Selasa, 18 Oktober 2016

Kualitas Raskin di Kecamatan Tanara Sangat Buruk

Senin, 17 Oktober 2016

SerangTimur.Com, Tanara I Sebanyak 350 Rumah Tangga Sasaran (RTS) di Desa Bendung Kecamatan Tarana, Kabupaten Serang, Banten, Jum’at (14/10/2916), telah menerima beras miskin (raskin). Namun, beras tersebut sangat mengecewakan karena tidak layak konsumsi.

Beras Raskin yang tiba pukul 14.30 wib di kantor Desa Bendung itu kondisinya 50% terdapat menir, bahkan banyak batu krikil nya.

Seperti yang dikatakan Jamal warga yang mendapat jatah Raskin mengeluhkan dengan kwalitas beras yang diterima.

“Ini bukan beras tapi buat makan ayam. Sudah berasnya kuning, banyak krikil, bau, bahkan sudah hampir jadi menir,” ucapnya.

Sementara Kepala Desa Bendung saat akan dikonfirmasi soal kwalitas beras Raskin yang diterima dari pihak bulog namun sedang tidak ada di tempat. Sehingga para RT yang ada juga bingung atas jatah kiriman Raskin tersebut, mau dikembalikan atau tidak.

Menanggapi hal tersebut Bupati Serang Tatu Chasanah melalui WhatShap mengakui bahwa kualitas raskin untuk wilayah DKI dan Banten sangat buruk.

“Iya memang kualitas Raskin untuk wilayah DKI dan Banten sangat buruk, maka perlu kontrol dan diawasi. Namun pihak kami sudah menyampaikan ke Camat kemarin sore agar mengembalikan lagi beras Raskin ke bulog. Insya allah kami akan intens dan fokus dengan urusan masyarakat kecil, kasihan juga mereka,” ujarnya dalam petikan WhatShap nya. (Ja)

Senin, 17 Oktober 2016

Warga Resah, DPRD Panggil Bulog

Senin, 17 Oktober 2016

LUWUK– Kasus beras miskin (raskin) tak layak konsumsi, belum juga selesai. Kembali ditemukan beras bercampur warna hitam dan kondisi rusak ditemukan pada sejumlah desa di Kecamatan Luwuk Timur. Komisi 1 DPRD Banggai berniat memanggil pihak Bulog Divre Luwuk mengklarifikasinya.
Wakil Ketua Komisi 1 DPRD Banggai, Suharto Yinata kepada sejumlah wartawan, Jumat (14/10), mengatakan, saat melakukan kunjungan kerja di Desa Boitan Banpres I dan Desa Pohi, Kecamatan Luwuk Timur ditemukan raskin yang tidak layak konsumsi. “Berasnya bercampur bercak hitam dan pecah-pecah. Baunya juga tidak sedap,” kata Suharto. Warga lanjut politikus Partai Hanura ini, sudah resah. Sebab kasus raskin tak layak konsumsi masih saja terjadi.
Ia berjanji menyikapi serius keluhan warga desa itu. Sehingga komisinya akan mengundang Dolog Luwuk untuk mengklarifikasi atas masih beredarnya raskin tak layak konsumsi tersebut. Suharto yakin tak hanya di desa Luwuk Timur yang terjadi seperti itu. Akan tetapi banyak desa mengalami hal serupa.
Pihaknya proaktif dengan persoalan ini. Sebab menyentuh langsung pada kebutuhan masyarakat. Hal ini tentu saja lanjut Suharto, erat kaitannya dengan visi misi pemerintahan bahwa mengedepankan pelayanan publik. “Memang partai saya tidak mendukung pada pilkada lalu. Tapi setelah menjadi bupati dan wakil bupati, punya keharusan membackup visi dan misi bupati dan wakil bupati Banggai,” kata Sekretaris DPC Partai Hanura Banggai ini.
Catatan koran ini, pada Rabu (5/10), warga Desa Jayabakti, Kecamatan Pagimana mengeluhkan yang berwarna dan beraroma tak sedap. Kemudian Kamis (6/10) giliran warga di Desa Bunga, Kecamatan Luwuk Utara yang mengeluhkan beras yang sejatinya dari pemerintah itu. Sebab, Selain kondisi beras yang kotor dan berwarna kusam kekuning-kuningan.
Saat dikonfirmasi, salah seorang petugas Bulog Divre Luwuk, Alpius, ketika melakukan penyaluran raskin di Desa Lambangan, Kecamatan Pagimana, mengakui, bahwa beras yang disalurkan saat itu adalah beras sisa bulan lalu yang berasal dari Provinsi Sulawesi Selatan.  (yan)

