Kamis, 21 Januari 2016

Bulog Jamin Raskin Memenuhi Kualitas Beras Medium

Kamis, 21 Januari 2016

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Pemerintah Kota (Pemkot) Padang bersama Badan Urusan Logistik Drive II Sumatra Barat (Sumbar) meluncurkan program raskin 2016 di Kecamatan Padang Selatan, Rabu (20/1).

Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah mengatakan, peluncuran raskin untuk sekira 39 ribu kepala keluarga (KK) di 11 kecamatan di Kota Padang, merupakan yang perdana di Sumatra Barat bahkan mungkin di Indonesia.

"Menurut kita, kegiatan harus segera (dilaksanakan), karena terkait kebutuhan warga miskin, harus disegerakan," kata dia usai peluncuran program raskin 2016 di Kantor Kecamatan Padang Selatan, Sumatra Barat, Rabu (20/1).

Sebab, menurutnya, harga beras yang sempat melambung beberapa waktu lalu sangat merugikan masyarakat. Pemkot Padang bersama Bulog, ia melanjutkan, menyikapi dengan menggelar operasi pasar untuk menstabilkan harga di pasaran.

Sementara itu, Kepala Bulog Divre II Sumatra Barat, Benhur Ngkaime menjamin, raskin yang akan disalurkan tahun ini, memenuhi standar dan layak dengan kualitas beras medium. Keluhan ihwal kualitas raskin yang buruk, ia menjelaskan, disebabkan karena beras yang disalurkan sudah tersimpan lama di gudang.

Menyikapi hal tersebut, ia mengatakan, Bulog membuat kebijakan baru secara nasional, yaitu menyimpan raskin di gudang untuk kebutuhan dua bulan. Sebab, menurut Benhur, umur ideal beras tersimpan di gudang, yaitu selama tiga bulan. Sementara, selama ini persediaan Bulog biasanya untuk empat hingga enam bulan. Hal tersebut, menurutnya yang menyebabkan kualitas beras buruk.

"Petugas biasanya kewalahan untuk melakukan sortir, itu human error," kata dia.

NTB: Panen Melimpah Mengapa Bulog Datangkan 7.000 Ton Beras dari Jatim?

Rabu, 20 Januari 2016

REPUBLIKA.CO.ID,MATARAM -- Wakil Ketua DPRD Nusa Tenggara Barat Mori Hanafi secara tegas menolak rencana Perum Bulog untuk mendatangkan beras asal Jawa Timur.

"Tidak ada alasan beras luar masuk NTB," kata Mori Hanafi di Mataram, Rabu.
Ia menuturkan, sangat mendukung langkah Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi yang dengan tegas tidak menginginkan beras asal Jawa Timur (Jatim) masuk ke daerah itu. Karena dinilai dapat merugikan petani.

Selain itu, pihaknya mempertanyakan alasan Bulog ingin memasukkan beras tersebut disaat produksi beras sedang melimpah.

"Kita tahu, memang domain Bulog memasukkan beras ke mana saja. Tetapi, harus jelas juga apa alasannya. Misalkan, daerah itu kekurangan beras dan harga tidak terkendali sehingga mempengaruhi inflasi," jelasnya.

Karena, kata dia, jangan sampai dengan masuknya beras tersebut dapat mempengaruhi produksi dan harga ditingkat petani. "Intinya kami mendukung pemprov. Bahkan ini wajib ditolak," katanya.

Ia menduga rencana kedatangan beras sebanyak 7.000 ton ke NTB itu, sudah diatur oleh para mafia beras mengingat beras yang didatangkan dari Jatim tersebut jenis premium, sehingga mustahil jika beras tersebut untuk masyarakat miskin."Kalau ini ditujukan untuk raskin tidak mungkin sebanyak itu," kata dia.

Sebelumnya, Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi menyayangkan rencana Bulog NTB yang ingin mendatangkan beras sebanyak 7.000 ton dari Provinsi Jatim saat produksi beras di daerah itu sedang melimpah.

"Selama ini kita tidak pernah menyiapkan stok ataupun menambah stok dari produksi beras dari luar daerah, padahal saat ini produksi beras kita sedang melimpah," katanya.

Menurut Gubernur, seharusnya saat produksi beras lokal sedang melimpah, bahkan hingga surplus tidak semestinya pihak Bulog mendatangkan beras dari luar NTB. Justru seharusnya pihak Bulog membeli beras dari petani lokal.

Jika rencana itu terjadi akan mematikan kehidupan petani di daerah itu. Karena akan menurunkan semangat dan antusiasme para petani untuk tidak menanam padi.

