RAKYATKU.COM, MAKASSAR – Ketua DPD Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) Jakarta, Nellys Soekidi dan Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Cipinang Haji Zulkifli meminta Kepala Perum Bulog Divisi Regional DKI Jakarta untuk menyetop Operasi Pasar Beras. Sebab, stok beras di pasaran dinilai melonjak drastis. “Pekan keempat bulan ini, sudah memasuki musim panen. Maret-April 2016, kata dia, merupakan puncak panen raya dan diperikirakan siap membanjiri seluruh sentra pasar di Indonesia,” katanya melalui siaran pers yang diterima, Jumat (19/2/2016). Dia berharap, harga beras yang terbilang stabil saat ini jangan sampai turun lagi. “Memasuki panen raya ini bila harga beras turun lagi, maka berdampak pada harga gabah dan petani menderita rugi,” katanya. Untuk diketahui, saat ini sudah memasuki musim panen dan puncaknya akan terjadi Maret-April 2016. Panen padi Februari 2016 diprediksi 5,0 juta ton GKG setara 3,1 juta ton beras. “Pada Maret 2016 akan panen raya 12,6 juta ton GKG setara 7,9 juta ton beras. Demikian juga April, panen di atas 12,0 juta ton GKG,” ujar Suwandi, Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementan. Stok Melonjak Stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) per 17 Februari 2016 sebesar 53.145 ton atau melonjak 138% dibandingkan Februari 2015. Pada saat baru berakhirnya musim paceklik Januari 2016 ini juga malah terjadi penumpukan stock beras di enam pasar sentra beras di DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Fakta melimpahnya beras ini telah menjadi anomali pasar yang layak mendapat perhatian. “Mestinya para pakar dan pengamat jangan tiarap. Tetapi untuk turun ke lapangan dan menelaah fenomena yang menarik ini,” kata Zulkifli. Selama ini, beberapa pengamat menilai ada kekurangan stok beras di pasaran. Namun hal ini dibantah Staf Khusus Kementan Bidang Kebijakan, Syukriansyah S Latif. “Pengamat selalu mengatakan data dari BPS itu salah. Sementara data BPS itu punya negara. Kita mengacu ke BPS. Lantas bagaimana sekarang? Musim paceklik saat ini, beras melimpah di pasaran,” kata pria yang akrab disapa Uki ini saat berkunjung ke Rakyatku.com. Sekadar diketahui, Oktober-Desember 2015, beberapa pengamat menyatakan akan terjadi kekurangan beras dan perlu impor untuk Cadangan Beras Nasional. Pada saat itu, BPS pun dianggap tidak mampu menyajikan data valid.
Sabtu, 20 Februari 2016
Perpadi Minta Operasi Pasar Bulog Dihentikan
JUMAT , 19 FEBRUARI 2016
RAKYATKU.COM, MAKASSAR – Ketua DPD Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) Jakarta, Nellys Soekidi dan Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Cipinang Haji Zulkifli meminta Kepala Perum Bulog Divisi Regional DKI Jakarta untuk menyetop Operasi Pasar Beras. Sebab, stok beras di pasaran dinilai melonjak drastis. “Pekan keempat bulan ini, sudah memasuki musim panen. Maret-April 2016, kata dia, merupakan puncak panen raya dan diperikirakan siap membanjiri seluruh sentra pasar di Indonesia,” katanya melalui siaran pers yang diterima, Jumat (19/2/2016). Dia berharap, harga beras yang terbilang stabil saat ini jangan sampai turun lagi. “Memasuki panen raya ini bila harga beras turun lagi, maka berdampak pada harga gabah dan petani menderita rugi,” katanya. Untuk diketahui, saat ini sudah memasuki musim panen dan puncaknya akan terjadi Maret-April 2016. Panen padi Februari 2016 diprediksi 5,0 juta ton GKG setara 3,1 juta ton beras. “Pada Maret 2016 akan panen raya 12,6 juta ton GKG setara 7,9 juta ton beras. Demikian juga April, panen di atas 12,0 juta ton GKG,” ujar Suwandi, Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementan. Stok Melonjak Stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) per 17 Februari 2016 sebesar 53.145 ton atau melonjak 138% dibandingkan Februari 2015. Pada saat baru berakhirnya musim paceklik Januari 2016 ini juga malah terjadi penumpukan stock beras di enam pasar sentra beras di DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Fakta melimpahnya beras ini telah menjadi anomali pasar yang layak mendapat perhatian. “Mestinya para pakar dan pengamat jangan tiarap. Tetapi untuk turun ke lapangan dan menelaah fenomena yang menarik ini,” kata Zulkifli. Selama ini, beberapa pengamat menilai ada kekurangan stok beras di pasaran. Namun hal ini dibantah Staf Khusus Kementan Bidang Kebijakan, Syukriansyah S Latif. “Pengamat selalu mengatakan data dari BPS itu salah. Sementara data BPS itu punya negara. Kita mengacu ke BPS. Lantas bagaimana sekarang? Musim paceklik saat ini, beras melimpah di pasaran,” kata pria yang akrab disapa Uki ini saat berkunjung ke Rakyatku.com. Sekadar diketahui, Oktober-Desember 2015, beberapa pengamat menyatakan akan terjadi kekurangan beras dan perlu impor untuk Cadangan Beras Nasional. Pada saat itu, BPS pun dianggap tidak mampu menyajikan data valid.
