Senin, 30 Januari 2017
Liputan6.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tengah mendalami kasus dugaan suap uji materi Undang Undang No 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kasus ini melibatkan Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar.
Dalam kasus ini, KPK akan terus mendalami pengakuan dari Dirut PT Impexindo Pratama, Basuki Hariman. Basuki diduga menyuap Patrialis Akbar. Suap ini juga diduga terkait dengan kartel impor daging di Bulog.
"Itu (dugaan kartel impor daging sapi) bisa menjadi salah satu konsen bahwa siapa saja pihak-pihak terkait dengan rangkaian pristiwa ini," ujar Febri saat dikonfirmasi, Senin (30/1/2017).
Febri mengatakan, penyidik KPK tak menutup kemungkinan akan meminta keterangan para petinggi Bulog.
"Ini masih terbuka luas seiring proses penyidikan yang tengah dilakukan KPK. Nanti kita akan lihat siapa saja pihak-pihak lain yang akan dimunculkan dalam proses pemeriksaan ini. Ada pemeriksaan saksi-saksi yang akan kita lakukan," Febri menambahkan.
Sebelumnya, Basuki sempat mengakui memiliki kepentingan dalam kasus ini. Dia ingin menghilangkan kartel daging sapi asal India di Indonesia. Permainan para mafia daging impor membuat para peternak lokal merugi, termasuk dirinya.
Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Patrialis Akbar terjaring operasi tangkap tangan (OTT) di Grand Indonesia bersama seorang wanita. Patrialis diduga melakukan suap uji materi Undang Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Selain itu KPK juga mengamankan Kamaludin (KL) yang diduga sebagai perantara suap.
Dalam perkara ini, Patrialis Akbar disangkakan menerima suap dari Basuki Hariman (BHR) bos pemilik 20 perusahaan impor daging dan sekretarisnya yang juga berstatus tersangka yakni NG Fenny (NGF).
Oleh Basuki, Patrialis Akbar dijanjikan uang sebesar USD 20 ribu dan SGD 200 ribu terkait pembahasan uji materi UU No 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan hewan.
Diduga uang USD 20 ribu dan SGD 200 ribu itu sudah penerimaan ketiga. Sebelumnya sudah ada penerimaan pertama dan kedua.
Sebagai penerima suap, Patrialis dan Kamaludin dijerat dengan Pasal 12 huruf c atau pasal 11 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
Sementara Basuki dan NG Fenny sebagai pemberi suap dijerat dengan Pasal 6 ayat 1 huruf a atau Paasal 13 UU No 31 tahun 1999 diubah dengan UU No 20 tahun 2001 jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.
http://m.liputan6.com/news/read/2841307/dalami-suap-patrialis-akbar-kpk-akan-periksa-petinggi-bulog
Selasa, 31 Januari 2017
Kontrol Harga Beras, Bulog Buat Terobosan Baru
Senin, 30 Januari 2017
PROKAL.CO, TARAKAN – Harga beras yang tidak menentu belakangan ini, mengharuskan Bulog untuk membuat terobosan baru. Selain menyediakan beras raskin, Bulog kini membuat kebijakan baru untuk mengontrol harga beras komersil.
Kepala Seksi Komersil Bulog Kota Tarakan, Lendra Purba mengatakan, sejak memberlakukan pengontrolan harga beras, sejak bulan Juni 2016 ini harga beras di pasaran terbilang murah.
Harga beras komersil yang dijual langsung oleh Bulog sendiri berkisar Rp 8.700 per kilogram, sedangkan harga pasaran yang dijual oleh para pedagang berkisar Rp 12.000 per kilogram.
Menurut Lendra, dengan harga beras komersil yang dijual langsung oleh Bulog tersebut, para pedagang beras lain tidak akan berani untuk menjual beras dengan harga yang lebih tinggi.
“Masyarakat tidak perlu khawatir, selain murah beras komersil ini juga mempunyai kualitas yang bagus. Dan juga sudah banyak sekali masyarakat yang membeli beras komersil langsung kepada kami,” ucap Lendra.
Pihaknya juga berupaya untuk mensosialisasikan beras komersil ini kepada masyarakat luas. Harga Beras komersil yang tergolong murah dan berkualitas bagus ini juga diharapkan Lendra dapat menolong masyarakat yang berekonomi rendah.
Selain itu, Lendra juga mengkonfirmasi bahwa stok beras di kota Tarakan tetap aman,ini disebabkan karena banyaknya pemasukan beras dari luar daerah. “Beras yang ada di gudang Bulog sendiri aman, namun stok itu di luar dari beras komersil sendiri,” ujar Lendra.
Hal ini tentu membuat harga jual beras di Kota Tarakan berbeda dengan yang ada di Pulau Jawa. Sebab, beras yang dikonsumsi warga Tarakan ini berasal dari luar daerah.
“Tentu harganya pasti berbeda dari daerah asalnya,” tegas Lendra.