"Saya tidak mengerti ada hal darurat apa sehingga Bulog ingin mendatangkan beras dari
Jatim. padahal kita juga sudah menolak masuknya beras impor. Segera saya meminta laporan Bulog untuk mengetahui apa alasannya," ujarnya.

Disinggung terkait beras yang rencana di datangkan dari Jatim tersebut merupakan beras impor, gubernur belum bisa berkomentar lebih jauh, sebab pihaknya ingin mendengar terlebih dahulu alasan langsung dari pihak Bulog yang ingin mendatangkan beras asal Jatim.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/01/20/o19etm219-ntb-panen-melimpah-mengapa-bulog-datangkan-7000-ton-beras-dari-jatim

Rabu, 20 Januari 2016

900 Ribu Ton Beras Impor Masih di Gudang Bulog

Rabu, 20 Januari 2016

Jakarta - Perum Bulog telah memasukkan 900 ribu ton beras impor atau mencapai 60% dari total kuota impor yang diberikan pemerintah sebanyak 1,5 juta ton. Beras impor tersebut berasal dari Vietnam dan Thailand. Hingga saat ini belum ada beras impor yang masuk ke pasar. Beras itu masih disimpan di gudang-gudang Perum Bulog sebagai cadangan. Apabila harga beras naik signifikan, sementara stok dari beras lokal tidak memadai untuk kegiatan operasi pasar (OP), barulah beras tersebut dikeluarkan oleh BUMN tersebut.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu mengatakan, hingga saat ini Perum Bulog baru mendapatkan izin kuota impor sebanyak 1,5 juta ton dari pemerintah yang berlaku mulai Oktober 2015 hingga Maret 2016. Keputusan impor diambil pemerintah untuk mengantisipasi kurangnya produksi (shortage) beras akibat cuaca ekstrem El Nino 2015 yang bisa memundurkan musim tanam. “Sudah masuk hampir 900 ribu ton, disimpan di gudang, semuanya dari Vietnam dan Thailand,” kata dia seperti dikutip dari Investor Daily di Jakarta, Rabu (20/1).

Wahyu mengatakan, impor bisa dilakukan dari empat negara yang telah memiliki kesepakatan government to government (G to G) dengan Indonesia, yakni Vietnam, Thailand, Myanmar, dan Kamboja. Namun dengan melihat harga, kesanggupan suplai, dan faktor pengiriman, Perum Bulog memilih Vietnam dan Thailand untuk memasok beras ke Indonesia. “Kami sempat menjajaki impor dari Myanmar dan Kamboja. Itu dilakukan dengan pemikiran apabila ada masalah dengan Vietnam atau Thailand, misalnya keterlambatan pasokan. Tapi Vietnam dan Thailand sanggup dan kami juga pertimbangkan harga dan faktor teknis lainnya,” ungkap dia.

Sedangkan untuk impor beras dari Pakistan, kata dia, itu masih terlalu baru karena masih sebatas nota kesepahaman (MoU) antara Menteri Perdagangan RI dan Menteri Perdagangan Pakistan. Impor dari Pakistan mencapai 1 juta ton senilai US$ 400 juta untuk jangka waktu empat tahun (2016-2019). Dalam proses importasi sendiri, Perum Bulog baru bisa mengeksekusi setelah ada perintah tertulis dari pemerintah. “Jadi, pengadaan beras dari luar negeri tergantung perintah pemerintah, sejauh ini perintah tertulis ke kami bau yang pertama sebesar 1,5 juta ton, tapi kalau ternyata besok ada perintah lagi, kami siap laksanakan,” ungkap dia.

http://www.beritasatu.com/ekonomi/342885-900-ribu-ton-beras-impor-masih-di-gudang-bulog.html

KPPU Selidiki Bulog Soal Monopoli Impor Jagung

Selasa, 19 Januari 2016

JAKARTA, WOL – Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Muhammad Syarkawi Rauf mengatakan hak monopoli impor jagung yang diberikan kepada Perum Bulog harus didasarkan pada Undang-Undang (UU) atau Peraturan Presiden (Perpres).

Namun bila itu kebijakan setingkat menteri, maka dalam kebijakan itu harus didasarkan pada salah satu UU.

Ia menilai kebijakan menjadikan Bulog memonopoli impor jagung tepat sejauh itu dalam rangka untuk melakukan stabilisasi harga. Namun ia juga mengingatkan bila hal itu berlangsung seterusnya atau menjadi satu pola pemerintah dalam mengambil kebijakan, maka berpotensi melanggar Undang-Undang Persaingan Usaha karena akan menutup kesempatan bagi swasta untuk mengembangkan usaha mereka secara sehat.

