Senin, 07 September 2015

Harga Beras Stabil, Syarat Penting Tanggulangi Kemiskinan

Senin, 07 September 2015

Ir Mohammad Ismet, MSc, PhD. (Foto: Dok Pribadi)

SATUHARAPAN.COM - Kenaikan harga pangan, khususnya beras, selama ini dipercaya dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesejahteraan petani. Dengan alasan tersebut, secara ekonomis dan politis, harga pembelian pemerintah (HPP) dipandang sebagai hal yang sangat penting bagi kesejahteraan petani. Sepertinya, kenaikan HPP dianggap sebagai panacea, obat segala penyakit bagi segala permasalahan pendapatan petani padi.

Faktanya, tidaklah sesederhana itu. Karena sebagian besar petani padi adalah petani kecil, yang net rice buyers (jumlah produksinya dalam setahun lebih kecil daripada kebutuhan konsumsinya). Kalau harga beras naik, pendapatan riil (real income atau deflated income) petani bukan menaik, tetapi justru akan menurun. Manfaat kenaikan harga beras, yang mengakibatkan kenaikan pendapatan riil, sebenarnya hanya dinikmati petani berskala besar, yang mampu menghasilkan kelebihan produksi yang dapat dipasarkan (marketable surplus).

Petani, yang net rice buyer, menjadi konsumen beras selama periode paceklik. Kenaikan harga beras tidak akan secara signifikan menaikkan pendapatan riil petani berskala kecil tanpa adanya surplus dalam usaha taninya. Dengan demikian, terjadi variasi dampak pemerataan (distributional effects) dari kenaikan harga beras, yang bergantung pada ada tidaknya surplus produksi.

Kenyataan itu sering kali tidak tertangkap para “pengamat” pertanian, yang sering kali berpendapat kenaikan harga beras riil akan memperbaiki kesejahteraan petani. Mereka mengambil kesimpulan tanpa mempertimbangkan skala usaha taninya, dan tanpa memperhitungkan ada-tidaknya surplus produksi dalam usaha taninya.

Terdapat tiga hal yang berkaitan dengan dampak perubahan harga terhadap kesejahteraan rumah tangga. Pertama, elatisitas permintaan jangka pendek terhadap beras adalah kecil (in-elastis atau tidak sensitif), sehingga perubahan harga tidak mengakibatkan perubahan permintaan yang signifikan. Berapapun harga berubah, permintaan tidak akan banyak berubah.

Kedua, perubahan harga beras di pasar lebih banyak ditentukan karena adanya perubahan kebijakan pemerintah di bidang harga dan perdagangan. Ketiga, dampak tersebut lebih nyata pada kelompok penduduk miskin karena keluarga miskin tidak mempunyai pilihan, selain dalam bentuk perubahan permintaan beras. Semakin miskin rumah tangga, semakin elastis permintaannya terhadap perubahan harga, karena perubahan harga tersebut akan berpengaruh lebih besar terhadap anggaran rumah tangga mereka.

Penentu Kesejahteraan Petani Kecil adalah Marketable Surplus            

Mengapa kesejahteraan petani ditentukan oleh marketable surplus (surplus yang dapat dipasarkan)? Dari aspek teori, jika marginal utility of income adalah positif, maka dampak kesejahteraan petani produsen karena adanya perubahan harga dapat terlihat dari ada tidaknya marketable surplus petani. Dampak kesejahteraan akan positif jika petani tersebut net seller (mempunyai surplus produksi yang dapat dipasarkan), dan akan negatif kalau petani tersebut net buyer (produksinya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya).

Kesejahteraan petani juga dipengaruhi oleh pergerakan harga. Para ekonom mengenal dengan baik teori Arrow-Pratt income risk aversion. Dengan asumsi bahwa utility is concave in income, maka pendapatan yang berfluktuasi dari waktu ke waktu akan menurunkan kesejahteraan keluarga. Jika padi merupakan satu-satunya sumber pendapatan bagi keluarga,  maka instabilitas harga akan menciptakan dampak negatif yang serius bagi kesejahteraan rumah tangga.

