Rabu, 03 September 2014

Produk Bulog Mart Mulai Diserbu Pembeli

Selasa, 2 September 2014

SORONG - Produk Bulog yakni beras premium dan gula pasir kini dipasarkan di Kantor Bulog Sub Divre Sorong, bahan pokok dengan kualitas dijual di kantor karena belum memiliki tempat untuk Bulog Mart. Meski penjualannya masih dilakukan di kantor Bulog, tetapi peminatnya mulai membludak. Produk Bulog Mart ini mulai banyak diminati warga. Beras premium dijual dengan harga Rp 93 ribu/20 Kg dan gula yang pasir dipatok harga Rp 10.500/kg, serta beras premium merk Cenderawasih ukuran 25 kg yang dijual dengan harga Rp 232.500.

Sejak dibuka beberapa hari di depan kantor, produk Bulog tersebut diburu pembeli. Dalam sehari puluhan warga mulai berdatangan untuk berbelanja bahan pokok dengan harga bersaing dipasaran itu. Memperkenalkan adanya produk Bulog yang dijual dengan harga standar nasional melalui spanduk yang dipasang di depan kantor, penjualan pun meningkat.

Kepala Bulog Sub Divre Sorong, Firmansyah yang ditemui Radar Sorong mengatakan, produk yang rencananya akan dijual di Bulog Mart sementara dipasarkan di depan kantor karena belum aktifnya Bulog Mart. Tempat penjualan Bulog Mart sendiri masih dalam proses pengerjaan dan direncanakan dalam waktu dekat sudah dapat dioperasionalkan. “Untuk harga sudah ditentukan dari pusat yakni harga standar nasional yang disesuaikan dengan harga pasar,”katanya.

  Selain itu, harga yang ditentukan juga untuk mengimbangi kenaikan harga di pasaran yang biasanya mengalami kenaikan menjelang hari raya. Ia berharap melalui penjualan bahan pokok dapat menetralisir harga pasaran sehingga tidak ada pedagang nakal yang menaikan harga semaunya sendiri.  Beras premium dan gula pasir dengan kualitas terbaik tersebut dijual secara eceran. Warga yang mengetahui adanya produk Bulog berdatangan untuk berbelanja.

“Sementara kita jual di sini karena Bulog Mart belum selesai dikerjakan, nanti kalau sudah ada tempat kita akan jual khusus di Bulog Mart,”imbuhnya.
  Ditegaskannya, beras premium merupakan beras berkualitas yang berbeda dengan beras raskin. Sehingga harganya juga berbeda dibandingkan dengan beras raskin yang ditebus penerima. Seorang pembeli mengaku, rasa beras premium sama halnya dengan beras yang diual di pasaran dengan harga lebih mahal.(reg)

http://www.radarsorong.com/index.php?mib=berita.detail&id=26879

Bulog Usulkan Anggaran Raskin 2015 Rp 20.9 Triliun

Selasa, 2 September 2014

JAKARTA, SOROTnews.com - Komisi IV DPR RI menyoroti permasalahan pengadaan Raskin (Beras Miskin) dan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan jajaran Direksi Perum Bulog. Pembahasan mendalami Laporan Keuangan Tahun 2013 dan Rencana Anggaran Tahun 2015.

"Komisi IV mengaspresiasi Perum Bulog atas realisasi subsidi pangan tahun 2013 sebesar Rp.20.310.112.418.700,- atau mencapai 94,48%,” tegas Wakil Ketua Komisi Herman Khaeron dari Demokrat di Gedung DPR RI Jakarta, Senin (1/9/2014).

Isu utama yang menjadi sorotan adalah tentang keterjangkauan, ketersediaan beras pokok dan juga beras miskin bagi sebagian kelompok masyarakat yang tidak mampu. Dalam rapat tersebut, komisi yang bertanggung jawab pada masalah pangan ini menerima usulan anggaran Bulog tahun 2015 sebesar Rp 20.939.928.891.500,-.

