Minggu, 7 September 2014
Kendari (Antara News) - Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Sulawesi Tenggara (Sultra), menjamin stok gula di daerah itu dalam keadaan aman.
Kepala Divre Bulog Sultra, Ramli Hasan, di Kendari, Sabtu, mengatakan stok gula yang dimiliki saat ini mampu menjamin ketersediaan komoditas tersebut hingga beberapa bulan ke depan.
"Sejauh ini, stok gula yang dimiliki Bulog Divre Sultra sekitar 650 ton yang dipersiapkan untuk kebutuhan lokal," katanya.
Menurutnya, stok gula tersebut sudah termasuk gula yang dari luar negeri yakni gula dari Vietnam.
Ramli mengatakan, pasokan gula tersebut masih berasal dari pusat atau luar daerah, karena daerah itu belum bisa memproduksi gula sendiri.
"Gula itu disiapkan untuk memenuhi kebutuhan gula di Sultra, meski harganya sesuai dengan harga pasar namun kehadiran gula dari Bulog dilakukan untuk melakukan stabilisasi pasar," katanya.
Dengan ketersediaan gula tersebut lanjut Ramli, pihaknya yakin tidak akan ada kenaikan gula di daerah ini.
http://www.antarasultra.com/berita/273788/bulog-sultra-jamin-stok-gula-aman
Senin, 08 September 2014
Kembalikan Kebanggaan Petani
Minggu, 7 September 2014
Mojokerto - Pekerjaan sebagai petani bisa kembali menjadi kebanggaan jika produktivitas padi mampu ditingkatkan dan hal itu bisa dicapai dengan penggunaan teknologi. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat dan lahan pertanian yang menciut, penggunaan teknologi on farm maupun off farm sudah menjadi keharusan.
"Saya yakin, Indonesia mampu menjadi lumbung beras dunia. Kita tidak hanya mampu memberikan makan kepada seluruh rakyat Indonesia, melainkan bisa memberi makan kepada dunia. Kita memiliki potensi yang besar. Tinggal sentuhan teknologi," kata Komisaris Utama PT Lumbung Padi Indonesia (LPI), Rachmat Gobel, saat peresmian pabrik pengolahan gabah dan beras modern terpadu di Desa Jasem, Kecamatan Ngoro, Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (7/9).
Hadir pada acara ini, antara lain Menteri Pertanian Suswono, Wagub Jatim Syaifullah Yusuf, wakil dubes Jepang untuk Indonesia, dan Bupati Mojokerto Mustafa Kamal.
Mesin penggilingan padi yang diresmikan memberikan efisiensi tinggi dan menghasilkan beras dengan tingkat kepecahan hanya 5 persen. Dengan kemampuan seperti ini, mesin giling modern ini nyaris zero waste. Dengan menerapkan teknologi pascapanen dengan baik, produksi beras Indonesia bisa bertambah 30 persen.
Amanat Ayah
Rachmat menuturkan, tekad untuk membangun petani sudah tertancap sejak 52 tahun lalu, saat ayahnya mendirikan perusahaan elektronik. Ketika itu, ayahnya, Mohammad Thayeb Gobel berbicara tentang niatnya membangun pertanian dan meningkatkan kualitas hidup petani. Ayahnya mengoleksi sejumlah gambar tentang hamparan sawah yang terbentang luas, traktor, dan mesin giling.
"Saya sempat mendengarkan percakapan ayah dan kakek saya tentang pertanian. Kakek saya berpesan agar ayah saya membangun pertanian dan membantu petani. Hari ini, saya mewujudkan mimpi mereka," ujar Rachmat.
Diialog almarhum ayah dan kakeknya benar-benar menginspirasi dirinya. "Saya ingat, almarhhum ayah saya mengucapkan terima kasih kepada ayahnya. Ia bangga menjadi anak seorang petani pejuang. Sekarang, setelah pabrik berdiri, saya ingat, ada satu hal yang belum saya lakukan, ialah menjadi pejuang petani," papar Rachmat
Indonesia membutuhkan pasokan beras yang terus meningkat seiring kenaikan jumlah penduduk. Menilik sumber daya yang ada, kata Rachmat, tidak sulit bagi Indonesia untuk mempertahankan swasembada beras asalkan pembangunan on farm maupun off farm menggunakan teknolgi. Kegiatan on farm adalah kegiatan dari pembenihan hingga panen. Sedangkan off farm merupakan kegiatan pascapanen, mulai dari pemotongan bulir padi, pengeringan, penyimpanan, dan penggilingan.
"Jika kegiatan on farm dan off farm dilaksanakan dengan benar, pertanian Indonesia bukan hanya mencukupi kebutuhan nasional, melainkan juga mampu memberikan makanan kepada dunia," ujar Rachmat.
Upaya meningkatkan produksi pertanian harus berjalan seiring dengan kenaikan kesejahteraan petani. "Dengan segala upaya, kita harus bisa menaikkan kesejahteraan petani. Kita harus mengembalikan kebanggaan petani," tegas Rachmat.
Ia menjelaskan, pabrik yang didirikannya akan bekerja sama dengan petani sekitar dan perusahaan penggilingan milik rakyat.
Lahan Pertanian Menciut
Pada kesempatan itu, Wagub Jatim Syaifullah Yusuf menyatakan ada sekitar 27.000 penggilingan di Jatim dan di Mojokerto 650 penggilingan. Produktivitas sawah di Jatim mencapai 5,9 ton per haktare, jauh di atas rata-rata produktivitas sawah nasional sebesar 5,1 ton per hektare. Sedangkan produksi gabah di Jatim mencapai 12 juta ton per tahun atau 17 persen dari produksi nasional. "Setiap tahun, Jatim surplus beras empat juta ton," katanya.