Dengan demikian, untuk mempertahankan atau memperbaiki kesejahteraannya, petani kecil dan miskin membutuhkan dua hal, yaitu surplus produksi, dan kestabilan harga. Jadi, untuk memperbaiki kesejahteraan petani miskin bukan dalam wujud kenaikan harga (namun tanpa surplus produksi).

Selama ini cara yang digunakan untuk mengukur perkembangan kesejahteraan petani adalah dengan menghitung nilai tukar petani (NTP). NTP merupakan perbandingan antara harga-harga komoditi yang dihasilkan petani dibagi dengan harga-harga komoditi yang dikonsumsi atau dibeli oleh petani.

Selama ini NTP ini dianggap sebagai indikator untuk menentukan perkembangan kesejahteraan petani, namun sebenarnya angka tersebut tidak mampu menggambarkan kesejahteraan yang sesungguhnya. Kalau kita telaah formulanya, NTP ini hanya membandingkan harga-harga bukan pendapatan dan biaya hidup karena kuantum produksi dan kuantum konsumsi tidak dihitung. Dengan demikian, dapat diartikan, produksi diasumsikan selalu surplus dan dapat dipasarkan. Padahal, kita tahu persis tidak semua petani mempunyai surplus produksi.

Bagaimana dengan petani yang net rice buyers, yang sama sekali tidak punya marketable surplus? Kita tahu, proporsi petani kecil (yang hanya menguasai lahan kurang dari 0,5 ha) cukup besar. Dapat disimpulkan, formula NTP tersebut, hanya relevan bagi petani yang net rice producers, bukan untuk petani yang net rice buyers, yang sama sekali tidak punya marketable surplus.

Stabilitas Harga Beras Syarat Penting Mengurangi Kemiskinan

Karena beras merupakan makanan pokok, harga beras sangat berperanan dalam menentukan kesejahteraan rumah tangga keluarga miskin, karena besarnya komponen pengeluaran untuk beras. Garis kemiskinan dipergunakan sebagai batas untuk menentukan miskin atau tidaknya seseorang. Seseorang disebut miskin kalau rata-rata pengeluaran per kapita per bulannya di bawah garis kemiskinan. Data juga menunjukkan kemiskinan sangat berkaitan dengan daerah pedesaan dan sektor pertanian karena besarnya prosentase kemiskinan di pedesaan dan di sektor pertanian.

Data terakhir menunjukkan jumlah rumah tangga petani adalah 25,6 juta keluarga. Data distribusi penguasaan lahan menunjukkan adanya ketimpangan penguasaan lahan.

Pada tahun 2003, 70 persen petani hanya menguasai 13 persen lahan, sedangkan petani yang 30 persen ternyata menguasai 87 persen dari lahan yang ada. Data Sensus Pertanian 2013 menunjukkan, jumlah petani berskala usaha tani kecil mencapai angka lebih besar.  Data perkembangan persentase penduduk miskin BPS menunjukkan kemiskinan di perdesaan belum dapat tertanggulangi secara signifikan. Pada tahun 2013, prosentase kemiskinan di perdesaan masih mencapai 14,42 persen, sedangkan di perkotaan adalah 11,47 persen.

Ketimpangan yang membesar dalam penguasaan lahan ini mengindikasikan sebagian besar petani adalah petani miskin dan petani marjinal. Dengan demikian, pemerintah harus sangat berhati-hati dalam mengelola kebijakan harga beras agar tidak bias untuk petani berskala besar.

Hal yang juga perlu diperhatikan, semakin miskin petani, semakin besar persentase pengeluaran terhadap marketable rice surplus-nya, dan semakin nyata rice price risk aversion-nya atau semakin nyata perilaku yang tidak mau mengambil risiko. Karena petani gurem adalah net rice buyer maka risiko harga (price risk) akan memperbesar risiko produksi (yield risk).

Kesimpulan di atas jelas memberikan gambaran tentang besarnya risiko harga dan risiko produksi pada petani berskala usaha kecil (gurem). Untuk itu, diperlukan kebijakan harga yang lebih spesifik agar kebijakan tersebut benar-benar secara efektif dapat melindungi petani kecil.