Menurut Herman, untuk harga dan komponen lainnya tidak ada perubahan, harga tebus Rp.1.600,-, 15 Kilogram, dan disalurkan dalam jangka durasi 12 bulan. “Anggaran yang diusulkan Rp.20,9 triliun, dan ada salah satu komponen yang diusulkan dan berjalan seperti biasa belum tercantum yaitu Cadangan Beras Pemerintah (CBP),” ujarnya.

Masalah CBP menjadi penekanan tersendiri dalam rapat dan mendapat poris khusus dalam penganggaran Tahun 2015. CBP disiapkan untuk memberikan dukungan terhadap daerah-daerah yang mengalami krisis, bencana, operasi pasar. “CBP adalah komponen terpenting dalam stok nasional sehingga diusulkan untuk mendapatkan persetujuan pemerintah,” ungkap Herman.

Mengenai Raskin kata Herman, aman dan tidak ada masalah, namun CBP yang belum terakomodir.  Tentunya yang akan terus diperjuangkan, Bulog bukan saja menjadi badan penyedian bahan pokok beras saja tetapi bisa untuk baban-bahan lainnya. “DPR ingin Bulog  seperti fungsi bulog masa lalu yang bisa melayani sembilan bahan pokok,” pungkasnya.(SON/mnb)

http://www.sorotnews.com/berita/view/bulog-usulkan-anggaran-raskin.8519.html#.VAZy9sV_uWg

Selasa, 02 September 2014

Kemensos Jamin Kualitas Beras Raskin‏

Selasa, 2 September 2014

Jakarta, GATRAnews- Kementrian Sosial telah mendistribusikan beras untuk warga miskin (raskin) ke 18 provinsi seluruh Indonesia. Pendistribusian beras raskin melalui Tenaga Kesejaheraan Sosial Kecamatan (TKSK).

"Kita telah punya tenaga TKSK, yang kita posisikan sebagai pendistribusi beras raskin di 18 provinsi di seluruh Indonesia. Nantinya mereka akan menjadi istilahnya manajer di bidang sosial di kecamatannya masing-masing," kata Dirjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kemensos, Hartono Laras, saat pembekalan tenaga TKSK, di Jakarta (29/8).

Kemensos akan mendistribusikan raskin dengan anggaran 18,8 trilyun. Ia menjamin beras raskin yang didistribusikan berkualitas baik. "Kami menganggarkan anggaran 18,8 trilyun. Kita jamin berasnya berkualitas baik. Kalau jelek, kembalikan dan 1x24 jam akan akan kami ganti," lanjutnya.

Tenaga TKSK yang dibentuk Kemensos berjumlah 6.994 orang yang tersebar di 18 provinsi. Selain mendistribusikan raskin, mereka akan menjadi pendata dan agen dalam penanggulangan masalah sosial.

Penulis: RVN
Editor: Nur Hidayat

http://www.gatra.com/nusantara-1/nasional-1/59886-kemensos-jamin-kualitas-beras-raskin%E2%80%8F.html

Indramayu Berlimpah Beras

Selasa, 2 September 2014

REPUBLIKA.CO.ID,INDRAMAYU – Pasokan beras di daerah lumbung padi Kabupaten Indramayu, berlimpah. Karenanya, Kabupaten Indramayu tak butuh impor beras.
Kabupaten Indramayu bisa memenuhi kebutuhan berasnya sendiri. ‘’(Indramayu) tidak butuh impor beras. Bahkan beras dari luar (daerah) jangan sampai masuk ke Indramayu,’’ tutur Attar, Kepala Bulog Sub Divre Indramayu, Attar Rizal, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (2/9)
Attar menyebutkan, saat ini stok yang dimiliki Bulog Indramayu mencapai 22.415 ton.
Dengan kebutuhan penyaluran raskin yang hanya sebesar 2.610.030 kg per bulan, maka stok yang ada saat ini  cukup untuk memenuhi kebutuhan (raskin) hingga 8,5 bulan kedepan.
‘’Stok yang ada saat ini bisa cukup untuk penyaluran sampai April – Mei 2015,’’ tegas Attar.
Attar mengatakan, selain bisa memenuhi kebutuhan berasnya sendiri, pihaknya juga mampu mengirimkan beras untuk daerah lain (move reg).
Dengan demikian, stok yang kini berlimpah tidak terlalu lama tersimpan dalam gudang yang mengakibatkan penurunan kualitas.
Pihaknya akan terus mengupayakan untuk melakukan move reg ke daerah yang masih kekurangan stok beras.
Dia menilai, stok yang ideal sebaiknya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan enam bulan kedepan. Dengan demikian, beras tidak mengalami masa simpan yang terlalu lama di gudang.

