Senin, 19 Desember 2016
JOGJA - Posisi Indonesia sebagai negeri di lintasan garis khatulistiwa yang cocok untuk pertanian ternyata tak termanfaatkan secara baik. Bahkan hingga 71 tahun Merdeka, Indonesia sebagai negeri agraris justru mengimpor pangan dari negara lain.
Menurut Presiden Patriot Pangan Ir. Bugiakso, selama ini pemerintah mengimpor pangan dengan dalih efisiensi. Padahal, katanya, impor pangan justru menciptakan ketergantungan yang berbahaya bagi kedaulatan nasional.
"Atas nama efisiensi, Indonesia kemudian terjebak, lalu hancur, dan belum sanggup lagi keluar dari jebakan perdagangan dan politik pangan dunia. Ini menjadi ironi Indonesia sebagai negeri agraris," katanya dalam acara peresmian Perkumpulan Patriot Pangan di Yogyakarta, Senin (19/12).
Bugiakso menambahkan, Indonesia seharusnya mengutamakan kedaulatan pangan. “Kedaulatan pangan itulah yang belum juga terwujud setelah 70 tahun lebih Indonesia merdeka," tegasnya.
Untuk itu Bugiakso menyinggung tengang “semangat berdaulat” yang digaungkan Panglima Besar Jenderal Soedirman. Dia menuturkan, Jenderal Sudirman saat menyampaikan lima pesan penting saat menghadapi agresi militer Belanda kedua pada 19 Desember 1948.
Pesan pertama adalah jangan pernah menyerah. Dan demi mewujudkan kedaulatan pangan nusantara, kata dia, tidak boleh ada kata menyerah.
"Kembali bertani, kembali bercocok tanam dan memanen, bukan menjadi kuli dan membeli," ujarnya.
Pesan kedua adalah merebut dan mempertahankan sumber daya yang dikuasai lawan. Lahan-lahan yang menganggur mestinya bisa dimanfaatkan.
Sedangkan sumber daya air yang kini didikuasai korporasi dan dikomersiialkan harus direbut demi kepentingan rakyat banyak. "Karena tanah dan air adalah kunci kedaulatan pangan, tanpa keduanya jangan bermimpi kita bisa mewujudkan kedaulatan pangan," ujarnya.
Pesan ketiga adalah jangan sekali-kali menunggu dan meminta bantuan asing. Pesan keempat Jenderal Sudirman adalah agar Indonesia bisa percaya pada kekuatan sendiri untuk mewujudkan agenda kedaulatan pangan.
Sedangkan pesan terakhir harus tetap disiplin. “Tanpa disiplin, bangsa ini bakal mudah terseok dan mudah terjebak pada tujuan sesaat,” ucap Bugiakso.(jpg/ara/jpnn)
http://www.jpnn.com/read/2016/12/19/488308/Ingat-Ada-Pesan-Jenderal-Sudirman-untuk-Wujudkan-Kedaulatan-Pangan-
Selasa, 20 Desember 2016
Senin, 19 Desember 2016
Kualitas Raskin di Mimika buruk, beras Merauke bisa jadi alternatif
Minggu, 18 Desember 2016
Jayapura, Jubi – Kualitas beras miskin (raskin) yang diperuntukkan kepada masyarakat di Kabupaten Mimika disinyalir kurang baik, dan itu diakui oleh Bulog setempat yang menurutnya disebabkan kendala jarak dan tansportasi.
Hal itu disampaikan oleh Legislator Papua dari daerah pemilihan III Mimika, Nabire, Paniai, Deiyai, Dogiyai dan Intan Jaya, Wilhelmus Pigai melalui sambungan telpon, Minggu (18/12/2016).
Kualitas raskin yang kurang baik tersebut pertama dikeluhkan oleh para ketua RT/RW di Kabupaten Mimika ketika melakukan pertemuan dengan anggota Komisi I DPR Papua.