Dengan demikian, dapat disimpulkan kelompok petani miskin kecil, termasuk buruh tani dan petani tanpa lahan, tidak akan memperoleh manfaat dari kenaikan harga beras, bahkan kemungkinan besar akan semakin menderita.  Sedangkan 30 persen kelompok petani berskala besar adalah kelompok yang jelas akan menikmati kenaikan harga.

Hal itu menggambarkan dampak pemeratan (distributional impacts) yang bervariasi antar kelompok skala usaha tani sebagai dampak adanya kenaikan harga. Dengan mempertimbangkan bahwa stabilitas harga beras sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan rumah tangga miskin, maka stabilitas harga tetap sangat diperlukan dalam rangka mengurangi angka kemiskinan. Uraian di atas juga semakin menunjukkan tetap pentingnya program Raskin untuk mengatasi masalah kemiskinan. Porsi beras bersubsidi yang didistribusikan ke pedesaan harus lebih besar mengingat lebih besarnya jumlah keluarga miskin di pedesaan daripada di perkotaan.

Penulis memperoleh PhD di bidang Ekonomi Pertanian dari Kansas State University, 1995. Bekerja di Bulog, pada periode 1981-2011, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha (2007-2009), Staf Ahli (2009-2011). Konsultan penelitian di Bank Dunia, FAO, USDA, Winrock International dan SEADI-USAID, selama 2011-2014. Sekarang sebagai Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Universitas Cokroaminoto Yogyakarta.

http://www.satuharapan.com/read-detail/read/harga-beras-stabil-syarat-penting-tanggulangi-kemiskinan

Pangan dan Ekonomi

Senin,  7 September 2015

Ringga Arif Wh
Mahasiswa Jurusan Sosiologi  

Kondisi perekonomian Indonesia memang sedang melambat. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS. Penyerapan anggaran juga belum maksimal, akibatnya berbagai program kerja pemerintah maupun pemda belum sepenuhnya terlaksana.

Di tengah perlambatan ekonomi, banyak daerah yang mengalami kekeringan dikarenakan hujan sudah lama tidak turun. Akibatnya tanaman pangan banyak yang mati dan warga juga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Pangan memang menjadi persoalan klasik yang hingga kini masih menggelayut.

Produksi pangan dalam negeri yang kurang untuk mencukupi kebutuhan menjadi alasan sejak lama untuk melakukan impor. Padahal yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah adalah keberpihakan pada petani yang sudah berjuang untuk berproduksi, yakni dengan penguatan pertanian. Banyakkaummuda sekarangyangengganuntukmenjadi petani, ini kan ironi di tengah suburnya tanah Nusantara.

Pertanian dan pangan yang kokoh tentu akan menjadi benteng pertahanan jika terjadi krisis ekonomi. Meminimalkan impor dan berlanjut pada kemandirian pangan, cadangan devisa pun bisa digunakan untuk hal lain. Infrastruktur pertanian perlu segera dibenahi seperti irigasi, waduk, embung.

BUMN yang memproduksi pupuk dan pestisida juga harus dimaksimalkan kinerja dan daya dukungnya, apalagi sekarang ini sudah ada yang dibentuk holding company. Sinergi BUMN memang penting, karena bidang usaha BUMN beragam dan asetnya begitu besar mencapai ribuan triliun rupiah.

Pabrik pengolahan bahan pangan juga perlu dibangun dan diperbanyak di luar Jawa agar terjadi pemerataan. Untuk petani dan nelayan, yang sering terkendala modal usaha, perlu untuk dijamin oleh pemerintah agar mudah dan tidak dipersulit mengajukan kredit melalui BUMN yang bergerak di bidang tersebut.

Dari segi hukum, pemberantasan pencurian ikan harus terus menerus digencarkan karena perbuatan kapal asing tersebut jelasjelas merugikan Indonesia. Pemerintah pada bulan Juli 2015 telah mengeluarkan PP 49/2015 untuk menambah penyertaan modal negara yang bersumber dari APBN kepada Perum Bulog.