http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/14/09/02/nb9khm-indramayu-berlimpah-beras

Kebijakan Beras dari Masa ke Masa

Senin,1 September 2014

Pekerjaan rumah menanti menteri pertanian baru.

Persoalan beras jelas terkait kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, terutama siapa yang memimpin Kementerian Pertanian sebagai kementerian yang berada di garda terdepan yang mengawal kebijakan perberasan.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Tim Penyusun Buku Swasembada Beras dari Masa ke Masa terbitan Institut Pertanian Bogor (IPB), muncul penilaian umum responden terhadap kinerja menteri-menteri pertanian dalam kurun waktu 10 tahun (1997-2007).

Responden yang terdiri atas Kabid Program dan Evaluasi-Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSE-KP), Kepala Pusat Distribusi Pangan-Badan Ketahanan Pangan, Kasubbid Padi Irigasi dan Rawa-Direktorat Budidaya Serealia Deptan, dan Kasubdiv Pengamatan Harga dan Pasar-Bulog, serta para ahli independen yang terkait kebijakan perberasan, memberikan penilaian bahwa Indonesia mengalami peralihan dari revolusi hijau ke sistem baru.

Namun, kebijakan pertaniannya belum menyesuaikan dengan teknologi yang ada. Akibatnya, banyak teknologi yang berkembang, tetapi tidak terfasilitasi.

Menurut responden, baik Menteri Soleh Solahuddin, Bungaran Saragih, maupun Anton Apriyantono sulit bergerak karena pemerintah masih menggunakan sistem lama.

Dengan kata lain, sehebat apa pun pengendaranya, jika kendaraan yang dikendarai sangat buruk dan usang, pengendara yang hebat itu pun akan sulit membawa laju kendaraannya.

Di samping masalah sistem, ketiga menteri pertanian ini juga dibebani kepentingan lain di luar pertanian, seperti kepentingan partai. Jika dicermati, kebijakan beras di Indonesia bisa dikatakan tidak continue sehingga bersifat jangka pendek.

Sebagai contohnya, kebijakan beras kita yang bermaksud menyelamatkan konsumen beras dengan menekan harga beras, ternyata justru merugikan petani. Bila harga gabah atau beras ditekan, harga input pertanian seyogianya disubsidi secara tepat sehingga petani tidak merugi.

Responden juga menilai kebijakan beras mengalami kemunduran, terlihat dari semakin mahalnya harga di konsumen, sedangkan harga di tingkat petani tidak naik signifikan. Jadi, yang lebih banyak menikmati keuntungan adalah pedagang.

Responden juga menyarankan perbaikan kebijakan beras nasional pada subsistem on farm sebaiknya menerapkan pertanian ekologis. Itu karena sistem pertanian ini mampu meminimalkan penggunaan input dalam bentuk pupuk dan bibit sehingga biaya produksi yang dikeluarkan petani menjadi lebih kecil. Selain itu, sistem ini ramah lingkungan sehingga baik untuk kelanjutan jangka panjang.

Responden juga merekomendasikan sistem penanaman SRI dan PHT yang telah terbukti berhasil meningkatkan produksi padi di beberapa tempat. Perlu pendekatan antropologis dalam mendekati petani. Artinya, petani dilihat secara individu, bukan digeneralisasi dengan pendekatan sosiologis yang selama ini diterapkan.

Hal lain yang disarankan untuk dilakukan adalah meningkatkan SDM petani melalui penyuluhan tepat sasaran dan tepat cara. Penyuluh tidak saja memberikan pengetahuan secara satu arah, tetapi lebih pada teman diskusi. Itu karena petani dengan mudah dapat mengakses informasi dari berbagai media.

