Selasa, 06 September 2016

September, Bulog mulai datangkan gula impor

Senin, 05 September 2016

JAKARTA. Perum Bulog akan mendatangkan gula mentah impor atau raw sugar sebanyak 260.000 ton mulai September ini. Bulog sudah mencapai kesepakatan dengan para pemasok dari Brasil untuk mengekpor gula mentah ke Indonesia. Selain dari Brasil, Bulog juga mengimpor sebagian gula mentah ini dari Australia.

Untuk tahap pertama, raw sugar akan masuk sebanyak 180.000 ton ke Indonesia, dan ditargetkan pada Oktober, seluruh impor gula mentah sudah masuk meskipun izin impornya sampai Desember.

Pasalnya, Bulog juga membutuhkan waktu menggiling gula mentah itu di pabrik milik lima perusahaan rafinasi. "Bulog sudah menjalin kerjasama dengan lima perusahaan rafinasi untuk menggiling gula, karena kami belum miliki pabrik gula," ujar Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti, Senin (5/9).

Djarot menjelaskan, pihaknya bisa cepat mendapatkan kesepakatan dengan sejumlah perusahaan pemasok gula karena sebelumnya sudah melakukan komunikasi dan negosiasi. Sehingga ketika terjadi pengalihan penugasan impor keluar dari Kementerian Perdagangan (Kemdag) Bulog tinggal mematangkan negosiasi dan mencapai kesepakatan.

Bulog akan menjual gula ini ke pasar dengan harga Rp 12.500 per kilogram (kg) sesuai dengan keinginan pemerintah. Sebagai perbandingan saat ini rata-rata harga gula di pasaran sudah tinggi di kisaran Rp 15.000-Rp 16.000 per kg. Karena itu diharapkan dengan masuknya gula impor dari Bulog, harga gula di pasaran bisa turun sesuai keinginan pemerintah.

Saat ini, lima pabrik gula rafinasi yang siap menggiling gula mentah dari Bulog itu ada di sejumlah daerah yakni dari Jawa TImur, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pabrik itu diharapkan mudah melakukan pendistribusian langsung ke konsumen.

Bahkan Bulog juga menjajaki kerjasama dengan salah satu pabrik gula kecil di Gorontalo, Sulawesi Tenggara untuk menggiling gula mentah milik Bulog. Dengan tersebarnya pabrik gula yang menggiling gula mentah ini, Bulog optimis konsumen dari berbagai daerah dapat menikmati gula Bulog.

Soal Beras Tak Layak Konsumsi, DPR RI : Oknum Bulog Harus Dicari

Senin, 5 September 2016

KARANGANYAR – Anggota Komisi IV DPR RI, Agustina Wilujeng Pramestuti mengendus adanya permainan dilakukan oleh oknum-oknum  pengelola beras yang selama ini beroperasi.

Hal tersebut tak lepas dari adanya temuan Beras Miskin (Raskin) yang tidak layak konsumsi di tangan masyarakat Karanganyar beberapa pekan lalu, .

Politisi PDI Perjuangan mengatakan hal tersebut saat melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) bersama rombongan anggota komisi IV DPR RI di gudang Bulog Triyagan, Karanganyar Sabtu (3/9/2016) sore.

“Saya berharap pemerintah ataupun instansi terkait untuk melakukan pengawasan. Kemarin kita sudah lakukan pemeriksaan karena kita khawatirkan itu permainan dari Bulog tapi ternyata tidak. Saya tidak mengatakan itu dari Bulog, tapi oknum karena selama ini ada mafia Raskin,” kata Agustina.

Agustina menduga, Bulog sendiri juga menjadi korban adanya oknum tersebut. Pasalnya, beras yang diberikan kepada warga masyarakat dengan wadah berlogo Bulog tersebut bisa jadi sebelumnya telah dijual oleh warga penerima.

 “Bisa saja mas, contoh saja, ada warga yang menerima beras jelek, kemudian dijual lagi ke tengkulak, dan oleh tengkulak itu nanti dijual lagi ke Bulog, jadi beras itu muter saja,” ungkapnya.

