Senin, 07 November 2016

Bulog Harus bertanggungjawab pembagian raskin berkutu

Minggu, 6 November 2016

 "Bulog harus bertanggungjawab. Itu (Beras) harus diganti. Kalau tidak diganti, ganti kepala Bulog..."

Polewali Mandar, Sulbar (ANTARA Sulbar) - Anggota DPD/MPR RI asal Sulawesi Barat, Muhammad Asri Anas meminta agar Perum Bulog bertanggungjawab penuh atas pembagian beras miskin atau Raskin berkutu di Kelurahan Lantora, Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar.

"Bulog harus bertanggungjawab. Itu (Beras) harus diganti. Kalau tidak diganti, ganti kepala Bulog. Ini pekerjaan yang tidak beres. Saya akan menyampaikan hal ini kepada kepala Bulog pusat," kata Muhammad Asri Anas saat melaksanakan masa reses di Sulbar, Mamuju, Sabtu.

Senator muda dua periode itu geram mendengarkan informasi pembagian raskin berkutu yang diterima warga Polewali Mandar.

Karena itu kata dia, jajaran Bulog harus mempertanggungjawabkan atas adanya pembagian raskin yang tak berkualitas itu.

Sebelumnya, Warga Kelurahan Lantora, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), mengaku resah dengan pembagian beras miskin (Raskin) dari pemerintah yang berbau tak sedap dan berkutu.

Salah satu keluhan disampaikan oleh seorang Ibu rumah tangga penerima Raskin, Darmawati. Dirinya mengaku, beras pembagian yang diterimanya berbau dan berkutu. Bahkan, kondisi ini telah berlangsung cukup lama.

"Kami pasrah saja menerimanya untuk meringankan beban ekonomi kami. Beras berkutu dan berbau ini terpaksa kami campur beras baru," kata Darmawati.

Darmawati juga mengaku, meskipun sudah berlangsung cukup lama dengan kondisi raskin yang berbau dan berkutu, namun dirinya tak berani melaporkan hal itu kepada penegak hukum.

"Ini sudah lama, pak. Kami tidak mau menyampaikan laporan ini, karena kami takut. Kita hanya menerima apa yang sudah diberikan," ucapnya.

Beberapa warga di desa itu juga mengaku menerima Raskin yang sama, berbau dan berkutu. Mereka berharap, agar hal ini diketahui pemerintah kabupaten dan pihak Bulog.

"Itu benar pak, kami sudah lama menerima beras miskin seperti itu. Kita berharap agar ini diperhatikan oleh pemerintah dan Bulog," ujar Ridwan, warga setempat.


Jumat, 04 November 2016

Produksi Petani Berlimpah Tapi Sikap Bulog Bikin Mereka Menangis

Kamis, 3 November 2016

Produksi Petani Berlimpah Tapi Sikap Bulog Bikin Mereka MenangisBisnis Syariah – Meski hasil tanam padi di daerah Subang cukup menggembirakan, bukan berarti kesejahteraan petani dapat meningkat. Pasalnya, harga gabah yang dibeli Bulog masih terlalu rendah, bahkan petugas Bulog cenderung cuek melayani petani.

“Bulog tidak membeli gabah sesuai dengan harga ekonomis, sehingga petani menangis. Gabah ketan yang biasa Rp 10 ribu per kg, jatuh menjadi Rp 3 ribu per kg. Ini harus menjadi perhatian dari Bulog,” kata anggota DPR dari daerah pemilihan Subang, TB Hasanuddin berkunjung ke Subang, Jawa Barat, dalam masa reses, Selasa (1/11).

Menurut TB Hasanuddin, keresahan para petani terhadap minimnya infrastruktur pertanian, bibit, dan pupuk sudah diselesaikan secara baik oleh Dinas Pertanian. Bahkan, Menteri Pertanian pun sering turun langsung ke lapangan. Buktinya, hasil panen padi di tiga Kecamatan yang dikunjungi TB Hasanuddin cukup memuaskan.

