Selasa, 1 Maret 2016
kotatuban.com – Perubahan sebutan Beras Miskin (Raskin) menjadi Beras Sejahtera (Rastra) diharapkan tidak sekedar nama, namun, juga dibarengi dengan kualitas beras yang menjadi hak masyarakat kurang mampu.
“Sekarang namanya menjadi Rastra, harapan kami tidak hanya nama, tapi juga kualitas itu mestinya dirubah,” ujar Kepala Desa Sumurgung, Kecamatan Tuban Mujami’in, Selasa (01/03)
Menurut Mujami’in, desanya telah menerima penyauran beras sejahtera itu bagi keluarga kurang mamp. Sejauh ini memang tidak ada complain, namun begitu pihaknya tidak berhenti berharap kualitas beras harus baik bukan asal beras.
“Masyarakat sebenarnya beras datang itu aja sudah senang, asal tidak terlalu jelek pasti masyarakat tidak akan komplain,” katanya.
Sementaraitu pihak Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divisi Regional (Sub Divre) III Jawa Timur, Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan, memastikan beras sejahtera untuk masyarakat kurang mampu telah diseleksi. Sehingga, beras yang dibagikan kepada masyarakat telah memiliki kualitas baik dan layak konsumsi.
“Sebelum Rasta di bagikan kepada masyarkat, semua beras telah melalui seleksi, “ ungkap Kepala Bulog Sub Divre III Jawa Timur, Efdal MS.
Efdal menjelaskan, sebelum beras disalurkan terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kualitas oleh tim koordinasi (Tikor) Rastra dan kepala gudang. Kemudian diangkut ke titik distribusi dan ketika sampai di titik distribusi, dilakukan pengecekan kembali oleh perangkat desa yang ditunjuk untuk menerima beras.
“Jika beras sampai di desa, dan dicek ternyata tidak layak. Maka petugas desa wajib menolak dan meminta ganti dengan beras yang sesuai,” tegas Efdal. (kim)
http://kotatuban.com/r-a-g-a-m/raskin-jadi-rastra-jangan-hanya-nama-tapi-kualitas-beras-dijaga
Rabu, 02 Maret 2016
Selasa, 01 Maret 2016
Mentan: Pembelian Gabah dan Beras Petani tak Mengacu ke HPP
Selasa, 01 Maret 2016
REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Pemerintah tak lagi mengendalikan harga gabah atau beras petani melalui mekanisme harga pembelian pemerintah (HPP).
Kepada wartawan usai melakukan panen raya di Desa Mernek, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Senin (29/2), Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan Perum Bulog tidak terikat lagi dengan mekanisme HPP.
''Sekarang jangan cerita HPP lagi, itu model lama. Sekarang Bulog bisa beli komersial. Kita sudah tidak batasi lagi. Beli komersial bisa,'' jelasnya. Dengan demikian, kata Mentan, pembelian gabah di tingkat petani bisa tetap dengan harga yang layak.
Namun dalam penjualannya, pemerintah akan menjual beras dengan tingkat harga yang wajar dan terjangkau. ''Misalnya, kita beli harga gabah dari petani dengan harga Rp 4.000 per kg, maka kita menjualnya dengan harga Rp 7.500 per kg atau lebih rendah dari harga pasar. Bisa naik sedikit, yang penting masih di bawah Rp 8.000 per kg,'' katanya.
Menurutnya, hal ini dilakukan untuk memotong rantai distribusi yang menyebabkan harga beras di pasar mahal.
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/03/01/o3bjfu383-mentan-pembelian-gabah-dan-beras-petani-tak-mengacu-ke-hpp
REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Pemerintah tak lagi mengendalikan harga gabah atau beras petani melalui mekanisme harga pembelian pemerintah (HPP).
Kepada wartawan usai melakukan panen raya di Desa Mernek, Kecamatan Maos, Kabupaten Cilacap, Senin (29/2), Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan Perum Bulog tidak terikat lagi dengan mekanisme HPP.
''Sekarang jangan cerita HPP lagi, itu model lama. Sekarang Bulog bisa beli komersial. Kita sudah tidak batasi lagi. Beli komersial bisa,'' jelasnya. Dengan demikian, kata Mentan, pembelian gabah di tingkat petani bisa tetap dengan harga yang layak.
