Senin, 2 Mei 2016
Newsmadura.com Sumenep– Setelah sempat mangkir beberapa kali dari penggilan Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep, Madura, Jawa Timur. Akhirnya pada Senin (2/5/2016) Kepala Gudang Bulog Kalianget, Ainul Fatah, penuhi panggilan Kejari Sumenep.
Pemanggilan Kepala Gudang Bulog ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep, sebagai saksi atas kasus dugaan penyimpangan pendistribusian bantuan beras untuk keluarga miskin (Raskin) di Desa Poteran, Kecamatan Talango.
Kepala Gudang bulog Sumenep, Ainul Fatah, menjalani pemeriksaan di ruangan Kasi Intel Kejari Sumenep, sekitar 1 jam lamanya. Ainul Fatah diceerca puluhan pertanyaan seputar pendistribusia bantuan raskin untuk Desa Poteran.
Selain memeriksa Kepala gudang bulog, Kejari juga memeriksa sejumlah satker di gudang bulog, serta Kepala Desa Poteran. Sedangkan dari hasil pemeriksaan pihak bulog, jatah bantuan raskin sejak tahun 2013-2015 untuk Desa Poteran, Kecamatan Talango, Sumenep, sudah didistribusikan semua, dan diserahkan pada kepala desa setempat.
”Hasil pemeriksaan kami, jatahkan raskin untuk Desa Poteran mulai tahun 2013 hingga 2015, sudah diserahkan semua kepada kepala desanya,” kata Hadi Harsanto, Kasi Intel Kejari Sumenep, Senin (2/5/2016).
Kepala Gudang Buloh Sumenep Ainul Fatah, mengaku tidak tahu persolan raskin di lapangan. Pihaknya mengaku tuas pokok dan fungsi kepala gudang hanya sebagai fasilitator saja.
Salah satunya, menerima pengiriman beras, merawat, menyimpan, dan mendistribusikan beras hingga depan pintu gudang.
”Kalau persoalan dilapangan, kami tidak tahu, karena itu diluar topoksi saya sebagai kepala Gudang,” terangnya.
Sementara petugas yang banyak berperan dalam pendistribusian raskin, adalah bagian satker dan juga kordinator lapangan raskin.
”Saya menjabat sebagai kepala mulai tahun 2013. Kalau sebelumnya, saya yang banyak berperan. Karena saya yang menjabat sebagai kordinator,” jelasnya.
Disinggung soal pemanggilan yang dilakukan kejari, pihaknya mengaku hanya sebatas pemberitahuan.
”Itu hanya pemeriksaan anak buah kok,” pungkasnya. (di/diens)
Selasa, 03 Mei 2016
Kok Bisa, Bulog Simpan Beras Tak Layak Konsumsi
Senin, 2 Mei 2016
BATURAJA-Gudang penyimpanan beras miskin Bulog Sub Divre III Ogan Komering Ulu (OKU), didapati berton-ton beras miskin yang sudah dalam kondisi tidak layak konsumsi. Kondisi beras sendiri dipenuhi ulat, kutu dan hancur.
“Kualitas beras yang diperuntukkan bagi masyarakat perekonomian rendah (Raskin), memang sangat memprihatinkan. Kita lihat sendiri seperti apa kualitas dari Raskin yang disediakan pemerintah melalui Perum Bulog. Ini tidak layak konsumsi,” ungkap sumber yang enggan disebutkan namanya ke penasumatera.com pada Senin (2/5).
Menurut dia, beras dengan kwalitas demikian itu yang disebarkan ke masyarakat, setelah melalui proses pemutihan sehingga terlihat bersih kembali. Sementara, kandung gizi dan lainnya yang dibutuhkan tubuh menipis bahkan tidak ada. Ia menilai, semacam ada permainan antara pihak bulog dengan pemasok beras (pihak ketiga).
“Kita tahu, harga pembelian pemerintah terhadap hasil panen petani tidak sesuai dengan harapan atau lebih rendah dibanding pengepul atau tengkulak. Untuk memenuhi kebutuhan, mereka (Bulog) berpatokan asal dapat dan mengabaikan kualitas. Ini yang tergambar selama ini,” kritiknya.