Sampai saat ini belum ada beras lokal yang berada di dalam gudang Bulog Tarakan. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan tidak adanya beras lokal di dalam gudang Bulog Tarakan. “Harga jual yang murah, hal tersebut menyebabkan para petani lokal enggan menjual hasil gabah mereka kepada Bulog,” ujar Lendra.
Harga beli gabah yang ditetapkan pemerintah Rp 7.300 per kilogram, dianggap sangat murah, sebab harga tersebut tidak termasuk biaya tranportasi dari petani yang membawa beras tersebut.
Menurutnya, potensi mendapatkan gabah di wilayah Kaltara terbilang cukup besar, terutama untuk daerah Malinau dan Bulungan. ‘’Petani lebih memilih menjual gabah kepada perusahaan daerah (Perusda) di masing-masing daerah, ini disebabkan harga jualnya yang lebih mahal. Contohnya di Malinau, harga jual gabah menurut pantauan kami, bisa mencapai Rp 14 ribu per kilogramnya, dua kali lipat dari harga yang dipatok Bulog,” bebernya.
Selain karena harga beli Bulog yang lebih murah, juga karena adanya kebijakan dari pimpinan daerah agar masyarakat lokal dianjurkan mengonsumsi beras daerah. Sehingga hasil petani lebih banyak dimanfaatkan untuk konsumsi warga lokal.
Namun, tidak mempersoalkan kebijakan tersebut. Yang jelas, pihaknya menerima jika ada petani yang ingin menjual gabah hasil panennya ke Bulog. (*/kp1)
http://kalpos.prokal.co/read/news/2678-kontrol-harga-beras-bulog-buat-terobosan-baru.html
PROKAL.CO, TARAKAN – Harga beras yang tidak menentu belakangan ini, mengharuskan Bulog untuk membuat terobosan baru. Selain menyediakan beras raskin, Bulog kini membuat kebijakan baru untuk mengontrol harga beras komersil.
Kepala Seksi Komersil Bulog Kota Tarakan, Lendra Purba mengatakan, sejak memberlakukan pengontrolan harga beras, sejak bulan Juni 2016 ini harga beras di pasaran terbilang murah.
Harga beras komersil yang dijual langsung oleh Bulog sendiri berkisar Rp 8.700 per kilogram, sedangkan harga pasaran yang dijual oleh para pedagang berkisar Rp 12.000 per kilogram.
Menurut Lendra, dengan harga beras komersil yang dijual langsung oleh Bulog tersebut, para pedagang beras lain tidak akan berani untuk menjual beras dengan harga yang lebih tinggi.
“Masyarakat tidak perlu khawatir, selain murah beras komersil ini juga mempunyai kualitas yang bagus. Dan juga sudah banyak sekali masyarakat yang membeli beras komersil langsung kepada kami,” ucap Lendra.
Pihaknya juga berupaya untuk mensosialisasikan beras komersil ini kepada masyarakat luas. Harga Beras komersil yang tergolong murah dan berkualitas bagus ini juga diharapkan Lendra dapat menolong masyarakat yang berekonomi rendah.
Selain itu, Lendra juga mengkonfirmasi bahwa stok beras di kota Tarakan tetap aman,ini disebabkan karena banyaknya pemasukan beras dari luar daerah. “Beras yang ada di gudang Bulog sendiri aman, namun stok itu di luar dari beras komersil sendiri,” ujar Lendra.
Hal ini tentu membuat harga jual beras di Kota Tarakan berbeda dengan yang ada di Pulau Jawa. Sebab, beras yang dikonsumsi warga Tarakan ini berasal dari luar daerah.
“Tentu harganya pasti berbeda dari daerah asalnya,” tegas Lendra.
Sampai saat ini belum ada beras lokal yang berada di dalam gudang Bulog Tarakan. Terdapat banyak faktor yang menyebabkan tidak adanya beras lokal di dalam gudang Bulog Tarakan. “Harga jual yang murah, hal tersebut menyebabkan para petani lokal enggan menjual hasil gabah mereka kepada Bulog,” ujar Lendra.
Harga beli gabah yang ditetapkan pemerintah Rp 7.300 per kilogram, dianggap sangat murah, sebab harga tersebut tidak termasuk biaya tranportasi dari petani yang membawa beras tersebut.
Menurutnya, potensi mendapatkan gabah di wilayah Kaltara terbilang cukup besar, terutama untuk daerah Malinau dan Bulungan. ‘’Petani lebih memilih menjual gabah kepada perusahaan daerah (Perusda) di masing-masing daerah, ini disebabkan harga jualnya yang lebih mahal. Contohnya di Malinau, harga jual gabah menurut pantauan kami, bisa mencapai Rp 14 ribu per kilogramnya, dua kali lipat dari harga yang dipatok Bulog,” bebernya.
Selain karena harga beli Bulog yang lebih murah, juga karena adanya kebijakan dari pimpinan daerah agar masyarakat lokal dianjurkan mengonsumsi beras daerah. Sehingga hasil petani lebih banyak dimanfaatkan untuk konsumsi warga lokal.