http://news.luwukpost.info/2016/10/17/warga-resah-dprd-panggil-bulog.html

Kualitas Raskin di Kecamatan Tanara Sangat Buruk

Minggu, 16 Oktober 2016

SerangTimur.Com, Tanara I Sebanyak 350 Rumah Tangga Sasaran (RTS) di Desa Bendung Kecamatan Tarana, Kabupaten Serang, Banten, Jum’at (14/10/2916), telah menerima beras miskin (raskin). Namun, beras tersebut sangat mengecewakan karena tidak layak konsumsi.

Beras Raskin yang tiba pukul 14.30 wib di kantor Desa Bendung itu kondisinya 50% terdapat menir, bahkan banyak batu krikil nya.

Seperti yang dikatakan Jamal warga yang mendapat jatah Raskin mengeluhkan dengan kwalitas beras yang diterima.

“Ini bukan beras tapi buat makan ayam. Sudah berasnya kuning, banyak krikil, bau, bahkan sudah hampir jadi menir,” ucapnya.

Sementara Kepala Desa Bendung saat akan dikonfirmasi soal kwalitas beras Raskin yang diterima dari pihak bulog namun sedang tidak ada di tempat. Sehingga para RT yang ada juga bingung atas jatah kiriman Raskin tersebut, mau dikembalikan atau tidak.

Menanggapi hal tersebut Bupati Serang Tatu Chasanah melalui WhatShap mengakui bahwa kualitas raskin untuk wilayah DKI dan Banten sangat buruk.

“Iya memang kualitas Raskin untuk wilayah DKI dan Banten sangat buruk, maka perlu kontrol dan diawasi. Namun pihak kami sudah menyampaikan ke Camat kemarin sore agar mengembalikan lagi beras Raskin ke bulog. Insya allah kami akan intens dan fokus dengan urusan masyarakat kecil, kasihan juga mereka,” ujarnya dalam petikan WhatShap nya. (Ja)