“Saya tidak tahu apakah pemberian hak monopoli ke Bulog dasar hukumnya apa. Apakah Kebijakan Menteri atau Perpres, nanti kita akan lihat dasarnya,” ujar Syarkawi, Selasa (19/1).

KPPU mengingatkan pemerintah, harus melakukan pengawasan ekstra ketat kepada Bulog karena telah memberikan hak monopoli impor jagung. Ia mewanti-wanti jangan sampai Bulog menyalahgunakan kewenangan tersebut di luar batas-batas yang telah ditentukan.(kontan/data2)

http://waspada.co.id/warta/kppu-selidiki-bulog-soal-monopoli-impor-jagung/

Bulog Minta Izin Impor Jagung, Gula, dan Daging Sapi

Selasa, 19 Januari 2016

Jakarta -Pada tahun ini, Perum Bulog mendapat beberapa penugasan baru dari pemerintah mengimpor sejumlah komoditas pangan, dalam rangka menjaga stabilitas harga pangan di dalam negeri.

Penugasan tersebut, antara lain penunjukan Bulog sebagai ‎importir tunggal jagung sebanyak 600.000 ton sampai Maret 2016, impor gula 200.000 ton hingga Maret 2016, dan juga daging sapi.

Untuk penugasan impor jagung, saat ini Bulog sudah mendapatkan rekomendasi impor dari Kementerian Pertanian (Kementan). Tinggal menunggu keluarnya izin impor dari Kementerian Perdagangan (Kemendag). Ditargetkan jagung impor bisa mulai didatangkan pada Februari 2016.

"Yang sudah direkomendasikan jagung, kita sedang memproses impor jagung. Mudah-mudahan awal Februari sudah ada jagung yang diimpor Bulog sendiri. Kami targetkan awal Februari mulai masuk," kata Direktur Pengadaan Perum Bulog, Wahyu, kepada detikFinance, di Jakarta, Selasa (19/1/2016).

Izin impor gula juga sudah diajukan oleh Perum Bulog, namun masih menunggu persetujuan dari Kemendag.‎ "Kalau gula sedang kami ajukan izinnya, belum keluar izin. Kami masih menunggu persetujuan izin impor gula dari Kementerian Perdagangan. Kami mengajukan izin impor gula sampai bulan Maret‎, sesuai hasil Rakortas," tuturnya.

Selain jagung dan gula, Bulog juga meminta perpanjangan izin impor 8.000 ton daging sapi ke Kemendag. Sebelumnya Bulog mendapat izin impor 10.000 ton daging sapi pada Oktober 2015, tapi hanya terealisasi 2.000 ton hingga Desember 2015. Kini Bulog meminta izin tersebut diperpanjang agar impor 8.000 ton daging sapi lagi bisa direalisasikan.

"(Perpanjangan izin impor daging sapi) Sudah diajukan tapi kami masih menunggu persetujuan perpanjangan. Kami ajukan untuk sisa 8.000 ton daging sapi," ucap Wahyu.

Diakuinya, Bulog belum memiliki infrastruktur untuk berbisnis jagung, gula, dan daging sapi. Tetapi untuk sementara infrastruktur yang dibutuhkan bisa diperoleh melalui kerjasama dengan perusahaan-perusahaan swasta yang memilikinya.

"‎Bukan berarti kita nggak punya cold storage kita nggak bisa jual daging sapi, nggak punya silo nggak bisa jual jagung. Banyak cold storage dan silo yang bisa kita sewa. Kan nggak harus bikin sendiri, kerjasama atau kemitraan bisa dilakukan," cetus Wahyu.

Namun, bila pemerintah menetapkan Bulog menjadi stabilisator jagung, gula, dan daging sapi secara permanen, maka Bulog perlu sejumlah persiapan agar dapat mengelola komoditas-komoditas tersebut dalam jangka panjang.

Persiapan yang dibutuhkan bukan hanya infrastruktur, tapi juga sumber daya manusia (SDM), organisasi, modal, maupun model bisnis untuk stabilisasi jagung, gula, dan daging sapi.

"Kalau kita bicara persiapan, banyak yang harus kita siapkan. Mulai dari infrastruktur, SDM, permodalan, organisasinya, ini kan sesuatu yang baru. Model bisnisnya pun harus kami persiapkan agar dapat berjalan dengan baik," tutupnya.

(dnl/dnl)

http://finance.detik.com/read/2016/01/19/083211/3121478/4/bulog-minta-izin-impor-jagung-gula-dan-daging-sapi

Bulog Lampung Hanya Serap 68 Persen Gabah Petani

Selasa, 19 Januari 2016

REPUBLIKA.CO.ID,BANDAR LAMPUNG – Pada rapat evaluasi pelaksanaan kerja tahun 2015 dan rencana kerja tahun 2016 di Pemprov Lampung Selasa (19/1), terungkap Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre Lampung,  hanya mampu menyerap gabah petani sebesar 68,08 persen.