Namun, tidak mempersoalkan kebijakan tersebut. Yang jelas, pihaknya menerima jika ada petani yang ingin menjual gabah hasil panennya ke Bulog. (*/kp1)
http://kalpos.prokal.co/read/news/2678-kontrol-harga-beras-bulog-buat-terobosan-baru.html
Rabu, 25 Januari 2017
OP Gula Bulog Kalsel Dianggap Kurang Bijak
Rabu, 25 Januari 2017
Banjarmasin, KP – Pengusaha gula lokal yang tergabung dalam Asosiasi Gula Bersatu Kalsel mengeluhkan Operasi Pasar (OP) gula pasir yang dijual kesejumlah titik pasar tradisional, karena harga gula stabil ini tentu sangat memukul distributor dan pedagang eceran dan menganggap OP ini kurang bijak dilakukan BUMN plat merah.
Ketua Asosiasi Gula Bersatu, H Aftahudin, kepada wartawan Selasa (24/1) mengatakan, pihaknya sangat menyesalkan langkah OP gula pasir yang dilakukan Bulog Kalsel disejumlah titik pasar tradisional.
“ Saya rasa ini OP ini kurang bijak karena OP digelar disaat harga gula stabil dan ini jelas sangat memukul pengusaha gula dari distributor, agen hingga para pengecer dipasar karena harga yang mereka dijual berada diatas gula OP,” jelasnya.
Sebenarnya OP gula ini sangat pas digelar disaat harga gula melambung misalnya harga sudah berada diatas Rp15 ribu per kilonya seperti tahun kemaren disini sangat pas jika Bulog menggelar OP, bukan disana harga gula normal seperti ini.
Harga jual gula ditingkat distributor dijual sekitar Rp11.800,- per kilonya dalam bentuk karungan dan eceran bisanya menjual Rp13000,- per kilo dan OP Bulog menjual HET Rp12,500,- per kilonya ini sesuai ketetapan HET Nasional.
“ Kami distributor bisa saja menjual dengan harga Rp12,400,- per kilo namun kasihan para pedagang eceran karena harga gula tidak ada terjadi lonjakan hingga awal tahun 2017 ini,” sebut Owners KWK ini.
Meskipun permintaan gula pasir sangat tinggi setiap harinya dalam kondisi normal ditengah naiknya sejumlah harga kebutuhan pokok namun harga gula pasir dipasaran masih dijual dengan harga stabil.
Dari penuturan penjual gula eceran dikawasan Pasar Lama dan kios pengecer dikawasan Sultan Adam harga gula pasir dijual masih dalam kondisi harga normal harga gula pasir masih dijual dikisaran harga Rp12500,- sampai Rp1300,- per kilonya dari sejak akhir tahun 2016 hingga awal tahun 2017 belum ada tanda-tanda gula pasir naik.
Vivi penjual gula eceran Pasar Lama kepada wartawan mengungkapkan, meskipun harga sembako lain mengalami kenaikkan namun itu tidak terjadi pada harga gula pasir yang cendrung stabil sejak 3 bulan terakhir ini.
“ Kami sebagai pedagang berharap pemerintah daerah dan Dolog Kalsel sebagai penyangga stok gula terus bisa menyediakan gula banua karena permintaan gula pasir setiap harinya sangat tinggi sehingga dengan stok yang berlimpah harga bisa stabil, dan tidak mengikuti harga sembako lain yang sudah lebih dulu melonjak,” jelasnya.
Ridho penjual gula eceran sultan Adam mengatakan, salah satu sembako yang paling stabil yakni gula pasir sehingga ia bisa menjual Rp13000 per kilonya. (hif/K-7)
http://www.kalimantanpost.com/op-gula-bulog-kalsel-dianggap-kurang-bijak/
Banjarmasin, KP – Pengusaha gula lokal yang tergabung dalam Asosiasi Gula Bersatu Kalsel mengeluhkan Operasi Pasar (OP) gula pasir yang dijual kesejumlah titik pasar tradisional, karena harga gula stabil ini tentu sangat memukul distributor dan pedagang eceran dan menganggap OP ini kurang bijak dilakukan BUMN plat merah.
Ketua Asosiasi Gula Bersatu, H Aftahudin, kepada wartawan Selasa (24/1) mengatakan, pihaknya sangat menyesalkan langkah OP gula pasir yang dilakukan Bulog Kalsel disejumlah titik pasar tradisional.
“ Saya rasa ini OP ini kurang bijak karena OP digelar disaat harga gula stabil dan ini jelas sangat memukul pengusaha gula dari distributor, agen hingga para pengecer dipasar karena harga yang mereka dijual berada diatas gula OP,” jelasnya.
Sebenarnya OP gula ini sangat pas digelar disaat harga gula melambung misalnya harga sudah berada diatas Rp15 ribu per kilonya seperti tahun kemaren disini sangat pas jika Bulog menggelar OP, bukan disana harga gula normal seperti ini.
