Selasa, 01 November 2016

La Nina, Bulog Masih Mampu Serap Gabah Petani 7.000 Ton Per Hari

Senin,31 Oktober 2016

Jatim Newsroom – Kendati saat ini masih dalam cuaca kemarau basah akibat La Nina, namun panen padi masih tetap berlangsung di sejumlah daerah, khususnya di Pulau Jawa. Hal itu dijadikan Perum Bulog sebagai peluang untuk terus mengoptimalkan serapan gabah dan beras petani dengan total serapan per hari mencapai 7.000 ton gabah per hari.

“Kami menjamin stok beras di Indonesia masih aman menjelang akhir tahun 2016 ini. Bahkan kami menjamin persediaan beras tidak akan terganggu hingga akhir bulan April 2017 mendatang,” kata Direktur Operasional dan Layanan Publik Perum Bulog Tri Wahyu Soleh, Senin (31/10).

Ia menuturkan, saat ini Bulog terus menyerap gabah dari petani dengan rata-rata perhari mencapai sebanyak 7.000 ton gabah. “Stok beras saat ini sekitar 1,7 juta ton dan cukup untuk kebutuhan sampai April mendatang,” ujarnya.

Hingga akhir bulan Oktober ini, pihaknya sudah mampu menyerap gabah sebanya 2,7 juta ton. Hingga akhir tahun, ia menargetkan mampu menyerap gabah sebanyak 3,2 juta ton dari petani bisa tercapai.

Ia mengakui jika tahun ini produksi gabah di Pulau Jawa cukup melimpah. Bahkan menurutnya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, hasil gabah di pulau Jawa sudah banyak terdistribusi ke luar Jawa. Dia berharap hingga akhir tahun kondisi cuaca akan mulai bersahabat sehingga panenan akan bagus.

Saat ini Bulog membeli gabah dan beras petani sesuai dengan HPP. Misalnya, untuk Gabah Kering Panen (GKP) dibeli Bulog seharga Rp 3.750 per kilogram (kg) dan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar Rp 4.600 per kg. Sedangkan  beras ditebus Bulog di harga Rp 7.300 per kg. Sementara itu, Bulog juga melakukan pembelian beras komersial yang harganya di atas HPP untuk dijual secara komersil juga. (afr)

http://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/la-nina-bulog-masih-mampu-serap-gabah-petani-7-000-ton-per-hari

Kepala Gudang Bulog Lamajakka I Diperiksa Polisi

Senin,31 Oktober 2016


RAKYATKU.COM, PINRANG - Polres Pinrang sudah memeriksa sejumlah pihak terkait dugaan penyelewengan pengadaan beras 800 ton atau setara dengan Rp5 miliar di Gudang Semi Permanen (GSP) Lamajakka I milik Bulog.

"Yang dimintai keterangan itu, di antaranya adalah Kepala Gudang M Sadik dan beberapa mitra gudang Bulog tersebut," ujar Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Pinrang, AKP Muhammad Nasir, Senin(31/10/2016).

Dugaan penyelewengan itu diketahui setelah adanya laporan kekurangan volume jatah Beras Miskin (Raskin) dan persiapan operasi pasar. Laporan itu diterima melalui online yang dilakukan pihak GSP Bulog Lamajakka I.

Kekurangan beras itu terjadi secara bertahap antara Agustus-September.

http://news.rakyatku.com/read/26196/2016/10/31/kepala-gudang-bulog-lamajakka-i-diperiksa-polisi

Bulog dan Stabilisasi Harga Pangan

Senin,31 Oktober 2016


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Sunarsip *)

Tahun ini, inflasi diperkirakan di bawah asumsi APBN 2016 sebesar 4 persen. Hingga September 2016 lalu, laju inflasi mencapai 1,97 persen (year to date/ytd) dan 3,07 persen (year on year/yoy). Pada 2017, sesuai asumsi APBN 2017, inflasi diperkirakan masih berada di level yang rendah, yaitu 4 persen. Tak dapat dipungkiri bahwa terjaganya inflasi ini sebagian besar disebabkan oleh menurunnya inflasi karena harga yang ditetapkan oleh pemerintah (administered inflation). Sampai dengan September 2016, administered inflation justru mengalami deflasi -1,45 persen (ytd) dan -0,38 persen (yoy). Kelompok inflasi administered priced ini antara lain harga BBM, harga listrik, dan tarif angkutan umum yang memang berada dalam tren yang menurun sejak 2015.