Namun dalam penjualannya, pemerintah akan menjual beras dengan tingkat harga yang wajar dan terjangkau. ''Misalnya, kita beli harga gabah dari petani dengan harga Rp 4.000 per kg, maka kita menjualnya dengan harga Rp 7.500 per kg atau lebih rendah dari harga pasar. Bisa naik sedikit, yang penting masih di bawah Rp 8.000 per kg,'' katanya.
Menurutnya, hal ini dilakukan untuk memotong rantai distribusi yang menyebabkan harga beras di pasar mahal.
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/16/03/01/o3bjfu383-mentan-pembelian-gabah-dan-beras-petani-tak-mengacu-ke-hpp
Pemerintah Bojonegoro Klaim Harga Gabah Sesuai HPP
Senin, 29 Februari 2016
blokBojonegoro.com - Aksi turun jalan yang dilakukan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Bojonegoro, Senin (29/2/2016) berjalan kondusif. Para aktivis menyuarakan terkait harga gabah yang anjlok di tingkat petani, serta tidak sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sesuai Inpres nomor 5 tahun 2015. Akibatnya, para petani di Kota Ledre banyak yang dirugikan dan perlu ditangani pemerintah dengan segera.
Dalam demo yang diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Kabupaten Bojonegoro itu mereka berorasi di bunderan Adipura dilanjutkan menuju Gedung DPRD Bojonegoro dan ke Pemkab Bojonegoro. Kedatangan mahasiswa disambut, Wakil DPRD Bojonegoro, Syukur Priyanto, Wakil Kepala Bulog, Umar Syarif dan Kepala Disperindag, Basuki.
Selang beberapa waktu, Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro, Setyo Hartono juga menemui pendemo di wakil rakyat. Sehinga para pendemo batal menyuarakan enam petisinya di Pemkab Bojonegoro. "HPP ditingkat petani tidak sesuai. Pemerintah harus bersikap melihat kondisi itu," teriak pendemo, Abdi Nugroho di depan gedung rakyat.
Umar Syarif menyampaikan, penyerapan sejauh ini sudah 112 ribu ton. Terkait harga gabah yang turun, perlu edukasi terhadap warga. "Sudah jelas aturannya, jangan mau menjual dibawah standar," jelasnya.
Sehingga para petani bisa datang ke Bulog, susai ketetapan pemerintah. Ia juga sudah pernah turun ke sawah di tingkat petani, untuk mengetahui kondisi di bawah.
"Harga terlalu tinggi tidak boleh. Terlalu rendah juga tidak boleh, karena menyiksa petani. Disperindag tugasnya mengingatkan Bulog," terang Kepala Disperindag Bojonegoro, Basuki.
Sementara itu, Wabup Bojonegoro, Setyo Hartono meminta kepada para mahasiswa yang peduli petani, apabila menemukan kejadian dilapangan, segera melaporkannya. Supaya segera dapat ditindak lanjuti kejadian tersebut.
Usai demo, puluhan mahasiswa meninggalkan gedung dewan dengan tertib. Ketua PC PMII Bojonegoro, Ahmad Syahid mengapresiasi komitmen pemerintah yang peduli terhadap petani. "Kita akan mengawal lagi. Jangan sampai harga gabah ada permainan mavia dan juga petani dikasih peluang untuk mendapatkan haknya," pungkasnya. [zid/lis]
blokBojonegoro.com - Aksi turun jalan yang dilakukan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Bojonegoro, Senin (29/2/2016) berjalan kondusif. Para aktivis menyuarakan terkait harga gabah yang anjlok di tingkat petani, serta tidak sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sesuai Inpres nomor 5 tahun 2015. Akibatnya, para petani di Kota Ledre banyak yang dirugikan dan perlu ditangani pemerintah dengan segera.
Dalam demo yang diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Kabupaten Bojonegoro itu mereka berorasi di bunderan Adipura dilanjutkan menuju Gedung DPRD Bojonegoro dan ke Pemkab Bojonegoro. Kedatangan mahasiswa disambut, Wakil DPRD Bojonegoro, Syukur Priyanto, Wakil Kepala Bulog, Umar Syarif dan Kepala Disperindag, Basuki.