Terpisah, Kepala Bulog Sub Divre III OKU, Armansyah Harahap menanggapi hal itu tenang. Dirinya juga tidak membantah jika dalam gudang penyimpanan yang berlokasi di Belitang, OKU Timur, terdapat beras demikian itu. Kendati demikian ia berdalih, baru menjabat kurang lebih sebulan dan tugasnya untuk membenahi kondisi ini semua.
“Untuk menangani persoalan ini, Bulog sudah membentuk tim. Dengan masuknya saya ke sini juga, kami terus melakukan perbaikan sehingga beras yang didistribusikan ke masyarakat memang standar,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Lebih lanjut disampaikan, persoalan demikian itu tidak akan ada hentinya jika terus dicari-cari. Dirinya juga tidak menyalahkan pihak lain, namun Armansyah mendorong, bagaimana ke depan jauh lebih baik. Tidak perlu lagi membanding-bandingkan atau menoleh kebelakang, jika hanya menimbulkan nilai-nilai negatif.
“Pembelian tahun ini, kita benar-benar menggunakan SOP. Tidak ada lagi toleransi untuk 2016. Sebelum barang (beras) masuk, Petugas Pemeriksa Kualitas (PPK) mensortir terlebih dahulu. Kalau tidak layak, ya out (tidak diterima),” tegasnya. Bahkan, pihaknya juga sedang berupaya di Sub Divre III OKU, dibangun mini lab. Fungsinya untuk sensor kualitas beras yang akan dipasok.
Menyikapi beras yang berulat, berkutu dan berdedak alias hancur, ini berbicara umur simpan beras yang dipaparkannya memang tidak bisa dihindari. Sebab, untuk stabilitas pangan di musim kemarau, pihaknya (Bulog) harus memasok sehingga kebutuhan pangan masyarakat tidak terganggu. “Untuk diketahui, kita tidak menggunakan zat kimia. Benar-benar hasil petani, padi, jemur giling. Adapun gudang sudah standar,” tukasnya.(Har)
http://penasumatera.com/kok-bisa-bulog-simpan-beras-tak-layak-konsumsi/
BATURAJA-Gudang penyimpanan beras miskin Bulog Sub Divre III Ogan Komering Ulu (OKU), didapati berton-ton beras miskin yang sudah dalam kondisi tidak layak konsumsi. Kondisi beras sendiri dipenuhi ulat, kutu dan hancur.
“Kualitas beras yang diperuntukkan bagi masyarakat perekonomian rendah (Raskin), memang sangat memprihatinkan. Kita lihat sendiri seperti apa kualitas dari Raskin yang disediakan pemerintah melalui Perum Bulog. Ini tidak layak konsumsi,” ungkap sumber yang enggan disebutkan namanya ke penasumatera.com pada Senin (2/5).
Menurut dia, beras dengan kwalitas demikian itu yang disebarkan ke masyarakat, setelah melalui proses pemutihan sehingga terlihat bersih kembali. Sementara, kandung gizi dan lainnya yang dibutuhkan tubuh menipis bahkan tidak ada. Ia menilai, semacam ada permainan antara pihak bulog dengan pemasok beras (pihak ketiga).
“Kita tahu, harga pembelian pemerintah terhadap hasil panen petani tidak sesuai dengan harapan atau lebih rendah dibanding pengepul atau tengkulak. Untuk memenuhi kebutuhan, mereka (Bulog) berpatokan asal dapat dan mengabaikan kualitas. Ini yang tergambar selama ini,” kritiknya.
Terpisah, Kepala Bulog Sub Divre III OKU, Armansyah Harahap menanggapi hal itu tenang. Dirinya juga tidak membantah jika dalam gudang penyimpanan yang berlokasi di Belitang, OKU Timur, terdapat beras demikian itu. Kendati demikian ia berdalih, baru menjabat kurang lebih sebulan dan tugasnya untuk membenahi kondisi ini semua.
“Untuk menangani persoalan ini, Bulog sudah membentuk tim. Dengan masuknya saya ke sini juga, kami terus melakukan perbaikan sehingga beras yang didistribusikan ke masyarakat memang standar,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Lebih lanjut disampaikan, persoalan demikian itu tidak akan ada hentinya jika terus dicari-cari. Dirinya juga tidak menyalahkan pihak lain, namun Armansyah mendorong, bagaimana ke depan jauh lebih baik. Tidak perlu lagi membanding-bandingkan atau menoleh kebelakang, jika hanya menimbulkan nilai-nilai negatif.