RAKYATKU.COM, MAKASSAR – Ketua DPD Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) Jakarta, Nellys Soekidi dan Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Cipinang Haji Zulkifli meminta Kepala Perum Bulog Divisi Regional DKI Jakarta untuk menyetop Operasi Pasar Beras. Sebab, stok beras di pasaran dinilai melonjak drastis. “Pekan keempat bulan ini, sudah memasuki musim panen. Maret-April 2016, kata dia, merupakan puncak panen raya dan diperikirakan siap membanjiri seluruh sentra pasar di Indonesia,” katanya melalui siaran pers yang diterima, Jumat (19/2/2016). Dia berharap, harga beras yang terbilang stabil saat ini jangan sampai turun lagi. “Memasuki panen raya ini bila harga beras turun lagi, maka berdampak pada harga gabah dan petani menderita rugi,” katanya. Untuk diketahui, saat ini sudah memasuki musim panen dan puncaknya akan terjadi Maret-April 2016. Panen padi Februari 2016 diprediksi 5,0 juta ton GKG setara 3,1 juta ton beras. “Pada Maret 2016 akan panen raya 12,6 juta ton GKG setara 7,9 juta ton beras. Demikian juga April, panen di atas 12,0 juta ton GKG,” ujar Suwandi, Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementan. Stok Melonjak Stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) per 17 Februari 2016 sebesar 53.145 ton atau melonjak 138% dibandingkan Februari 2015. Pada saat baru berakhirnya musim paceklik Januari 2016 ini juga malah terjadi penumpukan stock beras di enam pasar sentra beras di DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur. Fakta melimpahnya beras ini telah menjadi anomali pasar yang layak mendapat perhatian. “Mestinya para pakar dan pengamat jangan tiarap. Tetapi untuk turun ke lapangan dan menelaah fenomena yang menarik ini,” kata Zulkifli. Selama ini, beberapa pengamat menilai ada kekurangan stok beras di pasaran. Namun hal ini dibantah Staf Khusus Kementan Bidang Kebijakan, Syukriansyah S Latif. “Pengamat selalu mengatakan data dari BPS itu salah. Sementara data BPS itu punya negara. Kita mengacu ke BPS. Lantas bagaimana sekarang? Musim paceklik saat ini, beras melimpah di pasaran,” kata pria yang akrab disapa Uki ini saat berkunjung ke Rakyatku.com. Sekadar diketahui, Oktober-Desember 2015, beberapa pengamat menyatakan akan terjadi kekurangan beras dan perlu impor untuk Cadangan Beras Nasional. Pada saat itu, BPS pun dianggap tidak mampu menyajikan data valid.
Raskin Pakai Beras Premium
Jumat,19 Februari 2016
PURWOKERTO – Bulan Februari dan Maret, Rumah Tangga Sasaran (RTS) penerima raskin akan mendapatkan jatah beras kualitas premium. Ini berbeda dibanding penyaluran bulan sebelumnya.
Kabag Perekonomian Setda Banyumas Sugiyanto mengatakan, meski kualitas beras meningkat, harga raskin tidak akan mengalami perubahan tetap Rp 1.600 per kilogram.
“Berdasarkan rapat koordinasi, diputuskan untuk alokasi Februari-Maret raskin menggunakan beras premium atau stok terbaru dari Solo,” tutur dia.
Beras kualitas premium, kata Sugiyanto, merupakan beras yang biasa dikonsumsi masyarakat umum. Di pasar maupun di warung, beras jenis tersebut harganya antara Rp 9 ribu hingga Rp 9.500 per kilogram. “Jadi lebih bagus. Bisa dilihat contohnya yang premium banyak beras yang utuh dan lebih bersih,” kata dia.