Harga jual gula ditingkat distributor dijual sekitar Rp11.800,- per kilonya dalam bentuk karungan dan eceran bisanya menjual Rp13000,- per kilo dan OP Bulog menjual HET Rp12,500,- per kilonya ini sesuai ketetapan HET Nasional.
“ Kami distributor bisa saja menjual dengan harga Rp12,400,- per kilo namun kasihan para pedagang eceran karena harga gula tidak ada terjadi lonjakan hingga awal tahun 2017 ini,” sebut Owners KWK ini.
Meskipun permintaan gula pasir sangat tinggi setiap harinya dalam kondisi normal ditengah naiknya sejumlah harga kebutuhan pokok namun harga gula pasir dipasaran masih dijual dengan harga stabil.
Dari penuturan penjual gula eceran dikawasan Pasar Lama dan kios pengecer dikawasan Sultan Adam harga gula pasir dijual masih dalam kondisi harga normal harga gula pasir masih dijual dikisaran harga Rp12500,- sampai Rp1300,- per kilonya dari sejak akhir tahun 2016 hingga awal tahun 2017 belum ada tanda-tanda gula pasir naik.
Vivi penjual gula eceran Pasar Lama kepada wartawan mengungkapkan, meskipun harga sembako lain mengalami kenaikkan namun itu tidak terjadi pada harga gula pasir yang cendrung stabil sejak 3 bulan terakhir ini.
“ Kami sebagai pedagang berharap pemerintah daerah dan Dolog Kalsel sebagai penyangga stok gula terus bisa menyediakan gula banua karena permintaan gula pasir setiap harinya sangat tinggi sehingga dengan stok yang berlimpah harga bisa stabil, dan tidak mengikuti harga sembako lain yang sudah lebih dulu melonjak,” jelasnya.
Ridho penjual gula eceran sultan Adam mengatakan, salah satu sembako yang paling stabil yakni gula pasir sehingga ia bisa menjual Rp13000 per kilonya. (hif/K-7)
http://www.kalimantanpost.com/op-gula-bulog-kalsel-dianggap-kurang-bijak/
Beras Bulog Premium Lebih Diminati Warga
Selasa, 24 Januari 2017
BORNEONEWS, Sampit - Tingginya harga beras di pasaran belakangan ini membuat banyak warga memilih beras Bulog Premium untuk dikonsumsi. Sebab, beras tersebut dijual lebih murah dari harga beras lainnya yakni Rp90 ribu per 10 Kg.
“Saat operasi Pasar Bulog, itu kesempatan kami membeli beras premium. Karena takut tidak kebagian, apalagi saat ini banyak warga yang berminat membeli beras premium tersebut,” ujar Yani, warga Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, Selasa (24/1/2017).
Diungkapkannya, pembeli beras premium ini tidak hanya dari masyarakat, tetapi juga pedagang untuk dijual kembali.
“Mudah-mudahan Bulog Sampit menjual lebih banyak lagi beras premium ini, karena harganya lebih bersahabat. Soalnya kalau beras yang biasa dijual di pasar harganya Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per 10 Kg,” lanjut Yani.
Sementara itu, Kasi Pelayanan Publik Bulog sub Divre Sampit, M Azwar Fuad mengungkapkan, operasi pasar yang dilakukan Bulog dilakukan untuk menekan harga barang termasuk harga beras. Disampaikannya, ada beberapa jenis beras yang mereka jual yaitu beras premium dengan harga Rp9 ribu per kilogram dalam kemasan 1 kilogram dan beras medium dengan harga Rp7.900 per kilogram dalam kemasan 15 kilogram.
“Memang untuk beras premium paling cepat habis, kalau beras medium banyak juga yang beli. Tapi dibandingkan beras premium lebih lambat terjualnya,” ungkap Azwar. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)
BORNEONEWS, Sampit - Tingginya harga beras di pasaran belakangan ini membuat banyak warga memilih beras Bulog Premium untuk dikonsumsi. Sebab, beras tersebut dijual lebih murah dari harga beras lainnya yakni Rp90 ribu per 10 Kg.
“Saat operasi Pasar Bulog, itu kesempatan kami membeli beras premium. Karena takut tidak kebagian, apalagi saat ini banyak warga yang berminat membeli beras premium tersebut,” ujar Yani, warga Baamang Tengah, Kecamatan Baamang, Selasa (24/1/2017).
Diungkapkannya, pembeli beras premium ini tidak hanya dari masyarakat, tetapi juga pedagang untuk dijual kembali.
“Mudah-mudahan Bulog Sampit menjual lebih banyak lagi beras premium ini, karena harganya lebih bersahabat. Soalnya kalau beras yang biasa dijual di pasar harganya Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per 10 Kg,” lanjut Yani.
Sementara itu, Kasi Pelayanan Publik Bulog sub Divre Sampit, M Azwar Fuad mengungkapkan, operasi pasar yang dilakukan Bulog dilakukan untuk menekan harga barang termasuk harga beras. Disampaikannya, ada beberapa jenis beras yang mereka jual yaitu beras premium dengan harga Rp9 ribu per kilogram dalam kemasan 1 kilogram dan beras medium dengan harga Rp7.900 per kilogram dalam kemasan 15 kilogram.