Saifullah mengakui kepemilikan lahan pertanian terus menciut, sementara penduduk makin bertambah. "Jika tidak ada terobosan teknologi, surplus beras Jatim akan menciut, terutama beras premium. Saat ini, sekitar 40 persen penduduk Jatim mengonsumsi beras premium. Tapi, lima tahun akan datang, konsumsi beras premium bisa mencapai 60-70 persen," ujarnya.
Surplus
Sementara itu, Menteri Pertanian Suswono membantah jika ada yang menilai Indonesia mengalami krisis beras. Pada 2013 produksi gabah Indonesia sebesar 71,6 juta ton atau setara 41 juta beras. Tahun ini, berdasarkan perkiraan BPS, produksi gabah 69,8 juta ton setara 40 juta ton. "Tapi, kita tetap mengalami surplus beras. Tahun lalu, surplus sekitar 7 juta ton dan tahun ini sekitar 5 juta ton," ungkap Suswono.
Selama ini, lanjutnya, surplus atau defisit beras tergantung Bulog. Kalau Bulog tak mampu menyerap gabah rakyat dan pada akhir tahun tak mampu memiliki stok 1,5 juta ton beras, Indonesia dianggap rawan beras dan untuk mengamankan stok, Bulog harus mengimpor beras.
Konsumsi beras Indonesia saat ini 124 kg per kapita per tahun. Jika konsumsi per kapita bisa ditekan, surplus beras bisa meningkat. Bila produksi beras mampu ditingkatkan dengan penamahan lahan dan penerapan teknologi, Indonesia akan terus mengalami surplus beras. Saat ini, ada 12 provinsi yang merupakan lumbung padi nasional dan dunia.
Penerapan teknologi pertanian, lanjut Suswono, bisa menaikkan produktivitas padi dari 5,1 ton menjadi 5,2 ton per hektare. Kenaikan itu sudah cukup besar karena secara agregat akan mendongkrak tambahan produksi 1,4 juta ton.
Penerapan teknologi pertanian sudah terbukti berdampak signifikan. Penggunaan mesin panen, misalnya, mampu menurunkan waste dari 9 persen menjadi 1 persen.
"Untuk meningkatkan produksi beras dan kesejahteraan petani, luas lahan petani harus bisa ditingkatkan. Saat ini, rata-rata luas lahan petani hanya 0,3 hektare per petani. Di Thailand, seorang petani memiliki 3 hektare. Luas lahan pertanian per kapita di Indonesia hanya 560 meter, sedang di Thailand 5.600 meter per kapita," ujar Suswono.
http://www.beritasatu.com/nasional/208144-kembalikan-kebanggaan-petani.html
Mojokerto - Pekerjaan sebagai petani bisa kembali menjadi kebanggaan jika produktivitas padi mampu ditingkatkan dan hal itu bisa dicapai dengan penggunaan teknologi. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat dan lahan pertanian yang menciut, penggunaan teknologi on farm maupun off farm sudah menjadi keharusan.
"Saya yakin, Indonesia mampu menjadi lumbung beras dunia. Kita tidak hanya mampu memberikan makan kepada seluruh rakyat Indonesia, melainkan bisa memberi makan kepada dunia. Kita memiliki potensi yang besar. Tinggal sentuhan teknologi," kata Komisaris Utama PT Lumbung Padi Indonesia (LPI), Rachmat Gobel, saat peresmian pabrik pengolahan gabah dan beras modern terpadu di Desa Jasem, Kecamatan Ngoro, Mojokerto, Jawa Timur, Minggu (7/9).
Hadir pada acara ini, antara lain Menteri Pertanian Suswono, Wagub Jatim Syaifullah Yusuf, wakil dubes Jepang untuk Indonesia, dan Bupati Mojokerto Mustafa Kamal.
Mesin penggilingan padi yang diresmikan memberikan efisiensi tinggi dan menghasilkan beras dengan tingkat kepecahan hanya 5 persen. Dengan kemampuan seperti ini, mesin giling modern ini nyaris zero waste. Dengan menerapkan teknologi pascapanen dengan baik, produksi beras Indonesia bisa bertambah 30 persen.
Amanat Ayah
Rachmat menuturkan, tekad untuk membangun petani sudah tertancap sejak 52 tahun lalu, saat ayahnya mendirikan perusahaan elektronik. Ketika itu, ayahnya, Mohammad Thayeb Gobel berbicara tentang niatnya membangun pertanian dan meningkatkan kualitas hidup petani. Ayahnya mengoleksi sejumlah gambar tentang hamparan sawah yang terbentang luas, traktor, dan mesin giling.
"Saya sempat mendengarkan percakapan ayah dan kakek saya tentang pertanian. Kakek saya berpesan agar ayah saya membangun pertanian dan membantu petani. Hari ini, saya mewujudkan mimpi mereka," ujar Rachmat.
Diialog almarhum ayah dan kakeknya benar-benar menginspirasi dirinya. "Saya ingat, almarhhum ayah saya mengucapkan terima kasih kepada ayahnya. Ia bangga menjadi anak seorang petani pejuang. Sekarang, setelah pabrik berdiri, saya ingat, ada satu hal yang belum saya lakukan, ialah menjadi pejuang petani," papar Rachmat
Indonesia membutuhkan pasokan beras yang terus meningkat seiring kenaikan jumlah penduduk. Menilik sumber daya yang ada, kata Rachmat, tidak sulit bagi Indonesia untuk mempertahankan swasembada beras asalkan pembangunan on farm maupun off farm menggunakan teknolgi. Kegiatan on farm adalah kegiatan dari pembenihan hingga panen. Sedangkan off farm merupakan kegiatan pascapanen, mulai dari pemotongan bulir padi, pengeringan, penyimpanan, dan penggilingan.
"Jika kegiatan on farm dan off farm dilaksanakan dengan benar, pertanian Indonesia bukan hanya mencukupi kebutuhan nasional, melainkan juga mampu memberikan makanan kepada dunia," ujar Rachmat.
