Senin, 06 April 2015
GRESIK (BangsaOnline) - Bupati Gresik, Sambari Halim Radianto mengusulkan kepada Bulog (badan urusan logistik) agar membuat gudang-gudang di setiap kabupaten/kota untuk menyimpan beras raskin (masyarakat miskin). Hal ini dilakukan untuk menekan biaya pengiriman beras raskin ke daerah-daerah penerima yang begitu mahal.
"Sudah waktunya di setiap kabupaten/kota dibuatkan gudang-gudang untuk menyimpan beras raskin," kata Sambari, Minggu (5/4).
Menurut Bupati, di Kabupaten Gresik jumlah masyarakat penerima beras miskin masih cukup banyak. Bulog dan pemerintah daerah untuk melayani pengiriman beras raskin ke masing-masing desa biayanya cukup besar. Untuk biaya angkut, bisa menelan anggaran hingga Rp 600 juta. "Kan eman anggaran Rp 600 juta untuk mondar-mandir membawa beras raskin dari gudang Bulog ke kabupaten. Mendingan uang itu digunakan untuk membangun gudang di masing-masing kabupaten," jelasnya.
Sambari menegaskan, kenapa gudang Bulog itu harus dibuat di setiap kabupaten/kota karena beras raskin yang dikirim dari pusat atau propinsi distribusinya terlalu jauh. Berasnya cenderung cepat rusak di perjalanan. Hal ini bisa disebabkan karena kondisi cuaca. "Belum lagi biasanya para penerima menjual kembali beras yang diterima, karena kualitasnya terlalu jelek," ungkapnya.
Ditambahkan Sambari, usulan agar di masing-masing kabupaten/kota dibangun gudang bulog pernah disampaikannya saat mengikuti rapat kerja dengan Presiden RI, Joko Widodo di Istana Bogor. "Apa yang saya lakukan itu sebagai upaya agar raskin yang diterima masyarakat bisa lebih baik," pungkasnya.
Sementara Wabup, Moch Qosim mengatakan, penyaluran beras raskin di Kabupaten Gresik terbaik di Jawa Timur, bahkan nasional. Hal ini terungkap saat Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa berkunjung ke Gresik beberapa saat yang lalu. "Gresik dalam penyaluran beras raskin dinilai terbaik di Jawa Timur menurut Mensos, karena penyaluran raskin di Gresik tepat sasaran, tepat jumlah dan tepat waktu," katanya.
Ditambahkan Wabup, Gresik termasuk daerah penghasil beras dengan surplus sampai 118 ribu ton pertahun. Namun, jumlah penerima raskin di Gresik mencapai 77.751 Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM). Tinginya jumlah ini, karena perhitungan miskin di Gresik standar sangat tinggi, yaitu penghasilannya di bawah Rp 301.000 perKK (kepala keluarga) perbulan.
http://www.bangsaonline.com/berita/10129/bupati-gresik-minta-bulog-buat-gudang-di-tiap-kabupaten
Senin, 06 April 2015
Minggu, 05 April 2015
Siasat Bulog menyerap gabah dan beras petani
Minggu, 05 April 2015
JAKARTA. Badan Urusan Logistik (Bulog) kini tengah berjuang keras menyerap gabah dan beras milik petani. Kendati harus bersaing dengan para tengkulak dan pengusaha besar yang membeli gabah dan beras petani di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP), Bulog tak kehilangan akal.
Bulog memiliki sejumlah siasat yang dinilai ampuh. Salah satunya adalah pembayaran yang cepat atawa cash and carry dan tetap membuka gudang kendati hari libur seperti Sabtu, Bulog selalu siap membeli dan membayar petani.
Sebelum Presiden Joko Widodo mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. tahun 2015 perihal kebijakan pengadaan gabah dan beras, pada 17 Maret 2015, Bulog ternyata telah mulai melakukan kontrak pengadaan sebanyak 50.744 ton beras nasional. Dari angka sebanyak itu, 31.074 ton beras telah direalisasikan sampai 1 April 2015 lalu.
Pada masa panen raya bulan April dan Mei 2015, Bulog akan jor-joran membeli gabah dan beras untuk meningkatkan stok Bulog. "Pada panen raya ini, kita akan tambah cadangan beras Bulog sebanyak-banyaknya," ujar Djoni Nur Ashari, Sekretaris Perusahaan Bulog, akhir pekan lalu.
