Senin, 07 Desember 2015

Pro kontra Bulog sebagai Badan Pangan Nasional

Minggu, 06 Desember 2015

JAKARTA. Pro kontra pembentukan Badan Pangan Nasional (BPN) menjadi salah satu penghambat terbentuknya badan ini. Padahal, berdasarkan amanat Undang-Undang (UU) Pangan No 18 Tahun 2012, BPN harusnya sudah terbentuk sebelum 17 November 2015.

Namun setelah batas waktu pembentukan itu, Kementerian Pertanian (Kemtan) melempar tanggungjawab Kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN-RB).

Sebab saat ini, draf pembentukan BPN yang disusun Kemtan telah sampai di Kementerian PAN-RB dan belum diproses sampai ke meja presiden. Dalam draf usulan tersebut, Kemtan menawarkan sejumlah alternatif pembentukan BPN. Salah satunya adalah dengan menjadikan Bulog sebagai peyokong logistik BPN.

Artinya akan ada badan baru yang akan berfungsi sebagai BPN. Namun di sisi lain, ada juga desakan untuk mengangkat Bulog sebagai BPN bersama dengan Badan Ketahanan Pangan (BKP) yang sekarang di bawah Kemtan.

Kemtan menginginkan ada badan baru yang menjadi BPN dan berwenang melakukan pengaturan stok pangan, distribusi pangan, konsumsi pangan, kualitas pangan serta kewenangan menerbitkan rekomendasi untuk ekspor dan impor pangan. Selain itu, BPN juga berwenang melakukan pengawasan keamanan pangan dan memantau harga.

Menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan Kemtan Gardjita Budi salah satu yang diusulkan pihaknya adalah bagaimana BPN berfungsi sebagai regulator dan Bulog sebagai pelaksana. Namun ia menepis bila hal itu bermaksud agar satu institusi saling membawahi, melainkan saling bersinergi. "Jadi tidak ada statement yang mengatakan membawahi Bulog atau dibawahi Bulog," tambahnya.

Gardjita menjelaskan BPN yang diusulkan Kemtan itu mirip dengan BPOM yang langsung di bawah presiden. Dalam usulan tersebut, Kemtan juga membuka alternatif BPN bekerjasama dengan kementerian teknis bila menyangkut hal-hal teknis pengadaan pangan. Sehingga sinergi antar lembaga pemerintah dalam membentuk BPN lebih kuat.

Sejauh ini, draf usulan pembentukan BPN sudah dalam tahap finalisasi dan ada beberapa koreksi yang dilakukan Kementerian Koordinator Perekonomian dan ditargetkan selesai sebelum tutup tahun. Atau paling banter awal tahun 2016 sudah diteken presiden.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron mendukung penuh upaya pemerintah menjadikan Perum Bulog sebagai salah satu penyokong BPN yang akan dibentuk. Namun ia mengingatkan agar pemerintah tidak perlu lagi membentuk badan baru.

Pasalnya, sampai saat ini, hanya Bulog yang paling siap menjalankan tugas sebagai penyangga pangan nasional. "Bulog itu sudah punya infrastruktur logistik yang lengkap dari pusat sampai ke daerah," ujarnya.

Menurut Herman, seharusnya Bulog dimergerkan dengan BKP Kemtan sehingga menjadi BPN. Di sini , Bulog sebagai badan urusan logistik berfungsi sebagai penyokong logistik pangan, dan BPN yang terdiri dari Perum Bulog dan BKP menjadi regulator yang mengatur stok, dan pasokan pangan. "Inilah yang menjadi semangat awal pemerintah dan DPR saat membentuk UU pangan," pungkas Herman.

http://nasional.kontan.co.id/news/pro-kontra-bulog-sebagai-badan-pangan-nasional

Sabtu, 05 Desember 2015

PMN Tak Cair, Bulog Bisa Cari Pinjaman Komersial

Jumat, 04 Desember 2015

Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengakui pihaknya memang berharap bisa mendapatkan dana penyertaan modal negara (PMN) senilai Rp 2 triliun dari APBN 2016. Saat ini, pembahasan PMN tersebut tertunda di DPR, padahal sedianya PMN itu akan digunakan untuk memperkuat infrastruktur pangan Bulog tahun depan.