"Atas dasar itu saya kemudian berkunjungan ke Gudang Bulog Mimika. Tujuannya memastikan apakah kualitas raskin itu benar-benar seperti yang dikeluhkan para ketua RT/RW di Mimika. Dan memang ketika pertemuan dengan Bulog Mimika, mereka mengakui kualitas raskin memang kurang bagus," kata Mus Pigai.
Menurut dia, alasan pihak Bulog Mimika lantaran masa angkut raskin dari Surabaya ke Mimika butuh waktu yang cukup lama. Sehingga berdampak pada kualitas beras.
"Bisa saja kondisi yang sama juga terjadi di daerah lain di Papua. Tak menutup kemungkinan bukan hanya Mimika yang kualitas raskinnya kurang baik," ucapnya.
Kata dia, pemerintah dan pihak terkait lainnya termasuk DPR Papua atau DPRD kabupaten/kota perlu duduk bersama mencari solusi agar kualitas raskin diperbaiki.
"Bagaimanapun juga, beras itu untuk dikonsumsi masyarakat kita. Kalau kualitasnya kurang bagus, tentu pihak terkait harus mencari solusi. Saya rasa beras dari Merauke kualitasnya lebih bagus. Sebaiknya itu saja yang dipasok ke wilayah lain di Papua," katanya.
Terpisah, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berdomisili di Kota Jayapura, Sefnat menyatakan tak hanya raskin, bahkan jatah beras ASN juga terkadang kualitasnya tak memuaskan.
"Kadang beras yang kami terima juga kualitasnya tak bagus. Bahkan kadang banyak hitam-hitam atau menggumpal," kata Sefnat yang merupakan ASN di salah satu Kabupaten di Papua itu.(*)
http://tabloidjubi.com/artikel-2535-kualitas-raskin-di-mimika-buruk-beras-merauke-bisa-jadi-alternatif.html
Jayapura, Jubi – Kualitas beras miskin (raskin) yang diperuntukkan kepada masyarakat di Kabupaten Mimika disinyalir kurang baik, dan itu diakui oleh Bulog setempat yang menurutnya disebabkan kendala jarak dan tansportasi.
Hal itu disampaikan oleh Legislator Papua dari daerah pemilihan III Mimika, Nabire, Paniai, Deiyai, Dogiyai dan Intan Jaya, Wilhelmus Pigai melalui sambungan telpon, Minggu (18/12/2016).
Kualitas raskin yang kurang baik tersebut pertama dikeluhkan oleh para ketua RT/RW di Kabupaten Mimika ketika melakukan pertemuan dengan anggota Komisi I DPR Papua.
"Atas dasar itu saya kemudian berkunjungan ke Gudang Bulog Mimika. Tujuannya memastikan apakah kualitas raskin itu benar-benar seperti yang dikeluhkan para ketua RT/RW di Mimika. Dan memang ketika pertemuan dengan Bulog Mimika, mereka mengakui kualitas raskin memang kurang bagus," kata Mus Pigai.
Menurut dia, alasan pihak Bulog Mimika lantaran masa angkut raskin dari Surabaya ke Mimika butuh waktu yang cukup lama. Sehingga berdampak pada kualitas beras.
"Bisa saja kondisi yang sama juga terjadi di daerah lain di Papua. Tak menutup kemungkinan bukan hanya Mimika yang kualitas raskinnya kurang baik," ucapnya.
Kata dia, pemerintah dan pihak terkait lainnya termasuk DPR Papua atau DPRD kabupaten/kota perlu duduk bersama mencari solusi agar kualitas raskin diperbaiki.
"Bagaimanapun juga, beras itu untuk dikonsumsi masyarakat kita. Kalau kualitasnya kurang bagus, tentu pihak terkait harus mencari solusi. Saya rasa beras dari Merauke kualitasnya lebih bagus. Sebaiknya itu saja yang dipasok ke wilayah lain di Papua," katanya.
Terpisah, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berdomisili di Kota Jayapura, Sefnat menyatakan tak hanya raskin, bahkan jatah beras ASN juga terkadang kualitasnya tak memuaskan.