Saat ini, stok beras Bulog memang tengah menipis tinggal 950.000 ton dari sebelumnya sekitar 1,4 juta ton pada awal tahun. Penurunan stok beras itu terjadi karena Bulog rajin melakukan Operasi Pasar (OP) pasca naiknya harga beras yang sempat menghebohkan secara nasional. Djoni bilang, stok beras Bulog saat ini bisa memenuhi kebutuhan beras nasional selama empat bulan ke depan.
Bulog juga telah menyiapkan saluran pengadaan dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) pembelian gabah dan beras sebanyak 83 unit. Bulog juga telah menyiapkan Unit Pengelolaan Gabah dan Beras (UPGB) sebanyak 132 unit, dan Mitra Kerja Pengadaan (MKP) sebanyak 1.338 dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sebanyak 30 unit. Dengan strategi ini, Bulok memprediksi, bisa menyerap beras dan gabah sebanyak-banyaknya. Pada tahun 2015 ini, Bulog menargetkan bisa menyerap beras sebanyak 2,7 juta ton atau lebih rendah dari target sebelumnya 3,2 juta ton.
Menurut Djoni, saat ini, kondisi harga beras memang masih relatif tinggi atau di atas HPP. Berdasarkan Inpres yang diterbitkan Jokowi, Bulog akan membeli Gabah Kering Panen (GKP) Rp 3.700 per kilogram (kg), Gabah Kering Giling (GKG) Rp 4.600 per kg dan beras Rp 7.300 per kg. Jadi ketika harga beras berada di bawah HPP, Bulog melakukan penyerapan sebanyak-banyaknya.
Namun Djoni optimis seiring dengan Panen Raya pada bulan April-Mei 2015 ini, harga beras dan gabah akan turun mendekati HPP atau, sama dengan HPP dan bahkan di bawah HPP. "Nah saat itulah, kesempatan bagi kita untuk menyerap sebanyak-banyaknya," terang Djoni.
Bulog yakin seiring dengan panen raya ini, harga-harga gabah dan beras akan melandai. Itulah sebabnya, sambil menunggu kesempatan emas itu, Bulog telah mengerahkan semua sumberdaya yang dimlikinya. Baik itu mereka yang menjadi mitra kerja Bulog selama ini, dan Satuan Pelaksana Tugas terjun ke lapangan.
Nantinya, Bulog akan membuka gudanganya dan siap menyerap beras petani yang masuk serta membayarnya langsung ketika beras itu telah masuk ke gudang dan memenuhi kriteria yang ditentukan. Pada hari Sabtu, Bulog menjalin koordinasi dengan Bank Koresponden Bulog di daerah untuk tetap melayani pembayaran beras yang dibeli dari petani.
"Dalam hal ini, kelebihan Bulog adalah cash and carry. Begitu barang masuk gudang, langsung dibayarkan. Kami juga sudah meminta bank koresponden supaya tetap melayani pembayaran meski hari Sabtu. Ini strategi yang kami lakukan untuk fungsi penyerapan tahun ini," imbuh Djoni.
Herman Hidayat Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) Bulog mengatakan Bulog saat ini dipimpin direksi baru yang masih segar. Karena itu, sebagai Direktur SDM ia berkomitmen meningkatkan pembinaan kepada seluruh karyawan Bulog di pusat dan daerah agar maksimal dalam melakukan penyerapan beras. Dengan memaksimalkan SDM yang mumpuni, ia yakin Bulog dapat merealisasikan apa yang diminta pemerintah agar bisa menstabilkan harga beras nasional.
Kepala Humas Bulog Divre Jawa Barat (Jabar), Sumarna Muharif mengatakan saat ini harga beras premium tertinggi di Bandung sebesar Rp 11.000 per kilogram (kg) di penggilingan, sedangkan terendah Rp 8.500 di Karawang.
Kendati begitu, Bulog Jabar tetap akan memaksimalkan penyerapan melalui mitra Dolog di daerah yang sebagian besar adalah pemilih penggilingan. Selain itu, gerakan Satgas Bulog juga dilakukan maksimal di daerah untuk melakukan penyerapan secara jemput bola. Satgas dioptimalkan dan bersinergi dengan mitra Dolog di daerah.
https://www.infovesta.com/infovesta/news/readnews.jsp?id=f34e8c4d-3c79-442f-b79b-6590ac02525e
JAKARTA. Badan Urusan Logistik (Bulog) kini tengah berjuang keras menyerap gabah dan beras milik petani. Kendati harus bersaing dengan para tengkulak dan pengusaha besar yang membeli gabah dan beras petani di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP), Bulog tak kehilangan akal.