Sabtu, 15 Oktober 2016

Lima Tersangka Mafia Beras Bulog Resmi Ditahan

Jum'at, 14 Oktober 2016

JAKARTA - Setelah melakukan pemeriksaan terhadap lima tersangka mafia beras, jajaran penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khsusus Bareskrim Polri resmi menahan kelimanya. Lima tersangka ini adalah Kepala Bulog Divisi Regional DKI-Banten berinisial ADI. Sementara empat orang lainnya adalah distributor beras yang memeroleh beras Bulog secara tidak resmi atau ilegal yakni Direktur Perusahaan PT Dian Sriyoni Utama berinisial CS, selanjutnya MGS, TID dan S alias A. Kelimanya ditangkap pada Kamis 13 Oktober 2016 ditempat yang berbeda.
"Sudah resmi kita tahan untuk 20 hari ke depan," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Agung Setya melalui pesan singkatnya di Jakarta, Jumat (14/10/2016).  Bareskrim Polri Gerebek Gudang Beras Oplosan di Pasar Induk Cipinang Kelima tersangka ini, terang Agung akan ditahan di rumah tahanan (rutan) Polda Metro Jaya. Alasan penahanan tersangka tersebut menurutnya untuk mempercepat proses penyidikan. "Kita ingin mempercepat proses penyidikan jadi kita tahan di rutan Polda Metro," kata Agung. Sebelumnya, kasus ini diungkap Bareskrim di Pasar Cipinang Induk Jakarta Timur. Para pelaku tertangkap tangan mengoplos beras Bulog bersubsidi dari Thailand dengan beras dari Demak. Penggerebekan dilakukan Kamis 6 Oktober 2016 sekira pukul 16.00 WIB. Sementara itu, Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar menjelaskan beras Bulog adalah beras impor yang digunakan sebagai cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog dengan dana APBN. Beras tersebut diperuntukkan untuk kegiatan operasi pasar dalam rangka menstabilkan harga beras nasional sekaligus menjaga stok pasokan beras dalam negeri. "Seharusnya CBP ini hanya boleh didistribusikan kepada distributor resmi yang ditunjuk pemerintah. Namun faktanya terjadi penyimpangan dalam proses distribusi yang dilakukan Bulog. Ternyata yang melakukan distribusi CBP ini tidak berizin dan bukan distributor yang ditunjuk pemerintah," katanya. Karena perbuatan tersangka, akan membawa dampak kepada stabilitas harga beras nasional yang nantinya, terang Boy akan berpengaruh kepada perekonomian masyarakat Indonesia. "Ini beras cadangan tapi distribusi tidak tepat sasaran malah diberikan kepada pihak tidak berizin," katanya. Atas perbuatannya, kelima tersangka dijerat dengan pasal berlapis yakni Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Pasal 139 jo Pasal 81 Ayat (1) dan Pasal 141 jo Pasal 89. Lalu Undang-Undang nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan Pasal 110 jo Pasal 36, Undang-Undang Nomor 9 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Pasal 62 jo Pasal 8, Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Tipikor dan Undang-Undang nomor 8 Tahun 2010 tentang TPPU.

(wal)

http://news.okezone.com/read/2016/10/14/337/1515141/lima-tersangka-mafia-beras-bulog-resmi-ditahan

Jumat, 14 Oktober 2016

Bulog Bersiap Borong Cabai

Jum'at, 14 Oktober 2016

BADAN Urusan Logistik (Bulog) Sumatra Utara (Sumut) bersiap membeli cabai merah menyusul semakin mahalnya harga cabai merah di pasar. Seperti diketahui, harga cabai merah di Sumut melambung hingga mencapai Rp85 ribu-Rp90 ribu per kg. Bahkan, di sejumlah pasar di Kota Medan, Sumut, harga cabai merah hampir menyentuh angka Rp100 ribu per kg.
Padahal, harga cabai di petani sekitar Rp56 ribu per kg.

"Kami siap menampung cabai merah petani seperti di Tanah Karo dengan harga wajar untuk stok operasi pasar (OP)," kata Humas Bulog Divre I Sumut Rudy Adlin di Medan, Kamis (13/10). Dia menjelaskan, pekan silam Bulog menggelar operasi pasar (OP) cabai merah dengan harga Rp40 ribu per kg. Pedagang sayur-mayur di pasar Sei Sikambing Medan, Siringoringo, mengakui penjualan eceran cabai Rp10 ribu per ons.

Tingginya harga cabai juga terjadi di sejumlah daerah. Seperti di Pekanbaru, Riau, yang mencapai Rp80 ribu per kg, di Bengkulu mencapai Rp70 ribu per kg, dan di Kota Padang, Sumatra Barat, Rp60 ribu per kg. Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumbar Yustiadi menjelaskan, sekitar 60% produksi cabai Sumbar dikirim ke beberapa daerah, khususnya Riau. Menurut dia, hal itu disebabkan para tengkulak yang memborong cabai langsung ke petani. "Selisih harga ada sekitar Rp5.000-Rp10.000 per kg."

http://www.mediaindonesia.com/news/read/72062/bulog-bersiap-borong-cabai/2016-10-14

Kualitas Buruk, Beras Bulog Dikeluhkan Warga Bulukumba

Kamis, 13 Oktober 2016

RAKYATKU.COM, BULUKUMBA - Sejumlah masyarakat penerima beras miskin (Raskin) di Kecamatan Bulukumpa mengeluh dengan kondisi beras yang dasalurkan oleh pemerintah melalui kerjasama PT. Bulog.