“Memang untuk beras premium paling cepat habis, kalau beras medium banyak juga yang beli. Tapi dibandingkan beras premium lebih lambat terjualnya,” ungkap Azwar. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)
Bulog Surakarta Targetkan Pengadaan Pangan 105 Ribu Ton
Selasa, 24 Januari 2017
SOLO,NETRALNEWS.COM-Perum Bulog Subdivre III Wilayah Surakarta, Jawa Tengah, menargetkan pengadaan pangan tahun 2017 di wilayahnya mencapai 105.000 ton setara beras.
"Kami ditargetkan dapat menyerap gabah hasil panen petani di wilayah Surakarta mencapai 105 ribu ton setara beras atau meningkat 5.000 ton dibandingkan pada 2016," kata Kepala Perum Bulog Subdivre III Surakarta Rizal Mulyawan, Selasa (21/1/2017).
Rizal Mulyawan mengatakan pengadaan pangan sebanyak tersebut hingga waktu akhir Desember mendatang. "Kami sangat optimistis target itu dapat tercapai hingga akhir 2017, karena realisasi pengadaan pangan 2016 mampu mencapai 106.800 ton setara beras," katanya.
Jumlah pengadaan pangan tahun sebelumnya, kata Rizal, melebihi yang ditargetkan yakni 100.000 ton setara beras atau mencapai 106,8 persen. Bulog Surakarta telah siap melakukan pengadaan dengan penyerap hasil panen petani setempat pada Januari ini dengan menggunakan harga pembelian pemerintah (HPP) sebelumnya atau sesuai Instruksi Presiden (Impres) No.5 2015.
"Dalam pengadaan pangan tetap menggunakan HPP sebelumnya yakni untuk beras kadar air maksimal 14 persen dengan harga Rp7.300 per kilogram (kg) dan gabah kering panen (GKP)-gabah kering giling (GKG) antara Rp3.700 per kg hingga Rp4.659 per kg," katanya.
Stok beras Perum Bulog Subdivre III Wilayah Surakarta hingga sekarang masih aman yakni 44.300 ton setara beras. Jumlah itu, mampu untuk ketahanan pangan di wilayah setempat selama enam hingga tujuh bulan ke depan.
Soal pelayanan pendistribusian beras untuk warga miskin (raskin), Rizal Mulyawan mengatakan Bulog telah siap melakukan pendistribusian beras bersubsidi tersebut kepada masyarakat. Namun, Bulog masih menunggu surat perintah dari pusat dalam penyaluran pangan ke masyarakat.
"Raskin segera didistribusikan dan kemungkinan kalau tidak akhir bulan ini, awal Pebruari mendatang," katanya.
Di sisi lain mengenai ada beberapa harga barang kebutuhan pokok yang tinggi, Rizal menjelaskan Bulog ikut berpartisipasi bersama pemerintah daerah setempat dengan menggelar pasar murah.
"Pasar murah digelar untuk menekan harga misalnya harga cabai yakni kini mulai cenderung menurun. Harga cabai di Solo sebelumnya mencapai Rp100 ribu per kg, tetapi kini turun sekitar Rp70 ribu per kg hingga Rp75 ribu per kg," katanya.
http://www.netralnews.com/news/nasional/read/50354/bulog.surakarta.targetkan.pengadaan.pangan.105.ribu.ton
SOLO,NETRALNEWS.COM-Perum Bulog Subdivre III Wilayah Surakarta, Jawa Tengah, menargetkan pengadaan pangan tahun 2017 di wilayahnya mencapai 105.000 ton setara beras.
"Kami ditargetkan dapat menyerap gabah hasil panen petani di wilayah Surakarta mencapai 105 ribu ton setara beras atau meningkat 5.000 ton dibandingkan pada 2016," kata Kepala Perum Bulog Subdivre III Surakarta Rizal Mulyawan, Selasa (21/1/2017).
Rizal Mulyawan mengatakan pengadaan pangan sebanyak tersebut hingga waktu akhir Desember mendatang. "Kami sangat optimistis target itu dapat tercapai hingga akhir 2017, karena realisasi pengadaan pangan 2016 mampu mencapai 106.800 ton setara beras," katanya.
Jumlah pengadaan pangan tahun sebelumnya, kata Rizal, melebihi yang ditargetkan yakni 100.000 ton setara beras atau mencapai 106,8 persen. Bulog Surakarta telah siap melakukan pengadaan dengan penyerap hasil panen petani setempat pada Januari ini dengan menggunakan harga pembelian pemerintah (HPP) sebelumnya atau sesuai Instruksi Presiden (Impres) No.5 2015.
"Dalam pengadaan pangan tetap menggunakan HPP sebelumnya yakni untuk beras kadar air maksimal 14 persen dengan harga Rp7.300 per kilogram (kg) dan gabah kering panen (GKP)-gabah kering giling (GKG) antara Rp3.700 per kg hingga Rp4.659 per kg," katanya.