"Kadang beras yang kami terima juga kualitasnya tak bagus. Bahkan kadang banyak hitam-hitam atau menggumpal," kata Sefnat yang merupakan ASN di salah satu Kabupaten di Papua itu.(*)
http://tabloidjubi.com/artikel-2535-kualitas-raskin-di-mimika-buruk-beras-merauke-bisa-jadi-alternatif.html
Mutu Menurun, Edang Desak Bulog Evaluasi Pendistribusian Raskin
Minggu, 18 Desember 2016
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Anggota Komisi VI DPR RI, Endang Srikarti Handayani mendesak agar Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) melakukan evaluasi dalam Pendistribusian raskin atau rastra. Pasalnya setelah reses, Endang mendapati keluhan dari masyarakat, raskin yang didistribusikan berkualitas buruk. Bahkan penerima raskin enggan untuk mengkonsumsi raskin dari Bulog.
"Saya minta manajemen Bulog wajib dievaluasi. Karena Bulog-Bulog di daerah kinerjanya kurang bisa dipercaya. Dapat dilihat dari kualitas berasnya tidak bagus, mutunya menurun," papar Endang sebelum pembukaan masa sidang, di ruang Paripurna DPR, Nusantara II, Rabu (16/11).
Dia meminta, Dirut Bulog beserta jajarannya melakukan evaluasi internal. Jangan hanya berpedoman dari laporan normatif saja, diperlukan pemantauan langsung agar dapat mengatasi masalah yang masih kerap terjadi. "Perlunya Dirut dan jajaranya melakukan evaluasi ke bawah. Jangan hanya percaya dengan laporan-laporan," tandasnya.
Selama masa reses, Anggota Dewan dari Dapil Jawa Tengah V ini telah menyerap aspirasi masyarakat, dan ternyata raskin yang diperuntukkan bagi rumah tangga golongan tidak mampu berkualitas buruk.
"Kulitas beras yang buruk ditemukan di dapil saya. Pada saat reses kita kumpulkan masyarakat khususnya penerima raskin itu, dan lurahnya kita kumpulkan semuanya. sejauh mana implementasi raskin," jelas Endang.
Dia juga menjabarkan, muara permasalahan pendistribusian beras berkualitas buruk ada di dalam Bulog, bukan produksi beras di petani. Sesuai dengan hasil sidak yang dilakukan Endang, rusaknya beras karena penyimpanan yang tidak bagus. Selain itu menurut dia ada praktik-partik kecurangan antara Bulog dan tengkulak beras, dua pihak ini dianggap mengoplos beras bagus dengan beras buruk.
Terlebih lagi, dia mengatakan Bulog sulit diajak berkomunikasi untuk mendiskusikan solusi pemecahan masalah. "Bulog diajak komunikasi susah. Perbaikan ini butuh komunikasi," ujar Endang. (ris/dbs)
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Anggota Komisi VI DPR RI, Endang Srikarti Handayani mendesak agar Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) melakukan evaluasi dalam Pendistribusian raskin atau rastra. Pasalnya setelah reses, Endang mendapati keluhan dari masyarakat, raskin yang didistribusikan berkualitas buruk. Bahkan penerima raskin enggan untuk mengkonsumsi raskin dari Bulog.
"Saya minta manajemen Bulog wajib dievaluasi. Karena Bulog-Bulog di daerah kinerjanya kurang bisa dipercaya. Dapat dilihat dari kualitas berasnya tidak bagus, mutunya menurun," papar Endang sebelum pembukaan masa sidang, di ruang Paripurna DPR, Nusantara II, Rabu (16/11).
Dia meminta, Dirut Bulog beserta jajarannya melakukan evaluasi internal. Jangan hanya berpedoman dari laporan normatif saja, diperlukan pemantauan langsung agar dapat mengatasi masalah yang masih kerap terjadi. "Perlunya Dirut dan jajaranya melakukan evaluasi ke bawah. Jangan hanya percaya dengan laporan-laporan," tandasnya.
Selama masa reses, Anggota Dewan dari Dapil Jawa Tengah V ini telah menyerap aspirasi masyarakat, dan ternyata raskin yang diperuntukkan bagi rumah tangga golongan tidak mampu berkualitas buruk.