“Pembelian tahun ini, kita benar-benar menggunakan SOP. Tidak ada lagi toleransi untuk 2016. Sebelum barang (beras) masuk, Petugas Pemeriksa Kualitas (PPK) mensortir terlebih dahulu. Kalau tidak layak, ya out (tidak diterima),” tegasnya. Bahkan, pihaknya juga sedang berupaya di Sub Divre III OKU, dibangun mini lab. Fungsinya untuk sensor kualitas beras yang akan dipasok.
Menyikapi beras yang berulat, berkutu dan berdedak alias hancur, ini berbicara umur simpan beras yang dipaparkannya memang tidak bisa dihindari. Sebab, untuk stabilitas pangan di musim kemarau, pihaknya (Bulog) harus memasok sehingga kebutuhan pangan masyarakat tidak terganggu. “Untuk diketahui, kita tidak menggunakan zat kimia. Benar-benar hasil petani, padi, jemur giling. Adapun gudang sudah standar,” tukasnya.(Har)
http://penasumatera.com/kok-bisa-bulog-simpan-beras-tak-layak-konsumsi/
Kasus Raskin, Kejari Sumenep Periksa Kades Poteran dan Ka Bulog
Senin, 2 Mei 2016
PortalMadura.Com, Sumenep – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep, Madura, Jawa Timur memeriksa Kepala Desa Poteran, Suparman yang diduga tersandung kasus dugaan penyelewengan pendistribusian raskin di desanya, Senin (2/5/2016).
Pemeriksaan itu, berdasarkan laporan warga, Senin (2/2/2015). Dalam laporannya, raskin di Desa Poteran, khususnya tahun 2014 dibagikan antara 5-10 kali dalam setahun. Sehingga negara ditaksir mengalami kerugian hingga Rp240 juta.
Selain itu, Kepala Gudang Bulog (Ka Bulog) Kalianget, Sumenep, Ainol Fatah ikut diperiksa. “Statusnya, semua diperiksa sebagai saksi,” terang Kasi Intelijen Kejari Sumenep, Adi Harsanto, pada PortalMadura.Com.
Pihaknya, juga telah melakukan pemeriksaan terhadap warga yang masuk dalam daftar penerima manfaat (DPM) raskin Desa Poteran. “Jadi, status kasusnya masih dalam pengumpulan alat-alat bukti,” katanya.
Pengakuan Kepala Desa Poteran, Suparman pada penyidik, raskin sudah didistribusikan pada masyarakat penerima sejak tahun 2013, 2014 dan tahun 2015.
“Hasil pemeriksaan Kepala Desa Poteran, raskin itu sudah diterima dari gudang bulog sesuai dengan juknis dan sudah didistribusikan semuanya kepada masyarakat,” urainya. (Baca : Penyidik Usut Raskin, Bupati Sumenep Datangi Kejaksaan Lewat Pintu Belakang)
Namun, pihak penyidik masih mendalami kasus tersebut. “Untuk mengetahui sesuai atau tidak, kami masih memerlukan alat bukti lain seperti surat-surat, dan saksi ahli. Tidak menutup kemungkinan status dugaan kasus penyelewengan raski ini akan ada tersangka,” tandasnya.(Bahri/har)
PortalMadura.Com, Sumenep – Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep, Madura, Jawa Timur memeriksa Kepala Desa Poteran, Suparman yang diduga tersandung kasus dugaan penyelewengan pendistribusian raskin di desanya, Senin (2/5/2016).
Pemeriksaan itu, berdasarkan laporan warga, Senin (2/2/2015). Dalam laporannya, raskin di Desa Poteran, khususnya tahun 2014 dibagikan antara 5-10 kali dalam setahun. Sehingga negara ditaksir mengalami kerugian hingga Rp240 juta.
Selain itu, Kepala Gudang Bulog (Ka Bulog) Kalianget, Sumenep, Ainol Fatah ikut diperiksa. “Statusnya, semua diperiksa sebagai saksi,” terang Kasi Intelijen Kejari Sumenep, Adi Harsanto, pada PortalMadura.Com.
Pihaknya, juga telah melakukan pemeriksaan terhadap warga yang masuk dalam daftar penerima manfaat (DPM) raskin Desa Poteran. “Jadi, status kasusnya masih dalam pengumpulan alat-alat bukti,” katanya.