Nilai nominalnya cukup besar yakni Rp3 triliun yang dimaksudkan untuk memperkuat struktur modal perusahaan dan meningkatkan kinerja Bulog dalam rangka stabilisasi harga, pembelian gabah petani, dan penyaluran beras bersubsidi. Harga pangan di pasar yang sering kali melonjak tinggi, membuat masyarakat resah di tengah himpitan perlambatan ekonomi.

Untuk itu Bulog hadir menggelar operasi pasar. Kualitas beras yang disalurkan untuk rakyat miskin tidak boleh asalasalan, aspek kelayakan dan keamanan tidak boleh dikesampingkan. Yang tak kalah penting juga penganekaragaman pangan yang disesuaikan dengan kondisi daerahnya. Sektor UMKM yang selama ini menjadi penopang ekonomi dan terbukti tahan banting, ditempatkan pada posisi yang terhormat dengan pemberdayaan dan akses modal yang lebih ditingkatkan.

Bukankah yang paling banyakjumlahusahanya adalahUMKM, bukanperusahaan besar? Semoga bangsa ini bisa menghadapi persoalan pangan dan ekonomi dengan bijak dan solutif.

Bulog Terus Lakukan Penyerapan Gabah

PEKALONGAN (KRjogja.com)- Kepala Bulog Subdivisi Regional Pekalongan, Ismoyo Dwijantoro menegaskan, bulogi Regional Pekalongan, hingga awal September 2015 telah menyerap 55.000 ton gabah milik petani.Sehingga target pencapaian serapan 80.000 ton gabah akan tercapai.

"Kami optimistis pencapaian serapan gabah milik petani hingga akhir tahun akan terlampaui," ujar Ismoyo ditemui wartawan di Pekalongan, Sabtu (05/09/2015).

Dikatakan, untuk memenuhi target penyerapan gabah sebesar 80.000 ton, bulog terus melakukan pembelian gabah milik petani melalui satgas dan para mitra. "Adapun, penyerapan gabah milik petani ini akan kami lakukan di wilayah esk- Keresidenan Pekalongan, yang meliputi Kabupaten Brebes, Kota/Kabupaten Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Batang," tegasnya. (*)

http://202.65.121.186/read/273500/bulog-terus-lakukan-penyerapan-gabah.kr

Ketika Anak Muda Melawan Tengkulak

Senin, 7 September 2015

Di kalangan orang yang pesimistis, masalah bangsa sepertinya tak berujung dan ruwet. Akan tetapi, di tangan anak-anak muda, masalah itu diurai dengan bantuan teknologi digital. Persoalan perdagangan komoditas seperti bawang, daging, dan beras yang bertahun-tahun mendera negeri ini menjadi lebih mudah dipahami. Kini anak muda melawan tengkulak, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kode-kode digital.

"Awalnya dari lomba membikin aplikasi untuk mengatasi masalah negeri ini. Edisi pertama kali ini, masalah yang dilombakan mengenai aplikasi pemantauan harga komoditas pokok," kata Ainun Najib, inisiator laman Kawalpemilu dan juga menjadi inisiator forum teknologi informasi Code4Nation.

Lomba yang disebut Hackathon Merdeka ini merupakan prakarsa Code4Nation dengan difasilitasi Kantor Staf Presiden. Perlombaan pembuatan aplikasi ini sudah dilaksanakan beberapa waktu lalu. Sebanyak 462 peserta mendaftar lomba ini, tetapi yang hadir sekitar 300 peserta yang tergabung dalam 80 tim. Dari lomba ini dihasilkan lima tim terbaik dengan kategori tiga tim terbaik dan dua tim spesial. Tidak ada urutan para pemenang.

Salah satu tim terbaik adalah tim yang bernama Limakilo. Tim ini membangun aplikasi yang memungkinkan pihak yang ingin memantau pertumbuhan komoditas hingga melakukan pemesanan komoditas itu. Tim ini tengah mencoba untuk komoditas bawang merah. Aplikasi yang sedang dalam pengembangan dan pembenahan ini kelak diharapkan bisa memantau kondisi pertanaman bawang merah di sejumlah tempat.