Namun, kita juga mengakui bahwa relatif terjaganya laju inflasi tersebut juga terdapat keberhasilan para pemangku kepentingan (stakeholders) yang terlibat menjaga stabilitas harga. Hal ini, antara lain terlihat dari menurunnya laju inflasi karena fluktuasi harga pangan (volatile food). Meskipun inflasi karena volatile food masih relatif tinggi, namun trennya menunjukan penurunan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2013, inflasi volatile food sempat menyentuh level di atas 15 persen (yoy) dan sampai dengan September 2016 ini hanya sebesar 6,51 persen.

Kinerja inflasi volatile food yang menurun menunjukkan bahwa koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan instrumen pemerintah (seperti BUMN dan BUMD) dalam mengendalikan laju inflasi terlihat cukup efektif, sehingga inflasi akibat volatile food relatif dapat diatasi. Upaya pemberian subsidi pertanian melalui kartu tani, kebijakan dan dukungan penyediaan lahan oleh pemerintah serta penyediaan infrastruktur penunjang produksi seperti cold storage dan saluran irigasi juga dinilai mampu mendorong perbaikan dari sisi produksi.

Keterlibatan BUMN, dalam hal ini Bulog, dalam menjaga kestabilan harga, khususnya bahan makanan terlihat cukup berhasil. Selama 2016 ini, pelaksanaan operasi pasar murah di berbagai daerah untuk beberapa komoditas utama seperti beras, daging sapi, dan gula pasir turut menjaga terkendalinya harga. Perluasan kerja sama antar daerah, penguatan peran kerja sama antara Bulog dan BUMD juga turut memberikan dampak positif terhadap efektivitas distribusi.

Berbicara tentang peran Bulog sebagai stabilisator harga pangan, sebenarnya masih banyak hal yang perlu dibenahi, baik dari sisi pengaturan kelembagaan, infrastruktur, dan kapabilitas Bulog. Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 48/2016, pemerintah menugaskan kepada BUMN untuk menjaga ketersediaan pangan dan stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen dan produsen. Dalam Perpres tersebut disebutkan bahwa pemerintah menugaskan Bulog dalam menjaga ketersediaan pangan dan stabilitas harga pangan pada tingkat konsumen dan produsen untuk jenis pangan pokok beras, jagung, dan kedelai.

Kewajiban Bulog (dan BUMN lainnya) dalam rangka stabilitas harga pangan hingga di tingkat konsumen dan produsen ini sebenarnya positif. Namun, tidak mudah dalam implementasinya. Pertama, realitas di lapangan menunjukan bahwa Bulog dan BUMN pangan lainnya bukanlah pemain utama di pasar. Berdasarkan keterangan dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) disebutkan bahwa Bulog hanya menguasai 20 hingga 25 persen pangsa pasar beras di Indonesia. Sebaliknya, pengusaha beras menguasai sekitar 75 hingga 80 persen pangsa pasar (Kontan, 3 Maret 2015). Kondisi ini tentunya menempatkan Bulog pada posisi yang kurang ideal dalam hal stabilisasi harga.

Kedua, mata rantai bisnis bahan pangan cukup panjang dan banyak melibatkan pemain. Berdasarkan survei BPS (2015), distribusi perdagangan beras di Indonesia melibatkan produsen (termasuk importir), lalu distributor, pedagang pengumpul, sub distributor, agen, sub agen, pedagang grosir, pedagang eceran, super market baru kemudian beras sampai ke tangan konsumen (baik rumah tangga maupun non rumah tangga). Panjangnya rantai distribusi perdagangan beras membuat jangkauan pengawasan Bulog menjadi terbatas.

Dengan kapasitas Bulog yang terbatas, akan sulit bagi Bulog dapat menjamin harga hingga di tingkat konsumen sesuai kehendak pemerintah. Terlalu berat bila Bulog dibebani dengan kewajiban untuk memastikan kestabilan harga sampai di tingkat konsumen. Implikasinya, bila harga pangan di tingkat konsumen melonjak akibat permainan harga yang dilakukan oleh pihak di luar Bulog, Bulog berpotensi terekspos oleh berbagai risiko (risiko finansial, operasional, hukum, dan risiko reputasi). Kita menyaksikan, misalnya, Bulog terpaksa harus berurusan dengan kasus-kasus hukum yang tidak terkait langsung dengan Bulog.