Stok beras Perum Bulog Subdivre III Wilayah Surakarta hingga sekarang masih aman yakni 44.300 ton setara beras. Jumlah itu, mampu untuk ketahanan pangan di wilayah setempat selama enam hingga tujuh bulan ke depan.
Soal pelayanan pendistribusian beras untuk warga miskin (raskin), Rizal Mulyawan mengatakan Bulog telah siap melakukan pendistribusian beras bersubsidi tersebut kepada masyarakat. Namun, Bulog masih menunggu surat perintah dari pusat dalam penyaluran pangan ke masyarakat.
"Raskin segera didistribusikan dan kemungkinan kalau tidak akhir bulan ini, awal Pebruari mendatang," katanya.
Di sisi lain mengenai ada beberapa harga barang kebutuhan pokok yang tinggi, Rizal menjelaskan Bulog ikut berpartisipasi bersama pemerintah daerah setempat dengan menggelar pasar murah.
"Pasar murah digelar untuk menekan harga misalnya harga cabai yakni kini mulai cenderung menurun. Harga cabai di Solo sebelumnya mencapai Rp100 ribu per kg, tetapi kini turun sekitar Rp70 ribu per kg hingga Rp75 ribu per kg," katanya.
http://www.netralnews.com/news/nasional/read/50354/bulog.surakarta.targetkan.pengadaan.pangan.105.ribu.ton
Jumat, 20 Januari 2017
Bulog Dukung Gerakan Tanam Cabai
Jumat, 20 Januari 2017
PURWOKERTO – Bulog Subdivisi Regional Banyumas, turut mendukung gerakan tanam cabai di masyarakat untuk mengendalikan laju harga cabai rawit merah di pasar tradisional. Dukungan tersebut dengan menjual tanaman cabai kepada warga. Untuk tahap awal, disiapkan 400 tanaman cabai.
Satu tanaman dihargai Rp 13.500 dan dijual langsung kepada masyarakat. ”Penjualan tanaman cabai untuk mendukung gerakan penanaman cabai di Banyumas, sehingga setiap rumah tangga dapat memiliki tanaman cabai yang ditanam di lahan pekarangannya sendiri,” kata Kepala Seksi Perencanaan dan Pengembangan Usaha Bulog Sub-Divre Banyumas, M Priyono, kemarin.
Ia menambahkan, tanaman cabai yang dijual ke masyarakat adalah tanaman yang sudah berbuah, sehingga warga tidak perlu menunggu lama memanen cabai milik sendiri. ”Tadinya tanaman ini untuk kalangan sendiri tapi kok malah banyak yang minta, sehingga kami jual ke masyarakat. Dalam sehari sudah terjual sekitar 50 tanaman,” kata dia.
Pesanan
Respons positif tidak hanya datang dari masyarakat Banyumas saja, melainkan dari kabupaten tentangga. Bahkan, Bulog Banyumas mendapat pesanan dari Tim Penggerak PKK di Purbalingga sebanyak 100 tanaman.
Selain menjual tanaman cabai, Bulog Banyumas berencana menanam cabai di kompleks gudang beras milik bulog, masing-masing sepuluh tanaman. Apalagi tanaman cabai tidak memerlukan lahan luas karena dapat ditanam di pot. Seperti diberitakan, Pemerintah Kabupaten Banyumas akan membuat program gerakan menanam cabai di masyarakat.
Penanaman cabai untuk pengendalian harga melalui peningkatan ketersediaan pasokan dan mengurangi permintaan cabai segar di pasar. ”Semua masyarakat nanti akan diwajibkan menanam cabai dengan memanfaatkan pekarangan mereka.
Sebenarnya, tahun kemarin sudah membuat surat edaran tapi tahun ini sesuai dengan arahan menteri, semuanya wajib,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas, Tjuntjun Sunarti Rochidi. Menurut dia, pihaknya akan membuat surat edaran untuk seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), termasuk pemerintah kecamatan dan kelurahan/ desa untuk program gerakan menanam cabai.
”Program ini untuk mengantisipasi lonjakan harga cabai yang saat ini sudah di atas Rp 100 ribu per kilogram. Tapi tidak berarti nanti kalau harga cabai turun kegiatan ini berhenti. Diharapkan, program ini terus berjalan, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sendiri,” katanya. (H60-87)
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/bulog-dukung-gerakan-tanam-cabai/
PURWOKERTO – Bulog Subdivisi Regional Banyumas, turut mendukung gerakan tanam cabai di masyarakat untuk mengendalikan laju harga cabai rawit merah di pasar tradisional. Dukungan tersebut dengan menjual tanaman cabai kepada warga. Untuk tahap awal, disiapkan 400 tanaman cabai.
Satu tanaman dihargai Rp 13.500 dan dijual langsung kepada masyarakat. ”Penjualan tanaman cabai untuk mendukung gerakan penanaman cabai di Banyumas, sehingga setiap rumah tangga dapat memiliki tanaman cabai yang ditanam di lahan pekarangannya sendiri,” kata Kepala Seksi Perencanaan dan Pengembangan Usaha Bulog Sub-Divre Banyumas, M Priyono, kemarin.