"Kulitas beras yang buruk ditemukan di dapil saya. Pada saat reses kita kumpulkan masyarakat khususnya penerima raskin itu, dan lurahnya kita kumpulkan semuanya. sejauh mana implementasi raskin," jelas Endang.
Dia juga menjabarkan, muara permasalahan pendistribusian beras berkualitas buruk ada di dalam Bulog, bukan produksi beras di petani. Sesuai dengan hasil sidak yang dilakukan Endang, rusaknya beras karena penyimpanan yang tidak bagus. Selain itu menurut dia ada praktik-partik kecurangan antara Bulog dan tengkulak beras, dua pihak ini dianggap mengoplos beras bagus dengan beras buruk.
Terlebih lagi, dia mengatakan Bulog sulit diajak berkomunikasi untuk mendiskusikan solusi pemecahan masalah. "Bulog diajak komunikasi susah. Perbaikan ini butuh komunikasi," ujar Endang. (ris/dbs)
Bulog Adakan Operasi Pasar Cabai
Minggu, 18 Desember 2016
SEMARANG (KRjogja.com) - Perum Bulog Divisi Regional Jawa Tengah melakukan operasi pasar untuk mengendalikan harga, khususnya komoditas cabai.
Operasi pasar cabai yang dilaksanakan di Pasar Waru Semarang tersebut seiring dengan masukan dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jateng karena sejauh ini komoditas tersebut memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap inflasi di Jawa Tengah.
"Kontribusi komoditas cabai terhadap laju inflasi Jawa Tengah cukup tinggi," kata Wakil Kepala Bulog Divre Jateng Ramlan UE di sela kegiatan operasi pasar di Semarang, Minggu (18/12/2016).
Karena itu, lanjut dia, sesuai dengan fungsinya Bulog ikut berperan untuk menstabilkan harga cabai melalui kegiatan operasi pasar. Operasi pasar untuk cabai ini pertama kali dilakukan oleh Bulog.
Sebelumnya, Bulog telah aktif melakukan operasi pasar untuk komoditas pokok lain, di antaranya bawang merah dan gula pasir. Pada pelaksanaan yang pertama tersebut, Bulog bekerja sama dengan Dinas Pertanian terkait dengan pengadaan barangnya. Beberapa jenis cabai yang dijual pada operasi pasar tersebut, di antaranya cabai rawit merah, rawit hijau, dan keriting merah.
Cabai rawit hijau dijual dengan harga Rp42 ribu per kilogram dari harga pasaran saat ini yang berada di kisaran Rp45 ribu s.d. Rp60 ribu/kg. Cabai rawit merah dijual Rp52 ribu/kg dari harga pasaran Rp60 ribu s.d. Rp65 ribu/kg, dan cabai keriting merah dijual Rp43 ribu/kg dari harga pasar saat ini, yaitu Rp50 ribu s.d. Rp58 ribu/kg. (*)
SEMARANG (KRjogja.com) - Perum Bulog Divisi Regional Jawa Tengah melakukan operasi pasar untuk mengendalikan harga, khususnya komoditas cabai.
Operasi pasar cabai yang dilaksanakan di Pasar Waru Semarang tersebut seiring dengan masukan dari Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jateng karena sejauh ini komoditas tersebut memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap inflasi di Jawa Tengah.
"Kontribusi komoditas cabai terhadap laju inflasi Jawa Tengah cukup tinggi," kata Wakil Kepala Bulog Divre Jateng Ramlan UE di sela kegiatan operasi pasar di Semarang, Minggu (18/12/2016).
Karena itu, lanjut dia, sesuai dengan fungsinya Bulog ikut berperan untuk menstabilkan harga cabai melalui kegiatan operasi pasar. Operasi pasar untuk cabai ini pertama kali dilakukan oleh Bulog.
