Kamis, 18 Agustus 2016

Bulog: Realisasi pengadaan gabah dua ribu ton

Rabu, 17 Agustus 2016

Banda Aceh (ANTARA Aceh) - Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Aceh menyatakan realiasi pengadaan gabah di provinsi itu hingga pertengahan Agustus tahun 2016 sebanyak 2.037 ton atau lebih besar dari serapan dalam realiasi gabah sepuluh tahun terakhir.

"Perum Bulog sebagai penyangga stok tetap terus melaksanakan tugasnya untuk meningkatkan pengadaan beras atau gabah," kata Kepala Divre Bulog Aceh Achmad Ma'mun di Aceh Besar, Selasa.

Di sela-sela kunjungan Aster Kasdam Iskandar Muda, Kolonel Inf Nefra Firdaus ke penggilingan padi Metuah Baro, Aceh Besar, yang merupakan salah satu mitra Perum Bulog Divre Aceh, Achmad mengatakan Bulog terus melaksanakan pengadaan beras dan menyerap gabah di sekitar Aceh Besar dan daerah lainnya.

"Kita terus bekerja optimal dalam rangka memenuhi target pengadaan beras dan gabah yang telah ditetapkan sebanyak 60.500 ton setara beras melalui mitra Bulog dan Satgas di lapangan," katanya.

Menurut dia, realiasasi pengadaan gabah Divre Aceh baik untuk komersil dan PSO hingga 14 Agustus 2016 itu telah mencapai 2.037 ton dan jumlah tersebut akan terus bertambah nantinya.

"Kami optimistis dengan masa panen yang masih ada ke depan, pengadaan beras dan gabah akan terus meningkat guna memenuhi kebutuhan beras di Bulog," katanya.

Aster Kasdam Iskandar Muda, Kolonel Inf Nefra Firdaus mengatakan kunjungannya ke salah satu mitra Bulog tersebut merupakan bagian dari meninjau serapan gabah dari petani dan bagian kerja sama dengan perusahaan plat merah tersebut.

"TNI telah melakukan kerja sama dalam upaya khusus swasembada pangan dan  hasil akhirnya berada pada poduksi yang nantinya dapat diserap oleh Bulog," katanya.

Ia mengatakan pihaknya terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait baik dalam pelaksanaan di lapangan guna menyukseskan program kerja sama khusus swasembada pangan tersebut.

"Salah satu upaya yang dilakukan itu nantinya agar serapan gabah tersebut mampu memenuhi kebutuhan masing-masing daerah dan bisa melebihi dari target yang diharapkan," katanya.

Dalam mendukung program tersebut pihaknya mengerahkan seluruh Babinsa di Koramil, Kodim dan Korem untuk bersama-sama dalam mengejar target luas tanam pada tahun 2016 dapat tercapai.

Bulog Impor 1.500 Ton Bibit Bawang dari Vietnam dan Filipina

Rabu,17 Agustus 2016

Liputan6.com, Brebes - Pemerintah melalui Perum Bulog mengimpor bibit bawang merah impor asal Vietnam dan Filipina. Bibit bawang tersebut dilakukan untuk menstabilkan harga bibit lokal yang kini melonjak antara Rp 45 ribu-Rp 50 ribu per kilogram (kg).

Bibit bawang impor berkualitas itu oleh Bulog dijual melalui program pasar murah bibit bawang sentra-sentra bawang di Indonesia. Di Brebes, pasar murah bibit bawang itu digelar di lapak bawang Klampok Brebes Jateng, Rabu (17/8/2016).

Sementara bibit impor yang didatangkan dari Vietnam dan Filipina tersebut dijual ke petani hanya dengan harga Rp 30 ribu per kg. Adapun alokasi bawang impor tersebut disebar ke berbagai daerah sentra bawang di Indonesia. Di Brebes, sekitar 200 ton bibit bawang telah dipasarkan kepada petani.

Penjualan pasar murah bibit bawang tersebut dihadiri langsung Dirjen Perbenihan Hortikultura, Kementerian Pertanian serta pejabat Bulog hingga pelaku bisnis bawang di Brebes.   Dalam pasar murah bibit bawang itu, Petani dibatasi pembelian maksimal 1 ton dengan harga Rp 30 juta.

"Untuk memberikan harga bibit bawang terjangkau pemerintah melalui Bulog ‎mengimpor benih bawang merah. Dengan cara ini diharapkan produksi bawang merah terus bergairah dan harga bawang merah turun sampai ke Rp 25 ribu sesuai permintaan Pak Presiden Jokowi," ucap Dirjen Perbenihan, Kementerian Pertanian, Sri Wijayanti.