Upaya meningkatkan produksi pertanian harus berjalan seiring dengan kenaikan kesejahteraan petani. "Dengan segala upaya, kita harus bisa menaikkan kesejahteraan petani. Kita harus mengembalikan kebanggaan petani," tegas Rachmat.
Ia menjelaskan, pabrik yang didirikannya akan bekerja sama dengan petani sekitar dan perusahaan penggilingan milik rakyat.
Lahan Pertanian Menciut
Pada kesempatan itu, Wagub Jatim Syaifullah Yusuf menyatakan ada sekitar 27.000 penggilingan di Jatim dan di Mojokerto 650 penggilingan. Produktivitas sawah di Jatim mencapai 5,9 ton per haktare, jauh di atas rata-rata produktivitas sawah nasional sebesar 5,1 ton per hektare. Sedangkan produksi gabah di Jatim mencapai 12 juta ton per tahun atau 17 persen dari produksi nasional. "Setiap tahun, Jatim surplus beras empat juta ton," katanya.
Saifullah mengakui kepemilikan lahan pertanian terus menciut, sementara penduduk makin bertambah. "Jika tidak ada terobosan teknologi, surplus beras Jatim akan menciut, terutama beras premium. Saat ini, sekitar 40 persen penduduk Jatim mengonsumsi beras premium. Tapi, lima tahun akan datang, konsumsi beras premium bisa mencapai 60-70 persen," ujarnya.
Surplus
Sementara itu, Menteri Pertanian Suswono membantah jika ada yang menilai Indonesia mengalami krisis beras. Pada 2013 produksi gabah Indonesia sebesar 71,6 juta ton atau setara 41 juta beras. Tahun ini, berdasarkan perkiraan BPS, produksi gabah 69,8 juta ton setara 40 juta ton. "Tapi, kita tetap mengalami surplus beras. Tahun lalu, surplus sekitar 7 juta ton dan tahun ini sekitar 5 juta ton," ungkap Suswono.
Selama ini, lanjutnya, surplus atau defisit beras tergantung Bulog. Kalau Bulog tak mampu menyerap gabah rakyat dan pada akhir tahun tak mampu memiliki stok 1,5 juta ton beras, Indonesia dianggap rawan beras dan untuk mengamankan stok, Bulog harus mengimpor beras.
Konsumsi beras Indonesia saat ini 124 kg per kapita per tahun. Jika konsumsi per kapita bisa ditekan, surplus beras bisa meningkat. Bila produksi beras mampu ditingkatkan dengan penamahan lahan dan penerapan teknologi, Indonesia akan terus mengalami surplus beras. Saat ini, ada 12 provinsi yang merupakan lumbung padi nasional dan dunia.
Penerapan teknologi pertanian, lanjut Suswono, bisa menaikkan produktivitas padi dari 5,1 ton menjadi 5,2 ton per hektare. Kenaikan itu sudah cukup besar karena secara agregat akan mendongkrak tambahan produksi 1,4 juta ton.
Penerapan teknologi pertanian sudah terbukti berdampak signifikan. Penggunaan mesin panen, misalnya, mampu menurunkan waste dari 9 persen menjadi 1 persen.
"Untuk meningkatkan produksi beras dan kesejahteraan petani, luas lahan petani harus bisa ditingkatkan. Saat ini, rata-rata luas lahan petani hanya 0,3 hektare per petani. Di Thailand, seorang petani memiliki 3 hektare. Luas lahan pertanian per kapita di Indonesia hanya 560 meter, sedang di Thailand 5.600 meter per kapita," ujar Suswono.
http://www.beritasatu.com/nasional/208144-kembalikan-kebanggaan-petani.html
Sabtu, 06 September 2014
Harga Pembelian Bulog Kediri Kalah dengan Tengkulak
Jumat, 5 September 2014
Kediri (Antara Jatim) - Harga pembelian pemerintah yang dilakukan Badan Urusan Logistik Subdivre Kediri, Jawa Timur, kalah bersaing dengan harga pembelian dari para tengkulak, sehingga berpengaruh pada penyerapan beras.
Kepala Bulog Subdivre Kediri Arif Mandu di Kediri, Jumat, mengatakan HPP beras yang ditetapkan Bulog Kediri sebesar Rp6.600 per kilogram, sedangkan harga pembelian di luar Bulog berkisar Rp6.800-Rp7.000 per kilogram.
"Persoalan harga di pasaran juga sangat memengaruhi penyerapan beras. Harga pembelian beras di pasaran sudah di atas HPP Bulog, " katanya.
Ia mengatakan pengadaan beras oleh Bulog Kediri sampai saat ini sudah mencapai 40.000 ton. Sebagian beras tersebut sudah didistribusikan untuk berbagai macam keperluan, salah satunya untuk program raskin dan stok yang ada tinggal sekitar 30.000 ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 10 bulan.
Pada tahun ini, Bulog Kediri menargetkan pengadaan beras sebanyak 75.000 ton. Namun, Arif Mandu mengatakan target itu bisa dievaluasi setelah melihat situasi dan kondisi di lapangan, karena hingga kini pihaknya masih terus melakukan penyerapan beras di wilayah Kabupaten/Kota Kediri dan Kabupaten Nganjuk. (*)
http://www.antarajatim.net/lihat/berita/140586/harga-pembelian-bulog-kediri-kalah-dengan-tengkulak
Kediri (Antara Jatim) - Harga pembelian pemerintah yang dilakukan Badan Urusan Logistik Subdivre Kediri, Jawa Timur, kalah bersaing dengan harga pembelian dari para tengkulak, sehingga berpengaruh pada penyerapan beras.