Sebelumnya, Bulog telah aktif melakukan operasi pasar untuk komoditas pokok lain, di antaranya bawang merah dan gula pasir. Pada pelaksanaan yang pertama tersebut, Bulog bekerja sama dengan Dinas Pertanian terkait dengan pengadaan barangnya. Beberapa jenis cabai yang dijual pada operasi pasar tersebut, di antaranya cabai rawit merah, rawit hijau, dan keriting merah.
Cabai rawit hijau dijual dengan harga Rp42 ribu per kilogram dari harga pasaran saat ini yang berada di kisaran Rp45 ribu s.d. Rp60 ribu/kg. Cabai rawit merah dijual Rp52 ribu/kg dari harga pasaran Rp60 ribu s.d. Rp65 ribu/kg, dan cabai keriting merah dijual Rp43 ribu/kg dari harga pasar saat ini, yaitu Rp50 ribu s.d. Rp58 ribu/kg. (*)
Jumat, 16 Desember 2016
Suplai Beras Petani Gresik untuk Bulog Melebihi Target
Kamis, 15 Desember 2016
TIMESINDONESIA, GRESIK – Pengadaan beras bulog tahun 2016 oleh Petani Gresik Jawa Timur sudah melampaui target. Dari target yang ditetapkan Bulog sebesar 40 ribu ton. Sampai akhir masa Perjanjian yaitu pada Desember 2016 terealisasi sebesar 61,4 ribu ton atau 153% dari target.
Demikian pernyataan Asisten II Bupati Gresik, Achmad Nuruddin saat membacakan pidato tertulis Sekda Gresik pada Rapat Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Gresik 2016 di Ruang Rapat Graita Eka Praja, Kamis (15/12/2016).
“Kalau saat ini hanya petani di wilayah Gresik Selatan, kami berharap tahun selanjutnya pihak Bulog divre Surabaya Utara juga menunjuk mitra perusahaan lain untuk membeli beras petani di wilayah Gresik Utara” ujar Nuruddin.
Rapat Dewan Ketahanan Pangan kali ini dihadiri anggota Dewan Ketahanan Pangan, Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA, pihak Bulog serta salah satu mitra kerja Bulog dalam pengadaan beras di wilayah Gresik Selatan.
Pada kesempatan itu, Dewan Ketahanan Pangan Gresik memfasilitasi perjanjian kerjasama untuk pengadaan beras Bulog Tahun 2017.
Penandatanganan perjanjian kerjasama tersebut dilakukan oleh Ketua KTNA Gresik mewakili beberapa Gapoktan di Gresik. "Perjanjian ini untuk menjamin agar beras produksi petani Gresik bisa di beli sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Bulog”, ujar Sekretaris DKP, Wasti Andari.
Masih menurut Wasti Andari, HPP yang ditetapkan tahun 2016 sebesar Rp 3.700,-/kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP) dan Rp 4.300,- /kg untuk Gabah Kering Giling (GKG).
Wasti Andari mengaku pihaknya terus berusaha untuk menjajaki potensi dan memotivasi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dari Wilayah Gresik Utara untuk bisa melaksanakan hal tersebut, sehingga ada kepastian harga beras yang dibeli Bulog kepada petani. (*)
http://jatim.timesindonesia.co.id/read/9599/20161215/152252/suplai-beras-petani-gresik-untuk-bulog-melebihi-target/
TIMESINDONESIA, GRESIK – Pengadaan beras bulog tahun 2016 oleh Petani Gresik Jawa Timur sudah melampaui target. Dari target yang ditetapkan Bulog sebesar 40 ribu ton. Sampai akhir masa Perjanjian yaitu pada Desember 2016 terealisasi sebesar 61,4 ribu ton atau 153% dari target.
Demikian pernyataan Asisten II Bupati Gresik, Achmad Nuruddin saat membacakan pidato tertulis Sekda Gresik pada Rapat Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Gresik 2016 di Ruang Rapat Graita Eka Praja, Kamis (15/12/2016).
“Kalau saat ini hanya petani di wilayah Gresik Selatan, kami berharap tahun selanjutnya pihak Bulog divre Surabaya Utara juga menunjuk mitra perusahaan lain untuk membeli beras petani di wilayah Gresik Utara” ujar Nuruddin.