Dengan melihat kedua realitas di atas, saya berpendapat bahwa pengamanan harga pangan sampai ke tingkat konsumen seyogyanya tidak menjadi tanggung jawab Bulog semata. Tanggung jawab Bulog (dan BUMN pangan lainnya) perlu disesuaikan dengan jangkauannya. Dalam hal ini, mungkin ada baiknya bila model tanggung jawab menjaga kestabilan harga pupuk (bersubsidi) dapat diterapkan pada penanganan harga pangan. Pada komoditas pupuk, tanggung jawab produsen pupuk untuk menjaga kestabilan harga hanya sampai distributor. Selanjutnya, harga di tingkat pengecer menjadi tanggung jawab distributor. Bila terjadi penyimpangan harga oleh pengecer, distributor yang bertanggung jawab.

Dengan pola seperti ini, produsen pupuk bisa fokus dalam menjaga produksi pupuknya. Dan bila pola ini diterapkan pada Bulog (dan BUMN pangan lainnya), Bulog juga bisa lebih fokus pada isu-isu yang lebih strategis dalam mewujudkan ketahanan pangan secara nasional sekaligus meningkatkan kapasitas usahanya.

Belakangan ini, kita mendengar Kementerian BUMN akan membentuk induk perusahaan (holding) BUMN sektor pangan baik yang bergerak di sektor produksi maupun perdagangan (distribusi). Bertindak sebagai holding adalah Bulog yang akan membawahi Sang Hyang Seri, Pertani, Berdikari, Perikanan Indonesia, Perikanan Nusantara, Perusahaan Perdagangan Indonesia, dan Bhanda Ghara Reksa.

Di lihat dari sisi korporasi, konsep holding BUMN ini positif bagi peningkatan kapabilitas BUMN pangan. Namun, yang perlu dicatat bahwa pembentukan holding ini hanya merupakan salah satu dari keseluruhan rangkaian upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan. Di luar itu, konsep holding BUMN pangan ini juga perlu disinkronkan dengan keberadaan kelembagaan pangan yang seharusnya dibentuk sesuai dengan mandat dari UU No. 18/2012 tentang Pangan.

Selain pembenahan secara korporasi, pembenahan kelembagaan pangan lainnya juga perlu dilakukan. Untuk mendukung ketahanan pangan dan stabilisasi harga, diperlukan perbaikan infrastruktur dan tata niaga. Pembenahan kelembagaan basis produksi, distribusi dan penjualan saat ini dirasakan masih kurang memadai. Selain itu, rantai tata niaga beberapa komoditas pangan pun masih belum efektif.

Kesimpulannya, ternyata masih banyak hal yang memang perlu dibenahi dalam upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan dan stabilitas harga pangan. Kita memiliki keyakinan bahwa pembenahan yang dilakukan secara konsisten terhadap seluruh aspek terkait dengan upaya mewujudkan ketahanan pangan dan stabilitas harga, baik dari sisi kapabilitas korporasi, infrastruktur, regulasi, dan kelembagaan akan dapat mempercepat upaya tersebut.


*) Chief Economist Bank Bukopin

http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/10/30/ofv7re396-bulog-dan-stabilisasi-harga-pangan

Edhy Prabowo: Beras Oplosan Penghianat Rakyat

Senin,31 Oktober 2016

Jakarta - Aparat penegak hukum diminta menindak tegas para mafia beras oplosan yang melibatkan Perusahaan Umum Badan Usaha Logistik (Bulog).

Demikian disampaikan Ketua Komisi IV DPR, Edhy Prabowo, ketika dihubungi Jurnas.com, Jakarta, Senin (31/10). Menurutnya, tindak kejahatan tersebut telah meresahkan bahkan mengabaikan nasib rakyat.

"Harus diusut secara tuntas, jika ada pejabat yang terlibat harus ditindak secara tegas dan  perlu dipecat," kata Edhy.