"Saat ini tim Limakilo sedang melakukan uji coba dan penyempurnaan aplikasinya. Untuk sementara kami baru menerima order secara terbuka dan penanganan manual dengan menggunakan SMS, Whatsapp, e-mail. Cara ini sekaligus untuk menghitung perbedaan efisiensi sebelum dan setelah menggunakan aplikasi," kata Koordinator Pemasaran dan Humas Limakilo Lisa Ayu Wulandari. Tim ini beranggotakan empat orang. Selain Lisa, ada dua rekannya di bagian teknologi dan satu lagi mengelola laman.

Dari uji coba secara manual pekan lalu, mereka telah mendapat pembeli sebanyak 60 orang dari sejumlah kota. Jumlah pesanan bawang merah mencapai 400 kg. Mereka berani menawarkan diskon harga. Harga pasar saat itu Rp 20.000 per kg dan mereka berani menjual dengan harga Rp 17.000.

Presiden Joko Widodo saat bertemu dengan sejumlah editor ekonomi telah mengungkapkan harapannya agar aplikasi ini bisa digunakan dalam waktu dekat sehingga masalah harga komoditas bisa ditangani. Joko Widodo mengatakan, dengan aplikasi, pemantauan harga lebih cepat diketahui.

"Jika nanti aplikasi sudah sempurna, maka apabila ada order, pembeli bisa langsung mengetahui harganya. Setiap saat harga diperbarui. Kami berani memberi diskon 15 persen karena kami memotong banyak rantai dari petani ke pasar akhir," kata Lisa.

Lisa mengatakan, pihaknya kelak berharap, begitu menerima order, bisa langsung dikirim ke petani melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Untuk mempercepat penanganan order, Lisa mengakui masih ada masalah, yaitu pengetahuan petani yang minim tentang telepon pintar. Ia mengakui, hal itu merupakan pekerjaan rumah yang besar untuk melatih mereka agar familier dengan telepon pintar dan aplikasi secara bertahap.

Pada akhirnya antara pembeli, pengelola aplikasi, petani, dan pengirim produk akan terhubung secara cepat dan praktis sehingga bisa memotong rantai distribusi dan otomatis memotong biaya. Untuk pengiriman barang, mereka juga melakukan uji coba dengan menggunakan Kantor Pos dan Go-Jek.

"Kami berharap, dengan aplikasi ini, semua pihak akan terhubung langsung. Harapannya, dengan menghubungkan konsumen langsung ke produsen, harga akan lebih manusiawi bagi kedua pihak," kata Lisa. Inilah cara mereka melawan tengkulak. (ANDREAS MARYOTO)

http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150907kompas/#/18/

Sabtu, 05 September 2015

Bulog Siap Tampung Beras Lokal

Sabtu, 5 September 2015

* Harga Rp 7.300/Kilogram

BLANGPIDIE - Perum Bulog Sub Divre VI Blangpidie menyatakan siap menampung beras produk lokal dalam jumlah melebihi target sebanyak 5.500 ton.
“Target pengadaan beras dalam negeri diberikan pusat sebanyak 5.500 ton, namun kita siap menampung lebih dari target,” ungkap Kepala Perum  Bulog  Sub Divre VI Blangpidie Basir menjawab Serambi, Kamis (3/9).
Dijelaskan harga beras lokal yang ditampung sesuai harga pembelian pemerintah (HPP)  Rp 7.300 per kilogram. Sedangkan untuk gabah, Perum Bulog Sub Divre VI tidak menampung karena hingga saat ini belum memiliki kilang padi.
Menurut Basir pembelian beras lokal dilakukan melalui Mitra Kilang Padi (MKP). Perum Bulog Sub Divre VI memiliki sekitar 14 mitra kilang padi. Namun yang aktif memasok beras ke gudang Bulog setempat antara 5 sampai 6 pengusaha kilang padi.
“Kita bersama Kodim 0110 Abdya mengajak para pengusaha kilang padi untuk menjual beras kepada Bulog,” kata Basir.
Dia sebutkan Perum Bolog Sub Divre VI setempat siap menampung beras lokal lebih 5.500 ton. Apabila lebih dari target akan dikirim ke Perum Bulog daerah lain di Aceh. Beras lokal yang ditampung adalah berkualitas medium atau beras standar Bulog, yaitu kadar air 14 persen, derajat sosoh 95 persen, dan butir patah (broken) 20 persen. “Beras kualitas medium, kita tampung Rp 7.300 kg gratis karung yang kita terima di pintu Gudang Bulog,” ungkap Basir. (nun)