Kebijakan Menteri Pertanian Soleh Solahuddin, menurut responden, masih dilatarbelakangi revolusi hijau. Pada masa itu banyak terjadi salah duga akan kebutuhan beras. Pemerintah saat itu cenderung memberikan reaksi pada situasi masalah, bukan akar masalah. Pada periode ini, mentan juga terlalu fokus pada peningkatan luas areal produksi yang efektivitasnya dirasa kurang.

Kebijakan benih mengutamakan peningkatan produksi dan produktivitas padi serta mengurangi susut pascapanen melalui gerakan nasional Gema Palagung.

Ada upaya peningkatan penyerapan kredit usaha tani (KUT) melalui sistem pendampingan dengan PROKSIDATANI sehingga mampu menaikkan harga gabah di tingkat petani. Namun, periode kepemimpinannya yang singkat membuat hasilnya belum terlihat.

Kebijakan Menteri Pertanian Bungaran Saragih dianggap mampu memberikan semangat. Kebijakan yang diterapkan menggunakan pendekatan makro dan sentralistis.

Kebijakan diarahkan pada pendekatan sistem agribisnis agar petani (kelompok tani) melakukan kegiatan on farm plus off farm. Ada wacana dilakukannya corporate farming system, tetapi tidak terlihat implementasinya di lapangan karena konsep agribisnisnya dianggap lebih memberdayakan pengusaha besar dan kurang menyentuh petani kecil sehingga petani kecil tidak mengalami kemajuan.

Kebijakan periode ini dinilai tidak ada peningkatan produksi dan produktivitas padi secara signifikan. Demikian juga dengan kesejahteraan petani dianggap tidak meningkat, ditandai dengan tidak meningkatnya nilai tukar petani (NTP) padi. Kebijakan periode ini juga dipandang lebih memprioritaskan impor dan promosi.

Kebijakan Menteri Pertanian Anton Apriyantono, karena wawancara responden dalam survei dilakukan sampai September 2007, pendapat responden masih terbatas kebijakan pada paruh awal periode tugasnya.

Menurut pendapat responden, kebijakan Mentan Anton Apriyantono terkendala sistem yang tidak siap. Sebagai contoh, ketika pemerintah menargetkan produksi padi sebesar 2 juta ton pada 2007, pemerintah membagikan bibit bersertifikat kepada petani. Kenyataannya, bibit tersebut terlambat sampai ke petani karena sistem pembagian yang tidak jelas.

Kebijakan periode ini diarahkan pada peningkatan pendapatan petani melalui kebijakan menaikkan harga dasar gabah. Terjadi peningkatan produksi meskipun masih relatif pelan.

Alokasi dana bagi petani baik langsung maupun tidak langsung meningkat tajam. Mentan Anton Apriyantono dianggap berhasil dalam pemberdayaan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Terdapat program pengurangan susut pascapanen dan wacana penggunaan bibit hibrida.

Di samping itu, dilakukan sertifikasi beras berlabel untuk memberikan nilai tambah bagi petani. Mengenai kebijakan proteksi impor sepertinya implementasinya tidak terlihat jelas.

Kebijakan perbaikan sarana dan prasarana pengairan tidak signifikan dan cenderung bersifat rutin saja. Perluasan areal sangat lambat dan upaya untuk mengatasi konversi lahan sawah sangat minimal. Pada sisi peningkatan SDM, terjadi peningkatan kualitas terutama penyuluh dan tenaga pascapanen meskipun target produksi belum sepenuhnya tercapai.

Lalu, bagaimana kebijakan perberasan Mentan Suswono? Andai survei ini dilanjutkan dengan memotret kebijakan Mentan Suswono, rasanya kondisinya tidak jauh berbeda dengan kebijakan Mentan Anton Apriyantono. Kesamaan home based parpol dari keduanya tak bisa dimungkiri memberikan warna senada dalam gebrakan kebijakan perberasan.