Selang beberapa waktu, Wakil Bupati (Wabup) Bojonegoro, Setyo Hartono juga menemui pendemo di wakil rakyat. Sehinga para pendemo batal menyuarakan enam petisinya di Pemkab Bojonegoro. "HPP ditingkat petani tidak sesuai. Pemerintah harus bersikap melihat kondisi itu," teriak pendemo, Abdi Nugroho di depan gedung rakyat.
Umar Syarif menyampaikan, penyerapan sejauh ini sudah 112 ribu ton. Terkait harga gabah yang turun, perlu edukasi terhadap warga. "Sudah jelas aturannya, jangan mau menjual dibawah standar," jelasnya.
Sehingga para petani bisa datang ke Bulog, susai ketetapan pemerintah. Ia juga sudah pernah turun ke sawah di tingkat petani, untuk mengetahui kondisi di bawah.
"Harga terlalu tinggi tidak boleh. Terlalu rendah juga tidak boleh, karena menyiksa petani. Disperindag tugasnya mengingatkan Bulog," terang Kepala Disperindag Bojonegoro, Basuki.
Sementara itu, Wabup Bojonegoro, Setyo Hartono meminta kepada para mahasiswa yang peduli petani, apabila menemukan kejadian dilapangan, segera melaporkannya. Supaya segera dapat ditindak lanjuti kejadian tersebut.
Usai demo, puluhan mahasiswa meninggalkan gedung dewan dengan tertib. Ketua PC PMII Bojonegoro, Ahmad Syahid mengapresiasi komitmen pemerintah yang peduli terhadap petani. "Kita akan mengawal lagi. Jangan sampai harga gabah ada permainan mavia dan juga petani dikasih peluang untuk mendapatkan haknya," pungkasnya. [zid/lis]
Hindari Harga Anjlok, Bulog Akan Beli Beras Petani Sebanyak-banyaknya
Senin, 29 Februari 2016
CILACAP, KOMPAS.com - Menteri Pertanian, Amran Sulaiman menginstruksikan kepada Bulog untuk membeli gabah langsung dari petani di periode panen raya yang diprediksi Maret-April 2016.
"Saya sudah minta Bulog untuk membeli gabah langsung pada petani," ujar Amran di Cilacap, Minggu (28/02/2016).
Hal ini dilakukan untuk menghindari anjloknya harga gabah di level petani seperti yang terjadi di setiap musim panen raya sebelumnya.
Amran menilai, setiap kali memasuki musim panen puncak, harga gabah kerap anjlok karena pasokan yang melimpah.
Maka dari itu, dengan langkah Bulog membeli gabah langsung ke petani, dipastikan petani akan mendapatkan harga yang wajar.
"Kami tetapkan harga patokan pembelian Gabah Kering Panen (GKP) Rp 3.700 per kilogram, jadi bisa mengangkat petani," lanjut Amran.
Amran melanjutkan, pemerintah sudah menginstruksikan Bulog untuk dapat menyerap 5 juta gabah dari petani selama musim puncak panen.
Produksi gabah pada periode panen raya Maret tahun 2016 ini diprediksi bisa mencapai 12,8 juta ton GKG atau setara dengan 7,9 juta ton beras.
Dia mengatakan, jumlah tersebut sudah mencukupi kebutuhan konsumsi beras nasional.
"Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras penduduk sekitar 2,6 juta ton per bulan," lanjut Amran.
Neraca Beras Nasional
Direktur Pelayanan Perum Bulog Wahyu Suparyono mengatakan pihaknya siap untuk membeli gabah dari petani sebanyak-banyaknya.
Untuk itu, pihaknya sedang mempersiapkan gudang dan beberapa fasilutas lainnya.
Selain itu, wahyu juga berjanji untuk lebih aktif untuk membeli beras dari petani.
"Kalau dulu ada istilah petani malas menjual ke Bulog karena jauh, sekarang kami datangi ke lapangan," pungkas Wahyu.
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/02/29/213747326/Hindari.Harga.Anjlok.Bulog.Akan.Beli.Beras.Petani.Sebanyak-banyaknya
CILACAP, KOMPAS.com - Menteri Pertanian, Amran Sulaiman menginstruksikan kepada Bulog untuk membeli gabah langsung dari petani di periode panen raya yang diprediksi Maret-April 2016.