Bulog memiliki sejumlah siasat yang dinilai ampuh. Salah satunya adalah pembayaran yang cepat atawa cash and carry dan tetap membuka gudang kendati hari libur seperti Sabtu, Bulog selalu siap membeli dan membayar petani.
Sebelum Presiden Joko Widodo mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. tahun 2015 perihal kebijakan pengadaan gabah dan beras, pada 17 Maret 2015, Bulog ternyata telah mulai melakukan kontrak pengadaan sebanyak 50.744 ton beras nasional. Dari angka sebanyak itu, 31.074 ton beras telah direalisasikan sampai 1 April 2015 lalu.
Pada masa panen raya bulan April dan Mei 2015, Bulog akan jor-joran membeli gabah dan beras untuk meningkatkan stok Bulog. "Pada panen raya ini, kita akan tambah cadangan beras Bulog sebanyak-banyaknya," ujar Djoni Nur Ashari, Sekretaris Perusahaan Bulog, akhir pekan lalu.
Saat ini, stok beras Bulog memang tengah menipis tinggal 950.000 ton dari sebelumnya sekitar 1,4 juta ton pada awal tahun. Penurunan stok beras itu terjadi karena Bulog rajin melakukan Operasi Pasar (OP) pasca naiknya harga beras yang sempat menghebohkan secara nasional. Djoni bilang, stok beras Bulog saat ini bisa memenuhi kebutuhan beras nasional selama empat bulan ke depan.
Bulog juga telah menyiapkan saluran pengadaan dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) pembelian gabah dan beras sebanyak 83 unit. Bulog juga telah menyiapkan Unit Pengelolaan Gabah dan Beras (UPGB) sebanyak 132 unit, dan Mitra Kerja Pengadaan (MKP) sebanyak 1.338 dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sebanyak 30 unit. Dengan strategi ini, Bulok memprediksi, bisa menyerap beras dan gabah sebanyak-banyaknya. Pada tahun 2015 ini, Bulog menargetkan bisa menyerap beras sebanyak 2,7 juta ton atau lebih rendah dari target sebelumnya 3,2 juta ton.
Menurut Djoni, saat ini, kondisi harga beras memang masih relatif tinggi atau di atas HPP. Berdasarkan Inpres yang diterbitkan Jokowi, Bulog akan membeli Gabah Kering Panen (GKP) Rp 3.700 per kilogram (kg), Gabah Kering Giling (GKG) Rp 4.600 per kg dan beras Rp 7.300 per kg. Jadi ketika harga beras berada di bawah HPP, Bulog melakukan penyerapan sebanyak-banyaknya.
Namun Djoni optimis seiring dengan Panen Raya pada bulan April-Mei 2015 ini, harga beras dan gabah akan turun mendekati HPP atau, sama dengan HPP dan bahkan di bawah HPP. "Nah saat itulah, kesempatan bagi kita untuk menyerap sebanyak-banyaknya," terang Djoni.
Bulog yakin seiring dengan panen raya ini, harga-harga gabah dan beras akan melandai. Itulah sebabnya, sambil menunggu kesempatan emas itu, Bulog telah mengerahkan semua sumberdaya yang dimlikinya. Baik itu mereka yang menjadi mitra kerja Bulog selama ini, dan Satuan Pelaksana Tugas terjun ke lapangan.
Nantinya, Bulog akan membuka gudanganya dan siap menyerap beras petani yang masuk serta membayarnya langsung ketika beras itu telah masuk ke gudang dan memenuhi kriteria yang ditentukan. Pada hari Sabtu, Bulog menjalin koordinasi dengan Bank Koresponden Bulog di daerah untuk tetap melayani pembayaran beras yang dibeli dari petani.
"Dalam hal ini, kelebihan Bulog adalah cash and carry. Begitu barang masuk gudang, langsung dibayarkan. Kami juga sudah meminta bank koresponden supaya tetap melayani pembayaran meski hari Sabtu. Ini strategi yang kami lakukan untuk fungsi penyerapan tahun ini," imbuh Djoni.