Rapat Dewan Ketahanan Pangan kali ini dihadiri anggota Dewan Ketahanan Pangan, Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA, pihak Bulog serta salah satu mitra kerja Bulog dalam pengadaan beras di wilayah Gresik Selatan.
Pada kesempatan itu, Dewan Ketahanan Pangan Gresik memfasilitasi perjanjian kerjasama untuk pengadaan beras Bulog Tahun 2017.
Penandatanganan perjanjian kerjasama tersebut dilakukan oleh Ketua KTNA Gresik mewakili beberapa Gapoktan di Gresik. "Perjanjian ini untuk menjamin agar beras produksi petani Gresik bisa di beli sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Bulog”, ujar Sekretaris DKP, Wasti Andari.
Masih menurut Wasti Andari, HPP yang ditetapkan tahun 2016 sebesar Rp 3.700,-/kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP) dan Rp 4.300,- /kg untuk Gabah Kering Giling (GKG).
Wasti Andari mengaku pihaknya terus berusaha untuk menjajaki potensi dan memotivasi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dari Wilayah Gresik Utara untuk bisa melaksanakan hal tersebut, sehingga ada kepastian harga beras yang dibeli Bulog kepada petani. (*)
http://jatim.timesindonesia.co.id/read/9599/20161215/152252/suplai-beras-petani-gresik-untuk-bulog-melebihi-target/
Stok Beras Aman, Mendag: Dirut Bulog Bisa Tidur Nyenyak
Kamis, 15 Desember 2016
JAKARTA - Guna mengecek dan memastikan stok beras aman pada Natal 2016 dan Tahun Baru 2017, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melakukan inspeksi dadakan (sidak) ke Pasar Induk Beras Cipinang. Sidak ini menjadi salah satu rangkaian perjalanan sidak Mendag hari ini.
Enggartiasto menurutkan, harga beras sampai saat ini berangsur normal. Berdasarkan catatan Bulog, stok beras saat ini sebanyak 1,5 juta ton atau mampu mencukupi kebutuhan hingga 6 bulan ke depan.
"Harga normal dan ketersediaan aman. Pak Dirut kalau begini bisa tidur nyeyak sampai Mei nanti," ujar Enggartiasto di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Kamis (15/12/2016). Sedangkan dari pedagang beras di Cipinang, mantan Ketua Real Estat Indonesia (REI) ini mengatakan, sampai dengan Maret hingga Februari 2017 stok beras aman. "Perputaran besar per hari 25-30 ribu ton.
Mereka menguasai jaringan pasar pemasoknya dan ini aman. Dirut Bulog beras (mengatakan) aman hingga Mei," tuturnya. Adapun harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang bervariasi bergantung kualitas. Namun untuk rata-rata harganya sekira Rp7.700 untuk beras biasa dan Rp11.700 untuk beras berkualitas baik.
http://economy.okezone.com/read/2016/12/15/320/1567219/stok-beras-aman-mendag-dirut-bulog-bisa-tidur-nyenyak
JAKARTA - Guna mengecek dan memastikan stok beras aman pada Natal 2016 dan Tahun Baru 2017, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melakukan inspeksi dadakan (sidak) ke Pasar Induk Beras Cipinang. Sidak ini menjadi salah satu rangkaian perjalanan sidak Mendag hari ini.
Enggartiasto menurutkan, harga beras sampai saat ini berangsur normal. Berdasarkan catatan Bulog, stok beras saat ini sebanyak 1,5 juta ton atau mampu mencukupi kebutuhan hingga 6 bulan ke depan.
"Harga normal dan ketersediaan aman. Pak Dirut kalau begini bisa tidur nyeyak sampai Mei nanti," ujar Enggartiasto di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta, Kamis (15/12/2016). Sedangkan dari pedagang beras di Cipinang, mantan Ketua Real Estat Indonesia (REI) ini mengatakan, sampai dengan Maret hingga Februari 2017 stok beras aman. "Perputaran besar per hari 25-30 ribu ton.