Ia menerangkan, dari 1.500 ton bibit bawang impor, baru 900 ton yang sudah dipasarkan ke sentra bawang merah di Indonesia. Sedangkan sisanya ditargetkan akan selesai tersebar pada Oktober 2016.

"Total bibit impor memang 1.500 ton yang didatangkan, tapi berasal dari dua negara yakni, 1.000 ton dari Vietnam dan sisanya berasal dari Filipina. Untuk target penyerapan bibit bawang impor ini hingga Oktober," sambung dia.

Pihaknya menjelaskan, pemerintah sebetulnya sudah membina para penangkar bawang untuk menyediakan benih. Namun karena benih berbentuk umbi, juga tergantung dengan harga bawang konsumsi sehingga harganya ikut mahal.

"Kedepan kita akan kembangkan benih dari biji. Dipisahkan dengan bawang konsumsi sehingga harganya bisa lebih murah lagi," papar dia.  

Masuk Brebes

Sementara itu, ‎Kepala Divisi Penjualan Bulog Pusat, Ermin Tora mengaku untuk tahun 2016 ini pemerintah sudah merencanakan untuk mendatangkan bibit impor dari luar negeri sebanyak 1.500 ton.

Namun untuk tahap pertama ini baru terealisasi 900 ton. Bawang tersebut sudah disebar di berbagai daerah, antara lain sejumlah sentra bawang merah di NTB, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan lain sebagainya.

Ia menyampaikan, dengan harga bibit relatif murah, yakni Rp 30 ribu diharapkan petani bisa lebih bergairah dalam memproduksi bawang merah karena biaya produksi lebih efisien.  

"Untuk di Brebes sudah terjual 200 ton dari 900 ton, ini kita bantu pemerintah biar harganya nanti saat panen harapannya bisa dibawah Rp 15 ribu, produksinya melimpah dan kita bisa ekspor," ucap E‎rmin Tora.

Ia mengklaim, kualitas bibit bawang impor ini hampir sama dengan bibit lokal yang biasa ditanam petani di Brebes. Demikian pula hasil produksinya juga tidak jauh berbeda.

"Kualitas dan hasil produksi panenya hampir sama dengan bibit bawang lokal Brebes. ‎Apalagi kan petani disini pernah menggunakan bibit bawang impor dari Vietnam dan hasilnya sama saja dengan penggunaan bibit lokal," tutur dia.

Sedangkan pola distribusi penjual bibit bawang murah impor berkualitas, lanjut dia, ‎setiap petani hanya dibolehkan membeli bibit 1 ton dengan harga Rp 30 juta.

"Jadi ‎satu petani kita batasi pembelianya, maksimal 1 ton. Kalau lebih dari itu tidak kita berikan karena dikhawatirkan jika diborong oleh beberapa petani saja dan kemudian untuk dijual kembali," Ermin menandaskan.  (Fajar Eko Nugroho/Ndw)

Selasa, 16 Agustus 2016

Perum Bulog Akan Kendalikan Harga Jagung

Selasa, 16 Agustus 2016

Bisnis.com, GORONTALO -  Kementerian Pertanian (Kementan) mengatakan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) akan mengendalikan harga jagung di pasaran.

"Untuk melindungi petani, Presiden telah mengeluarkan surat keputusan tentang penunjukan Bulog sebagai pengendali bahan pokok seperti beras, jagung dan kedelai," kata Direktur Pakan Ternak (PKH) kementan, Nasrullah, saat menggelar dialog dengan petani jagung Gorontalo, Selasa (16/8/2016).

Dijelaskanya, jagung untuk produksi nasional 80 persen digunakan untuk pakan ternak dan 20 persen untuk lainya, dimana ada sekitar 60 indusri pakan ternak tersebar di seluruh Indonesia yang siap membelinya.

Jika ada harga jagung di bawah harga yang telah ditetapkan Kementrian Perdagangan yaitu Rp3.150/kilogram dengan ketentuan kadar air 15 persen, silahkan langsung hubungi Bulog Gorontalo dan akan langsung dibeli.

"Secara regulasi pemerintah sangat memperhatikan petani dan Gorontalo ikon adalah jagung, jadi kalau ada sedikit masalah komoditi itu di Gorontalo akan berdampak secara nasional," jelasnya.

Pada dasarnya jagung adalah tanaman pilihan, begitu harga turun maka mereka langsung berhenti bertani, beda dengan padi, kalau harga turun mereka tetap bertanam paling tidak, untuk mereka konsumsi sendiri.

Ia menambahkan, alangkah ironisnya kalau ada daerah seperti Gorontalo dengan lahan yang cukup luas, dengan produksi yang tinggi dan petani yang bergairah untuk menanam, sementara masih harus impor jagung.