Ia menambahkan, tanaman cabai yang dijual ke masyarakat adalah tanaman yang sudah berbuah, sehingga warga tidak perlu menunggu lama memanen cabai milik sendiri. ”Tadinya tanaman ini untuk kalangan sendiri tapi kok malah banyak yang minta, sehingga kami jual ke masyarakat. Dalam sehari sudah terjual sekitar 50 tanaman,” kata dia.
Pesanan
Respons positif tidak hanya datang dari masyarakat Banyumas saja, melainkan dari kabupaten tentangga. Bahkan, Bulog Banyumas mendapat pesanan dari Tim Penggerak PKK di Purbalingga sebanyak 100 tanaman.
Selain menjual tanaman cabai, Bulog Banyumas berencana menanam cabai di kompleks gudang beras milik bulog, masing-masing sepuluh tanaman. Apalagi tanaman cabai tidak memerlukan lahan luas karena dapat ditanam di pot. Seperti diberitakan, Pemerintah Kabupaten Banyumas akan membuat program gerakan menanam cabai di masyarakat.
Penanaman cabai untuk pengendalian harga melalui peningkatan ketersediaan pasokan dan mengurangi permintaan cabai segar di pasar. ”Semua masyarakat nanti akan diwajibkan menanam cabai dengan memanfaatkan pekarangan mereka.
Sebenarnya, tahun kemarin sudah membuat surat edaran tapi tahun ini sesuai dengan arahan menteri, semuanya wajib,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banyumas, Tjuntjun Sunarti Rochidi. Menurut dia, pihaknya akan membuat surat edaran untuk seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), termasuk pemerintah kecamatan dan kelurahan/ desa untuk program gerakan menanam cabai.
”Program ini untuk mengantisipasi lonjakan harga cabai yang saat ini sudah di atas Rp 100 ribu per kilogram. Tapi tidak berarti nanti kalau harga cabai turun kegiatan ini berhenti. Diharapkan, program ini terus berjalan, sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sendiri,” katanya. (H60-87)
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/bulog-dukung-gerakan-tanam-cabai/
Stabilkan Harga Pangan, Bulog Resmikan RPK
Kamis, 19 Januari 2017
PERESMIAN RPK – Peresmian Rumah Pangan Kita oleh Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Perum Bulog Imam Subowo bersama Kadivre Bulog Sultra La Ode Amijaya Kamaluddin saat pengguntingan pita di Kantor Bulog Sultra, Jalan Abdullah Silondae Kendari, Kamis (19/1/2017). RPK ini dikembangkan untuk dapat menstabilkan harga bahan pangan di masyarakat. (Sitti Nurmalasari/ ZONASULTRA.COM)
ZONASULTRA.COM, KENDARI – Guna menstabilkan harga pangan beberapa komoditi seperti beras dan gula, Bulog mengembangkan Rumah Pangan Kita (RPK). Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri (PBI) Perum Bulog Imam Subowo saat meresmikan RPK dalam kegiatan Launching dan Sosialisasi Distribusi Center Rumah Pangan Kita Bulog Sultra, Kamis (19/1/2017) mengatakan, sejalan dengan tugas utama Bulog untuk menstabilkan harga pangan pokok khususnya dari produsen (petani) sampai dengan konsumen (masyarakat).
Menurut dia, RPK inilah yang nantinya akan menjadi jembatan agar bahan pokok menjadi stabil. Artinya, Bulog menjadi lebih dekat dengan masyarakat, sehingga memudahkan dalam mencari bahan pangan yang murah dengan kualitas yang terjaga.
“Artinya sehat layak konsumsi, apalagi yang akan kita jual nanti di tempatnya sahabat RPK itu tidak hanya beras medium, tetapi dengan beberapa varian seperti beras super kepala, premium, begitupula dengan gula,” jelas Imam usai peresmian RPK di Kantor Bulog Sultra Jalan Abdullah Silondae, Kamis sore.
Selanjutnya, komoditi tersebut akan dibranding dengan nama “beras kita” dan “gula manis kita”.
Saat ini Sultra telah terbentuk RPK sebanyak 197 yang aktif, dan di Kota Kendari ada 70 RPK. Dia menargetkan, setiap desa memiliki satu RPK.
Dia menyebutkan pengelola RPK adalah masyarakat yang dibina oleh Bulog. Binaan ini maksudnya barang komoditi Bulog yang menyediakan, selanjutnya Bulog yang akan mengantarkan barang tersebut kepada masyarakat yang telah menjadi sahabat RPK.
“Tentu yang namanya dagang atau jual beli itu harus untung, jadi nanti RPK ini beli barang dari Bulog dengan harga tertentu. Nanti dijual dengan harga sekian, tetap ada untung,” jelas dia.