"Saya sudah minta Bulog untuk membeli gabah langsung pada petani," ujar Amran di Cilacap, Minggu (28/02/2016).
Hal ini dilakukan untuk menghindari anjloknya harga gabah di level petani seperti yang terjadi di setiap musim panen raya sebelumnya.
Amran menilai, setiap kali memasuki musim panen puncak, harga gabah kerap anjlok karena pasokan yang melimpah.
Maka dari itu, dengan langkah Bulog membeli gabah langsung ke petani, dipastikan petani akan mendapatkan harga yang wajar.
"Kami tetapkan harga patokan pembelian Gabah Kering Panen (GKP) Rp 3.700 per kilogram, jadi bisa mengangkat petani," lanjut Amran.
Amran melanjutkan, pemerintah sudah menginstruksikan Bulog untuk dapat menyerap 5 juta gabah dari petani selama musim puncak panen.
Produksi gabah pada periode panen raya Maret tahun 2016 ini diprediksi bisa mencapai 12,8 juta ton GKG atau setara dengan 7,9 juta ton beras.
Dia mengatakan, jumlah tersebut sudah mencukupi kebutuhan konsumsi beras nasional.
"Jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras penduduk sekitar 2,6 juta ton per bulan," lanjut Amran.
![]() |
Direktur Pelayanan Perum Bulog Wahyu Suparyono mengatakan pihaknya siap untuk membeli gabah dari petani sebanyak-banyaknya.
Untuk itu, pihaknya sedang mempersiapkan gudang dan beberapa fasilutas lainnya.
Selain itu, wahyu juga berjanji untuk lebih aktif untuk membeli beras dari petani.
"Kalau dulu ada istilah petani malas menjual ke Bulog karena jauh, sekarang kami datangi ke lapangan," pungkas Wahyu.
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/02/29/213747326/Hindari.Harga.Anjlok.Bulog.Akan.Beli.Beras.Petani.Sebanyak-banyaknya
Harga Beras Turun, Bulog Tambah Satgas
Senin, 29 Februari 2016
KESAMBI - Meski sempat mengalami kenaikan di awal tahun, kini harga beras kembali turun.
Wakil Kepala Bulog Sub Divre Cirebon Sumarna mengatakan, penurunan harga beras karena wilayah Jawa Tengah (Jateng) sudah mulai menyuplai hasil panennya.
“Jawa Tengah sudah panen. Imbasnya, harga beras di Cirebon mulai turun,” ujarnya, kemarin.
Untuk mencegah penurunan harga yang terlalu drastis, kata Sumarna, selain bekerja sama dengan sejumlah mitra kerja, Bulog Cirebon akan menurunkan 3 tim satuan tugas (satgas) ke lapangan menyerap gabah dan beras dari petani.
“Sebelumnya satgas kami hanya 2 tim,” katanya.
Selain membentuk satgas, lanjut Sumarna, Bulog Cirebon akan menggenjot penyerapan hasil panen dari petani langsung.
Hal tersebut, sambungnya, merupakan salah satu langkah dalam mencegah anjolknya harga gabah dan beras.
“Pada April atau Mei kita akan genjot penyerapannya. Soalnya, pada bulan tersebut merupakan masa panen untuk Wilayah III Cirebon,” tuturnya.
Diakui Sumarna, saat ini Bulog Cirebon belum melakukan pengadaan. Namun, pihaknya sudah melakukan kontrak dengan sejumlah mitra kerja.
“Kami sudah kontrak sebanyak 285 ton dengan mitra kerja kami,” katanya.
Dengan sudah melakukan kontrak, aku Sumarna, berarti Bulog Sub Divre Cirebon sudah siap menyerap beras dan gabah dari petani.
Selain itu, target pengadaan mereka tahun ini bertambah menjadi 140 ribu ton setara beras dari tahun sebelumnya yang hanya 135 ribu ton. “Sehingga, kita harus lakukan penguatan petugas di lapangan,” ucapnya.
Sementara itu, seorang pedagang beras di Pasar Pagi Kota Cirebon, Dedi mengatakan, saat ini harga beras sudah mulai turun sejak awal Februari lalu.