Mengenai alasan digunakannya beras premium untuk raskin, menurut Sugiyanto, karena stok beras medium habis. “Stok beras yang biasa disalurkan habis, dan kemarin di Bulog baru mendapatkan kiriman 1.000 ton beras premium dari Solo,” kata dia.
Lebih lanjut Sugiyanto mengatakan, rencana penyaluran raskin bulan ini dilakukan pekan depan. Hal ini menyusul turunnya peraturan pemerintah yang bisa menjadi pedoman penyaluran. “Bulan ini rencana disalurkan Senin-Kamis (22/2-25/2). Sama seperti bulan sebelumnya, ada keterlambatan karena menunggu sosialisasi dari provinsi,” ujar dia.
Sementara untuk penyaluran bulan April, lanjut dia, rencana akan disalurkan awal bulan menggunakan beras dari serapan petani. “Untuk kualitasnya saya belum tahu, apakah bagus atau tidak. Tapi untuk April nanti menunggu dari panen petani. Yang jelas menggunakan beras baru karena panenan,” tandasnya.
Berdasarkan data Bagian Perekonomian, pada tahun 2016 tidak ada perubahan baik dari segi jumlah maupun harga yang harus ditebus. Untuk Kabupaten Banyumas ada 124.422 RTS yang berhak menerima raskin. Mereka masing-masing mendapatkan jatah 15 kilogram dengan harga tebus Rp 1.600 per kilogram. (why/sus)
http://www.radarbanyumas.co.id/raskin-pakai-beras-premium/
PURWOKERTO – Bulan Februari dan Maret, Rumah Tangga Sasaran (RTS) penerima raskin akan mendapatkan jatah beras kualitas premium. Ini berbeda dibanding penyaluran bulan sebelumnya.
Kabag Perekonomian Setda Banyumas Sugiyanto mengatakan, meski kualitas beras meningkat, harga raskin tidak akan mengalami perubahan tetap Rp 1.600 per kilogram.
“Berdasarkan rapat koordinasi, diputuskan untuk alokasi Februari-Maret raskin menggunakan beras premium atau stok terbaru dari Solo,” tutur dia.
Beras kualitas premium, kata Sugiyanto, merupakan beras yang biasa dikonsumsi masyarakat umum. Di pasar maupun di warung, beras jenis tersebut harganya antara Rp 9 ribu hingga Rp 9.500 per kilogram. “Jadi lebih bagus. Bisa dilihat contohnya yang premium banyak beras yang utuh dan lebih bersih,” kata dia.
Mengenai alasan digunakannya beras premium untuk raskin, menurut Sugiyanto, karena stok beras medium habis. “Stok beras yang biasa disalurkan habis, dan kemarin di Bulog baru mendapatkan kiriman 1.000 ton beras premium dari Solo,” kata dia.
Lebih lanjut Sugiyanto mengatakan, rencana penyaluran raskin bulan ini dilakukan pekan depan. Hal ini menyusul turunnya peraturan pemerintah yang bisa menjadi pedoman penyaluran. “Bulan ini rencana disalurkan Senin-Kamis (22/2-25/2). Sama seperti bulan sebelumnya, ada keterlambatan karena menunggu sosialisasi dari provinsi,” ujar dia.
Sementara untuk penyaluran bulan April, lanjut dia, rencana akan disalurkan awal bulan menggunakan beras dari serapan petani. “Untuk kualitasnya saya belum tahu, apakah bagus atau tidak. Tapi untuk April nanti menunggu dari panen petani. Yang jelas menggunakan beras baru karena panenan,” tandasnya.