Bulog akan mengontrol harga, khususnya beras medium dan gula medium. Sehingga, dengan adanya RPK, Bulog dapat mengetahui di suatu desa memiliki ketersediaan beras dan gula atau tidak. Imam melanjutkan, ada tiga komoditas yaitu padi, jagung, dan kedelai (pajale) yang disediakan Bulog. Namun berdasarkan peraturan Presiden, menjadi 11 komoditas seperti daging, minyak goreng, gula, terigu, mentega, dan lainnya.
Sementara untuk menjadi sahabat RPK sangat mudah, masyarakat baik itu pensiunan, mahasiswa, ibu rumah tangga, wartawan, hanya perlu datang ke kantor Bulog dan mengisi formulir yang disediakan. Dan yang lebih penting kata dia, memiliki titik (rumah atau garasi) untuk dijadikan RPK.
Selain itu, untuk sistem pembayaran secara cash and carry, masyarakat menyediakan uang untuk membeli ke Bulog lalu barang akan diantarkan. Terlebih lagi, kata dia, Bulog telah menandatangani momerandum of understanding (MoU) atau nota kesepahaman dengan bank seperti BNI dan BRI. Jadi masyarakat juga akan menjadi agen bank dan mendapatkan income (pendapatan) yang menarik.
Imam yakin dengan terus mengembangkan RPK akan dapat menstabilkan harga pangan. “Saat ini, mungkin RPK belum menstabilkan, tapi kalau sudah ngalir pasti iya,” tutupnya. (B)
![]() |
ZONASULTRA.COM, KENDARI – Guna menstabilkan harga pangan beberapa komoditi seperti beras dan gula, Bulog mengembangkan Rumah Pangan Kita (RPK). Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri (PBI) Perum Bulog Imam Subowo saat meresmikan RPK dalam kegiatan Launching dan Sosialisasi Distribusi Center Rumah Pangan Kita Bulog Sultra, Kamis (19/1/2017) mengatakan, sejalan dengan tugas utama Bulog untuk menstabilkan harga pangan pokok khususnya dari produsen (petani) sampai dengan konsumen (masyarakat).
Menurut dia, RPK inilah yang nantinya akan menjadi jembatan agar bahan pokok menjadi stabil. Artinya, Bulog menjadi lebih dekat dengan masyarakat, sehingga memudahkan dalam mencari bahan pangan yang murah dengan kualitas yang terjaga.
“Artinya sehat layak konsumsi, apalagi yang akan kita jual nanti di tempatnya sahabat RPK itu tidak hanya beras medium, tetapi dengan beberapa varian seperti beras super kepala, premium, begitupula dengan gula,” jelas Imam usai peresmian RPK di Kantor Bulog Sultra Jalan Abdullah Silondae, Kamis sore.
Selanjutnya, komoditi tersebut akan dibranding dengan nama “beras kita” dan “gula manis kita”.
Saat ini Sultra telah terbentuk RPK sebanyak 197 yang aktif, dan di Kota Kendari ada 70 RPK. Dia menargetkan, setiap desa memiliki satu RPK.
Dia menyebutkan pengelola RPK adalah masyarakat yang dibina oleh Bulog. Binaan ini maksudnya barang komoditi Bulog yang menyediakan, selanjutnya Bulog yang akan mengantarkan barang tersebut kepada masyarakat yang telah menjadi sahabat RPK.
“Tentu yang namanya dagang atau jual beli itu harus untung, jadi nanti RPK ini beli barang dari Bulog dengan harga tertentu. Nanti dijual dengan harga sekian, tetap ada untung,” jelas dia.
Bulog akan mengontrol harga, khususnya beras medium dan gula medium. Sehingga, dengan adanya RPK, Bulog dapat mengetahui di suatu desa memiliki ketersediaan beras dan gula atau tidak. Imam melanjutkan, ada tiga komoditas yaitu padi, jagung, dan kedelai (pajale) yang disediakan Bulog. Namun berdasarkan peraturan Presiden, menjadi 11 komoditas seperti daging, minyak goreng, gula, terigu, mentega, dan lainnya.
Sementara untuk menjadi sahabat RPK sangat mudah, masyarakat baik itu pensiunan, mahasiswa, ibu rumah tangga, wartawan, hanya perlu datang ke kantor Bulog dan mengisi formulir yang disediakan. Dan yang lebih penting kata dia, memiliki titik (rumah atau garasi) untuk dijadikan RPK.
Selain itu, untuk sistem pembayaran secara cash and carry, masyarakat menyediakan uang untuk membeli ke Bulog lalu barang akan diantarkan. Terlebih lagi, kata dia, Bulog telah menandatangani momerandum of understanding (MoU) atau nota kesepahaman dengan bank seperti BNI dan BRI. Jadi masyarakat juga akan menjadi agen bank dan mendapatkan income (pendapatan) yang menarik.
Imam yakin dengan terus mengembangkan RPK akan dapat menstabilkan harga pangan. “Saat ini, mungkin RPK belum menstabilkan, tapi kalau sudah ngalir pasti iya,” tutupnya. (B)
Langganan:
Postingan (Atom)