http://aceh.tribunnews.com/2015/09/05/bulog-siap-tampung-beras-lokal

September 2015, Bulog Baru Serap 1,6 Juta Ton Beras

Jumat, 4 September 2015

Metrotvnews.com, Jakarta: Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) terus berupaya agar penyerapan beras di sepanjang 2015 ini bisa terlaksana dengan baik. Namun, Bulog tampak ragu-ragu mampu mencapai target penyerapan lantaran cuaca sedang tidak mendukung.

Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, sampai dengan awal September 2015 ini penyerapan beras yang sudah dilakukan Bulog telah mencapai 1,6 juta ton beras. Diperkirakan, Bulog mampu menyerap sebanyak 2 juta ton sampai akhir September 2015.

"Kemarin itu (awal September 2015) penyerapan sudah sekitar 1,6 juta. Akhir September bisa 2 juta. Tapi, tiap bulan kita harus keluarkan sekitar 232 ribu untuk beras raskin," jelas Djarot, kepada Metrotvnews.com, di Gedung MetroTV, Jakarta, Jumat (4/9/2015).

Meski telah menyerap 1,6 juta ton hingga awal September 2015, tapi Djarot masih belum berbangga diri dan tetap waspada terhadap hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Kewaspadaan Djarot sejalan dengan cuaca sekarang ini yang tengah memasuki musim kering.

"Dalam RKAP itu 3,2 juta. Sampai akhir tahun akan terserap seberapa banyak saya belum berani prediksi akan sekitar berapa. Saya tidak berani karena kita lihat juga cuaca sedang seperti sekarang ini," pungkas Djarot.

ABD

http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2015/09/04/427817/september-2015-bulog-baru-serap-1-6-juta-ton-beras

Jumat, 04 September 2015

Puskopti Minta Bulog Impor Kedelai

Jumat, 4 September 2015

SALATIGA (KRjogja.com)-  Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) Jawa Tengah berharap penuh Badan Urusan Logistik (Bulog) segera impor kedelai. Selain itu, tata niaga diatur agar harga kedelai stabil. Akibat lebilnya harga kedelai berdampak  ribuan perajin tempe tahu (temtah) di Jateng kolaps (bangkrut).

Ketua Puskopti Jawa Tengah, Sutrisno Supriyantoro mengungkapkan,  tata niaga kedelai mendesak dilaksanakan. Jika perdagangan kedelai tidak diatur maka oligopoli tidak bisa dihilangkan. Dampaknya, harga kedelai tidak bisa stabil dan cenderung naik dan mencekik leher perajin tempe
tahu dan pelaku usaha berbahan baku kedelai," katanya di sela pameran UMKM di lapangan Pancasila, Salatiga, Jumat (04/09/2015).

Dia menambahkan saat ini harga kedelai di Salatiga sudah mencapai Rp 7.500 per kilogram (kg) dan sudah melebihi biaya produksi maksimal senilai Rp 7.450 per kg. Kalau harga kedelai terus tinggi, maka akan banyak pelaku usaha berbahan baku kedelai di Jawa Tengah bangkrut. "Tata niaga kedelain harus diatur oleh bulog dan bulog impor dan disalurkan secara langsung ke perajin tempe  tahu. Pemerintah harus membebaskan biaya masuk impor kedelai yang dilakukan bulog sehingga harga kedelai lebih murah. (Sus)

http://krjogja.com/read/273342/puskopti-minta-bulog-impor-kedelai.kr