Kepala Bulog Subdivre Kediri Arif Mandu di Kediri, Jumat, mengatakan HPP beras yang ditetapkan Bulog Kediri sebesar Rp6.600 per kilogram, sedangkan harga pembelian di luar Bulog berkisar Rp6.800-Rp7.000 per kilogram.
"Persoalan harga di pasaran juga sangat memengaruhi penyerapan beras. Harga pembelian beras di pasaran sudah di atas HPP Bulog, " katanya.
Ia mengatakan pengadaan beras oleh Bulog Kediri sampai saat ini sudah mencapai 40.000 ton. Sebagian beras tersebut sudah didistribusikan untuk berbagai macam keperluan, salah satunya untuk program raskin dan stok yang ada tinggal sekitar 30.000 ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 10 bulan.
Pada tahun ini, Bulog Kediri menargetkan pengadaan beras sebanyak 75.000 ton. Namun, Arif Mandu mengatakan target itu bisa dievaluasi setelah melihat situasi dan kondisi di lapangan, karena hingga kini pihaknya masih terus melakukan penyerapan beras di wilayah Kabupaten/Kota Kediri dan Kabupaten Nganjuk. (*)
http://www.antarajatim.net/lihat/berita/140586/harga-pembelian-bulog-kediri-kalah-dengan-tengkulak
Bulog OKU berupaya berikan pelayanan optimal
Jumat, 5 September 2014
Baturaja (ANTARA Sumsel) - Bulog Sub Drive Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan berupaya memberikan pelayanan optimal dan mengembangkan bisnisnya dengan memasarkan beras murah kualitas premiun seharga Rp8.300 perkilogram.
"Beras medium itu cukup diminati, karena Kwalitasnya bagus dan dijual harga murah hanya Rp8.300 per kilogram. Beras bulog bermerek Gending Sriwijaya (GS) ini produksi perbulan mencapai 150 ton," kata Kepala Bulog Sub Drive Ogan Komering Ulu (OKU), Meizarani di Baturaja, Jumat.
Dijelaskannya, 150 ton beras perbulan ini di pasarkan untuk wilayah OKU dan Palembang.
Menurutnya, sekarang ini yang sudah menjadi langganan yakni perkebunan seperti Minanga Ogan, RS Antonio, PT Semen Baturaja dan beberapa tempat lainnya.
"Beras ini juga dijual di pasaran. Bulog sengaja menjual beras tersebut sesuai ditugaskan untuk pelayanan masyarakat dan penyaluran beras untuk keluarga miskin. Dimana 10 persennya juga mendapat pengembangan bisnis," katanya.
Oleh karena itu, Bulog mengadakan beras merek GS yang didistribusikan ke pasaran umum.
Menurut dia, beras Bulog merek yang diberi merek Beras Gendering Sriwijaya ini dikemas dalam karung 10 kilogram dan 20 kilogram.
Di samping itu Meizarani menambahkan, dengan adanya beras bulog tersebut, mereka menjamin tidak akan mempengaruhi kwalitas maupun stok beras yang ada.
Buktinya, hingga saat ini mendekati Idul adha 2014, stok beras masih aman. Bulog OKU memiliki stok beras sekitar 13 ribu ton.
Dengan pencatatan ini stok beras bisa memenuhi kebutuhan hingga Agustus 2015, katanya.
"Untuk wilayah OKU raya, yakni OKU Induk, OKU Selatan dan OKU Timur stok beras aman, bahkan meski kita sudah mengirim beras ke Kabupaten Lahat sebanyak 1.000 ton, stok beras di OKU Raya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan di tiga kabupaten tersebut," katanya.
Sedangkan target pengadaan beras tahun 2014 sebanyak 21.000 ton, dengan posisi penyerapan saat ini sudah sekitar 10 ribu ton atau sekitar 50 persen lebih dari target.
Dikatakan Kabulog, HPP (Harga Penetapan Pemerintah) beras tersebut sudah tiga tahun berturut-turut ini dipatok Rp6.600/kg.
Meizarani menambahkan, saat ini juga Bulog OKU sedang membangun gudang baru dengan kapasitas 1.000 ton beras untuk membantu empat gudang yang sudah ada di Kabupaten OKU Timur.
Editor: Parni
COPYRIGHT © 2014
http://www.antarasumsel.com/berita/289087/bulog-oku-berupaya-berikan-pelayanan-optimal
Baturaja (ANTARA Sumsel) - Bulog Sub Drive Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan berupaya memberikan pelayanan optimal dan mengembangkan bisnisnya dengan memasarkan beras murah kualitas premiun seharga Rp8.300 perkilogram.
"Beras medium itu cukup diminati, karena Kwalitasnya bagus dan dijual harga murah hanya Rp8.300 per kilogram. Beras bulog bermerek Gending Sriwijaya (GS) ini produksi perbulan mencapai 150 ton," kata Kepala Bulog Sub Drive Ogan Komering Ulu (OKU), Meizarani di Baturaja, Jumat.
Dijelaskannya, 150 ton beras perbulan ini di pasarkan untuk wilayah OKU dan Palembang.
Menurutnya, sekarang ini yang sudah menjadi langganan yakni perkebunan seperti Minanga Ogan, RS Antonio, PT Semen Baturaja dan beberapa tempat lainnya.
"Beras ini juga dijual di pasaran. Bulog sengaja menjual beras tersebut sesuai ditugaskan untuk pelayanan masyarakat dan penyaluran beras untuk keluarga miskin. Dimana 10 persennya juga mendapat pengembangan bisnis," katanya.
Oleh karena itu, Bulog mengadakan beras merek GS yang didistribusikan ke pasaran umum.
Menurut dia, beras Bulog merek yang diberi merek Beras Gendering Sriwijaya ini dikemas dalam karung 10 kilogram dan 20 kilogram.
Di samping itu Meizarani menambahkan, dengan adanya beras bulog tersebut, mereka menjamin tidak akan mempengaruhi kwalitas maupun stok beras yang ada.