Namun demikian, apabila dana PMN tersebut tidak bisa didapatkan, Bulog akan menggunakan dana cadangan investasi yang dimiliki perusahaan. “Apabila dana investasi perusahaan tidak juga mencukupi, kami akan melakukan kerja sama dengan investor atau perusahaan lain, misalnya menyewa drying center, opsi terakhir tentu dengan mencari pinjaman komersial. Tapi ditunggu dulu nanti awal tahun depan bagaimana,” jelas Djarot kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin.

Perum Bulog menyiapkan belanja modal (capital expenditures/capex) sebesar Rp 2,3 triliun untuk tahun depan. Sebanyak Rp 2 triliun akan bersumber dari penyertaan modal negara (PMN) yang pembahasannya saat ini mandek di DPR dan Rp 300 miliar sisanya dari kas internal. Dana tersebut sepenuhnya akan digunakan untuk memperkuat infrastruktur pengelolaan pascapanen, penyimpanan, maupun distribusi pangan.

Untuk opsi sewa misalnya, Bulog akan bekerja sama dengan PT Pertani dan PT Sang Hyang Sri (SHS) dalam penggunaan drying center. Pertani tercatat memiliki 65 drying center dengan kapasitas per unitnya 30 ton per dua hari penggunaan. Begitupun dengan SHS.

Direktur Keuangan Perum Bulog Iryanto Hutagaol mengungkapkan, tahun ini pihaknya mengalokasikan Rp 400 miliar untuk belanja modal. Dana itu juga untuk membenahi sejumlah infrastruktur. “Kami mau tahun depan ada capex Rp 2,3 triliun. Sebanyak Rp 2 triliun dari PMN, kami yakin nanti bisa kami dapatkan. Semuanya untuk infrastruktur, mulai dari pembangunan gudang pendingin (cold storage), revitalisasi mesin penggilingan, pengadaan mesin pengering (dryer) gabah, juga tempan penyimpan (silo) jagung dan gabah,” kata dia, baru-baru ini.

http://www.beritasatu.com/ekonomi/327372-pmn-tak-cair-bulog-bisa-cari-pinjaman-komersial.html

Jumat, 04 Desember 2015

Bulog Siapkan Belanja Modal Rp 2,3 Triliun Tahun Depan

Jumat, 04 Desember 2015

Jakarta - Perum Bulog menyiapkan belanja modal (capital expenditures/capex) sebesar Rp 2,3 triliun untuk tahun depan. Sebanyak Rp 2 triliun akan bersumber dari penyertaan modal negara (PMN) yang pembahasannya saat ini mandek di DPR dan Rp 300 miliar sisanya dari kas internal. Dana tersebut sepenuhnya akan digunakan untuk memperkuat infrastruktur pengelolaan pascapanen, penyimpanan, maupun distribusi pangan. Selain beras, Bulog pada 2016 juga mengelola gula, kedelai, jagung, daging sapi, bawang, cabai, dan ikan.

Direktur Keuangan Perum Bulog Iryanto Hutagaol mengungkapkan, tahun ini pihaknya mengalokasikan Rp 400 miliar untuk belanja modal. Dana itu juga untuk membenahi sejumlah infrastruktur. “Kami mau tahun depan ada capex Rp 2,3 triliun. Sebanyak Rp 2 triliun dari PMN, kami yakin nanti bisa kami dapatkan. Semuanya untuk infrastruktur, mulai dari pembangunan gudang pendingin (cold storage), revitalisasi mesin penggilingan, pengadaan mesin pengering (dryer) gabah, juga tempan penyimpan (silo) jagung dan gabah,” kata dia, baru-baru ini.