“Hasil laporan panen padi petani di tiga kecamatan, yakni di Purwodadi, Dawuan, dan Ciasem cukup menggembirakan. Petugas pertanian sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Para petani sudah mendapatkan sarana produksi yang cukup. Gabah termasuk gabah ketan sekarang berlimpah. Mereka  menyampaikan apresiasi pada Dinas Pertanian,” tutur TB Hasanuddin.

Namun, keberhasilan petani dalam memanen hasil tanam padinya dengan bantuan alat produksi, bibit, dan pupuk dari Dinas Pertanian yang mumpuni belumlah cukup untuk mensejahterakan petani tanpa diimbangi oleh harga pembelian gabah yang wajar dari Bulog.

“Bila Bulog tak membantu, maka swasembada pangan ditingkat nasional akan sia-sia,” tegas politisi PDI Perjuangan ini. [ysa]


http://www.bisnissyariah.co.id/2016/11/produksi-petani-berlimpah-sikap-bulog-bikin-menangis/

Kamis, 03 November 2016

Warga Gowa Tolak 12 Truk Beras Rusak, Bulog : Kami Akan Ganti

Rabu, 02 November 2016
   
MAKASSAR,INIKATA.com – Sebanyak 12 Truk jenis Dyna yang mengangkut beras dari Badan Usaha Logistic (Bulog) ditolak warga Kabupaten Gowa dari dua Kecamatan, Pallangga dan Patallassang. Akibatnya saat disalurkan beras tersebut rusak.

Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan Yasin Limpo yang dihubungi Inikata.com, membenarkan kejadian tersebut. Dia mengaku sejak kemarin, Selasa (1/11/2016), memerintahkan Camat setempat untuk melakukan peninjauan terhadap beras yang dianggap rusak itu.

Setelah ditinjau, beras yang disalurkan di dua Kecamatan tersebut memang dalam kondisi rusak, sehingga Adnan mengaku memerintahkan yang berwewenang untuk mengembalikan beras itu ke Bulog. ” Saya sudah perintahkan Camat, saya perintahkan untuk ditolak karena besar itu rusak,” kata Adnan Via WhatssApp Messenger, Rabu (2/11/2016).

Sementara, Kepala Divisi Regional Bulog Sulselbar, Andi Muis Ali membenarkan hal itu. Namun, dia mengaku akan segera mengganti beras yang dianggap rusak dalam waktu 1×24 Jam.

“SOPnya kalau ada beras yang rusak itu harus diganti dalam waktu 1×24 jam, dan kami lakukan itu, kami akan segera ganti beras dari Gowa,”jelasnya saat dihubungi via telfon seluler.

Selain itu, Muis menjelaskan, rusaknya beras yang disalurkan ke masyarakat lantaran Bulog hanya membeli beras dari petani dan disimpan dalam jangka waktu yang panjang. ” Kita simpan 2,3,4 sampai 5 bulan di gudang, jadi memang rentan kerusakan,”bebernya.

Ini Kata Bulog Tak Turun Tangan Redam Harga Cabai di Riau

Rabu, 02 November 2016

BERTUAHPOS.COM (BPC), PEKANBARU- Harga cabai merah di Riau khususnya Kota Pekanbaru melonjak tajam sejak Oktober lalu. Dari semula harga normal Rp 35 ribu per kilogram, kini cabai merah asal Sumatera Barat (Sumbar) dijual Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu per kilogram.

Kendati kenaikan cabai merah di atas 50 persen, Badan Urusan Logistik (Bulog) masih belum turun tangan intervensi pasar. Padahal ketika harga bawang merah, daging sapi, dan gula pasir melonjak perusahaan plat merah ini langsung gelar operasi pasar (OP).