Herman Hidayat Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) Bulog mengatakan Bulog saat ini dipimpin direksi baru yang masih segar. Karena itu, sebagai Direktur SDM ia berkomitmen meningkatkan pembinaan kepada seluruh karyawan Bulog di pusat dan daerah agar maksimal dalam melakukan penyerapan beras. Dengan memaksimalkan SDM yang mumpuni, ia yakin Bulog dapat merealisasikan apa yang diminta pemerintah agar bisa menstabilkan harga beras nasional.
Kepala Humas Bulog Divre Jawa Barat (Jabar), Sumarna Muharif mengatakan saat ini harga beras premium tertinggi di Bandung sebesar Rp 11.000 per kilogram (kg) di penggilingan, sedangkan terendah Rp 8.500 di Karawang.
Kendati begitu, Bulog Jabar tetap akan memaksimalkan penyerapan melalui mitra Dolog di daerah yang sebagian besar adalah pemilih penggilingan. Selain itu, gerakan Satgas Bulog juga dilakukan maksimal di daerah untuk melakukan penyerapan secara jemput bola. Satgas dioptimalkan dan bersinergi dengan mitra Dolog di daerah.
https://www.infovesta.com/infovesta/news/readnews.jsp?id=f34e8c4d-3c79-442f-b79b-6590ac02525e
PEMPROV NTB SARANKAN BULOG SEWA GUDANG BARU
Minggu, 5 April 2015
WE Online, Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyarankan agar Perum Badan Urusan Logistik di daerah itu menyewa gudang milik swasta untuk mengatasi permasalahan keterbatasan sarana penyimpanan beras.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Nusa Tenggara Barat (NTB) Mokhlis, di Mataram, Sabtu (4/4/2015), mengatakan Badan Urusan Logistik (Divre) NTB mengaku hanya mampu menyerap sebanyak 10 persen dari total produksi padi di NTB, pada 2015, karena keterbatasan gudang penyimpanan beras.
"Oleh sebab itu, kami menyarankan kepada Bulog, sewa gudang swasta kalau memang ada keluhan kurang gudang. Ada banyak gudang swasta yang dibisniskan, jangan terpaku dalam kuota pembeliannya," katanya.
Ia mengatakan saran itu langsung disampaikan pada pertemuan dengan jajaran Komando Resort Militer (Korem) 162/Wira Bhakti, pada 25 Maret 2015.
Jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) yang terlibat dalam upaya khusus (Upsus) swasembada padi, jagung dan kedelai tahun 2017, juga menginginkan agar Bulog lebih berperan dalam hal penyerapan gabah agar petani tidak terkesan hanya disuruh memproduksi, tapi tidak dijamin harga hasil produksinya.
"Tahun ini NTB mentargetkan produksi padi 2,3 juta ton, tapi Bulog hanya mampu menyerap 10 persen dari total produksi," katanya.
Mokhlis juga menyarakan agar Bulog Divre NTB bekerja sama dengan Bulog daerah lain, seperti Bali, yang langsung membeli beras ke NTB.
"Kenapa tidak Bulog NTB saja yang memfasilitasi Bulog Bali membeli gabah atau beras petani di daerah kita. Itu saran kami pada saat rapat," ujarnya.
Ia juga mendorong Bulog Divre NTB untuk menambah dana pembelian gabah atau beras produksi petani di daerahnya, sehingga petani tidak dipermainkan oleh para tengkulak ketika musim panen raya. Mokhlis mengakui kondisi harga gabah kering panen di tingkat petani berada di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp3.700 per kilogram. Kondisi tersebut terjadi di 10 kabupaten/kota yang menjadi sentra padi.
"Kalau subsidi kurang, tolong bicarakan ke pusat untuk ditambah, agar kuota pembelian bisa lebih banyak, tidak seperti sekarang hanya 10 persen dari total produksi padi NTB," ucapnya.
Pemerintah Provinsi NTB menargetkan jumlah produksi padi pada 2015 sebanyak 2,3 juta ton dari luas lahan tanamn mencapai 434.359 hektare. Sasaran produksi padi tersebut mengacu pada rencana strategis (Renstra) Kementerian Pertanian dengan trend peningkatan sebesar 3,2 persen per tahun.
Sentra produksi padi tersebar di 10 kabupaten/kota, yakni Kota Mataram dengan target produksi sebanyak 28.380 ton dari luas lahan tanam mencapai 4.800 hektare, Kabupaten Lombok Barat 175.623 ton dari luas lahan tanam 31.690 hektare, Lombok Utara 70.240 ton dari luas tanam 13.258 hektare, Lombok Tengah 477.890 ton dari luas tanam 90.047 hektare dan Lombok Timur 386.980 ton dari luas tanam 74.665 hektare.