Pada 2016, Perum Bulog menargetkan pengadaan beras dari dalam negeri sebanyak 4 juta ton, rinciannya 3 juta ton untuk beras subsidi (PSO) dan 1 juta ton beras komersial. Selain beras, tahun depan Bulog juga melakukan pengadaan gula, kedelai, jagung, dan daging sapi secara komersial. Di sisi lain, Bulog juga kemungkinan akan mendapatkan mandat untuk melakukan pengadaan cabai, bawang merah, bawang putih, ayam, garam, dan ikan, yang juga secara komersial.

Sedianya, Bulog akan membangun 14 unit cold storage, 25 unit silo jagung, 50 unit silo gabah, di samping melakukan modernisasi mesin penggilingan. Saat ini dari 130 unit penggilingan gabah dan beras (UPBG) yang dioperasikan Bulog hanya setengah yang beroperasi penuh. Saat ini total kapasitas gudang yang dimiliki Bulog sudah mencapai 4 juta ton, sedangkan Bulog juga sudah memiliki cold storage di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, namun kapasitas masih minim.

Dari sisi distribusi, Bulog akan menambah Bulog Mart dari saat ini yang sudah berjumlah 300 unit, menambah Rumah Pangan Kita dari saat ini 100 unit, dan menambah jaringan Toko Tani Indonesia (TTI) dari saat ini di 162 titik menjadi 1.000 titik pada tahun depan, itu baru di Pulau Jawa. Bulog Mart, Rumah Pangan Kita, dan TTI, adalah outlet distribusi Bulog yang langsung menyasar konsumen akhir. Dengan cara ini, selain stabilitas harga tercapai, tata niaga pangan menjadi lebih efisien karena beberapa lapis jalur distribusi akan terpangkas.

Menurut Iryanto, bulan lalu PMN sebesar Rp 3 triliun dalam APBN-P 2015 telah dicairkan pemerintah. Hal inilah yang juga membuat Bulog meyakini PMN sebesar Rp 2 triliun yang dianggarkan dalam APBN 2016 bisa didapatkan perusahaan pelat merah tersebut, meski kini pembahasannya ditunda. “Kami baru saja mendapatkan pencairan PMN Rp 3 triliun dari pemerintah melalui APBN-P 2015. Kami akan gunakan untuk tambahan modal kerja, tepatnya untuk pengadaan gabah/beras subsidi saat panen raya tahun depan. ” ungkap Iryanto.

 Investor Daily

Tri Listiyarini/TL

http://www.beritasatu.com/ekonomi/327370-bulog-siapkan-belanja-modal-rp-23-triliun-tahun-depan.html