Jirang, warga Kelurahan Ballasaraja, Kecamatan Bulukumpa mengeluh karena kondisi beras yang disalurkan tidak layak konsumsi sehingga memilih menjualnya lalu membeli kembali beras baru yang layak konsumsi.

"Berasnya berwana merah, hancur dan pucat. Sehingga kita ini lebih pilih dijual lagi, lalu hasilnya kita belikan beras baru yang kualitasnya lebih bagus," ungkapnya, Kamis (13/10/2016).

Menanggapinya, Pimpinan PT. Bulog Bulukumba, Abdul Kadir mengaku kalau ada beberapa karung beras Bulog yang rusak diterima masyarakat, namun menurutnya dari jumlah yang diturunkan, hanya sekira 5 persen.

"Kalau memang ada yang rusak, berasnya boleh diganti. Tinggal datang ke Kantor PT. Bulog Bulukumba untuk memperlihatkan kondisi berasnya. Dan kita akan gantikan yang bagus," ungkapnya.

Ditambahkan pula jika penyebab rusaknya beras bersubsidi itu, karena rentang waktu penyimpanannya di gudang yang cukup lama. Sehingga beras tersebut bisa saja rusak karena jamur.

"Sebelum disalurkan, memang kita selalu memilah yang terbaik untuk masyarakat konsumsi, namun kadangkala ada yang terlewat karena jumlahnya yang cukup banyak," tambahnya.

http://news.rakyatku.com/read/23936/2016/10/13/kualitas-buruk-beras-bulog-dikeluhkan-warga-bulukumba

Kepala Bulog Jakarta-Banten Jadi Tersangka Kasus Beras Oplosan

Kamis, 13 Oktober 2016

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri menetapkan Kepala Bulog Divisi Regional DKI Jakarta-Banten, Agus Dwi Indirato, sebagai tersangka kasus pengoplosan beras subsidi dan beras non subsidi.

Pada Kamis (13/10/2016) siang, polisi menjemput paksa Agus Dwi dari kantornya.

"Yang bersangkutan (Agus Dwi) sudah tersangka," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Agus Rianto saat dikonfirmasi, Kamis malam.

Selain itu, penyidik juga menetapkan empat orang lainnya yang merupakan distributor beras berinisial TID, SAA, CS, dan J. Namun, Agus enggan membeberkan lebih jauh peran Agus Dwi dalam kasus ini.

"Nanti disampaikan lebih lanjut," kata Agus.

Penangkapan Agus Dwi dan empat tersangka lain dilakukan setelah menggeledah kantor Bulog Divre DKI Jakarta-Banten di Kelapa Gading, Jakarta Utara dan sejumlah tempat lainnya.

Adapun barang bukti yang disita yaitu sejumlah dokumen yang dianggap terkait dengan tindak pidana.

Salah satunya bukti transfer dari distributor tidak resmi untuk pembelian cadangan beras pemerintah.

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri sebelumnya menyita ratusan ton beras yang telah dicampur di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur.

Di lokasi, ditemukan 152 ton beras subsidi Bulog, 10 ton beras curah merk Palm Mas dari Demak, dan 10 ton beras yang sudah dicampur.

Selain menggerebek gudang di pasar induk Cipinang, polisi juga menggerebek gudang Bulog di Jakarta Utara.

Beras oplosan antara beras impor dari Thailand dengan beras lokal Demak itu dijual pelaku ke pasaran sebagai beras premium.

Pengungkapan kasus penyelewengan beras subsidi itu berawal dari kecurigaan mengenai data Bulog Divisi Regional DKI Jakarta yang menyatakan ada pengiriman 400 ton beras dari Bulog ke PT DSU.

Padahal, perusahaan itu bukan distributor yang ditunjuk untuk menerima beras impor tersebut.

Penyidik Bareskrim kemudian menyelidiki kasus ini dan diketahui ternyata beras dari PT DSU itu mengalir ke gudang milik TI dan As.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 139 Undang-undang tentang Pangan, Pasal 110 Undang-undang tentang Perdagangan, Pasal 62 Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen dan Pasal 3 ,4 dan 5 Undang-undang tentang Pencucian Uang.