Mereka menguasai jaringan pasar pemasoknya dan ini aman. Dirut Bulog beras (mengatakan) aman hingga Mei," tuturnya. Adapun harga beras di Pasar Induk Beras Cipinang bervariasi bergantung kualitas. Namun untuk rata-rata harganya sekira Rp7.700 untuk beras biasa dan Rp11.700 untuk beras berkualitas baik.
http://economy.okezone.com/read/2016/12/15/320/1567219/stok-beras-aman-mendag-dirut-bulog-bisa-tidur-nyenyak
Jumat, 09 Desember 2016
Temuan Raskin Bercampur Batu, Bulog Tolitoli Tampik Tudingan
Kamis, 8 Desember 2016
Tolitoli, Metrosulawesi.com - Perum Bulog Sub Drive Kabupaten Tolitoli, terus melakukan penyaluran baras untuk masyarakat miskin (Raskin) sampai akhir tahun 2016.
Ironisnya, dari hasil pendistribusian beras raskin oleh pihak Kelurahan Baru, yang dibagikan kepada warga penerima belum lama ini, ternyata ada ditemukan dalam kantong beras raskin berlogo Beras Bulog isi 15 Kg sebagian beras sudah tercampur dengan batu.
Seorang ibu rumah tanggah di Lingkungan Satu, Kelurahan Baru, Kecamatan Baolan, Rabu 6 Desember 2016, yang minta namanya untuk tidak dikorankan mengaku, bahwa dirinyĆ telah menerima jatah beras Raskin 15 Kg dari Ketua Lingkungannya pada November lalu.
Dikatakannya, awalnya senang telah menerima beras Raskin dengan membeli yang harganya jauh lebih murah, dibanding beras yang dijual dipasar. Namun setelah karung beras bermerek Beras Bulog itu di buka dan beras tersebut ditapis. Ternyata beras tersebut sebagiannya bercampur dengan batu-batu kecil sehingga penerima raskin tersebut kecewa.
Kepala Lingkungan Satu, Kelurahan Baru Sumardi ditemui di rumahnya mengaku, telah menyalurkan beras Raskin tersebut kepada 216 KK warganya yang layak mandapat jatah beras Raskin. Dia juga mengaku, kerap didatangi warga yang menanyakan mengapa beras tersebut banyak yang patah. Mengetahui hal itu akhirnya beras tersebut di ganti dengan beras bulog lainnya.
"Saya kaget setelah melihat beras Raskin yang sudah dibagikan kepada warganya ternyata ada ditemukan batu bercampur dengan beras," kata Sumardi.
Sejak dirinya menyalurkan beras Raskin kepada warga pada awal Januari-Oktober 2016, beras yang dari Bulog semuanya tidak bermasalah. Namun nanti di bulan November 2016 baru terjadi beras Raskin tercampur dengan batu.
"Saya harap agar Bulog tidak menyalurkan beras yang kurang baik mutunya," katanya.
Namun pihak Bulog yang ditemui, menampik tudingan warga dihadapan Ketua Lingkungan Kelurahan Baru sembari diperlihatkan, bukti sebagian beras Raskin yang masih berada dalam karung Bulog.
Ditemui diruangannya Satker Petugas Penyalur Beras Raskin Perum Bulog Sub Drive Tolitoli Roberd membantah jika telah menyalurkan beras Raskin bercampur dengan batu.
Dikatakan waktu itu pihaknya mendistribusikan beras Raskin hanya sampai di tingkat kelurahan dan tidak sampai ke Ketua Lingkungan.
Menurutnya waktu menyalurkan beras Raskin di Kelurahan Baru, telah di saksikan oleh Lurah dan Bamkamdes, dan tidak ada yang mempersoalkannya, terlebih lagi sudah dibuatkan berita acara penyaluran.
"Yang membagikan beras Raskin kepada Kepala Lingkungan adalah orang di Kelurahan, dan seterusnya disalurkan kepada peserta penerima Raskin, saya menduga pada waktu beras angkat dan di masukan kedalam mesin penggiling ada kemungkinan tercapur dengan batu," katanya.