Buktinya, hingga saat ini mendekati Idul adha 2014, stok beras masih aman. Bulog OKU memiliki stok beras sekitar 13 ribu ton.
Dengan pencatatan ini stok beras bisa memenuhi kebutuhan hingga Agustus 2015, katanya.
"Untuk wilayah OKU raya, yakni OKU Induk, OKU Selatan dan OKU Timur stok beras aman, bahkan meski kita sudah mengirim beras ke Kabupaten Lahat sebanyak 1.000 ton, stok beras di OKU Raya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan di tiga kabupaten tersebut," katanya.
Sedangkan target pengadaan beras tahun 2014 sebanyak 21.000 ton, dengan posisi penyerapan saat ini sudah sekitar 10 ribu ton atau sekitar 50 persen lebih dari target.
Dikatakan Kabulog, HPP (Harga Penetapan Pemerintah) beras tersebut sudah tiga tahun berturut-turut ini dipatok Rp6.600/kg.
Meizarani menambahkan, saat ini juga Bulog OKU sedang membangun gudang baru dengan kapasitas 1.000 ton beras untuk membantu empat gudang yang sudah ada di Kabupaten OKU Timur.
Editor: Parni
COPYRIGHT © 2014
http://www.antarasumsel.com/berita/289087/bulog-oku-berupaya-berikan-pelayanan-optimal
Jumat, 05 September 2014
SEPULUH “BULOG MART” BAKAL HADIR DI PAPUA DAN PAPUA BARAT
Kamis, 4 September 2014
Jayapura, 4/9 (Jubi) – Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) VIII Papua dan Papua Barat akan membangun 10 unit “Bulog Mart” atau tempat penjualan beras Bulog bersubsidi di kedua wilayah itu.
Kepala Bulog Divre Papua dan Papua Barat, Benhur Ngakaime mengatakan, selain melakukan tugas public, Bulog juga melakukan tugas komersil.
“Akan dibangun sepuluh unit Bulog Mart di Papua dan Papua Barat. Kini di Papua baru ada empat Bulog Mart, satu di Merauke, satu di Jayapura dan dua di Nabire. Minggu depan rencananya akan diresmikan lagi di Manokwari, Biak, Serui dan Timika. Kami harap setiap wilayah di Papua memiliki Bulog Mart,” kata Benhur Ngkaime, Rabu (3/9) kemarin.
Bulog Mart ini, akan mengelola komoditi berbagai macam Sembilan Bahan Pokok (Sembako) misalnya beras premium atau beras yang dijual umum, gula serta kebutuhan lainnya.
“Tugas komersil Bulog juga yakni menjaga stabilisasi dan standarisasi harga. Memang kami cari keuntungan tapi tidak memanfaatkan kesempatan. Misalnya sesuai kualitas beras dijual maksimal Rp. 9 ribu walaupun bisa dijual Rp. 12 ribu. Kami harap pedagang bisa mengikuti standar itu,” ujarnya.
Dikatakan, Bulog juga merencanakan pembangunan gudang penyimpanan beras di sejumlah wilayah antara lain Manokwari, Merauke dan Jayapura. Namun ia berharap ada bantuan dari pemerintah daerah dalam pembangunan gudang penyimpanan.
Sebelumnya, awal Juli lalu Kepala Bulog Merauke, HS Kurniawan mengatakan, gudang Bulog setempat yang 115 ribu ton dan selama dipakai menampung beras dari petani, kini telah penuh karena produksi beras petani Merauke terus meningkat.
“Kami mengalami kesulitan mendapatkan tempat untuk penampungan beras. Langkah yang kami diambil adalah menyewa dua tempat yakni di Kurik dan Semangga, agar beras petani bisa ditampung,” kata HS Kurniawan kala itu. (Jubi/Arjuna)
http://tabloidjubi.com/2014/09/04/sepuluh-bulog-mart-bakal-hadir-di-papua-dan-papua-barat/
Jayapura, 4/9 (Jubi) – Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) VIII Papua dan Papua Barat akan membangun 10 unit “Bulog Mart” atau tempat penjualan beras Bulog bersubsidi di kedua wilayah itu.
Kepala Bulog Divre Papua dan Papua Barat, Benhur Ngakaime mengatakan, selain melakukan tugas public, Bulog juga melakukan tugas komersil.
“Akan dibangun sepuluh unit Bulog Mart di Papua dan Papua Barat. Kini di Papua baru ada empat Bulog Mart, satu di Merauke, satu di Jayapura dan dua di Nabire. Minggu depan rencananya akan diresmikan lagi di Manokwari, Biak, Serui dan Timika. Kami harap setiap wilayah di Papua memiliki Bulog Mart,” kata Benhur Ngkaime, Rabu (3/9) kemarin.
Bulog Mart ini, akan mengelola komoditi berbagai macam Sembilan Bahan Pokok (Sembako) misalnya beras premium atau beras yang dijual umum, gula serta kebutuhan lainnya.
“Tugas komersil Bulog juga yakni menjaga stabilisasi dan standarisasi harga. Memang kami cari keuntungan tapi tidak memanfaatkan kesempatan. Misalnya sesuai kualitas beras dijual maksimal Rp. 9 ribu walaupun bisa dijual Rp. 12 ribu. Kami harap pedagang bisa mengikuti standar itu,” ujarnya.
Dikatakan, Bulog juga merencanakan pembangunan gudang penyimpanan beras di sejumlah wilayah antara lain Manokwari, Merauke dan Jayapura. Namun ia berharap ada bantuan dari pemerintah daerah dalam pembangunan gudang penyimpanan.
Sebelumnya, awal Juli lalu Kepala Bulog Merauke, HS Kurniawan mengatakan, gudang Bulog setempat yang 115 ribu ton dan selama dipakai menampung beras dari petani, kini telah penuh karena produksi beras petani Merauke terus meningkat.