Kepala Bagian (Kabag) Humas Bulog divre Riau dan Kepri, Hendra Gunafi kepada kru bertuahpos.com membenarkan pihaknya belum intervensi pasar. “Sampai saat ini sifatnya kita memantau. Ada tim analisa harga yang selalu berikan laporan,” katanya di ruang kerja, Rabu (02/11/2016).

Ketika ditanya mengapa Bulog belum ikut campur, Hendra menjelaskan bahwa sebagai BUMN, pihaknya mesti ada intruksi dari pusat. “Kita menunggu dari pusat, sistemnya sentralisasi. Semua kebijakan termasuk intervensi pasar semuanya dari pusat. Kita tidak bisa tanpa ada intruksi dari pusat,” jelasnya.

Hendra hampaikan saat ini pihaknya belum bisa berbuat banyak. “Meski begitu laporan harga selalu kita sampaikan ke pusat. Mudah-mudahan diputuskan dan ada solusi. Apalagi kita tergabung dalam tim TPIS,” katanya.

Seperti yang diketahui, harga cabai merah di Pekanbaru melonjak tajam. Bahkan sudah menyentuh Rp 90 ribu per kilogram. Penyebabnya hasil panen yang berkurang, tidak sesuai harapan. Dikarenakan cuaca buruk yang menganggu produksi tanaman holtikultura ini. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Riau disebut dalam waktu dekat menggelar rapat bersama dengan Disperindag seluruh kabupaten dan kota. Membahas fenomena harga cabai merah yang meroket dan mencari solusinya.

Mafia Lebih Tahu Jumlah Stok Beras Daripada Bulog

Rabu 02 November 2016

Jakarta - Isu keberadaan mafia pangan selalu jadi polemik dalam beberapa bulan terakhir. Keberadaan mereka kerap dituding jadi penyebab melambungnya harga pangan di dalam negeri, seperti komoditas beras.

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mengungkapkan munculnya mafia pangan di Indonesia tak lepas dari kontrol pemerintah yang lemah atas pasokan pangan pokok, khususnya beras.

"Kalau mafia di level global, mereka ini cenderung spekulan, mereka nggak pegang barangnya, seperti spekulan finansial. Di Indonesia ini, mafianya pegang barang. Mafia itu istilah sesungguhnya dari praktik kartel," jelasnya dalam diskusi 'Menguak Mafia Beras' di H Tower, Kuningan, Jakarta, Rabu (2/11/2016).

Di Indonesia, kata dia, posisi pelaku kartel yang mengendalikan pasokan inilah yang membuat harga akhirnya dikendalikan oleh pasar. Contohnya pasokan beras yang dikendalikan pedagang.

"Lihat harga beras di tahun 2014 melonjak tinggi. Bulan Mei harganya nggak terkendali sampai 2015. Kemudian saat Pak JK bilang mau impor beras, harganya turun. Setelahnya Pak Jokowi bilang tidak ada impor, beras harganya naik lagi," ujar Andreas.

Menurutnya, kondisi fluktuatifnya harga beras tersebut tak ditemukan saat rezim Orde Baru berkuasa dimana Bulog memegang lebih dari separuh cadangan beras nasional.

"Kenapa pedagang naik turunkan harga saat ada kebijakan impor, karena mereka tahu pasokan sebenarnya berapa di lapangan. Karena Bulog hanya kendalikan 7% beras, bandingkan dengan zaman Soeharto di mana Bulog pegang 60% beras nasional," ucap Andreas. (dna/dna)

Rabu, 02 November 2016

Bulog di Daerah Didesak Miliki Penggilingan Sendiri

RABU, 2 NOVEMBER 2016

REPUBLIKA.CO.ID, PALANGKA RAYA -- Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono berkomitmen akan mengusulkan agar harga beli gabah di tingkat petani dapat dinaikkan. Hal itu diucapkannya saat kunjungan kerja ke Bukog Kamimantan Tengah.

Dia juga mendesak Bulog  untuk menyediakan penggilingan dari gabah ke beras berada di Kalimantan Tengah. Desakan tersebut agar Bulog Kalteng tidak perlu lagi menggiling ke Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan.

