk HPP beras sendiri, hingga saat ini tidak menjadi masalah utama Bulog. Pasalnya, di banyak daerah harga beras petani masih di bawah HPP yaitu Rp 7.200 per kg.
"Saya sudah keliling ke beberapa tempat melakukan pemantauan terkait dengan HPP nggak ada masalah, bahkan yang kami temui di beberapa tempat harga berasnya jauh di bawah HPP yang tetap, jadi nggak ada masalah," tegasnya.
Kendati hingga saat ini Bulog masih cukup kesulitan dalam menyerap beras dari para petani karena kendala kadar air yang hingga 30 persen, tapi menurut Mentan, ketersediaan beras saat ini masih sangat mencukupi. "Ketersediaan beras kita saat ini masih sangat cukup, jadi nggak usah takut dengan musim panas yang terus berkepanjangan saat ini," tukasnya.

http://www.jitunews.com/read/18155/klik-gara-gara-ini-beras-petani-sulit-di-serap-bulog

Bulog dan Gerai Perbatasan Dikaji

Jumat, 24 Juli 2015

JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Perdagangan tengah mengkaji penempatan Bulog dan gerai di wilayah-wilayah perbatasan Indonesia dengan negara lain. Hal itu bertujuan mengurangi disparitas harga dan memenuhi kebutuhan bahan pangan masyarakat setempat.

"Selama ini, bahan pangan masyarakat di wilayah perbatasan banyak yang berasal dari negara lain. Wilayah itu juga susah dijangkau sehingga harga bahan pangan lebih mahal," kata Menteri Perdagangan Rachmat Gobel di Jakarta, Kamis (23/7).

Menurut Rachmat, gerai Bulog direncanakan ditempatkan di pasar-pasar rakyat yang telah direvitalisasi atau dibangun, termasuk di wilayah perbatasan. Bulog akan menyediakan bahan pangan pokok yang akan dijual kepada pedagang kecil, bukan konsumen.

Adapun gerai perbatasan sesuai rencana berupa toko penyedia bahan pokok dan ritel. Toko itu akan menjual bahan pangan, makanan, dan minuman dengan harga yang sama dengan di Jawa. "Jika diperlukan payung hukum akan dibuatkan. Jika membutuhkan subsidi akan diupayakan," ujarnya.

Rachmat menambahkan, perbatasan Entikong, Kalimantan Barat, dengan Sarawak, Malaysia, kemungkinan akan menjadi percontohan. Pemerintah setempat, pengusaha lokal, dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) akan dilibatkan.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Srie Agustina mengatakan, tujuan utama bukan mencari keuntungan ekonomis, melainkan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat perbatasan. Saat ini, konsepnya tengah dibahas dan dimatangkan. "Program ini merupakan kelanjutan dari gerai maritim. Melalui gerai maritim, bahan pangan bisa diangkut menggunakan kapal yang disubsidi dan didistribusikan ke perbatasan," katanya.

Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey mengemukakan, untuk merealisasikan gerai perbatasan, perlu ada studi kelayakan terlebih dahulu. Studi itu mencakup demografi atau populasi penduduk yang merupakan pasar utama, jalur transportasi, logistik, dan pusat distribusi. "Kami perlu mengetahui kemungkinan dampak sosial-ekonomi. Jangan sampai keberadaan gerai justru bergesekan dengan perdagangan yang sudah ada," katanya.

Roy menambahkan, bentuk gerai itu lebih pada toko konvensional, ritel waralaba, atau yang lain. Kalau waralaba, investasi diperkirakan Rp 450 juta-Rp 475 juta per toko. Insentif yang utama, ketersediaan infrastruktur dan logistik. Selama ini, hal itu yang menjadi kendala ritel tak berkembang di Indonesia timur dan perbatasan. (HEN)

http://print.kompas.com/baca/2015/07/24/Bulog-dan-Gerai-Perbatasan-Dikaji