“Kami mengalami kesulitan mendapatkan tempat untuk penampungan beras. Langkah yang kami diambil adalah menyewa dua tempat yakni di Kurik dan Semangga, agar beras petani bisa ditampung,” kata HS Kurniawan kala itu. (Jubi/Arjuna)
http://tabloidjubi.com/2014/09/04/sepuluh-bulog-mart-bakal-hadir-di-papua-dan-papua-barat/
Kamis, 04 September 2014
Teknologi Penggilingan Padi Sudah Kuno
Rabu, 3 September 2014
TEKNOLOGI penggilingan padi yang dimiliki masyarakat saat ini dinilai sudah layak untuk diperbaharui. Dengan memperbaharui teknologi tersebut diyakini produktifitas padi para petani diyakini akan jauh lebih tinggi. “Kita perlu merevitalisasi penggilangan padi yang banyak sekali sudah tertinggal dalam aspek teknologi. Sudah puluhan tahun usianya,” kata Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog), Sutarto Alimoeso kepada Jurnal Nasional saat dihubungi, Rabu, (3/9).
Khusus untuk urusan rendemen dari setiap kali proses penggilingan dengan menggunakan mesin lama, lanjut Sutarto, saat ini hanya bisa mencapi 55 persen. Sedangkan dengan memperbaharui teknologi mesin penggiling, bisa mencapai perolehan jauh lebih tinggi. “Rendemen sekarang 55 persen bisa menjadi 63-67 persen,” lanjut Sutarto.
Tidak hanya itu, Sutarto juga mengatakan hasil penggilingan dari mesin berteknologi hasil pembaharuan bisa menjadikan beras berkualitas lebih tinggi. Bahkan urusan beras rusak akibat proses penggilingan itu sendiri bisa ditekan jumlahnya. “Beda cukup jauh efisien 10 persen lebih. Kulitasnya lebih baik, broken bisa kurang, lebih bersih. Ini kita dorong,” jelas Sutarto.
Peningkatan kualitas beras yang sedang diupayakan Bulog tersebut, sambung Sutarto, mempunyai beberapa tujuan. Selain memberikan peluang peningkatan penghasilan bagi petani, perbaharuan teknologi mesin giling tersebut juga dalam rangka mewujudkan ekonomi kerakyatan.
“Kita sudah lakukan kerjasama dengan perbankan, jadi bulog yang nanti menjamin hasilnya dibeli oleh bulog. Bagi bulog bisa langsung dapat beras dari penggilingan yang kecil itu. Prinsipnya kita tingkatkan kemampuan ekonomi yang kecil2 itu. Ekonomi kerakyatannya disitu. Kalau hanya dengan yang gede sekitar 2000 unit, artinya kapitalisme. Itu yang sebenarnya bulog dorong,” tegas Sutarto.
“Saya ingin gandeng sekitar 182 ribu penggilingan padi se-Indonesia, yang kecil 160 ribuan jumlahnya. Bersama Persatuan Pengusaha Beras dan Penggilingan Indonesia (Perpadi). Perpadi kerjasama dengan penggilingan, Perpadi kerjasama dengan Bulog, Bulog dengan Perbankan,” sambung Sutarto.
Dengan cara itu pula Sutarto berharap kemampuan bersaing petani lokal akan semakin tinggi terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia. “Sehingga kita mampu bersaing dalam menghadapi MEA. “Kita perlu mempersiapkan diri untuk bisa menjadi stabilisator pangan, bukan hanya beras. Seperti yang diharapkan beberapa pihak kepada kita,” kata Sutarto.
Reporter : Heri Arland
Redaktur : Rihad Wiranto
http://m.jurnas.com/news/148111/Teknologi-Penggilingan-Padi-Sudah-Kuno--2014/1/Ekonomi/Ekonomi/
TEKNOLOGI penggilingan padi yang dimiliki masyarakat saat ini dinilai sudah layak untuk diperbaharui. Dengan memperbaharui teknologi tersebut diyakini produktifitas padi para petani diyakini akan jauh lebih tinggi. “Kita perlu merevitalisasi penggilangan padi yang banyak sekali sudah tertinggal dalam aspek teknologi. Sudah puluhan tahun usianya,” kata Direktur Utama Badan Urusan Logistik (Bulog), Sutarto Alimoeso kepada Jurnal Nasional saat dihubungi, Rabu, (3/9).
Khusus untuk urusan rendemen dari setiap kali proses penggilingan dengan menggunakan mesin lama, lanjut Sutarto, saat ini hanya bisa mencapi 55 persen. Sedangkan dengan memperbaharui teknologi mesin penggiling, bisa mencapai perolehan jauh lebih tinggi. “Rendemen sekarang 55 persen bisa menjadi 63-67 persen,” lanjut Sutarto.
Tidak hanya itu, Sutarto juga mengatakan hasil penggilingan dari mesin berteknologi hasil pembaharuan bisa menjadikan beras berkualitas lebih tinggi. Bahkan urusan beras rusak akibat proses penggilingan itu sendiri bisa ditekan jumlahnya. “Beda cukup jauh efisien 10 persen lebih. Kulitasnya lebih baik, broken bisa kurang, lebih bersih. Ini kita dorong,” jelas Sutarto.
Peningkatan kualitas beras yang sedang diupayakan Bulog tersebut, sambung Sutarto, mempunyai beberapa tujuan. Selain memberikan peluang peningkatan penghasilan bagi petani, perbaharuan teknologi mesin giling tersebut juga dalam rangka mewujudkan ekonomi kerakyatan.
“Kita sudah lakukan kerjasama dengan perbankan, jadi bulog yang nanti menjamin hasilnya dibeli oleh bulog. Bagi bulog bisa langsung dapat beras dari penggilingan yang kecil itu. Prinsipnya kita tingkatkan kemampuan ekonomi yang kecil2 itu. Ekonomi kerakyatannya disitu. Kalau hanya dengan yang gede sekitar 2000 unit, artinya kapitalisme. Itu yang sebenarnya bulog dorong,” tegas Sutarto.