Pengakuan Kepala Desa Poteran, Suparman pada penyidik, raskin sudah didistribusikan pada masyarakat penerima sejak tahun 2013, 2014 dan tahun 2015.
“Hasil pemeriksaan Kepala Desa Poteran, raskin itu sudah diterima dari gudang bulog sesuai dengan juknis dan sudah didistribusikan semuanya kepada masyarakat,” urainya. (Baca : Penyidik Usut Raskin, Bupati Sumenep Datangi Kejaksaan Lewat Pintu Belakang)
Namun, pihak penyidik masih mendalami kasus tersebut. “Untuk mengetahui sesuai atau tidak, kami masih memerlukan alat bukti lain seperti surat-surat, dan saksi ahli. Tidak menutup kemungkinan status dugaan kasus penyelewengan raski ini akan ada tersangka,” tandasnya.(Bahri/har)
Senin, 02 Mei 2016
Harga di Bawah Pasar, Petani di Pinrang Enggan Jual Beras ke Bulog
Minggu, 1 Mei 2016
Laporan Wartawan Tribun Timur, Mulyadi
TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG-Jajaran Komando Distrik Militer (Kodim) 1404 Pinrang diturunkan untuk melakukan razia dan penahanan puluhan ton beras maupun gabah yang hendak dijual keluar dari Kabupaten Pinrang, Minggu (1/5/2016).
Razia yang dilakukan anggota TNI ini atas permintaan bantuan bulog agar petani menjual beras hasil produksinya ke perusahaan BUMN ini untuk memenuhi stok yang sekarang ini berkurang.
Komandan Kodim (Dandim) 1404 Pinrang, Letkol Inf Sapta Budi Permana mengatakan, razia yang dilakukan bukan menyandra tetapi membantu Bulog dalam memenuhi stok beras guna swasembada pangan.
"Kita tidak menyandara hanya sebatas menghimbau ke petani agar bekerjasama dengan bulog dengan menjual berasnya kesana untuk swasembada pangan,"jelasnya, Minggu (1/5/2016).
Sementara, petani dan pengepul di Kabupaten Pinrang enggan menjual berasnya ke Bulog karena harga beli dibawah harga pasaran yang dijualkan petani dan pengepul saat ini.
"Kami tidak menjual ke Bulog, harga yang dibelikan Rp 7.300 per kilogramnya sementara harga pasaran sekarang Rp 7.700 jelas kami tidak menjualnya ke Bulog,"jelas salah satu pengepul di Kabupaten Pinrang yang enggang disebutkan namanya.
Sementara itu, salah satu petani di Pinrang, Hamid bahwa harga jual padi sekarang Rp 4.350 per kilogram atau Rp 430.500 per satu kwintalnya dan hingga saat ini dirinya menjual gabah ke pengepul bukan bulog. Harga gabah perkilogramnya sendiri untuk tingkat nasional berlaku di Bulog hanya Rp 3.800 atau berbeda jauh dengan harga pasaran di Pinrang.(*)
http://makassar.tribunnews.com/2016/05/01/harga-di-bawah-pasar-petani-di-pinrang-enggan-jual-beras-ke-bulog
Laporan Wartawan Tribun Timur, Mulyadi
TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG-Jajaran Komando Distrik Militer (Kodim) 1404 Pinrang diturunkan untuk melakukan razia dan penahanan puluhan ton beras maupun gabah yang hendak dijual keluar dari Kabupaten Pinrang, Minggu (1/5/2016).
Razia yang dilakukan anggota TNI ini atas permintaan bantuan bulog agar petani menjual beras hasil produksinya ke perusahaan BUMN ini untuk memenuhi stok yang sekarang ini berkurang.
Komandan Kodim (Dandim) 1404 Pinrang, Letkol Inf Sapta Budi Permana mengatakan, razia yang dilakukan bukan menyandra tetapi membantu Bulog dalam memenuhi stok beras guna swasembada pangan.
"Kita tidak menyandara hanya sebatas menghimbau ke petani agar bekerjasama dengan bulog dengan menjual berasnya kesana untuk swasembada pangan,"jelasnya, Minggu (1/5/2016).
Sementara, petani dan pengepul di Kabupaten Pinrang enggan menjual berasnya ke Bulog karena harga beli dibawah harga pasaran yang dijualkan petani dan pengepul saat ini.