Berdasarkan data Bagian Perekonomian, pada tahun 2016 tidak ada perubahan baik dari segi jumlah maupun harga yang harus ditebus. Untuk Kabupaten Banyumas ada 124.422 RTS yang berhak menerima raskin. Mereka masing-masing mendapatkan jatah 15 kilogram dengan harga tebus Rp 1.600 per kilogram. (why/sus)
http://www.radarbanyumas.co.id/raskin-pakai-beras-premium/
Jumat, 19 Februari 2016
HPP Beras Lebih Rendah Harga Pasar
Jumat,19 Februari 2016
PURWOKERTO- Harga pembelian pemerintah (HPP) beras dan gabah 2016 yang telah diputuskan oleh pemerintah masih di bawah harga pasar. Hal ini dinilai dapat memengaruhi kinerja penyerapan beras ke gudang Bulog. Pembelian beras dan gabang 2016 masih mengacu pada Inpres No 5 Tahun 2015. Pada inpres tersebut harga beras di gudang Bulog Rp 7.300 per kilogram, sedangkan harga gabah kering giling Rp 4.600 per kilogram. Menurut Sekretaris Asosiasi Perberasan Banyumas, Faturrahman, HPP beras dan gabah hanya akan efektif ketika memasuki panen raya, karena biasanya pada saat itu harga gabah akan cenderung turun seiring dengan hasil produksi padi yang melimpah di tingkat petani. Namun, ketika memasuki panen padi pada musim sadon atau musim panen kedua saat musim kemarau, biasanya harga gabah di atas HPP. ”Dengan kondisi ini jangan harap prognosa setara beras di gudang Bulog dapat terpenuhi,” terangnya, kemarin. Kombinasi Harga Dia mengatakan, saat ini saja harga gabah kering panen di tingkat petani berkisar Rp 3.800 sampai Rp 4.000 per kilogram, sedangkan harga beras di penggilingan berkisar Rp 8.600 – Rp 8.800 per kilogram. Di sejumlah pasar tradisional, seperti Pasar Manis dan Pasar Wage Purwokerto, harga beras IR 64 kualitas medium berkisar Rp 9.400 per kilogram, sedangkan beras IR 64 kualitas premium Rp 10.000 per kilogram. ”Jadi, kalau bisa Bulog mengombinasi harga. Artinya, ketika memasuki panen padi, Bulog menyerap dengan harga sesuai HPP, sedangkan ketika tidak memasuki panen padi, penyerapan menyesuaikan harga pasar,” terangnya. Wakil Ketua Forum Komunikasi Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Kabupaten Banyumas, Muthohar, menambahkan, hasil pengamatan di beberapa wilayah kecamatan di Banyumas barat, saat ini tanaman padi rata-rata baru berusia 25 hari, sehingga diperkirakan panen raya Maret sampai April. (H60-55)
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/hpp-beras-lebih-rendah-harga-pasar/
PURWOKERTO- Harga pembelian pemerintah (HPP) beras dan gabah 2016 yang telah diputuskan oleh pemerintah masih di bawah harga pasar. Hal ini dinilai dapat memengaruhi kinerja penyerapan beras ke gudang Bulog. Pembelian beras dan gabang 2016 masih mengacu pada Inpres No 5 Tahun 2015. Pada inpres tersebut harga beras di gudang Bulog Rp 7.300 per kilogram, sedangkan harga gabah kering giling Rp 4.600 per kilogram. Menurut Sekretaris Asosiasi Perberasan Banyumas, Faturrahman, HPP beras dan gabah hanya akan efektif ketika memasuki panen raya, karena biasanya pada saat itu harga gabah akan cenderung turun seiring dengan hasil produksi padi yang melimpah di tingkat petani. Namun, ketika memasuki panen padi pada musim sadon atau musim panen kedua saat musim kemarau, biasanya harga gabah di atas HPP. ”Dengan kondisi ini jangan harap prognosa setara beras di gudang Bulog dapat terpenuhi,” terangnya, kemarin. Kombinasi Harga Dia mengatakan, saat ini saja harga gabah kering panen di tingkat petani berkisar Rp 3.800 sampai Rp 4.000 per kilogram, sedangkan harga beras di penggilingan berkisar Rp 8.600 – Rp 8.800 per kilogram. Di sejumlah pasar tradisional, seperti Pasar Manis dan Pasar Wage Purwokerto, harga beras IR 64 kualitas medium berkisar Rp 9.400 per kilogram, sedangkan beras IR 64 kualitas premium Rp 10.000 per kilogram. ”Jadi, kalau bisa Bulog mengombinasi harga. Artinya, ketika memasuki panen padi, Bulog menyerap dengan harga sesuai HPP, sedangkan ketika tidak memasuki panen padi, penyerapan menyesuaikan harga pasar,” terangnya. Wakil Ketua Forum Komunikasi Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Kabupaten Banyumas, Muthohar, menambahkan, hasil pengamatan di beberapa wilayah kecamatan di Banyumas barat, saat ini tanaman padi rata-rata baru berusia 25 hari, sehingga diperkirakan panen raya Maret sampai April. (H60-55)
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/hpp-beras-lebih-rendah-harga-pasar/
Bulog Fokus Pengadaan
Jumat, 19 Februari 2016
Mekanisme Penentuan HPP Diharapkan Dapat Dievaluasi
DEMAK, KOMPAS — Pasca penetapan harga pembelian pemerintah, Perum Bulog segera fokus membeli gabah kering panen di tingkat petani. Untuk merealisasikan penyerapan gabah, Bulog akan menggandeng petani serta melakukan penguasaan alat pengering dan penggiling milik swasta.
Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu saat dihubungi Kompas dari Demak, Jawa Tengah, Kamis (18/2), mengatakan, Bulog telah bekerja sama dengan Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) untuk membantu merealisasikan serapan beras. Sepanjang tahun ini, penyerapan Bulog ditargetkan mencapai 3,9 juta ton beras. Bulog memperbanyak serapan gabah kering panen (GKP) karena harganya lebih terjangkau ketimbang harga beras.
Dalam upaya meningkatkan serapan itu, Bulog melakukan penguasaan alat pengering dan penggiling gabah milik sejumlah badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan swasta. Perusahaan-perusahaan itu berada di lumbung-lumbung pangan, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.
"Sebagai langkah awal, kami menyewa dulu alat pengering dan penggiling dari perusahaan selama enam bulan. Selain itu, kami juga akan membeli mesin pemanen," ujar Wahyu.
Bulog bersama KTNA juga terus memonitor pergerakan harga gabah dan beras. Hal itu dilakukan karena panen di daerah-daerah penghasil bersifat sporadis dan tidak serentak. "Ini menyebabkan harga gabah dan beras yang sesuai HPP (harga pembelian pemerintah) hanya bertahan 1,5 bulan. Padahal, dulu harga sesuai HPP bisa bertahan sekitar 3 bulan," ujarnya.
Di Demak, harga GKP hasil panen musim tanam pertama rata-rata Rp 4.000 per kg. Harga tersebut masih di atas HPP GKP, yaitu Rp 3.750 per kg. Sementara harga beras di tingkat penggilingan kecil di desa Rp 7.100 per kg. Harga ini di bawah HPP beras, yaitu Rp 7.300 per kg.
HPP gabah dan beras tahun ini yang ditetapkan sama dengan tahun lalu menuai protes dari himpunan, kelompok, dan asosiasi petani. Para petani ini berharap pemerintah meninjau ulang serta mengevaluasi harga pembelian pemerintah gabah dan beras.
Evaluasi HPP
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Demak Hery Sugiartono mengatakan, pemerintah perlu mengevaluasi HPP yang ditetapkan tahun ini. HPP itu dinilai merugikan petani karena tidak dapat mendongkrak pendapatan petani.
Padahal, pengeluaran petani, mulai dari biaya produksi, sewa lahan, hingga biaya hidup, makin tinggi. Apabila pendapatan petani tetap atau tidak terdongkrak, petani akan semakin sulit memenuhi segala pengeluaran itu.
"Upah buruh saja selalu dievaluasi setiap tahun dan mempertimbangkan inflasi tahunan. Kenapa petani yang menghasilkan pangan bagi masyarakat banyak tidak diperhatikan atau diperlakukan serupa?" ujarnya.
Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, petani yang tergabung dalam Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia juga berharap pemerintah meninjau ulang HPP 2016. Koordinator AB2TI Kabupaten Indramayu, Masroni, meminta agar HPP gabah kering panen (GKP) ditetapkan Rp 4.130 per kg.
Sementara Ketua Aliansi Petani Indonesia (API) Loji Nurhadi berharap pemerintah mengubah mekanisme penentuan HPP. Selain mempertimbangkan inflasi, pemerintah juga dipandang perlu menentukan HPP gabah dan beras per musim.
"Karena, harga gabah dan beras setiap musim tanam berbeda, tergantung cuaca dan tingkat serangan hama," ujarnya.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menetapkan HPP gabah dan beras tahun ini sama dengan HPP tahun lalu. HPP GKP Rp 3.750 per kg, gabah kering giling (GKG) Rp 4.600 per kg, dan beras Rp 7.300 per kg.
Berkait penetapan HPP, pemerintah mempertimbangkan upaya menjaga pasokan dan stabilitas harga beras, melindungi tingkat pendapatan petani, mengamankan cadangan beras pemerintah, dan menyalurkan beras untuk keperluan masyarakat.
(HEN)
http://epaper1.kompas.com/kompas/books/160219kompas/#/18/
Mekanisme Penentuan HPP Diharapkan Dapat Dievaluasi
DEMAK, KOMPAS — Pasca penetapan harga pembelian pemerintah, Perum Bulog segera fokus membeli gabah kering panen di tingkat petani. Untuk merealisasikan penyerapan gabah, Bulog akan menggandeng petani serta melakukan penguasaan alat pengering dan penggiling milik swasta.
Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu saat dihubungi Kompas dari Demak, Jawa Tengah, Kamis (18/2), mengatakan, Bulog telah bekerja sama dengan Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) untuk membantu merealisasikan serapan beras. Sepanjang tahun ini, penyerapan Bulog ditargetkan mencapai 3,9 juta ton beras. Bulog memperbanyak serapan gabah kering panen (GKP) karena harganya lebih terjangkau ketimbang harga beras.
Dalam upaya meningkatkan serapan itu, Bulog melakukan penguasaan alat pengering dan penggiling gabah milik sejumlah badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan swasta. Perusahaan-perusahaan itu berada di lumbung-lumbung pangan, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.
"Sebagai langkah awal, kami menyewa dulu alat pengering dan penggiling dari perusahaan selama enam bulan. Selain itu, kami juga akan membeli mesin pemanen," ujar Wahyu.
Bulog bersama KTNA juga terus memonitor pergerakan harga gabah dan beras. Hal itu dilakukan karena panen di daerah-daerah penghasil bersifat sporadis dan tidak serentak. "Ini menyebabkan harga gabah dan beras yang sesuai HPP (harga pembelian pemerintah) hanya bertahan 1,5 bulan. Padahal, dulu harga sesuai HPP bisa bertahan sekitar 3 bulan," ujarnya.
Di Demak, harga GKP hasil panen musim tanam pertama rata-rata Rp 4.000 per kg. Harga tersebut masih di atas HPP GKP, yaitu Rp 3.750 per kg. Sementara harga beras di tingkat penggilingan kecil di desa Rp 7.100 per kg. Harga ini di bawah HPP beras, yaitu Rp 7.300 per kg.
HPP gabah dan beras tahun ini yang ditetapkan sama dengan tahun lalu menuai protes dari himpunan, kelompok, dan asosiasi petani. Para petani ini berharap pemerintah meninjau ulang serta mengevaluasi harga pembelian pemerintah gabah dan beras.
Evaluasi HPP
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Demak Hery Sugiartono mengatakan, pemerintah perlu mengevaluasi HPP yang ditetapkan tahun ini. HPP itu dinilai merugikan petani karena tidak dapat mendongkrak pendapatan petani.
Padahal, pengeluaran petani, mulai dari biaya produksi, sewa lahan, hingga biaya hidup, makin tinggi. Apabila pendapatan petani tetap atau tidak terdongkrak, petani akan semakin sulit memenuhi segala pengeluaran itu.
"Upah buruh saja selalu dievaluasi setiap tahun dan mempertimbangkan inflasi tahunan. Kenapa petani yang menghasilkan pangan bagi masyarakat banyak tidak diperhatikan atau diperlakukan serupa?" ujarnya.
Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, petani yang tergabung dalam Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia juga berharap pemerintah meninjau ulang HPP 2016. Koordinator AB2TI Kabupaten Indramayu, Masroni, meminta agar HPP gabah kering panen (GKP) ditetapkan Rp 4.130 per kg.
Sementara Ketua Aliansi Petani Indonesia (API) Loji Nurhadi berharap pemerintah mengubah mekanisme penentuan HPP. Selain mempertimbangkan inflasi, pemerintah juga dipandang perlu menentukan HPP gabah dan beras per musim.
"Karena, harga gabah dan beras setiap musim tanam berbeda, tergantung cuaca dan tingkat serangan hama," ujarnya.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menetapkan HPP gabah dan beras tahun ini sama dengan HPP tahun lalu. HPP GKP Rp 3.750 per kg, gabah kering giling (GKG) Rp 4.600 per kg, dan beras Rp 7.300 per kg.
Berkait penetapan HPP, pemerintah mempertimbangkan upaya menjaga pasokan dan stabilitas harga beras, melindungi tingkat pendapatan petani, mengamankan cadangan beras pemerintah, dan menyalurkan beras untuk keperluan masyarakat.
(HEN)
http://epaper1.kompas.com/kompas/books/160219kompas/#/18/
Perum Bulog Kelola Tiga Komoditas Strategis
Kamis, 18 Februari 2016
Pemerintah berencana untuk memperluas kewenangan Bulog.
VIVA.co.id - Pemerintah berencana untuk memperluas kewenangan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) dalam pengelolaan pasokan tiga komoditas strategis, guna menjaga stabilisasi harga pangan.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Srie Agustina mengatakan, ketiga komoditas strategis tersebut adalah beras, jagung, dan kedelai.
"Tiga komoditi ini sudah jelas (dikelola) Bulog, dan mendapatkan jaminan untuk pembiayaan," ujar Srie usai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jakarta, Kamis malam, 18 Februari 2016.