“Saya ingin gandeng sekitar 182 ribu penggilingan padi se-Indonesia, yang kecil 160 ribuan jumlahnya. Bersama Persatuan Pengusaha Beras dan Penggilingan Indonesia (Perpadi). Perpadi kerjasama dengan penggilingan, Perpadi kerjasama dengan Bulog, Bulog dengan Perbankan,” sambung Sutarto.
Dengan cara itu pula Sutarto berharap kemampuan bersaing petani lokal akan semakin tinggi terutama dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia. “Sehingga kita mampu bersaing dalam menghadapi MEA. “Kita perlu mempersiapkan diri untuk bisa menjadi stabilisator pangan, bukan hanya beras. Seperti yang diharapkan beberapa pihak kepada kita,” kata Sutarto.
Reporter : Heri Arland
Redaktur : Rihad Wiranto
http://m.jurnas.com/news/148111/Teknologi-Penggilingan-Padi-Sudah-Kuno--2014/1/Ekonomi/Ekonomi/
Rabu, 03 September 2014
Papua Belum Mandiri Beras
Rabu, 3 September 2014
Perum Bulog Jember Gandeng Gapoktan
JAYAPURA, KOMPAS — Wilayah Papua belum mampu mencapai swasembada beras hingga saat ini. Sebanyak 85 persen dari 200.000 ton beras yang dikonsumsi masyarakat Papua dan Papua Barat per tahun berasal dari wilayah sentra produksi beras, yakni Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
”Selama ini kami hanya mendapatkan 30.000 ton beras dari sejumlah wilayah di Papua dan Papua Barat, yakni Merauke, Manokwari, dan Nabire. Jumlah itu hanya 15 persen dari total konsumsi beras di Papua dan Papua Barat setiap tahunnya,” kata Kepala Badan Urusan Logistik Divisi Regional Papua dan Papua Barat Benhur Ngkaimi, Selasa (2/9), di Kota Jayapura.
Benhur mengatakan, sebenarnya sejumlah wilayah sangat berpotensi besar untuk mewujudkan program swasembada beras di Papua dan Papua Barat, seperti Merauke dan Manokwari. Namun, masih minimnya dukungan pemerintah daerah dalam sektor teknologi, penyediaan benih, dan sarana irigasi menghambat hadirnya lahan persawahan di Papua.
”Saat ini Merauke mampu menghasilkan 29.000 ton beras. Berdasarkan potensi luas lahan, produksi beras di Merauke bisa dioptimalkan hingga 80.000 ton. Kondisi itu serupa dengan Manokwari. Jumlahnya dapat ditingkatkan dari 1.200 ton menjadi 10.000 ton beras,” katanya.
Berdasarkan Sensus Pertanian 2013 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, lahan persawahan hanya seluas 437.000 meter persegi dari total lahan pertanian sebesar 3.875.000 meter persegi.
Kepala BPS Papua Didik Koesbianto menuturkan, ada dua kendala yang menghambat perluasan lahan sawah.
”Budaya hak ulayat tanah masih menjadi kendala dalam rencana pembebasan lahan. Selain itu, masyarakat asli Papua juga belum punya budaya menanam padi. Selama ini hanya masyarakat transmigran yang menggeluti usaha pertanian tersebut. Pemda harus mencari solusi atas kedua masalah itu,” tutur Didik.
Kepala Bidang Humas dan Protokoler Pemprov Papua Fransiskus Mote, saat ditemui, menambahkan, pihaknya telah menetapkan dalam rencana jangka pendek, wilayah Merauke akan dikembangkan sebagai sentra produksi beras di Papua. Selain itu, 29 pemerintah daerah di 29 kabupaten wajib mengalokasikan 15 persen dari 80 persen dana otonomi khusus (otsus) yang diterima untuk sektor ekonomi dan pertanian.
”Alokasi 15 persen dana otonomi khusus diprioritaskan untuk bantuan modal dan pelatihan bagi para petani,” tuturnya.
Jember surplus
Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Perum Bulog Subdivisi Regional Jember menggandeng gabungan kelompok tani (gapoktan) menjadi pemasok beras supaya target sebesar 75.000 ton beras terpenuhi pada 2014. Namun, minat gabungan kelompok tani untuk menjadi pemasok beras ke Perum Bulog masih rendah. Hingga saat ini pasokan ke Bulog masih sekitar 45 ton.
Wakil Kepala Perum Bulog Jember Rahmawati kepada pers di Jember, Selasa, mengatakan, selain bersama gapoktan, Perum Bulog juga memanfaatkan satuan tugas dan penggilingan padi. ”Sebanyak 45 ton beras yang kami terima itu berasal dari empat gapoktan,” katanya.
Padahal, jumlah gapoktan di Kabupaten Jember lebih dari 30 unit. ”Sisanya belum tertarik untuk menjual berasnya ke Perum Bulog,” ujar Rahmawati.
Hingga saat ini stok beras yang tersimpan di gudang Perum Bulog Jember sebanyak 27.332 ton. Jumlah beras yang tersimpan di gudang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi keluarga miskin hingga 11 bulan ke depan. ”Setiap bulan penyaluran beras untuk keluarga miskin rata-rata sebanyak 2.894 ton,” kata Rahmawati.
Selain itu, Perum Bulog Jember oleh Perum Bulog Pusat juga diminta mengirimkan lebih dari 1.000 ton beras ke dua daerah yang ditunjuk, yakni Palangkaraya, Kalimantan Tengah; dan Jayapura, Papua. Penunjukan agar Jember mengirimkan beras ke sejumlah daerah itu karena kualitas beras yang diproduksi bagus dan disukai.