Dijelaskan Dedi, untuk beras medium saat ini dijual di kisaran Rp7.500 hingga Rp7.600/kg.
Padahal, sebelumnya beras medium dijual seharga Rp 8.500/kg. ”Beras super pun juga sudah turun,” kata Dedi.
Untuk beras super, ungkap Dedi, saat ini dijual seharga Rp9 ribu/kg dari sebelumnya Rp9.500/kg.
Diakui Dedi, penurunan harga beras tersebut dikarenakan sudah adanya suplai beras dari daerah Jawa Tengah yang sudah panen.
“Di sana lebih duluan tanam sehingga lebih duluan pula panen,” kata Dedi.
Namun, lanjut Dedi, harga beras tersebut belum bisa masuk ke Bulog.
“Harga beras Bulog itu masih menggunakan harga lama yaitu Rp7.300/kg,” kata Dedi.
Namun, seiring dengan semakin banyaknya daerah yang melakukan panen, Dedi yakni, harga beras akan terus mengalami penurunan hingga masuk dengan harga pembelian pemerintah. (man)
KESAMBI - Meski sempat mengalami kenaikan di awal tahun, kini harga beras kembali turun.
Wakil Kepala Bulog Sub Divre Cirebon Sumarna mengatakan, penurunan harga beras karena wilayah Jawa Tengah (Jateng) sudah mulai menyuplai hasil panennya.
“Jawa Tengah sudah panen. Imbasnya, harga beras di Cirebon mulai turun,” ujarnya, kemarin.
Untuk mencegah penurunan harga yang terlalu drastis, kata Sumarna, selain bekerja sama dengan sejumlah mitra kerja, Bulog Cirebon akan menurunkan 3 tim satuan tugas (satgas) ke lapangan menyerap gabah dan beras dari petani.
“Sebelumnya satgas kami hanya 2 tim,” katanya.
Selain membentuk satgas, lanjut Sumarna, Bulog Cirebon akan menggenjot penyerapan hasil panen dari petani langsung.
Hal tersebut, sambungnya, merupakan salah satu langkah dalam mencegah anjolknya harga gabah dan beras.
“Pada April atau Mei kita akan genjot penyerapannya. Soalnya, pada bulan tersebut merupakan masa panen untuk Wilayah III Cirebon,” tuturnya.
Diakui Sumarna, saat ini Bulog Cirebon belum melakukan pengadaan. Namun, pihaknya sudah melakukan kontrak dengan sejumlah mitra kerja.
“Kami sudah kontrak sebanyak 285 ton dengan mitra kerja kami,” katanya.
Dengan sudah melakukan kontrak, aku Sumarna, berarti Bulog Sub Divre Cirebon sudah siap menyerap beras dan gabah dari petani.
Selain itu, target pengadaan mereka tahun ini bertambah menjadi 140 ribu ton setara beras dari tahun sebelumnya yang hanya 135 ribu ton. “Sehingga, kita harus lakukan penguatan petugas di lapangan,” ucapnya.
Sementara itu, seorang pedagang beras di Pasar Pagi Kota Cirebon, Dedi mengatakan, saat ini harga beras sudah mulai turun sejak awal Februari lalu.
Dijelaskan Dedi, untuk beras medium saat ini dijual di kisaran Rp7.500 hingga Rp7.600/kg.
Padahal, sebelumnya beras medium dijual seharga Rp 8.500/kg. ”Beras super pun juga sudah turun,” kata Dedi.
Untuk beras super, ungkap Dedi, saat ini dijual seharga Rp9 ribu/kg dari sebelumnya Rp9.500/kg.
Diakui Dedi, penurunan harga beras tersebut dikarenakan sudah adanya suplai beras dari daerah Jawa Tengah yang sudah panen.
“Di sana lebih duluan tanam sehingga lebih duluan pula panen,” kata Dedi.
Namun, lanjut Dedi, harga beras tersebut belum bisa masuk ke Bulog.
“Harga beras Bulog itu masih menggunakan harga lama yaitu Rp7.300/kg,” kata Dedi.