Dengan adanya temuan tersebut, Agustina berharap agar terus meningkatkan pengawasan, dan quality control terhadap beras yang masuk ke dalam Bulog.

“Pengawasannya seperti apa itu harus dipertanyakan, seharusnya yang masuk ke sini itu adalah gabah, bukan beras. Saya harap kalau terjadi kembali, prosedur dan sistem manajemen itu untuk diubah,” jelas Agustina.

Sementara itu, Direktur SDM dan Umum Wahyu Perum Bulog, Suparyono, mengatakan untuk saat ini pasokan beras di Jawa Tengah tergolong aman.

Khusus untuk eks-karesidenan Surakarta masih terdapat sekitar 45 ribu ton beras. Untuk di gudang Triyagan ada 4200 ton, jumlah ini cukup untuk 7 bulan ke depan. “Kita jamin di Jawa Tengah masih aman untuk kesediaan berasnya”jelas Wahyu.

Rudi Hartono

Bulog Tunjuk Dua Konsultan, Kaji "Holding" BUMN Pangan

JAKARTA, KOMPAS.com - Kajian pembentukan induk perusahaan (holding) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan ditargetkan rampung akhir September 2016. Perum Bulog telah menunjuk dua konsultan untuk melakukan kajian holding BUMN pangan, di samping melakukan kajian internal.

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, pihaknya pada pekan ini telah menunjuk PT Danareksa (Persero) serta PricewaterhouseCoopers (PwC) untuk melakukan kajian tersebut.

"Mereka akan mengkaji data-datanya, melakukan analisa, melihat bisnis model yang cocok, serta peluang yang ada," kata Djarot kepada Kompas.com, Jumat (2/9/2016).

Setelah kajian dari kedua konsultan selesai, hasilnya akan diajukan ke Menteri BUMN Rini Mariani Soemarno.

Diharapkan pembentukan holding BUMN pangan bisa direalisasikan akhir tahun ini.

Informasi saja, rencananya Bulog akan menjadi induk perusahaan BUMN pangan. Beberapa BUMN pangan yang akan masuk di bawahnya yakni PT Sang Hyang Seri, PT Pertani, PT Bhanda Ghra Reksa, serta PT Perusahaan Perdagangan Indonesia.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/09/02/091500826/Bulog.Tunjuk.Dua.Konsultan.Kaji.Holding.BUMN.Pangan.

Rini Soemarno Luncurkan Daging Kerbau Impor Bulog

Jakarta -Perum Bulog pagi ini meluncurkan produk daging kerbau yang diimpornya dari India. Peuncuran daging kerbau impor ini dihadiri oleh Menteri BUMN, Rini Soemarno.

Sebelum peluncuran, Rini beserta jajaran Direksi Bulog dipimpin Direktur Utama, Djarot Kusumayakti, melakukan kegiatan senam ceria mulai pukul 07.00 WIB.

Senam selesai pukul 07:25 WIB, Djarot beserta Rini langsung menuju ke stand daging kerbau dan melihat daging kerbau impor yang telah disediakan.

Dalam pidatonya, Djarot mengatakan, daging kerbau adalah alternatif bahan pangan dari daging sapi. Daging kerbau ini menurutnya memiliki zat besi yang lebih tinggi daru daging lainnya.

"Pagi ini kita akan launching daging kerbau yang kita impor, perlu diketahui oleh Bapak-bapak dan Ibu-ibu bahwa daging kerbau ini adalah alternatif dari daging sapi, dan daging kerbau ini memiliki zat besi yang paling tinggi dibanding daging daging lainnya," ujar Djarot.

Bulog juga mengadakan makan daging kerbau bareng dan akan ada demo masak dari chef Chandra yang dihadirkan untuk mengolah daging kerbau tersebut.

Senin, 05 September 2016

Ini Dia, DPR RI Endus Ada Mafia dalam Distribusi Gula

Minggu, 04 September 2016

SRAGEN- Komisi VI DPR RI mengendus ada indikasi tidak sehat dalam distribusi gula di pasaran saat ini. Pasalnya, harga jual dari Badan Urusan Logistik (Bulog) yang ditunjuk sebagai BUMN pelempar gula hasil produksi PTPN IX, terpaut jauh dengan harga gula di pasaran.