Untuk Kabupaten Sumbawa ditargetkan mampu memproduksi padi sebanyak 486.192 ton dari luas lahan tanam 90.939 hektare, Sumbawa Barat 100.710 ton dari luas lahan tanam 19.302 hektare, Dompu 189.684 ton dari luas lahan tanam 37.915 hektare, Bima 343.505 ton dari luas lahan tanam 64.296 hektare dan Kota Bima sebanyak 37.500 ton dari luas lahan tanam mencapai 7.447 hektare. (Ant)
Editor: Cahyo Prayogo
http://wartaekonomi.co.id/berita52017/pemprov-ntb-sarankan-bulog-sewa-gudang-baru.html
WE Online, Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyarankan agar Perum Badan Urusan Logistik di daerah itu menyewa gudang milik swasta untuk mengatasi permasalahan keterbatasan sarana penyimpanan beras.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Nusa Tenggara Barat (NTB) Mokhlis, di Mataram, Sabtu (4/4/2015), mengatakan Badan Urusan Logistik (Divre) NTB mengaku hanya mampu menyerap sebanyak 10 persen dari total produksi padi di NTB, pada 2015, karena keterbatasan gudang penyimpanan beras.
"Oleh sebab itu, kami menyarankan kepada Bulog, sewa gudang swasta kalau memang ada keluhan kurang gudang. Ada banyak gudang swasta yang dibisniskan, jangan terpaku dalam kuota pembeliannya," katanya.
Ia mengatakan saran itu langsung disampaikan pada pertemuan dengan jajaran Komando Resort Militer (Korem) 162/Wira Bhakti, pada 25 Maret 2015.
Jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) yang terlibat dalam upaya khusus (Upsus) swasembada padi, jagung dan kedelai tahun 2017, juga menginginkan agar Bulog lebih berperan dalam hal penyerapan gabah agar petani tidak terkesan hanya disuruh memproduksi, tapi tidak dijamin harga hasil produksinya.
"Tahun ini NTB mentargetkan produksi padi 2,3 juta ton, tapi Bulog hanya mampu menyerap 10 persen dari total produksi," katanya.
Mokhlis juga menyarakan agar Bulog Divre NTB bekerja sama dengan Bulog daerah lain, seperti Bali, yang langsung membeli beras ke NTB.
"Kenapa tidak Bulog NTB saja yang memfasilitasi Bulog Bali membeli gabah atau beras petani di daerah kita. Itu saran kami pada saat rapat," ujarnya.
Ia juga mendorong Bulog Divre NTB untuk menambah dana pembelian gabah atau beras produksi petani di daerahnya, sehingga petani tidak dipermainkan oleh para tengkulak ketika musim panen raya. Mokhlis mengakui kondisi harga gabah kering panen di tingkat petani berada di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp3.700 per kilogram. Kondisi tersebut terjadi di 10 kabupaten/kota yang menjadi sentra padi.
"Kalau subsidi kurang, tolong bicarakan ke pusat untuk ditambah, agar kuota pembelian bisa lebih banyak, tidak seperti sekarang hanya 10 persen dari total produksi padi NTB," ucapnya.
Pemerintah Provinsi NTB menargetkan jumlah produksi padi pada 2015 sebanyak 2,3 juta ton dari luas lahan tanamn mencapai 434.359 hektare. Sasaran produksi padi tersebut mengacu pada rencana strategis (Renstra) Kementerian Pertanian dengan trend peningkatan sebesar 3,2 persen per tahun.
Sentra produksi padi tersebar di 10 kabupaten/kota, yakni Kota Mataram dengan target produksi sebanyak 28.380 ton dari luas lahan tanam mencapai 4.800 hektare, Kabupaten Lombok Barat 175.623 ton dari luas lahan tanam 31.690 hektare, Lombok Utara 70.240 ton dari luas tanam 13.258 hektare, Lombok Tengah 477.890 ton dari luas tanam 90.047 hektare dan Lombok Timur 386.980 ton dari luas tanam 74.665 hektare.