Selain kedua daerah tersebut, kata Rahmawati, Perum Bulog Jember juga pernah memenuhi permintaan untuk sejumlah
daerah, antara lain Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Timur.
Kepala Seksi Penyuluhan Dinas Pertanian Jember Luluk Herman menambahkan, setiap tahun produksi beras daerahnya surplus 253.319 ton. ”Dinas Pertanian Jember pada tahun ini menargetkan produksi gabah kering giling satu juta ton. Akhir Juli sudah mencapai 815.394 ton,” katanya. (FLO/SIR)
http://epaper1.kompas.com/kompas/books/140903kompas/#/24/
Perum Bulog Jember Gandeng Gapoktan
JAYAPURA, KOMPAS — Wilayah Papua belum mampu mencapai swasembada beras hingga saat ini. Sebanyak 85 persen dari 200.000 ton beras yang dikonsumsi masyarakat Papua dan Papua Barat per tahun berasal dari wilayah sentra produksi beras, yakni Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
”Selama ini kami hanya mendapatkan 30.000 ton beras dari sejumlah wilayah di Papua dan Papua Barat, yakni Merauke, Manokwari, dan Nabire. Jumlah itu hanya 15 persen dari total konsumsi beras di Papua dan Papua Barat setiap tahunnya,” kata Kepala Badan Urusan Logistik Divisi Regional Papua dan Papua Barat Benhur Ngkaimi, Selasa (2/9), di Kota Jayapura.
Benhur mengatakan, sebenarnya sejumlah wilayah sangat berpotensi besar untuk mewujudkan program swasembada beras di Papua dan Papua Barat, seperti Merauke dan Manokwari. Namun, masih minimnya dukungan pemerintah daerah dalam sektor teknologi, penyediaan benih, dan sarana irigasi menghambat hadirnya lahan persawahan di Papua.
”Saat ini Merauke mampu menghasilkan 29.000 ton beras. Berdasarkan potensi luas lahan, produksi beras di Merauke bisa dioptimalkan hingga 80.000 ton. Kondisi itu serupa dengan Manokwari. Jumlahnya dapat ditingkatkan dari 1.200 ton menjadi 10.000 ton beras,” katanya.
Berdasarkan Sensus Pertanian 2013 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, lahan persawahan hanya seluas 437.000 meter persegi dari total lahan pertanian sebesar 3.875.000 meter persegi.
Kepala BPS Papua Didik Koesbianto menuturkan, ada dua kendala yang menghambat perluasan lahan sawah.
”Budaya hak ulayat tanah masih menjadi kendala dalam rencana pembebasan lahan. Selain itu, masyarakat asli Papua juga belum punya budaya menanam padi. Selama ini hanya masyarakat transmigran yang menggeluti usaha pertanian tersebut. Pemda harus mencari solusi atas kedua masalah itu,” tutur Didik.
Kepala Bidang Humas dan Protokoler Pemprov Papua Fransiskus Mote, saat ditemui, menambahkan, pihaknya telah menetapkan dalam rencana jangka pendek, wilayah Merauke akan dikembangkan sebagai sentra produksi beras di Papua. Selain itu, 29 pemerintah daerah di 29 kabupaten wajib mengalokasikan 15 persen dari 80 persen dana otonomi khusus (otsus) yang diterima untuk sektor ekonomi dan pertanian.
”Alokasi 15 persen dana otonomi khusus diprioritaskan untuk bantuan modal dan pelatihan bagi para petani,” tuturnya.
Jember surplus
Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Perum Bulog Subdivisi Regional Jember menggandeng gabungan kelompok tani (gapoktan) menjadi pemasok beras supaya target sebesar 75.000 ton beras terpenuhi pada 2014. Namun, minat gabungan kelompok tani untuk menjadi pemasok beras ke Perum Bulog masih rendah. Hingga saat ini pasokan ke Bulog masih sekitar 45 ton.
Wakil Kepala Perum Bulog Jember Rahmawati kepada pers di Jember, Selasa, mengatakan, selain bersama gapoktan, Perum Bulog juga memanfaatkan satuan tugas dan penggilingan padi. ”Sebanyak 45 ton beras yang kami terima itu berasal dari empat gapoktan,” katanya.
Padahal, jumlah gapoktan di Kabupaten Jember lebih dari 30 unit. ”Sisanya belum tertarik untuk menjual berasnya ke Perum Bulog,” ujar Rahmawati.
Hingga saat ini stok beras yang tersimpan di gudang Perum Bulog Jember sebanyak 27.332 ton. Jumlah beras yang tersimpan di gudang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi keluarga miskin hingga 11 bulan ke depan. ”Setiap bulan penyaluran beras untuk keluarga miskin rata-rata sebanyak 2.894 ton,” kata Rahmawati.
Selain itu, Perum Bulog Jember oleh Perum Bulog Pusat juga diminta mengirimkan lebih dari 1.000 ton beras ke dua daerah yang ditunjuk, yakni Palangkaraya, Kalimantan Tengah; dan Jayapura, Papua. Penunjukan agar Jember mengirimkan beras ke sejumlah daerah itu karena kualitas beras yang diproduksi bagus dan disukai.
Selain kedua daerah tersebut, kata Rahmawati, Perum Bulog Jember juga pernah memenuhi permintaan untuk sejumlah
daerah, antara lain Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Timur.
Kepala Seksi Penyuluhan Dinas Pertanian Jember Luluk Herman menambahkan, setiap tahun produksi beras daerahnya surplus 253.319 ton. ”Dinas Pertanian Jember pada tahun ini menargetkan produksi gabah kering giling satu juta ton. Akhir Juli sudah mencapai 815.394 ton,” katanya. (FLO/SIR)
http://epaper1.kompas.com/kompas/books/140903kompas/#/24/
Langganan:
Postingan (Atom)