"Kami tidak menjual ke Bulog, harga yang dibelikan Rp 7.300 per kilogramnya sementara harga pasaran sekarang Rp 7.700 jelas kami tidak menjualnya ke Bulog,"jelas salah satu pengepul di Kabupaten Pinrang yang enggang disebutkan namanya.
Sementara itu, salah satu petani di Pinrang, Hamid bahwa harga jual padi sekarang Rp 4.350 per kilogram atau Rp 430.500 per satu kwintalnya dan hingga saat ini dirinya menjual gabah ke pengepul bukan bulog. Harga gabah perkilogramnya sendiri untuk tingkat nasional berlaku di Bulog hanya Rp 3.800 atau berbeda jauh dengan harga pasaran di Pinrang.(*)
http://makassar.tribunnews.com/2016/05/01/harga-di-bawah-pasar-petani-di-pinrang-enggan-jual-beras-ke-bulog
Bulog diminta tidak beli gabah di bawah Rp 3.700
Minggu, 1 Mei 2016
JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kemtan) terus mengenjot produksi gabah dan beras di sejumlah wilayah. Untuk mendorong semangat petani bekerja, Kemtan mendesak Perum Bulog membeli gabah dengan harga pembelian pemerintah (HPP), yakni Rp 3.700 per kg. Sebab kalau harganya di bawah itu, maka petani akan rugi.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan saat ini para petani sedang semangat menanam padi. Menurutnya, produktivitas padi petani terus meningkat. Ia mengambil contoh produktivitas padi di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan pada musim panen Maret-April 2016 mencapai 9,4 ton gabah per hektare (ha).
"Produktivitas ini merupakan tertinggi dalam 10 tahun terakhir," ujar Mentan, seperti dikutip dari siaran pers, Sabtu (30/4).
Mentan mengatakan, keberhasilan petani di Kabupaten Bantaeng dalam mencapai angka produktivitas yang tinggi patut mendapat apresiasi. Untuk mengantisipasi anjloknya harga saat panen raya, Amran meminta Bulog utuk membeli seluruh gabah yang ada di Kabupaten Bantaeng dengan harga yang wajar.
Dalam kunjungannya ke Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Mentan juga memberikan bantuan pompa sebanyak 20 unit untuk membantu petani mencukupi pasokan air dari sungai dalam memenuhi kebutuhan air untuk lahan seluas 1.000 ha.
Melalui Gerakan Panen Serap Gabah Harga Stabil, Kementan, TNI, Pemerintah Daerah, dan Bulog bekerjasama menggerakkan aparat, penyuluh dan petani untuk mengantisipasi anjloknya harga gabah di tingkat petani saat panen raya.
Di Sulawesi Selatan, Gerakan Panen Serap Gabah Harga Stabil telah dimulai sejak awal musim panen bulan Maret lalu, yang dipusatkan di Kabupaten Takalar dengan inti acara pembelian Gabah oleh Bulog dari petani. Luas wilayah lahan untuk tanaman padi di Kabupaten Banteng sendiri adalah 7.829 ha.
http://industri.kontan.co.id/news/bulog-diminta-tidak-beli-gabah-di-bawah-rp-3700
JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kemtan) terus mengenjot produksi gabah dan beras di sejumlah wilayah. Untuk mendorong semangat petani bekerja, Kemtan mendesak Perum Bulog membeli gabah dengan harga pembelian pemerintah (HPP), yakni Rp 3.700 per kg. Sebab kalau harganya di bawah itu, maka petani akan rugi.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan saat ini para petani sedang semangat menanam padi. Menurutnya, produktivitas padi petani terus meningkat. Ia mengambil contoh produktivitas padi di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan pada musim panen Maret-April 2016 mencapai 9,4 ton gabah per hektare (ha).
"Produktivitas ini merupakan tertinggi dalam 10 tahun terakhir," ujar Mentan, seperti dikutip dari siaran pers, Sabtu (30/4).
Mentan mengatakan, keberhasilan petani di Kabupaten Bantaeng dalam mencapai angka produktivitas yang tinggi patut mendapat apresiasi. Untuk mengantisipasi anjloknya harga saat panen raya, Amran meminta Bulog utuk membeli seluruh gabah yang ada di Kabupaten Bantaeng dengan harga yang wajar.