Sebelumnya, Pemerintah telah menyiapkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang perluasan kewenangan Bulog untuk mengawasi setidaknya 11 komoditas strategis. Namun, Srie mengatakan Pemerintah kembali merevisi rencana tersebut.
"Ada beberapa perubahan di Perpresnya yang sedang diperbaiki. Jadi cuma ada tiga," katanya.
Jika Perpres tersebut sudah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo, Srie memastikan pemerintah akan menetapkan harga pembelian Pemerintah (HPP) untuk ketiga komoditas tersebut.
"Iya akan (HPP), kalau Perpres ditandatangani, itu akan. Judulnya nanti Perpres penugasan Bulog," tutur dia.
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/737707-perum-bulog-kelola-tiga-komoditas-strategis
Pemerintah berencana untuk memperluas kewenangan Bulog.
VIVA.co.id - Pemerintah berencana untuk memperluas kewenangan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) dalam pengelolaan pasokan tiga komoditas strategis, guna menjaga stabilisasi harga pangan.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Srie Agustina mengatakan, ketiga komoditas strategis tersebut adalah beras, jagung, dan kedelai.
"Tiga komoditi ini sudah jelas (dikelola) Bulog, dan mendapatkan jaminan untuk pembiayaan," ujar Srie usai rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Jakarta, Kamis malam, 18 Februari 2016.
Sebelumnya, Pemerintah telah menyiapkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang perluasan kewenangan Bulog untuk mengawasi setidaknya 11 komoditas strategis. Namun, Srie mengatakan Pemerintah kembali merevisi rencana tersebut.
"Ada beberapa perubahan di Perpresnya yang sedang diperbaiki. Jadi cuma ada tiga," katanya.
Jika Perpres tersebut sudah ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo, Srie memastikan pemerintah akan menetapkan harga pembelian Pemerintah (HPP) untuk ketiga komoditas tersebut.
"Iya akan (HPP), kalau Perpres ditandatangani, itu akan. Judulnya nanti Perpres penugasan Bulog," tutur dia.
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/737707-perum-bulog-kelola-tiga-komoditas-strategis
Bulog Mulai Serap Gabah Petani Banyumas
Kamis, 18 Februari 2016
Purwokerto, Antara Jateng - Perum Bulog Subdivisi Regional Banyumas, Jawa Tengah, mulai menyerap hasil panen petani guna mendukung program pengadaan pangan nasional tahun 2016.
"Saat sekarang, kami sudah mulai penyerapan meskipun panen belum merata. Panen raya diperkirakan akan berlangsung pada bulan Maret 2016," kata Kepala Bulog Subdivre Banyumas Setio Wastono didampingi Kepala Humas M. Priyono di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis.
Ia mengatakan bahwa dalam pelaksanaan program pengadaan pangan tahun 2016, pihaknya melibatkan 55 mitra kerja yang beberapa di antaranya merupakan gabungan kelompok tani (gapoktan).
Kendati demikian, dia mengakui bahwa hingga saat ini belum ada mitra kerja Bulog Banyumas yang menandatangani kontrak pengadaan pangan sehingga belum ada gabah maupun beras yang masuk ke gudang-gudang Bulog yang tersebar di Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara.
Menurut dia, hal itu disebabkan harga gabah kering panen (GKP) di pasaran masih tinggi atau di atas harga pembelian pemerintah (HPP) yang sebesar Rp3.700 perkilogram.
"Harga GKP saat ini berkisar Rp3.900 hingga Rp4.000 perkilogram," katanya.
Selain itu, mitra kerja juga belum berani membeli gabah dari petani karena hingga sekarang curah hujan masih tinggi sehingga kesulitan dalam proses pengeringan.
Bahkan beberapa area persawahan seperti dan Kroya, lanjut dia, banyak tanaman padi siap panen yang roboh dan terendam air akibat diguyur hujan sehingga proses pengeringan gabah membutuhkan waktu yang cukup lama karena kadar airnya tinggi.
"Meskipun demikian, kami tetap optimistis prognosa pengadaan pangan sebesar 80.000 ton setara beras pada tahun 2016 dapat tercapai," katanya.
http://www.antarajateng.com/detail/bulog-mulai-serap-gabah-petani-banyumas.html
Purwokerto, Antara Jateng - Perum Bulog Subdivisi Regional Banyumas, Jawa Tengah, mulai menyerap hasil panen petani guna mendukung program pengadaan pangan nasional tahun 2016.
"Saat sekarang, kami sudah mulai penyerapan meskipun panen belum merata. Panen raya diperkirakan akan berlangsung pada bulan Maret 2016," kata Kepala Bulog Subdivre Banyumas Setio Wastono didampingi Kepala Humas M. Priyono di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis.