Namun, seiring dengan semakin banyaknya daerah yang melakukan panen, Dedi yakni, harga beras akan terus mengalami penurunan hingga masuk dengan harga pembelian pemerintah. (man)
Prihatin Harga Gabah, PC PMII Bojonegoro Turun Jalan
Senin, 29 Februari 2016
blokBojonegoro.com - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bojonegoro, melakukan aksi turun jalan, Senin (29/2/2016). Aksi tersebut dilakukan karena prihatin harga gabah.
"Aksi ini karena prihatin anjloknya harga gabah. Dari bunderan adipura, dilanjutkan ke gedung dewan dan di pemkab Bojonegoro," kata ketua PC PMII Bojonegoro, Ahmad Syahid.
Dalam selebaran yang dibagikan ke pengguna jalan, para aktivis menilai harga gabah anjlok mencapai 40 persen. Sehingga membuat kerugian bagi petani. Dengan harga gabah anjol, pendapatan petani mengalami penurunan juga. Supaya diusut dan dibenahi sistem ekonomi yang dirasa tidak adil bagi petani.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan oleh anggota PMII, secara mayoritas wilayah Bojonegoro mengalami panen, terutama di bantaran Bengawan Solo, diantaranya di Kecamatan Malo, Trucuk, Kalitidu, Dander, Balen, Kanor, Sumberrejo dan Baureno. Hasilnya harga rata-rata gabah kering sawah Rp3 ribu sampai Rp3,500.
Padahal berpijak pada ketentuan intruksi Presiden (Inpres) nomor 5 tahun 2015, terkait harga pembelian pemerintah (HPP), yakni Rp3,7 ribu sampai Rp 3,75 ribu, dan harga gabah kering giling dalam ketetapan HPP berkisar Rp4,6 ribu sampai Rp4,65 ribu. Namun kondisi harga di lapangan hanya Rp3 ribu sampai Rp3,5 ribu, para pembeli gabah tidak mentaati peraturan Inpres nomor 5 tahun 2015.
"Perlu sinergi antara petani dan Bulog. Serta pemerintah selalu berperan aktif dalam menjaga kestabilan harga gabah," ungkapnya.
Nampak dalam aksi tersebut, puluhan aktivis membawa bener bertulis tuntutan mereka dan mengibarkan bendera. Selain itu juga menampilkan aksi teatrikal, sebagai gambaran sikap pemerintah terhadap petani. Dalam aksi tersebut juga mendapat pengawalan petugas kepolisian. [zid/mu]
blokBojonegoro.com - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bojonegoro, melakukan aksi turun jalan, Senin (29/2/2016). Aksi tersebut dilakukan karena prihatin harga gabah.
"Aksi ini karena prihatin anjloknya harga gabah. Dari bunderan adipura, dilanjutkan ke gedung dewan dan di pemkab Bojonegoro," kata ketua PC PMII Bojonegoro, Ahmad Syahid.
Dalam selebaran yang dibagikan ke pengguna jalan, para aktivis menilai harga gabah anjlok mencapai 40 persen. Sehingga membuat kerugian bagi petani. Dengan harga gabah anjol, pendapatan petani mengalami penurunan juga. Supaya diusut dan dibenahi sistem ekonomi yang dirasa tidak adil bagi petani.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan oleh anggota PMII, secara mayoritas wilayah Bojonegoro mengalami panen, terutama di bantaran Bengawan Solo, diantaranya di Kecamatan Malo, Trucuk, Kalitidu, Dander, Balen, Kanor, Sumberrejo dan Baureno. Hasilnya harga rata-rata gabah kering sawah Rp3 ribu sampai Rp3,500.
Padahal berpijak pada ketentuan intruksi Presiden (Inpres) nomor 5 tahun 2015, terkait harga pembelian pemerintah (HPP), yakni Rp3,7 ribu sampai Rp 3,75 ribu, dan harga gabah kering giling dalam ketetapan HPP berkisar Rp4,6 ribu sampai Rp4,65 ribu. Namun kondisi harga di lapangan hanya Rp3 ribu sampai Rp3,5 ribu, para pembeli gabah tidak mentaati peraturan Inpres nomor 5 tahun 2015.
"Perlu sinergi antara petani dan Bulog. Serta pemerintah selalu berperan aktif dalam menjaga kestabilan harga gabah," ungkapnya.