"Presiden Jokowi sangat kesal, Indonesia yang cukup luas, sementara harus impor jagung," jelas Nasrullah.

Untuk menjawab pemerintah harus impor jagung atau tidak, berada di tangan kita semua, terutama para petani di Gorontalo.

"Dan ini jadi komitmen pemerintah, seperti yang disampaikan Menteri Pertanian saat bertemu dengan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie beberapa waktu lalu," katanya.

http://industri.bisnis.com/read/20160816/99/575555/perum-bulog-akan-kendalikan-harga-jagung

Mendag Enggar: Bulog Jadi Tengkulaknya Pemerintah

Selasa, 16 Agustus 2016

INILAHCOM, Jakarta - Demi mengamankan pasokan beras, serta mensejaterakan petani, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita bilang, Perum Bulog harus berlaku sebagai tengkulaknya pemerintah.

Hal ini menyusul fakta jika Perum Bulog selalu dikalahkan oleh tengkulak (middle man) ketika menyerap gabah milik petani. Mendag Enggar mengakui, jika keberadaan tengkulak memang dibutuhkan oleh petani, ketika sistem perbankan tidak bisa menjangkau mereka.

"Tengkulak ini satu kegiatan yang dibutuhkan oleh rakyat sebenarnya, manakala sistem perbankan tidak masuk," ujar Mendag Enggar di Kantornya, Jakarta, Senin (15/8/2016).

Politisi Nasdem ini menjelaskan, manakala petani butuh uang, para tengkulak ini memberikan utang tanpa jaminan apapun. Petani mau saja meski bunga pinjaman cukup tinggi. Ini terjadi lantaran petani enggan berurusan dengan bank dengan bermacam alasan.

"Di pasar rakyat, bunga itu bisa 5 persen per setengah hari. Tinggi memang tapi mereka butuh. Petani mau kredit ke bank, rumit sekaliu. Perlu ukur tanah, ditanya sertifikatnya, rumahnya difoto," jelasnya.

Maka itu, Mendag Enggar berjanji akan berbicara dengan perbankan dan juga Perum Bulog sebagai off takernya. "Jadi Bulog akan menjadi tengkulak. Kita tugaskan bulog menjadi tengkulak. Tengkulak pemerintah. Jadi membantu dan uangnya dari mana? Di situlah bank masuk," tandas dia. [ipe]


http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2317428/mendag-enggar-bulog-jadi-tengkulaknya-pemerintah

Ahok Beberkan Alasan Pedagang Tolak Pasokan Pangan dari Bulog

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Ahok menemui Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Pertemuan ini membahas harga pangan yang menjadi perhatian pemerintah saat ini.

Gubernur bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, sebelumnya Menko Perekonomian Darmin Nasution mengeluhkan pasar di Jakarta yang banyak menolak pasokan pangan dari daerah yang bukan langganan. Hal ini pula yang dijelaskan Ahok kepada Presiden Jokowi.

"Makanya kita lapor. Sebenarnya bukan pasar yang menolak, pedagang yang tidak mau. Mereka mengibaratkan Bulog dateng itu kayak PKL jualan di lapak gitu lho. Makanya disuruh pergi," kata Ahok di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/8/2016).

Sebelum menemui Presiden, Ahok sudah lebih dulu bertemu dengan Menteri Pertahanan, Menteri Perdagangan, dan Kepala Bulog untuk membahas hal ini. Dari pembicaraan itu, akhirnya ditemukan solusi dengan pola baru yang akan dilaksanakan.

Mantan Bupati Belitung Timur itu menjelaskan, nantinya bahan pangan baik dari Mentan dan Bulog dijual langsung ke pedagang di pasar. Pemerintah kemudian menetapkan harga eceran tertinggi dari setiap bahan pangan itu.

"Misalnya daging Rp 80 ribu, berarti dia ambil (dari Bulog) Rp 70 ribu. Terus Bulog pengin buka lapak, boleh kita siapin, tapi jualnya harus Rp 80 ribu sama dengan pedagang," Ahok menjelaskan.

Dengan begini, pengawasan baik kepada pedagang maupun harga pangan lebih mudah. Sanksi yang dijatuhkan pun lebih tegas dengan indikator yang lebih jelas pula.