Harga jual gula pasir dari PTPN IX ke Bulog saat ini dipatok Rp 10.900 Per kilogram. Tetapi harga gula pasir di pasaran berkisar antara Rp 15.000 hingga lebih.

Anggota Komisi VI DPR RI, Martri Agoeng juga curiga dengan selisih yang terpaut jauh antara harga tolak dari Bulog dengan yang beredar di pasaran. Karenanya hal itu akan disampaikan ke Kementerian Perdagangan untuk mengusut mata rantai distribusi.

“Kalau soal harga, perlu ditelusuri Bulog mendistribusikan ke konsumen seperti apa. Kenapa terjadi space harga yang begitu jauh ini ada mafia atau indikasi apa?” paparnya saat meninjau Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen, Sabtu (3/9).

Jika memang ada indikasi permainan mafia atau monopoli, pihaknya berharap Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) bisa turun untuk mengusut indikasi di balik tingginya selisih harga gula itu.

Sementara dalam paparannya, Dirut PTPN IX, Budi Adi Prabowo menyampaikan selama ini PTPN IX sebagai produsen gula memang tidak punya kewenangan untuk menjual langsung ke konsumen. Akan tetapi semua gula produksi PTPN IX dikirim ke Bulog yang diberi kewenangan untuk menjual ke konsumen. Wardoyo


http://joglosemar.co/2016/09/ini-dia-dpr-ri-endus-ada-mafia-dalam-distribusi-gula.html

Daging kerbau impor 80.000 ton akan guyur pasar

Minggu, 04 September 2016

Jakarta. Perum Bulog akhirnya mendatangkan daging kerbau asal India ke Indonesia. Untuk tahap pertama pengapalan sebanyak 720.000 ton daging kerbau telah tiba di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Sementara sisanya menyusul tiba sampai akhir September 2016 sebanyak 10.000 ton daging kerbau telah tiba di Indonesia dan akan segera dipasarkan.

Perum Bulog menjual daging kerbau ini di pasar dengan harga eceran rata-rata Rp 65.000 per kilogram (kg). Selain menjual ke pasar, Bulog juga menjualnya kepada industri dengan harga lebih murah yakni dengan total pembelian minimal 50 ton, maka akan dijual seharga Rp 56.000 per kg, dan bila pembelian dari pedagang dengan volume yang lebih kecil, dijual dengan harga Rp 60.000 per kg.

Agar laris di pasar, Bulog mengatakan daging kerbau ini telah mendapat sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Direktur Pengadaan Bulog Wahyu mengatakan, Bulog menggelontorkan dana sebesar antara Rp 500 miliar hingga Rp 600 miliar per sekali impor sebanyak 10.000 ton. Pada semeseter II tahun ini, Bulog tengah memprogramkan untuk mengimpor sebanyak 80.000 ton daging kerbau.

Artinya akan ada tambahan 70.000 ton lagi daging kerbau yang siap menggeruduk pasar dalam negeri sampai akhir tahun. Proses pengajuan izin 70.000 ton ini sudah diajukan perum Bulog ke Kementerian Perdagangan (Kemdag).

"Kalau kami nilai importasi sebanyak itu masih kurang, maka akan kami tambah lagi," ujar Wahyu akhir pekan lalu.

Untuk mengimpor total 80.000 ton daging kerbau, Bulog setidaknya telah mempersiapkan anggaran sebesar Rp 4 triliun. Menurut Wahyu, anggaran Bulog untuk pengadaan daging sapi ini tidak terbatas sehingga sangat mungkin untuk ditambah lagi bila pasar membutuhkan.

Untuk tahap pertama, Bulog akan mendistribusikan daging kerbau asal India ini di Jabodetabek dengan harapan dapat menurunkan harga daging sapi yang saat ini masih tinggi di kisaran Rp 120.000 per kg.

Nantinya, Bulog juga akan mendistribusikan daging kerbau ini ke luar Pulau Jawa seperti ke Sumatera dan Kalimantan.

LSM PERTANYAKAN BULOG ABISKAN US$300 JUTA TIAP TAHUN UNTUK IMPOR PANGAN APA!