Untuk Kabupaten Sumbawa ditargetkan mampu memproduksi padi sebanyak 486.192 ton dari luas lahan tanam 90.939 hektare, Sumbawa Barat 100.710 ton dari luas lahan tanam 19.302 hektare, Dompu 189.684 ton dari luas lahan tanam 37.915 hektare, Bima 343.505 ton dari luas lahan tanam 64.296 hektare dan Kota Bima sebanyak 37.500 ton dari luas lahan tanam mencapai 7.447 hektare. (Ant)
Editor: Cahyo Prayogo
http://wartaekonomi.co.id/berita52017/pemprov-ntb-sarankan-bulog-sewa-gudang-baru.html
Harga Tinggi, Bulog Sulit Serap Beras Petani
Minggu, 5 April 2015
“Kita tetap bersyukur dengan kondisi harga sekarang ini. Ini kabar gembira untuk petani, petani memiliki pilihan untuk menjual gabah atau berasnya dengan harga bagus,” kata Djoni.
JAKARTA (Pos Kota)-Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Djoni Nur Ashari, mengakui Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras yang ditetapkan berdasarkan Inpres Nomor 5 Tahun 2015 masih di bawah harga pasaran sehingga menyulitkan pihaknya dalam menyerap beras petani.
“Harga beras saat ini masih tinggi. Masih di atas HPP sehingga petani cenderung lebih memilih menjual berasnya pada tengkulak yang mau membayar dengan harga atas HPP,” katanya. saat bersilaturahmi dengan media di Kantor Perum Bulog, kemarin.
Menurut Djoni, berdasarkan Inpres No.5/2015, Gabah Kering Panen (GKP) dihargai Rp 3.700/kg di petani dan Rp 3.750/kg di penggilingan. HPP untuk Gabah Kering Giling (GKG) sebesar Rp 4.600 di penggilingan dan Rp 4.650 di Gudang Bulog. Sedangkan HPP beras adalah Rp 7.300/kg.
HPP beras ini sebenarnya naik 10 persen dibanding tahun lalu. Namun harga pasaran beras sudah naik lebih dari 10 persen. Meski begitu, tingginya harga beras ini juga melegakan karena menguntungkan petani.
“Kita tetap bersyukur dengan kondisi harga sekarang ini. Ini kabar gembira untuk petani, petani memiliki pilihan untuk menjual gabah atau berasnya dengan harga bagus,” kata Djoni.
Dia memprediksi harga beras akan menurun hingga mendekati HPP seiring datangnya musim panen. Dengan kondisi demikian maka Bulog akan kembali menyerap beras petani sebanyak-banyaknya.
“Seiring panen raya kami prediksi harga akan menurun mendekati HPP. Pada saat harga rendah itulah Bulog akan menyerap hasil panen petani sebanyak-banyaknya,” tuturnya.
Dalam memaksimalkan pengadaan beras tahun ini, Bulog menempuh beberapa strategi. Berbagai saluran untuk pengadaan beras telah disiapkan dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) pembelian gabah dan beras sebanyak 83 unit, Unit Pengolahan Gabah dan Beras (UPGB) sebanyak 132 unit, Mitra Kerja Pengadaan (MKP) yang sudah terseleksi 1.338, dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) 30 unit.
Menurut Djoni, hingga April 2015 ini pihaknya telah melakukan kontrak pengadaan sebanyak 50.744 ton setara beras. Dari kontrak tersebut, sebanyak 31.074 ton setara beras telah terealisasi.
(faisal/sir)
http://poskotanews.com/2015/04/05/harga-tinggi-bulog-sulit-serap-beras-petani/
“Kita tetap bersyukur dengan kondisi harga sekarang ini. Ini kabar gembira untuk petani, petani memiliki pilihan untuk menjual gabah atau berasnya dengan harga bagus,” kata Djoni.
JAKARTA (Pos Kota)-Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Djoni Nur Ashari, mengakui Harga Pembelian Pemerintah (HPP) beras yang ditetapkan berdasarkan Inpres Nomor 5 Tahun 2015 masih di bawah harga pasaran sehingga menyulitkan pihaknya dalam menyerap beras petani.
“Harga beras saat ini masih tinggi. Masih di atas HPP sehingga petani cenderung lebih memilih menjual berasnya pada tengkulak yang mau membayar dengan harga atas HPP,” katanya. saat bersilaturahmi dengan media di Kantor Perum Bulog, kemarin.
Menurut Djoni, berdasarkan Inpres No.5/2015, Gabah Kering Panen (GKP) dihargai Rp 3.700/kg di petani dan Rp 3.750/kg di penggilingan. HPP untuk Gabah Kering Giling (GKG) sebesar Rp 4.600 di penggilingan dan Rp 4.650 di Gudang Bulog. Sedangkan HPP beras adalah Rp 7.300/kg.