“Target penyerapan gabah petani 130 ribu ton, namunt terealisasi 88.503 ton atau 68,08 persen,” kata Kepala Bulog Divre Lampung, Dindin Syamsudin.

Rendahnya penyerapan gabah petani karena produksi gabah tahun 2015 banyak dijual ke luar Lampung. Transaksi gabah di luar Lampung, membuat Bulog kesulitan menyerap gabah petani sesuai target.

Ia menjelaskan target dan realisasi pengadaan gabah selama 2015 terjadi dua kali perubahan. Pertama, target penyerapan 90 ribu ton, terealisasi hanya 76.476 ton atau 84,97 persen. Kedua, tambahan target 40 ribu ton dan terealisasi 12.028 ton.

Bulog Lampung juga mengalami kendala dalam penyerapan gabah petani tahun lalu. Diantaranya, penentuan harga pembelian pemerintah  (HPP) tahun 2015. HPP tahun lalu terlambat sehingga kehilangan momentum saat panen raya. Kemudian, masa penggilingan yang kesulitan memenuhi standar pemerintah, akibat keterbatasan sarana prasarana, dan keterbatasan space gudang penyimpanan.

Selain itu, Bulog menghadapi masalah harga gabah sepanjang tahun 2015 di atas HPP. Sehingga, saat panen raya terjadi cuaca cenderung hujan, sehingga kesulitan mendapatkan gabah atau beras sesuai dengan ketentuan pemerintah.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/01/19/o173yd219-bulog-lampung-hanya-serap-68-persen-gabah-petani

Selasa, 19 Januari 2016

Bulog Mulai Realisasikan Impor Komoditas

Senin, 18 Januari 2016

Bisnis.com, JAKARTA – Mulai Februari mendatang, Perum Bulog akan mulai merealisasikan satu-per satu impor komoditas pangan yang ditugaskan pada lembaga tersebut. Yang paling terdekat yaitu pemasukan impor jagung sebanyak 100.000 ton pada pekan awal Februari.

Wahyu, DIrektur Pengadaan Perum Bulog mengatakan saat ini pihaknya tengah menyelesaikan tahap pembelian impor jagung dari negara-negara produsen komoditas itu. Adapun, importasi jagung merupakan yang pertama kalinya dilakukan oleh lembaga stabilisator harga bahan pangan pokok tersebut.

“Kita sedang memproses importasi jagung dan mudah-mudahan awal Februari sudah ada jagung yang diimpor oleh Bulog sendiri. Kami targetkan tak kurang dari dua kapal akan masuk pada awal Februari,” ungkap Wahyu di Jakarta, Senin (18/1).

Wahyu menyampaikan dua kapal pengangkut tersebut masing-masing akan memuat sebanyak 40.000 ton dan 60.000 ton jagung. Layaknya impor setiap tahunnya yang sebelumnya dilakukan oleh industri pakan, impor jagung kali ini pun didatangjan dari Brasil dan Argentina.

Kendati demikian, dia mengatakan Bulog pun tengah menjajaki beberapa negara sebagai alternatif untuk mendatangkan jagung impor. “Kami juga cari sumber lainnya seperti Spanyol dan Ukraina,” terang Wahyu.

Proses pemasukan impor jagung dari kedua negara tersebut merupakan tindak lanjut hasil rapat koordinasi di tingkat Kemenko Perekonomian yang mengamanahkan Bulog untuk mengimpor jagung sebanyak 600.000 ton selama kuartal I tahun ini, atau hingga Maret mendatang.

Rakor tersebut juga menyimpulkan Indonesia membutuhkan sekitar 2,4 juta ton jagung pada tahun depan. Namun, angka ini akan dievaluasi seiring aktivtas produksi komoditas tersebut di dalam negeri sehingga volume impornya bisa lebih tinggi atau lebih rendah.

Untuk mendatangkan impor jagung sendiri, Bulog pun telah menyiapkan dana sedikitnya Rp1,8 triliun dengan perhitungan harga per kilogram jagung impor sebesar Rp3.000.

Selain jagung, Wahyu mengatakan Bulog pun tengah menunggu beberapa izin impor komoditas lain yaitu gula dan perpanangan izin realisasi impor daging dari Selandia baru.

http://industri.bisnis.com/read/20160118/99/510720/bulog-mulai-realisasikan-impor-komoditas