Minggu, 4 September 2016

Jakarta, Intelijenpost.com

Ketua. Kordinator LSM. Pemantau Kinerja Aparatur Pemerintahan Pusat Dan Daerah ( PKA – PPD ) Seluruh Indonesia Lahane Aziz mengatakan, perlu dipertanyakan dan patut dicurigai mengenai Bulog habiskan US$ 300 juta per – tahun untuk impor bahan pangan apa saja, dan kenapa hal ini ditanyakan sebab jangan sampai komuditas yang dipasokan itu merugikan dan mematikan penghasilan petani maka perlunya disebut bahan pangan apa saja yang di impor, ujar Aziz.

Kemudian, kalau dilihat dari nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dolar US$ kenapa pemerintah ( Bulog ) terlalu memaksakan kehendak impor pangan ini, apalgi yang di impor berupa bahan pangan jagung dan ini bukan bahan pangan pokok serta tidak perlu di datangkan dari luar negeri karena stok untuk jagung di dalam negeri masih banyak tersedia, kata Aziz.

Sesuai data dan informasi yang didapat LSM. PKA – PPD, ada beberapa daerah yang menghasilkan jagung dengan kwalitet baik seperti jagung hebrida maupun tanaman jagung asli Indonesia yang terdapat yakni, di Gorongtalo, Nusa Tenggara Timur ( NTT ) , di Sulawesi Tenggara dan sekitarnya, di tiga Provinsi ini saja sudah terdapat stok jagung yang melimpah rua jadi tidak perlu di datangkan ( impor ) dari luar negeri lagi, cetus Aziz.

Karena menurut Aziz, inpor jagung dari luar negeri itu harganya berapa karena diperhitungkan dari mulai urus dokumen, biaya angkut, biaya bongkar dan lain – lainnya seperti tetebengeknya sudah menghabiskan biaya berapa dan akan dijual ke – pasaran jagung dengan harga berapa per – Kg, sudah pasti harganya mahal alias tidak nyucuk, ucapnya.

Jadi jangan hambur – hambur uang negara lah, manfaatkan uang itu untuk beli bahan pangan yang dianggap kurang stoknya di dalam negeri dan kalau jagung saja tidak perlu impor karena stok dalam negeri masih tersedia. Aziz juga mengatakan, coba kita menghemat sedikit sebab negara sekarang sudah punya banyak utang di luar negeri, tutup Aziz.  

Selanjutnya mengenai berita yang dilansir Intelijenpost.com, Perusahaan Umum (Perum) Bulog membutuhkan valuta asing (valas) sekitar US$200 juta sampai US$300 juta per tahun untuk mengimpor bahan pangan demi menjaga pasokan dan stabilitas harga di dalam negeri. Kebutuhan mata uang negara lain tersebut seringkali menyulitkan manajemen yang perusahaannya menghasilkan pendapatan dalam mata uang rupiah.

"Menurutnya, eksposur kami sangat jelas, karena pendapatan kami rupiah, dengan pembukaan impor barang tadi kami akan ditagih dolar," kata Direktur Keuangan Bulog Iryanto Hutagaol di Gedung Bank Indonesia,baru-baru ini.

Lantas untuk memitigasi risiko selisih kurs akibat membengkaknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Bulog memutuskan untuk menggunakan fasilitas lindung nilai (hedging). "Jadi kami butuh semacam tata kelola untuk risiko. Pada saat kami merencanakan impor pangan dengan target harga penjualan tertentu, bisa saja harga belinya berubah sewaktu-waktu," katanya.

Bahkan tahun ini, pemerintah memutuskan kuota impor jagung pada 2016 dengan volume sekitar 30 persen dari kebutuhan sebanyak 200 ribu ton per bulan atau 2,4 juta ton per tahun yang seluruhnya akan dilakukan oleh Bulog. Selain kebutuhan valas, Bulog juga masih menggantungkan pendanaannya dari pinjaman bank. Hingga saat ini, Bulog telah mengantungi pinjaman modal kerja senilai Rp40 miliar dari beberapa bank. ( IP – DW )