HPP beras ini sebenarnya naik 10 persen dibanding tahun lalu. Namun harga pasaran beras sudah naik lebih dari 10 persen. Meski begitu, tingginya harga beras ini juga melegakan karena menguntungkan petani.
“Kita tetap bersyukur dengan kondisi harga sekarang ini. Ini kabar gembira untuk petani, petani memiliki pilihan untuk menjual gabah atau berasnya dengan harga bagus,” kata Djoni.
Dia memprediksi harga beras akan menurun hingga mendekati HPP seiring datangnya musim panen. Dengan kondisi demikian maka Bulog akan kembali menyerap beras petani sebanyak-banyaknya.
“Seiring panen raya kami prediksi harga akan menurun mendekati HPP. Pada saat harga rendah itulah Bulog akan menyerap hasil panen petani sebanyak-banyaknya,” tuturnya.
Dalam memaksimalkan pengadaan beras tahun ini, Bulog menempuh beberapa strategi. Berbagai saluran untuk pengadaan beras telah disiapkan dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) pembelian gabah dan beras sebanyak 83 unit, Unit Pengolahan Gabah dan Beras (UPGB) sebanyak 132 unit, Mitra Kerja Pengadaan (MKP) yang sudah terseleksi 1.338, dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) 30 unit.
Menurut Djoni, hingga April 2015 ini pihaknya telah melakukan kontrak pengadaan sebanyak 50.744 ton setara beras. Dari kontrak tersebut, sebanyak 31.074 ton setara beras telah terealisasi.
(faisal/sir)
http://poskotanews.com/2015/04/05/harga-tinggi-bulog-sulit-serap-beras-petani/
Sabtu, 04 April 2015
Mentan: Indonesia Swasembada Pangan Penuh 2017
Sabtu, 4 April 2015
Pemerintah tegaskan siap swasembada pangan yang akan dimulai tahun ini dan mencapai target penuh pada 2017, meski aktivis mengatakan program itu sampai saat ini stagnan.
JAKARTA—Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan pemerintah semakin siap menyongsong swasembada pangan dan pihaknya telah menjalankan berbagai program priortas sebagai pendukung swasembada.
Swasembada untuk komoditas unggulan, yakni padi, jagung dan kedelai siap mulai tahun ini, sementara komoditas pangan lainnya ditargetkan tercapai pada tahun 2017, ujar Amran.
Ia menambahkan bahwa pemerintah berhasil menambah 640 ribu hektar lahan untuk jenis tanaman padi.
“Sudah prioritas, irigasinya sudah, peralatannya, kemudian benih, itu menjadi faktor prioritas. Komoditasnya padi, jagung, kedelai. Ini adalah tambah tanam tertinggi selama 10 tahun terakhir, tambah tanam padi, itu 640 ribu tambahan tanam," ujarnya usai rapat dengan Komisi IV DPR RI yang menangani masalah pertanian, Kamis malam (2/4).
Menurut catatan Badan Pertanahan Nasional, hingga 2014 lahan untuk tanaman padi nasional mencapai 14 juta hektar dan luas tersebut dinilai tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan pangan sekitar 240 juta orang di Indonesia.
Sementara itu Thailand memiliki luas lahan 10 juta hektar untuk memenuhi sekitar 68 juta orang. Hal ini membuat Indonesia masih mengimpor beras dari Thailand.
Aktivis dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, Witoro menilai program swasembada pangan di negara ini stagnan.
"Ini perlu satu gerakan yang dilakukan bukan hanya (Presiden) Jokowi tetapi juga lapis provinsi, di kabupaten dan di tingkat desa. Potensi-potensi ini yang belum bisa digerakkan," ujarnya pada VOA, Jumat.
Witoro berpendapat saat ini petani dan pemerintah daerah kehilangan semangat dalam uyapa meningkatkan produk-produk pertanian sehingga perlu kreasi baru dari pemerintah pusat agar bertani menjadi hal yang penuh semangat dan menyenangkan.
Meski pemerintah sering menyampaikan akan menghentikan impor komoditas pangan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia masih bergantung pada impor berbagai komoditas terutama beras, jagung, kedelai dan bawang.