Dalam kunjungannya ke Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Mentan juga memberikan bantuan pompa sebanyak 20 unit untuk membantu petani mencukupi pasokan air dari sungai dalam memenuhi kebutuhan air untuk lahan seluas 1.000 ha.
Melalui Gerakan Panen Serap Gabah Harga Stabil, Kementan, TNI, Pemerintah Daerah, dan Bulog bekerjasama menggerakkan aparat, penyuluh dan petani untuk mengantisipasi anjloknya harga gabah di tingkat petani saat panen raya.
Di Sulawesi Selatan, Gerakan Panen Serap Gabah Harga Stabil telah dimulai sejak awal musim panen bulan Maret lalu, yang dipusatkan di Kabupaten Takalar dengan inti acara pembelian Gabah oleh Bulog dari petani. Luas wilayah lahan untuk tanaman padi di Kabupaten Banteng sendiri adalah 7.829 ha.
http://industri.kontan.co.id/news/bulog-diminta-tidak-beli-gabah-di-bawah-rp-3700
TEAM SERGAP KORAMIL KEDU SALURKAN GABAH PETANI KE BULOG
Minggu, 1 Mei 2016
Komandan Koramil 02/Kedu Kodim 0706/Temanggung Kapten Inf Edward memastikan membantu Perum Bulog dalam rangka membeli gabah/beras langsung dari petani dengan mengerahkan Babinsanya guna mendata mendatangi serta memberikan pemahaman agar petani bersedia menjual hasil panen ke Bulog.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan segenap kemampuan yang ada, Kodim menurunkan Koramil sampai Babinsa untuk memaksimalkan penyerapan beras dan gabah petani,” kata Danramil”.Menurutnya, sebagai Satuan Komando Teritorial Koramil 02/Kedu siap membantu dan bekerja sama serta bermitra dengan pihak manapun juga, termasuk Bulog,sehingga kita mampu menjembatani antara petani dengan pihak Bulog.Kita bersama satuan jajaran telah berkomitmen memberikan bantuan terutama terkait informasi produk pertanian masyarakat, informasi itu penting agar Bulog bisa membeli beras masyarakat dan penyerapan semakin maksimal.”kata Danramil”
Sementara itu petani yang tergabung Gapoktan di wilayah Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung sangat senang dan rela menjual hasil panen padinya ke Bulog.Seperti dikatakan Yatno yang selaku Ketua Gapoktan Tani Maju Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung.
Ia mengatakan dengan adanya TNI melalui Babinsa yang telah menjembatani kami” para petani’untuk menjual dan menyalurkannya hasil panen kami kepada Bulog,sehingga kami tidak susah susah lagi untuk menjualnya dan hargapun kita tidak lagi dipermainkan tengkulak.Terima kasih TNI,terima kasih Babinsa.”ungkapnya”
http://korem072.com/team-sergap-koramil-kedu-salurkan-gabah-petani-ke-bulog/
Komandan Koramil 02/Kedu Kodim 0706/Temanggung Kapten Inf Edward memastikan membantu Perum Bulog dalam rangka membeli gabah/beras langsung dari petani dengan mengerahkan Babinsanya guna mendata mendatangi serta memberikan pemahaman agar petani bersedia menjual hasil panen ke Bulog.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan segenap kemampuan yang ada, Kodim menurunkan Koramil sampai Babinsa untuk memaksimalkan penyerapan beras dan gabah petani,” kata Danramil”.Menurutnya, sebagai Satuan Komando Teritorial Koramil 02/Kedu siap membantu dan bekerja sama serta bermitra dengan pihak manapun juga, termasuk Bulog,sehingga kita mampu menjembatani antara petani dengan pihak Bulog.Kita bersama satuan jajaran telah berkomitmen memberikan bantuan terutama terkait informasi produk pertanian masyarakat, informasi itu penting agar Bulog bisa membeli beras masyarakat dan penyerapan semakin maksimal.”kata Danramil”
Sementara itu petani yang tergabung Gapoktan di wilayah Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung sangat senang dan rela menjual hasil panen padinya ke Bulog.Seperti dikatakan Yatno yang selaku Ketua Gapoktan Tani Maju Desa Ngadimulyo Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung.