Agung Mulya Nilai Bulog Salah Paham Soal Instruksi Mendag RI Terkait Beras

Kamis, 3 Desember 2015

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG - Penjabat Gubernur Kepri Agung Mulyana akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Direktur Utama (Dirut) Bulog Jumat (4/12/2015) ini.
Pertemuan tersebut direncanakan untuk membahas permasalah beras di Kepri.
"Saya harus bertemu langsung Dirut Bulog untuk membahas masalah beras di Kepri. Saya berencana akan bertemu dengan Pak Dirut Bulog itu Jumat (4/12/2015)," ungkap Agung kepada awak media, Kamis (3/12/2015).
Keputusan untuk bertemu Dirut Bulog ditempuh setelah Agung memanggil Kepala Bulog Tanjungpinang dan menanyakan tentang pasokan beras yang akan disalurkan kepada masyarakat.
Berdasarkan penjelasan Kepala Bulog Tanjungpinang, Agung akhirnya mengetahui bahwa instruksi Menteri Perdagangan Republik Indonesia (Mendag RI) Thomas Lembong yang menunjukkan Bulog sebagai importir tunggal belum dipahami oleh Bulog sendiri.
"Ini terjadi kesalahpahamanan. Ternyata instruksi Mendag RI itu belum dijalankan Bulog. Saya mengerti bahwa Kepala Bulog Tanjungpinang tidak tahu apa-apa. Karena itu saya ingin berbicara dengan Dirut Bulog-nya. Sayalah yang mau bertemu dengannya," ungkap Agung.
Sebelumnya, dalam sebuah pertemuan dengan Penjabat Gubernur Kepri, Kepala Bulog Tanjungpinang memaparkan persediaan beras untuk orang miskin (Raskin) yang tersedia di gudang Bulog wilayah Tanjungpinang dan Batam. Pasokan Raskin itu berjumlah 3000 ton dan siap disalurkan kepada masyarakat.
"Sebenarnya bukan beras Raskin itu yang dimaksudkan, melainkan beras premiun yang diajukan ke Mendag RI.
Untuk apa Raskin dibagikan kepada golongan yang mampu seperti saya. Saya bukan mau sombong. Tetapi saya memang tidak mau makan beras itu. Karena berasnya khusus disiapkan untuk orang miskin," kata Agung.
"Yang saya maksudkan adalah Bulog segera menindaklanjuti petunjuk Mendag RI dengan mengimpor beras sesuai dengan kuota yang diminta. Bulog bisa saja mencari importir lain. Tetapi mereka harus tetap berada di bawah pengontrolan Bulog," kata Agung. (*)

http://batam.tribunnews.com/2015/12/03/agung-mulya-nilai-bulog-salah-paham-soal-instruksi-mendag-ri-terkait-beras?page=2

Kamis, 03 Desember 2015

Bos Bulog Blak-blakan Soal Daging dan Beras Impor

Kamis, 03 Desember 2015

Jakarta -Dirut Perum Bulog Djarot Kusumayakti tak hanya menangani soal pengelolaan stok dan harga beras. Belakangan ini Djarot harus 'masuk' mengelola stabilisasi harga daging sapi hingga komoditi lainnya selain beras seperti cabai, bawang, kedelai dan lainnya.

Mantan Direktur Usaha Mikro Kecil dan Menengah Bank Rakyat Indonesia (BRI) ini merupakan alumni UII Yogyakarta kelahiran 1959. Kini Djarot punya banyak tugas untuk membawa Perum Bulog menjadi lebih kuat sebagai penjaga pangan. Baru-baru ini Bulog mendapat tugas mengimpor beras dari Vietnam, bagaimana kelanjutannya?

Berikut wawancara detikFinance orang nomor satu di Perum Bulog ini pekan lalu, di Grand Ussu Hotel, Bogor, Jawa Barat.

Bulog sempat diberi izin impor 10.000 ton daging sapi impor Selandia Baru. Bagaimana perkembangannya?
Itu kan sangat mendadak, kita mendapat perintah untuk masuk ke pasar Selandia Baru yang kita belum pernah beli ke sana, sehingga banyak hal yang kita hadapi.

Nature of business di sana seperti apa, dan sebagainya, akhirnya menyulitkan kami untuk optimal. Kami hanya bisa mengimpor kurang lebih 2.000 ton.

Orang Selandia Baru itu punya kultur agak tertutup, mereka juga lihat-lihat dulu ini Bulog serius atau nggak mau beli. Mereka kan sudah punya market tradisional, begitu ada pendatang baru dia lihat dulu apakah ini beli untuk jangka panjang atau sekali saja lalu hilang.

Ada pelajaran lain, saya menemukan pemasok-pemasok yang bisa dipercaya sehingga saya mohon kalau bisa izinnya diperpanjang sampai Januari-Februari. Kalau nggak diperpanjang ya nggak apa-apa, kami hanya mampu impor 2.000-an ton.

Apakah Bulog rugi karena mengimpor daging sapi mendadak untuk operasi pasar?
Khusus untuk daging sapi kita untung, masih ada margin. Yang gagal cuma di jumlah (realisasi impor).