Kata Edhy, mengoplos beras subsidi dengan beras lokal tersebut telah menghianati masyarakat yang perekonomiannya di bawah rata-rata.

"Beras oplosan itu juga bentuk penghiatan kepada masayarakat. Itu kan beras subsidi kepada masyarakat," tegasnya.

Diketahui, Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri telah menangkap dan menetapkan para tersangka pengoplosan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Jakarta. Polisi menduga ada jaringan mafia besar di balik kasus yang melibatkan Perusahaan Umum Bulog.

Sejauh ini, sudah ada enam tersangka ditetapkan, termasuk Kepala Bulog Divisi Regional Jakarta-Banten Agus Dwi Indirato. Empat tersangka yang ditangkap di hari yang sama dengan Agus, disebut penyidik berasal dari perusahaan penyalur dan jaringan mafia beras.

http://www.jurnas.com/artikel/9105/Edhy-Prabowo-Beras-Oplosan-Penghianat-Rakyat/

Beras Raskin di Padang Berbau, Hitam dan Berkutu

Senin,31 Oktober 2016

TOPIKINI.COM – Beras raskin yang dibagikan bulog untuk warga miskin kota Padang, Sumatera Barat, Bulan Oktober ini, berbau, berwarna hitam dan ada kutunya. Karena itu, banyak warga miskin yang tidak bersedia membeli jatah beras raskin tersebut, karena tidak bisa dikonsumsi.

Pembagin beras raskin di Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Padang, hari Senin (31/10), tidak berjalan seperti biasa. Bukan karena jatah raskin dikurangi, melainkan kualitas raskin itu sendiri yang sangat memprihatinkan. Berasnya berwarna hitam, berbau dan berkutu. Karena itu banyak warga miskin yang tidak mengambil jatah raskin mereka.

Kalaupun ada, itu karena mereka terpaksa membelinya karena harganya murah. Sebab, untuk membeli beras kualitas bagus, mereka mengaku tidak punya uang. Untuk satu karung raskin seberat 15 kilogram, dijual seharga Rp28 ribu. Walaupun sudah diberi tahu oleh pegawai kelurahan bahwa kualitasnya jelek, namun warga miskin ini terpaksa mengambilnya karena tidak ada pilihan lain.

Namun banyak juga yang kecewa setelah melihat kondisi beras tersebut. Mereka tidak jadi membeli raskin tersebut karena tidak layak untuk dikomsumsi.

“Saya tidak jadi ambil pak. Berasnya hitam, bau, ada kutunya lagi. Beras ini tidak bisa dimakan. Biarlah saya tunggu kalau ada penggantian,” kata Rohana, warga miskin kepada Topikini.

Pihak Kelurahan Lubuk Buaya Padang sudah melaporkan kondisi rasmin tersebut kepada pihak Bulog. namun sampai sekarang belum ada penggantian sama sekali.

“Sudah kami laporkan kepada Bulog. Katanya nanti diusahakan penggantian. Tapi kalau ada yang mau ambil, silahkan saja. Yang jelas, kondisinya tidak layak untuk dikonsumsi,” ujar Ermon, Lurah Lubuk Buaya.

Untuk kelurahan lubuk buaya sendiri , mendapat jatah 293 kepala keluarga miskin. Disinyalir, kondisi seperti ini juga terjadi di seluruh kelurahan di kota Padang karena beras raskinnya sama-sama berasal dari Bulog padang. (dio)

Ditemukan Rastra Banyak Kutu di Cianjur

Senin,31 Oktober 2016


WARGA menunjukkan beras sejahtera (rastra) yang penuh dengan kutu mati, di Kampung 
Lemburtengah, Kelurahan Muka, Kabupaten Cianjur, Senin 31 Oktober 2016. Sebanyak dua karung beras rastra dengan total 100 kilogram kondisinya jelek dan tak layak konsumsi dikembalikan warga setempat.*

CIANJUR, (PR).- Seluruh beras untuk rakyat miskin (raskin) atau yang kini dikenal dengan nama beras utnuk keluarga sejahtera (rastra) di lingkungan RT 01 RW 08, Kampung Lemburtengah, Kelurahan Muka, Kabupaten Cianjur terpaksa dikembalikan sejumlah warga karena kualitasnya jelek dan tak layak untuk dimakan. Meski mengaku tak sanggup membeli beras kualitas bagus di pasar, sejumlah warga memilih mengembalikan rastra yang dibeli seharga Rp 2.000/liter itu.