Ia mengatakan dengan adanya TNI melalui Babinsa yang telah menjembatani kami” para petani’untuk menjual dan menyalurkannya hasil panen kami kepada Bulog,sehingga kami tidak susah susah lagi untuk menjualnya dan hargapun kita tidak lagi dipermainkan tengkulak.Terima kasih TNI,terima kasih Babinsa.”ungkapnya”
http://korem072.com/team-sergap-koramil-kedu-salurkan-gabah-petani-ke-bulog/
Dandim Tuba 'Marah' karena Bulog Tak Serius Serap Beras Petani
MESUJI--Komandan Kodim 0426 Tulangbawang, Letkol. Inf. Endar Setyanto, kesal terhadap sistem kerja Badan Urusan Logiatik (Bulog) Menggala dalam menyerap gabah dan beras petani.
Pasalnya, sudah 6 hari lamanya 10 truk pengangkut beras petani mangkrak di Kantor Bulog menunggu dibongkar.
Bulog beralasan jika karung mereka sudah habis dang menunggu kiriman dari pulau Jawa. Dengan nada marah, Dandim kepada Kepala kantor Bulog,Junaidi, mempertanyakan keseriusan Bulog Menggala dalam menyerap gabah petani.
"Saya bingung dengan mekanisme kerja Bulog. Saya tidak ingin bahasa yang nyaman, tapi tidak ada tindak lanjut nyata. Saya terus terang tidak dapat menerima kondisi ini. Selama seminggu ini gabah petani mau dikemanakan, serapan kita mau seperti apa. Saya minta surat pernyataan dari Bulog jika tidak menerima gabah dan beras petani dengan kendala apa. Saya butuh kepastian itu saja," jelas Endar dikantor Bulog Menggala, Jumat (29/4/16).
Kepala Bulog Menggala Junaidi beralasan jika habisnya karung dan penuhnya gudang menjadi alasan mereka membiarkan beras petani hingga 6 hari lamanya.
Kendala karung terlambat kirim. Untuk Mesuji, kata Junaidi, memang menunda pembelian dari petani, karena gabah 300 ton yang diterima kemarin belum sempat giling. Saat ini masih numpuk 200 ton. Termasuk 10 truk yang mangkrak tidak dibongkar.
Selain itu, Junaidi beralasan kondisi jalan juga membuat beras dari petani belum bisa diangkut ke gudang Bulog di Menggala. "Kondisi jalan saat ini, jadi beras tidak bisa keluar," kilahnya.
http://lampost.co/berita/dandim-0426-tuba-ngamuk-di-kantor-bulog-menggala-karena-tunda-beli-gabah-petani
Pasalnya, sudah 6 hari lamanya 10 truk pengangkut beras petani mangkrak di Kantor Bulog menunggu dibongkar.
Bulog beralasan jika karung mereka sudah habis dang menunggu kiriman dari pulau Jawa. Dengan nada marah, Dandim kepada Kepala kantor Bulog,Junaidi, mempertanyakan keseriusan Bulog Menggala dalam menyerap gabah petani.
"Saya bingung dengan mekanisme kerja Bulog. Saya tidak ingin bahasa yang nyaman, tapi tidak ada tindak lanjut nyata. Saya terus terang tidak dapat menerima kondisi ini. Selama seminggu ini gabah petani mau dikemanakan, serapan kita mau seperti apa. Saya minta surat pernyataan dari Bulog jika tidak menerima gabah dan beras petani dengan kendala apa. Saya butuh kepastian itu saja," jelas Endar dikantor Bulog Menggala, Jumat (29/4/16).
Kepala Bulog Menggala Junaidi beralasan jika habisnya karung dan penuhnya gudang menjadi alasan mereka membiarkan beras petani hingga 6 hari lamanya.
Kendala karung terlambat kirim. Untuk Mesuji, kata Junaidi, memang menunda pembelian dari petani, karena gabah 300 ton yang diterima kemarin belum sempat giling. Saat ini masih numpuk 200 ton. Termasuk 10 truk yang mangkrak tidak dibongkar.
Selain itu, Junaidi beralasan kondisi jalan juga membuat beras dari petani belum bisa diangkut ke gudang Bulog di Menggala. "Kondisi jalan saat ini, jadi beras tidak bisa keluar," kilahnya.
http://lampost.co/berita/dandim-0426-tuba-ngamuk-di-kantor-bulog-menggala-karena-tunda-beli-gabah-petani
Langganan:
Postingan (Atom)