Apa penyebab serapan beras Bulog tahun ini tak capai target?
Saya masuk di Bulog bulan Juni, artinya saya masuk ketika panen raya sudah lewat. Dari data, sampai Mei dan awal Juni serapan beras masih di bawah serapan normal di musim panen raya. Mengapa itu bisa terjadi saya tidak tahu jelas. Yang pasti sampai akhir panen raya, serapan kita masih jauh di bawah target saat panen raya.

Dengan kondisi yang ada, saya mencoba melakukan berbagai proses bisnis. ‎Pada saat panen gaduh (panen di musim kemarau) tentu barangnya (gabah dan beras) sedikit.

Proses fotosintesis sempurna pada musim gaduh, artinya kualitas gabah lebih bagus, saya akan kesulitan kalau hanya mengandalkan pengadaan dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sebab beras kualitas medium semakin sedikit di musim gadu.

Kami mencoba dan akhirnya‎ diperintah oleh Menteri BUMN dan rapat terbatas yang intinya Bulog diminta masuk ke komersial dengan skema pengadaan (beras) komersial. Tujuannya memperoleh tambahan beras, dan memutar cadangan beras ini supaya harga tidak terus bergerak ke atas. Tapi upaya itu akhirnya juga tidak mengejar ketertinggalan target pengadaan beras.

Juli ada MoU dengan TNI AD dan Kementan untuk pengadaan sampai 2 juta ton beras, bagaimana hasilnya?
MoU itu hasilnya ada, paling tidak membantu menggerakan tim saya yang ada di lapangan, menambah informasi panen, ada tambahan yang cukup karena ada MoU itu. Tapi kalau ditanya apakah sesuai target, memang tidak. Di lapangan, beras tidak sebanyak yang kita rancang.

Apa usulan Anda soal pengadaan beras tidak lagi terkendala Harga Pembelian Pemerintah (HPP)?
Ada konsep HPP sebagai harga patokan, ada HPP sebagai harga dasar. Sekarang kan HPP beras Rp 7.300/kg. Kalau sebagai harga dasar, tidak boleh beras dari petani dibeli dengan harga di bawah Rp 7.300/kg. Dengan konsep harga dasar, ada peluang Bulog untuk membeli di atas Rp 7.300/kg. Kalau ada beras di petani harganya Rp 7.500/kg, ya jangan nggak dibeli.

Mungkin yang agak rawan adalah orang main-main di harga. Kalau konsep harga dasar ini dijalankan, harus ada rambu-rambunya siapa yang memutuskan harga dan SOP-nya. Memang akan lebih memerlukan komitmen, kejujuran, dan pengawasan.

Apakah impor 1,5 juta ton beras sudah cukup untuk memperkuat stok Bulog?
Impor ini kan penugasan dari pemerintah, dalam hal ini Rapat Koordinasi di bidang ekonomi. Sudah dikeluarkan ‎Surat Persetujuan Impor sebesar 1,5 juta ton.

Impornya dari negara-negara yang ada MoU dengan Indonesia. Pola yang dipakai adalah yang beli itu pemerintah ke pemerintah, government to government (G to G). Dengan pola itu, Bulog melaksanakan impor.

Dari perintah yang ada, Bulog sudah menandatangani kontrak dan Letter of Credit (LC) dari 2 negara, yaitu Vietnam dan Thailand. Jumlahnya sebesar perintah yaitu 1,5 juta ton.

Tapi untuk sampai di sini kan butuh proses, kapalnya kecil-kecil, juga loading capacity terbatas, jumlah kapalnya, fasilitas bongkar muat di pelabuhan tujuan, sehingga pengirimannya butuh waktu.

Kalau sesuai kontrak, akan masuk 1,5 juta ton sampai Maret 2016. Situasi sekarang kan dinamis sekali. Kementerian terkait terus melakukan pantauan.

Apakah cukup atau tidak tambahan 1,5 juta ton beras ini masih terus dipantau, beliau-beliau terus rapat setiap minggu. Kalau kenaikan harga belum bisa diredam, mungkin ada langkah lain.