"Ke depan, setiap Sub Divre sudah ada penggilingan. Apalagi pemerintah daerah mendukung rencana tersebut dengan menyediakan lahan sebagai gudang maupun tempat mesin penggilingan tersebut," katanya saat berkunjung ke gudang Bulog Kalteng di Palangka Raya, Selasa (1/11).

Dia memuji kualitas beras yang tersimpan di Bulog Provinsi Kalimantan Tengah. Dia menilai beras yang tersimpan tidak berkutu dan tingkat kebersihannya mencapai 85 persen.  Menurut dia, beras di Kalteng ini kualitasnya lebih bagus dibandingkan beras di Jatim.

"Biasanya kutu-kutu beras berkeliaran pada sore hari namun di sini tidak ada dan ini membuktikan kualitasnya sangat baik," kata Bambang.

Anggota DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) I Jatim ini menyebut kedatanganya ke gudang Bulog Kalteng karena berkeinginan mengetahui secara pasti ketersediaan pangan, khususnya beras maupun gula, yang akan disebarkan ke masyarakat. Dia mengatakan, Bulog memiliki peran sebagai stabilitator pangan di Kalteng masih beras dan gula. Dari informasi yang disampaikan pihak Bulog Kalteng, ketersedian beras dan gula di provinsi ini masih aman.

"Saya sudah cek, ternyata ketersediaan beras di gudang milik Bulog Kalteng sekarang ini mencapai 9.500 ton, bisa mencapai sekitar delapan bulan. Jadi, memang selain stok aman, kualitasnya juga sangat bagus," kata dia,


http://www.republika.co.id/berita/dpr-ri/berita-dpr-ri/16/11/02/ofzqjl368-bulog-di-daerah-didesak-miliki-penggilingan-sendiri




TB Hasanuddin: Sikap Bulog Bikin Petani Menangis

RABU, 2 NOVEMBER 2016

RMOL. Meski hasil tanam padi di daerah Subang cukup menggembirakan, bukan berarti kesejahteraan petani dapat meningkat. Pasalnya, harga gabah yang dibeli Bulog masih terlalu rendah, bahkan petugas Bulog cenderung cuek melayani petani.

"Bulog tidak membeli gabah sesuai dengan harga ekonomis, sehingga petani menangis. Gabah ketan yang biasa Rp 10 ribu per kg, jatuh menjadi Rp 3 ribu per kg. Ini harus menjadi perhatian dari Bulog," kata anggota DPR dari daerah pemilihan Subang, TB Hasanuddin berkunjung ke Subang, Jawa Barat, dalam masa reses (Selasa, 1/11).

Menurut TB Hasanuddin, keresahan para petani terhadap minimnya infrastruktur pertanian, bibit, dan pupuk sudah diselesaikan secara baik oleh Dinas Pertanian. Bahkan, Menteri Pertanian pun sering turun langsung ke lapangan. Buktinya, hasil panen padi di tiga Kecamatan yang dikunjungi TB Hasanuddin cukup memuaskan.

"Hasil laporan panen padi petani di tiga kecamatan, yakni di Purwodadi, Dawuan, dan Ciasem cukup menggembirakan. Petugas pertanian sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Para petani sudah mendapatkan sarana produksi yang cukup. Gabah termasuk gabah ketan sekarang berlimpah. Mereka  menyampaikan apresiasi pada Dinas Pertanian," tutur TB Hasanuddin.

Namun, keberhasilan petani dalam memanen hasil tanam padinya dengan bantuan alat produksi, bibit, dan pupuk dari Dinas Pertanian yang mumpuni belumlah cukup untuk mensejahterakan petani tanpa diimbangi oleh harga pembelian gabah yang wajar dari Bulog.

"Bila Bulog tak membantu, maka swasembada pangan ditingkat nasional akan sia-sia," tegas politisi PDI Perjuangan ini. [ysa]