Ia mengatakan bahwa dalam pelaksanaan program pengadaan pangan tahun 2016, pihaknya melibatkan 55 mitra kerja yang beberapa di antaranya merupakan gabungan kelompok tani (gapoktan).
Kendati demikian, dia mengakui bahwa hingga saat ini belum ada mitra kerja Bulog Banyumas yang menandatangani kontrak pengadaan pangan sehingga belum ada gabah maupun beras yang masuk ke gudang-gudang Bulog yang tersebar di Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara.
Menurut dia, hal itu disebabkan harga gabah kering panen (GKP) di pasaran masih tinggi atau di atas harga pembelian pemerintah (HPP) yang sebesar Rp3.700 perkilogram.
"Harga GKP saat ini berkisar Rp3.900 hingga Rp4.000 perkilogram," katanya.
Selain itu, mitra kerja juga belum berani membeli gabah dari petani karena hingga sekarang curah hujan masih tinggi sehingga kesulitan dalam proses pengeringan.
Bahkan beberapa area persawahan seperti dan Kroya, lanjut dia, banyak tanaman padi siap panen yang roboh dan terendam air akibat diguyur hujan sehingga proses pengeringan gabah membutuhkan waktu yang cukup lama karena kadar airnya tinggi.
"Meskipun demikian, kami tetap optimistis prognosa pengadaan pangan sebesar 80.000 ton setara beras pada tahun 2016 dapat tercapai," katanya.
http://www.antarajateng.com/detail/bulog-mulai-serap-gabah-petani-banyumas.html
Dipanggil Menko Darmin, Bos Bulog: Cuma Ngerokok-rokok Aja
Kamis, 18 Februari 2016
JAKARTA - Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti dan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Srie Agustina pagi tadi dipanggil Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution di Kantor Kemenko bidang Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng.
Namun, usai dipanggil, keduanya enggan membeberkan hasil pertemuan dengan Darmin. Baik Djarot dan Srie langsung menuju kendaraannya yang sudah menunggu di lobi Kantor Kemenko bidang Perekonomian.
"Enggak ada apa-apa kok, saya cuma ngerokok-rokok aja," dalih Djarot, Jakarta, Kamis (18/2/2016).
Setali tiga uang, Srie pun enggan berkomentar soal pertemuan tersebut. Dirinya hanya menjelaskan, nanti pada pukul 14.00 WIB akan ada rapat koordinasi (rakor) soal penguatan Perum Bulog.
"Nanti saja jam dua siang," singkatnya.
Selang beberapa menit kemudian, Darmin pun turun dari lift dan menuju kendaraannya. Saat ditanya, Darmin nampak terburu-terburu, karena harus mengikuti rapat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tentang suku bunga.
"Nanti deh, kita cari waktu untuk ngobrol-ngobrol. Soal LRT, saya enggak ikut rapat," lalunya sambil menaiki mobil RI 18.
(rzy)
http://economy.okezone.com/read/2016/02/18/320/1315219/dipanggil-menko-darmin-bos-bulog-cuma-ngerokok-rokok-aja
JAKARTA - Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti dan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Srie Agustina pagi tadi dipanggil Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution di Kantor Kemenko bidang Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng.
Namun, usai dipanggil, keduanya enggan membeberkan hasil pertemuan dengan Darmin. Baik Djarot dan Srie langsung menuju kendaraannya yang sudah menunggu di lobi Kantor Kemenko bidang Perekonomian.
"Enggak ada apa-apa kok, saya cuma ngerokok-rokok aja," dalih Djarot, Jakarta, Kamis (18/2/2016).
Setali tiga uang, Srie pun enggan berkomentar soal pertemuan tersebut. Dirinya hanya menjelaskan, nanti pada pukul 14.00 WIB akan ada rapat koordinasi (rakor) soal penguatan Perum Bulog.
"Nanti saja jam dua siang," singkatnya.
Selang beberapa menit kemudian, Darmin pun turun dari lift dan menuju kendaraannya. Saat ditanya, Darmin nampak terburu-terburu, karena harus mengikuti rapat dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tentang suku bunga.
"Nanti deh, kita cari waktu untuk ngobrol-ngobrol. Soal LRT, saya enggak ikut rapat," lalunya sambil menaiki mobil RI 18.
(rzy)
http://economy.okezone.com/read/2016/02/18/320/1315219/dipanggil-menko-darmin-bos-bulog-cuma-ngerokok-rokok-aja
Langganan:
Postingan (Atom)