KPPU sudah menduga ada permainan harga beras, apa tanggapan Anda?
Kami siap mengantisipasi hal itu. Saya hanya melihat bahwa kalau pedagang melihat kesempatan untuk berspekulasi, maka mereka akan berspekulasi. Kalau saya hari ini punya barang 1 ton dan saya melihat peluang minggu depan harga naik pasti saya tahan, ini nature-nya.

Bulog harus melakukan sesuatu. Saya hitung saya punya stok cukup atau nggak, saya laporkan cukup. Saya pegang perintah operasi pasar (OP), saya lihat ada gejolak harga dimana saja‎.

Gejolak itu kan penyebabnya hanya 2, pertama mekanisme pasar murni ketika demand tetap tapi supply kurang, tapi juga bisa karena distorsi oleh ulah spekulan. Dua hal tersebut obatnya sama, Bulog mengintervensi.

Insya Allah siap‎, Bulog punya tangan sampai ke tingkat kabupaten dan kota, bisa melakukan operasi di titik mana saja. Selama ini Bulog juga dilibatkan dalam Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), teman-teman Bulog di daerah terupdate pasti apa yang terjadi.

Di pusat, Bulog juga melakukan analisis-analisis harga dan pasar. Bulog juga punya stok, hari ini cukup stok. Atas dasar itu, saya punya keyakinan Bulog siap.

Bagaimana rencana pengembangan bisnis Bulog ke depan?
Saya sependapat sekali bahwa bisnis komersial harus ditingkatkan. Bulog sebagai Perum juga tidak boleh tergantung sepenuhnya pada subsidi pemerintah.

Konsep saya bisnis komersial tidak boleh keluar dari core Bulog di pangan. Jadi ada beras PSO, ada beras komersial. Kalau misalnya nanti ada daging PSO, ada daging komersial.‎

Jadi ada sebagian yang kita gunakan untuk PSO, ada yang untuk komersial. Harus ada keseimbangan antara PSO dan komersial dalam bisnis Bulog supaya mampu menghidupi diri sendiri, tidak membebani negara, sekaligus mampu menjalankan PSO.

Kita ini paling tidak ada 4 pilar yang harus dibangun. Pertama produksi, bisa pakai on farm atau kerjasama, kemitraan. Kedua pengelolaan pasca produksi untuk membuat barang masuk standar.

Ketiga pergudangan karena tidak semua barang harus masuk pasar setiap hari, harus ada stok untuk disimpan. Keempat, kita harus punya channel distribusi, ini sangat penting karena pada saatnya Bulog harus mengintervensi pasar kita harus punya jalur sehingga tidak kagok.

Bagaimana perkembangan Bulog Mart untuk jaringan distribusi Bulog?
Kita baru lakukan evaluasi karena sekian tahun dia tidak begitu bagus. Saya bahas terus, apakah konsep Bulog Mart sudah tepat atau perlu direvitalisasi.

Sambil jalan, kami di internal Bulog membangun yang namanya 'Rumah Pangan'. Ini agak beda, kalau Bulog Mart adalah toko serba ada, kalau Rumah Pangan ini pasar tradisional yang diperkecil.

Kita kan kalau pergi ke 'Mart' harapannya keluar dari situ selesai belanja kebutuhan sehari-hari, apakah itu permen, pasta gigi, obat. Apakah Bulog Mart punya banyak item sehingga orang mau datang? Kalau dibuat seperti pasar, orang datang kan tuntutannya nggak banyak, hanya cari bahan pokok.

Jadi kita coba sederhanakan, kita fokuskan. Konsep mana yang sukses akan kita kembangkan untuk jadi channel distribusi Bulog.