"Pedagang kalau jual di atas itu gimana kami usir dari pasar kami. Pola itu yang kita akan jalankan," Ahok memungkasi.


http://news.liputan6.com/read/2578035/ahok-beberkan-alasan-pedagang-tolak-pasokan-pangan-dari-bulog

Senin, 15 Agustus 2016

Warga Dumai Protes, Bulog Bagikan Beras Berkutu Yang Tidak Layak Konsumsi

Minggu, 14 Agustus 2016

DUMAI (POROSRIAU.com) – Sejumlah Warga Kelurahan Dumai Kota, protes keras karena mendapatkan beras miskin berkutu dan tidak layak konsumsi, sehingga warga menolak mengambilnya di Kantor Kelurahan Dumai Kota, hal ini dikatakan  salah seorang warga yang tidak terima melihat kondisi beras sudah rusak dan berkutu ketika di konfirmasi Rabu (11/8/2016).

Menurutnya untuk pembagian Bulan Agustus 2016 , sekitar 200 karung beras yang mana tiap karungnya berisi 20 Kg yang akan dibagikan kepada ratusan masyarakat miskin yang bermukim di Kelurahan Dumai Kota.

Ponimin anggota Komisi II DPRD Dumai, ketika di konfirmasi Rabu (11/8/2016) menegaskan “ bila masih saja ada pembagian beras miskin yang rusak dan berkutu, maka sebaiknya jangan diterima, karna masyarakat miskin itu juga manusia yang harus dihargai“.

Agus Gunawan Lurah Dumai Kota ketika dikonfirmasi membenarkan kalau beras untuk warga miskin masih tertumpuk disalah satu  ruang kantornya, lantaran kwalitas beras miskin yang akan dibagikan ke masyarakat tidak dapat diterima warganya.

Selain itu menurut Agus, pihak kelurahan sudah meberitahukan ke Bulog untuk segera ganti beras dengan mutu yang lebih baik.

Di tempat terpisah, Sarkawi karyawan bulog yang bertangung jawab terhadap penyaluran beras miskin, berulang kali dihubungi untuk klarifikasi namun tidak kunjung memberi jawaban atas keluhan warga tersebut.

http://porosriau.com/dumai/Warga-Dumai-Protes--Bulog-Bagikan-Beras-Berkutu-Yang-Tidak-Layak-Konsumsi

Bulog Diminta Serap Habis Hasil Panen Petani

INDOPOS.CO.ID – Untuk menyerap habis hasil panen dari petani, Perum Bulog dimodali dana Rp 30 triliun. Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti tidak ada masalah. Sejak awal dirinya siap menjalankan amanat dari pemerintah. “Itu mah masalah gampang, dana segitu,” kata Djarot dalam rilis, kemarin.

Mantan direktur BRI itu juga mengatakan, jika dana kurang, maka akan dicari lewat pinjaman. “Hari ini (Bulog) belum ada dana segitu. Tapi kalau misalnya dibutuhkan Rp 30 triliun asal ini penugasan masalah kecil. Ndak perlu segitunya (menerbitkan obligasi),” ucapnya santai.

Djarot mengatakan, skema penyerapannya adalah nantinya Bulog akan serap sesuai dengan ketentuan. Mekanisme itu dilakukan dalam rangka membantu mengamankan petani, apabila harga ditingkat petani jatuh di bawah floor price maka bulog akan ambil. Namun jika harga berada diatas harga petani artinya petani sudah untung. “Artinya kalau nanti ada shortage di lapangan, bulog tidak boleh menjual sehingga harga di atas ceiling price,” tandas dia.

Dia juga mengatakan pemerintah telah menetapkan harga minimal,selling price, dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Penyerapan dilakukan untuk membantu petani. Dengan demikian pembelian dilakukan ketika harga jatuh di bawah floor price. ”Lalu, ketika harga sudah di atas floor price, petani kan sudah mendapatkan untung,” ujar Djarot.

Selain pencarian dana Rp 30 T, Perum Bulog mendapat tugas untuk mengimpor daging kerbau asal India. Sesuai rencana dari kuota impor 10.000 ton, daging kerbau impor tahap pertama akan tiba pada minggu keempat bulan ini.

Dia mengatakan, daging kerbau tersebut nantinya akan dijual Bulog ke pedagang pada kisaran harga Rp 50.000/kg. “Harganya masuk ke sini kisaran Rp 50.000/kg, tapi kan waktu menggerakkan itu ke masyarakat tentu kan butuh margin yah, berapa marginnya? Itu yang harus dinegosiasikan,” bebernya.

Dia melanjutkan, harga tersebut akan naik lagi ketika sampai di pedagang pasar yang ikut mendistribusikan daging kerbau India dari Bulog sebagai selisih margin.

“Kalau mereka butuh margin yah jualnya Rp 60.000/kg, Rp 61.000/kg. Nah ini yang harus dinegosiasikan supaya pedagang nggak ambil untung terlalu besar,” pungkasnya. (ers)