Nampak dalam aksi tersebut, puluhan aktivis membawa bener bertulis tuntutan mereka dan mengibarkan bendera. Selain itu juga menampilkan aksi teatrikal, sebagai gambaran sikap pemerintah terhadap petani. Dalam aksi tersebut juga mendapat pengawalan petugas kepolisian. [zid/mu]
Senin, 29 Februari 2016
Mentan Minta Bulog Beli 5 Juta Ton Gabah Petani
Senin, 29 Februari 2016
REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menjamin seluruh gabah petani mampu dibeli Perum Bulog menjelang dan selama panen raya yang diperkirakan akan terjadi Maret 2016.
"Saya sudah minta agar Bulog mau membeli gabah petani yang akan alami panen sehingga produksinya meningkat dalam waktu dekat dan Buloh sanggup," kata Mentan Amran kepada pers di Cilacap, Jawa Tengah, Senin (29/2).
Dikatakan mentan, memasuki masa panen raya Maret- April ini menyebabkan pasokan beras di pasar melimpah sehingga pemerintah mengharapkan Bulog segera menyerap gabah langsung ke petani. "Hal ini dilakukan guna mencegah harga gabah petani tidak anjlok sehingga petani rugi," kata Amran.
Pemerintah telah menetapkan harga patokan pembelian Gabah Kering Panen (GKP) Rp 3.700 per kilogram. "Untuk itu Pemerintah menjamin harga gabah/beras tidak turun pada saat musim panen raya," tegasnya.
Mentan mengingat mulai saat ini sudah terjadi panen maka Bulog harus beli langsung gabah lima juta ton dalam dua bulan. Karena ini momentun terbaik dimana harga turun dan produksi puncak.
Keberhasilan panen serentak, dikatakan Amran, antara lain disebabkan adanya sejumlah perubahan regulasi terkait dengan irigasi, alat mesin pertanian (alsintan), dan pupuk. Khusus pupuk, katanya, pemerintah setidaknya sudah memenjarakan 40 orang yang tertangkap memainkan pupuk tidak sesuai peruntukan, seperti menimbun.
"Saya janjikan akan ada tindakan tegas yang ketahuan memainkan pupuk sehingga langka dipasaran," katanya.
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/16/02/29/o3ag4p383-mentan-minta-bulog-beli-5-juta-ton-gabah-petani
REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menjamin seluruh gabah petani mampu dibeli Perum Bulog menjelang dan selama panen raya yang diperkirakan akan terjadi Maret 2016.
"Saya sudah minta agar Bulog mau membeli gabah petani yang akan alami panen sehingga produksinya meningkat dalam waktu dekat dan Buloh sanggup," kata Mentan Amran kepada pers di Cilacap, Jawa Tengah, Senin (29/2).
Dikatakan mentan, memasuki masa panen raya Maret- April ini menyebabkan pasokan beras di pasar melimpah sehingga pemerintah mengharapkan Bulog segera menyerap gabah langsung ke petani. "Hal ini dilakukan guna mencegah harga gabah petani tidak anjlok sehingga petani rugi," kata Amran.
Pemerintah telah menetapkan harga patokan pembelian Gabah Kering Panen (GKP) Rp 3.700 per kilogram. "Untuk itu Pemerintah menjamin harga gabah/beras tidak turun pada saat musim panen raya," tegasnya.
Mentan mengingat mulai saat ini sudah terjadi panen maka Bulog harus beli langsung gabah lima juta ton dalam dua bulan. Karena ini momentun terbaik dimana harga turun dan produksi puncak.
Keberhasilan panen serentak, dikatakan Amran, antara lain disebabkan adanya sejumlah perubahan regulasi terkait dengan irigasi, alat mesin pertanian (alsintan), dan pupuk. Khusus pupuk, katanya, pemerintah setidaknya sudah memenjarakan 40 orang yang tertangkap memainkan pupuk tidak sesuai peruntukan, seperti menimbun.
"Saya janjikan akan ada tindakan tegas yang ketahuan memainkan pupuk sehingga langka dipasaran," katanya.
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/korporasi/16/02/29/o3ag4p383-mentan-minta-bulog-beli-5-juta-ton-gabah-petani
Langganan:
Postingan (Atom)