(hen/ang)

Saeful Datangi Gudang Bulog Purwanegara

Rabu, 02 Desember 2015

Pastikan Kualitas dan Keamanan Stok

BANJARNEGARA,SATELITPOST-Mundurnya masa tanam di Banjarnegara diprediksi bakal berimbas pada stok bahan pangan di wilayah tersebut. Hal ini membuat, ketua DPRD Banjarnegara, Saeful Muzad  mengambil langkah preventif. Satu di antaranya dalah inspeksi mendadak ke gudang bulog Purwanegara, Selasa (1/12) kemarin.
Dari inspeksi tersebut, ia mengaku menemukan fakta bahwa ketersediaan beras di gundang tersebut masih cukup aman. Paling tidak, beras masih bisa bertahan untuk tiga bulan ke depan. "Kita juga melihat kualitas yang ada, kualitasnya cukup baik, bahkan stok beras premium juga ada dan siap untuk distribusi," katanya.
Dia juga meminta penyaluran beras untuk rakyat miskin harus lebih memerhatikan kualitas. Dengan begitu, hasilnya benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat. "Kita juga menyarankan agar penyimpanan tidak terlalu lama, sehingga kualitas beras masih baik saat diterima masyarakat," katanya.
Sementara itu, Kasub Disvre Bulog Banyumas, Setio Wastono mengatakan, hingga saat ini, stok yang ada di gudang bulog Purwanegara masih aman hingga Februari mendatang. Bahkan,  pihaknya masih menyimpan stok lebih dari 2.300 ton. Jumlah ini masih ditambah dengan 150 ton beras pengadaan hasil kontrak baru bulan ini.
Tidak hanya itu, pengadaan juga masih dilakukan oleh bulog untuk memenuhi kebutuhan Maret mendatang. "Kalau untuk stok tiga bulan ke depan masih aman. Pengadaan juga masih kami lakukan. Punncak pengadaan untuk beras lokal diprediksi pada Maret 2016 mendatang," ujarnya.
Sementara itu, Kabag Perekonomian Setda Banjarnegara, Teguh Handoko mengatakan, untuk menjaga kualitas beras, pemkab akan melakukan cek dan monitoring beras di gudang Bulog Purwanegara.
"Kita cek secara acak, biasanya mengambil contoh beras yang terkena matahari langsung.
Jika tidak layak, maka kami meminta untuk diganti. Hasil cek hari ini (kemarin) beras yang ada masih layak dan kondisi beras cukup baik," kata dia.
Menurutnya, kuota raskin tahun ini untuk wilayah Banjarnegara adalah sebanyak 69.591 Rumah Tangga Sasaran (RTS). Jumlah tersebut menyebar di 20 kecamatan yang ada di Banjarnegara.
"Kita mengharapkan semua beras yang dibagi memiliki kualitas yang baik. Yang pasti, pengawasan terus kami lakukan agar beras yang diterima masyarakat benar-benar layak," ujarnya. (oel)

http://satelitnews.co/berita-saeful-datangi-gudang-bulog-purwanegara.html

Rabu, 02 Desember 2015

Bulog Siapkan 100.000 Ton Beras

Rabu, 2 Desember 2015

Operasi Pasar Diadakan di Sejumlah Daerah

JAKARTA, KOMPAS — Perum Bulog menyiapkan 100.000 ton beras untuk operasi pasar di daerah-daerah yang harga berasnya cenderung naik. Perum Bulog juga akan melibatkan pedagang pasar untuk menyalurkan beras dengan harga eceran Rp 8.300 per kilogram. Operasi pasar akan dilakukan hingga Januari 2016.

Direktur Komersial Perum Bulog Fadzri Sentosa kepada Kompas, Selasa (1/12), di Jakarta, mengatakan, operasi pasar (OP) dilaksanakan di seluruh Indonesia, terutama di daerah-daerah yang harga beras cenderung naik. Daerah-daerah itu antara lain Sumatera Utara, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Kalimantan, dan Sulawesi.

Perum Bulog menargetkan akan mendistribusikan 100.000 ton hingga akhir Desember 2015 atau Januari 2016 sampai terlihat ada kestabilan harga. Apabila masih belum stabil dan OP masih diperlukan, Bulog siap menambah.