Dia berharap jika dalam penyaluran beras Raskin ditemukan beras yang tidak layak digunakan agar segera melaporkan ke pihaknya.
http://www.metrosulawesi.com/article/temuan-raskin-bercampur-batu-bulog-tolitoli-tampik-tudingan
Tolitoli, Metrosulawesi.com - Perum Bulog Sub Drive Kabupaten Tolitoli, terus melakukan penyaluran baras untuk masyarakat miskin (Raskin) sampai akhir tahun 2016.
Ironisnya, dari hasil pendistribusian beras raskin oleh pihak Kelurahan Baru, yang dibagikan kepada warga penerima belum lama ini, ternyata ada ditemukan dalam kantong beras raskin berlogo Beras Bulog isi 15 Kg sebagian beras sudah tercampur dengan batu.
Seorang ibu rumah tanggah di Lingkungan Satu, Kelurahan Baru, Kecamatan Baolan, Rabu 6 Desember 2016, yang minta namanya untuk tidak dikorankan mengaku, bahwa dirinyĆ telah menerima jatah beras Raskin 15 Kg dari Ketua Lingkungannya pada November lalu.
Dikatakannya, awalnya senang telah menerima beras Raskin dengan membeli yang harganya jauh lebih murah, dibanding beras yang dijual dipasar. Namun setelah karung beras bermerek Beras Bulog itu di buka dan beras tersebut ditapis. Ternyata beras tersebut sebagiannya bercampur dengan batu-batu kecil sehingga penerima raskin tersebut kecewa.
Kepala Lingkungan Satu, Kelurahan Baru Sumardi ditemui di rumahnya mengaku, telah menyalurkan beras Raskin tersebut kepada 216 KK warganya yang layak mandapat jatah beras Raskin. Dia juga mengaku, kerap didatangi warga yang menanyakan mengapa beras tersebut banyak yang patah. Mengetahui hal itu akhirnya beras tersebut di ganti dengan beras bulog lainnya.
"Saya kaget setelah melihat beras Raskin yang sudah dibagikan kepada warganya ternyata ada ditemukan batu bercampur dengan beras," kata Sumardi.
Sejak dirinya menyalurkan beras Raskin kepada warga pada awal Januari-Oktober 2016, beras yang dari Bulog semuanya tidak bermasalah. Namun nanti di bulan November 2016 baru terjadi beras Raskin tercampur dengan batu.
"Saya harap agar Bulog tidak menyalurkan beras yang kurang baik mutunya," katanya.
Namun pihak Bulog yang ditemui, menampik tudingan warga dihadapan Ketua Lingkungan Kelurahan Baru sembari diperlihatkan, bukti sebagian beras Raskin yang masih berada dalam karung Bulog.
Ditemui diruangannya Satker Petugas Penyalur Beras Raskin Perum Bulog Sub Drive Tolitoli Roberd membantah jika telah menyalurkan beras Raskin bercampur dengan batu.
Dikatakan waktu itu pihaknya mendistribusikan beras Raskin hanya sampai di tingkat kelurahan dan tidak sampai ke Ketua Lingkungan.
Menurutnya waktu menyalurkan beras Raskin di Kelurahan Baru, telah di saksikan oleh Lurah dan Bamkamdes, dan tidak ada yang mempersoalkannya, terlebih lagi sudah dibuatkan berita acara penyaluran.
"Yang membagikan beras Raskin kepada Kepala Lingkungan adalah orang di Kelurahan, dan seterusnya disalurkan kepada peserta penerima Raskin, saya menduga pada waktu beras angkat dan di masukan kedalam mesin penggiling ada kemungkinan tercapur dengan batu," katanya.
Dia berharap jika dalam penyaluran beras Raskin ditemukan beras yang tidak layak digunakan agar segera melaporkan ke pihaknya.
http://www.metrosulawesi.com/article/temuan-raskin-bercampur-batu-bulog-tolitoli-tampik-tudingan
Langganan:
Postingan (Atom)