Kini, “pekerjaan rumah” menanti menteri pertanian baru di era kepemimpinan presiden baru 2014-2019 nantinya. Gebrakan kebijakan perberasan sangat dinanti, tentu dengan harapan impian kejayaan swasembada beras dapat terwujud di era ini.

Siti Nuryati
*Penulis adalah alumnus Pascasarjana Fakultas Ekologi Manusia IPB.

Sumber : Sinar Harapan
http://sinarharapan.co/news/read/140901041/rss.xml

Harga Beras Miskin Tak Naik dalam 7 Tahun, Bulog Mengeluh

Senin, 1 September 2014

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso mengeluhkan harga tebus beras miskin (raskin) yang tak kunjung mengalami kenaikan sejak tujuh tahun silam. Hal ini memicu beragam persoalan terkait distribusi raskin.

"Raskin masih sangat diperlukan, tapi yang perlu mendapat perhatian soal harga tebus. Ini terlalu jauh dibanding harga pasar karena harga raskin tidak pernah naik selama tujuh tahun," jelas dia di Gedung DPR, Jakarta, Senin (1/9/2014).

Selama ini, pemerintah mematok harga tebus raskin sebesar Rp 1.600 per kilogram (kg) untuk masyarakat kurang mampu. Sutarto menyarankan agar pemerintah menyesuaikan harga raskin.

"Harga beras raskin tentu harus harus persetujuan DPR, kami diminta itung-itung lagi. Awalnya memang 50 persen dari harga pasar tapi itu sekian tahun lalu," katanya.

Dia mengaku, harga raskin yang jauh di bawah pasar kerap membuat pemerintah daerah (pemda) malas untuk menyalurkan raskin dan memberikan pengaruh terhadap harga lain.

"Jadi harga tebusnya harus ditinjau, karena banyak Pemda yang begitu, makanya saya sering dikomplain dan pada nanya kenapa ada daerah yang tidak mau distribusikan raskin," cetusnya.

Saat ini, Sutarto bilang, pihaknya telah menghimpun stok beras di gudang lebih dari 1,8 juta ton. Dan sampai akhir tahun dipatok sebanyak 2 juta ton.

"Jadi selain harus membeli di dalam negeri, kemampuan produksi diminta untuk mengimpor 300 ribu ton. Tapi kami baru mau impor kalau memang berdasar perhitungan kurang dan harga tidak terganggu," imbuh dia. (Fik/Gdn)

Senin, 01 September 2014

Ini pembelaan Bulog soal beras berkutu

Senin, 1 September 2014

Merdeka.com - Beras berkutu kerap ditemui pada beras komersil maupun raskin. Padahal, raskin notabenenya diperuntukan bagi masyarakat menengah ke bawah. Hal ini pun menjadi salah satu perhatian pembenahan pemerintah.

Direktur Badan Urusan Logistik (Bulog) Soetarto Alimoeso mengatakan kutu yang didapati di beras merupakan infeksi lantaran terlalu lamanya beras disimpan di dalam gudang.

"Supaya bapak maklum, beras yang kita simpan itu dengan jumlah 2 juta ton nyetok akan lebih dari satu tahun," ujar Soetarto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (1/9).

Panen yang tidak merata, lanjut Soetarto, menjadi salah satu penyebab lamanya penyimpanan beras di dalam gudang yang memakan waktu sampai satu tahun lebih.

"Tersimpan lama ada yang sampai 1 tahun. Panen enggak merata. Beli sekarang disalurkan nanti," ucapnya.

Saat penyimpanan itu lah tidak menutup kemungkinan beras-beras tersebut akan terinfeksi. Namun, ditambahkan Soetarto, kutu-kutu tersebut tidak hanya ada saat beras berada di tempat penyimpanan.

"Kutu bisa terbang dari mana-mana. Bisa waktu masih di sawah, digilingan, lalu dibawa saat pengangkutan, di gudang juga bisa," jelasnya.

"Untuk itu kami sedang melakukan perawatan dengan baik terhadap beras-beras tersebut," tambahnya.

[bim]

http://www.merdeka.com/uang/ini-pembelaan-bulog-soal-beras-berkutu.html