"Untuk Jakarta, kami akan bekerja sama dengan pedagang pasar melalui PD Pasar Jaya. Selain itu, kami menyalurkan juga melalui saluran mitra. Kami juga akan mendistribusikan beras ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIC) seharga Rp 8.300 per kg dengan kemasan 5 kg dan 50 kg melalui pedagang di sana," kata Fadzri.

Berdasarkan data Perum Bulog, stok beras yang dimiliki Bulog sebanyak 1,3 juta ton. Adapun stok beras impor yang telah datang dari Vietnam sebanyak 227.000 ton dari total 1 juta ton.

Sementara itu, pedagang beras di PIBC, Jakarta, meminta Perum Bulog menggelar operasi pasar (OP) di pasar yang menjadi pusat beras tersebut. Pedagang telah meminta agar Bulog memasok beras sebanyak 7.200 ton.

Ketua Persatuan Pedagang Beras dan Penggilingan Padi (Perpadi) DKI Jakarta Nellys Soekidi mengemukakan, pasokan beras di PIBC, yaitu rata-rata 3.000 ton per hari. Hanya saat ini stok yang langka adalah beras murah atau beras IR 64 kualitas III.

Kalaupun ada, jumlahnya terbatas dan harganya Rp 8.900 per kg-Rp 9.000 per kg. Padahal, harga normal beras tersebut Rp 8.300 per kg-Rp 8.500 per kg.

"Kelangkaan beras tersebut menyebabkan harga beras medium terkerek tinggi, yaitu menjadi di atas Rp 9.500 per kg. Agar tidak berlarut-larut, Bulog perlu memasok beras sebagai pengganti beras kelas murah tersebut," ujarnya.

Menurut Nellys, pasokan 7.200 ton itu bisa untuk seminggu lebih. Pasokan itu nantinya akan dibagi kepada lebih kurang 300 pedagang beras PIBC untuk dijual dengan harga Rp 8.300 per kg. "Kami akan memasang spanduk penjualan harga beras OP dari Bulog tersebut agar para pembeli tahu," katanya.

Sementara itu, Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengemukakan, Ikappi melihat stok di PIBC masih ada dan stabil. Meskipun begitu, harga beras masih tinggi.

"Kami masih mendalami apakah ada permainan pedagang dalam kenaikan harga beras tersebut," ujarnya.

OP, lanjutnya, juga belum efektif menurunkan harga beras. Hal itu terjadi karena OP dilakukan di luar pasar. Bulog perlu memasukkan beras kepada pedagang, bukan kepada masyarakat umum.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Thomas Lembong telah mengeluarkan surat yang mengintruksikan Perum Bulog menggelar OP. Hal itu dilakukan untuk menstabilkan harga beras medium di pasar yang saat ini rata-rata nasionalnya menembus Rp 10.620 per kg.

Sejak pekan kemarin, Bulog telah melakukan OP. Namun, OP masih belum merata dan jumlah beras OP yang didistribusikan masih sedikit sehingga harga belum turun.

Sinyal spekulasi

Di tempat terpisah, pengamat pertanian yang juga mantan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo mengatakan, lonjakan harga beras yang terjadi sekarang akibat Perum Bulog yang tidak mampu menjadi stabilisator harga beras.

Sepanjang 2015 pengadaan beras Bulog rendah. Fakta itu memberi sinyal pada para pelaku pasar untuk berspekulasi.

Apabila pengadaan beras Bulog tinggi, spekulasi akan berkurang. Pelaku pasar akan memperhitungkan kemampuan Bulog dalam menjaga harga.

Sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap musim paceklik atau pada November-Desember harga beras naik. "Yang mengherankan negara tidak pernah belajar dari kondisi masa lalu dan kondisi ini terus berulang," katanya. Kondisi itu harusnya bisa diantisipasi dengan membuat kebijakan yang tepat. (HEN/MAS)

http://print.kompas.com/baca/2015/12/02/Bulog-Siapkan-100-000-Ton-Beras