Warga kecewa berat, selain berwarna kusam, bau apek, rastra yang dibelinya terdapat banyak kutu. Kondisi beras tersebut sangat jelek dan tidak layak untuk dikonsumsi. Dari pantauan "PR", Senin 31 Oktober 2016, sejumlah warga mengembalikan beras yang diterimanya ke rumah Ketua RT 01 RW 08, Agus Suhendar (50). Sejumlah beras dikumpulkan warga di rumah Agus dan meminta agar warga diberi beras yang layak dikonsumsi. Agus menyatakan, lingkungannya pada Oktober 2016 ini menerima 3 karung beras yang didistribusikan dari Bulog. Masing-masing berisi 50 kilogram beras, seluruhnya sudah dibuka dan dibagikan kepada 50 rumah tangga sasaran (RTS) atau penerima manfaat.

Dari 3 karung beras, diketahui 2 diantaranya dalam kondisi buruk. Tak hanya kusam dan berbau apek, rastra yang dikembalikan juga penuh kutu yang sudah mati. Dia pun tak bisa menolak saat sejumlah warga mengembalikan rastra yang dijualnya itu. Saat diperiksa, memang benar rastra tersebut tak layak konsumsi. "Dua karung berasnya sangat jelek, penuh sama kutu. Saya juga bingung mau dikemanakan beras-beras itu. Masih mending kalau kondisinya hanya warnanya kusam, bulirnya utuh, enggak ada kutu, masih bisa dimasak. Ini mah sama sekali enggak bisa dimakan. Dijadikan makan ayam saja,” ucap dia, Senin 31 Oktober 2016.

Agus pun meminta pihak Bulog sebaiknya memeriksa kondisi beras yang akan disalurkan kepada mereka rumah tangga sasaran. Daripada menimbulkan masalah dan membuat warga kecewa, pemeriksaan beras harusnya lebih ketat. Menurut dia, baru kali ini pihaknya menerima beras dengan kondisi buruk. "Saya enggak nyangka begini kondisinya (jelek). Sebelumnya tidak berkutu, kalau kusam warga juga enggak akan protes. Minta agar lebih diperhatikan lagi distribusinya," katanya.

Solihah (50), salah seorang warga setempat kecewa dengan kondisi beras yang dibelinya itu. Sebelumnya, kondisi rastra dari pemerintah tersebut tak seburuk sekarang. Kondisi beras bau dan kusam sudah biasa diterimanya, tetapi tak penuh dengan kutu mati. "Kalau cuma jelek, warnanya agak kekuning-kuningan dan kusam mah udah biasa. Apalagi kalau berasnya baru, kami masih terima karena masih bisa dimakan. Kalau ini mau gimana masaknya, lebih banyak kutunya," ucapnya.

Warga lain, Hanifah (48) juga mengembalikan beras yang telanjur dibelinya itu. "Sebelum dimasak aja, liat berasnya jelek sekali. Langsung saya kembalikan, dimasak juga percuma, enggak bisa dimakan, kutu semua," tutur dia.

Kepala Gudang Bulog Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Ade Kusumabrata, menyatakan siap mengganti beras rastra yang dikembalikan warga kepada RT setempat. Warga diimbau, agar mengembalikan beras yang diklaim tak layak konsumsi itu kepada Bulog untuk diganti dengan beras baru. "Jika menolak dan ingin mengembalikan (rastra), karena kualitasnya jelek dan tak bisa dimasak, Bulog siap menggantinya hari itu juga. Warga silakan datang,” ucapnya saat ditemui di kantornya, Jalan Raya Bandung, Karangtengah.

Disinggung lalai tak memerhatikan kualitas rastra yang didistribusikan, ia membantahnya. Ia mengklaim, Bulog telah mengecek dan menyortis rastra sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat. "Kami sudah lakukan pengecekan dan penyortiran. Mulai dari beras masuk gudang, saat dikeluarkan, dan sebelum didistribusikan ke warga. Kami lakukan untuk menjaga kualitas beras agar layak konsumsi," ujar dia.***

KPK Kembangkan Korupsi Impor Gula Bulog