Sebelumnya dalam beberapa kali kesempatan Presiden Joko Widodo menegaskan swasembada pada tahun 2017 tidak bisa ditawar lagi. Jika tidak terwujud ia mempersilakan menteri-menteri terkait mengundurkan diri.
ww.voaindonesia.com/content/mentan-indonesia-swasembada-pangan-penuh-2017/2705270.html
Pemerintah tegaskan siap swasembada pangan yang akan dimulai tahun ini dan mencapai target penuh pada 2017, meski aktivis mengatakan program itu sampai saat ini stagnan.
JAKARTA—Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan pemerintah semakin siap menyongsong swasembada pangan dan pihaknya telah menjalankan berbagai program priortas sebagai pendukung swasembada.
Swasembada untuk komoditas unggulan, yakni padi, jagung dan kedelai siap mulai tahun ini, sementara komoditas pangan lainnya ditargetkan tercapai pada tahun 2017, ujar Amran.
Ia menambahkan bahwa pemerintah berhasil menambah 640 ribu hektar lahan untuk jenis tanaman padi.
“Sudah prioritas, irigasinya sudah, peralatannya, kemudian benih, itu menjadi faktor prioritas. Komoditasnya padi, jagung, kedelai. Ini adalah tambah tanam tertinggi selama 10 tahun terakhir, tambah tanam padi, itu 640 ribu tambahan tanam," ujarnya usai rapat dengan Komisi IV DPR RI yang menangani masalah pertanian, Kamis malam (2/4).
Menurut catatan Badan Pertanahan Nasional, hingga 2014 lahan untuk tanaman padi nasional mencapai 14 juta hektar dan luas tersebut dinilai tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan pangan sekitar 240 juta orang di Indonesia.
Sementara itu Thailand memiliki luas lahan 10 juta hektar untuk memenuhi sekitar 68 juta orang. Hal ini membuat Indonesia masih mengimpor beras dari Thailand.
Aktivis dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, Witoro menilai program swasembada pangan di negara ini stagnan.
"Ini perlu satu gerakan yang dilakukan bukan hanya (Presiden) Jokowi tetapi juga lapis provinsi, di kabupaten dan di tingkat desa. Potensi-potensi ini yang belum bisa digerakkan," ujarnya pada VOA, Jumat.
Witoro berpendapat saat ini petani dan pemerintah daerah kehilangan semangat dalam uyapa meningkatkan produk-produk pertanian sehingga perlu kreasi baru dari pemerintah pusat agar bertani menjadi hal yang penuh semangat dan menyenangkan.
Meski pemerintah sering menyampaikan akan menghentikan impor komoditas pangan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia masih bergantung pada impor berbagai komoditas terutama beras, jagung, kedelai dan bawang.
Sebelumnya dalam beberapa kali kesempatan Presiden Joko Widodo menegaskan swasembada pada tahun 2017 tidak bisa ditawar lagi. Jika tidak terwujud ia mempersilakan menteri-menteri terkait mengundurkan diri.
ww.voaindonesia.com/content/mentan-indonesia-swasembada-pangan-penuh-2017/2705270.html
Produksi Beras Masih Bisa Bertambah
Sabtu, 4 April 2015
JAKARTA, KOMPAS — Realisasi luas tanam padi periode Oktober 2014-Maret 2015 mencapai 8,8 juta hektar. Dengan perkiraan tambahan potensi tanam hingga Mei 2015, yakni seluas 5,8 juta hektar, akan ada pertanaman padi hingga Mei 2015 seluas 14,6 juta hektar.
Dengan kondisi itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, di Jakarta, Jumat (3/4), menegaskan, masih ada ruang gerak untuk meningkatkan produksi beras nasional 2015 di tengah ancaman kemarau yang datang lebih awal. Dengan produktivitas rata-rata 6 ton gabah kering giling per hektar di lahan yang masuk program upaya khusus, akan ada tambahan produksi padi 4,2 juta ton gabah kering giling dari pertanaman Oktober 2014-Maret 2015.
Realisasi pertanaman padi pada musim hujan Oktober 2014-Maret 2015 meningkat 700.000 hektar dibandingkan dengan periode sebelumnya, yakni 8,1 juta hektar.
Dengan realisasi tanam hingga Mei 2015 saja, diperkirakan sudah ada surplus luas tanam lebih dari 1 juta hektar dibandingkan dengan realisasi panen sepanjang 2014. Dengan tambahan pertanaman Juni-September 2015, Amran Sulaiman optimistis target luas tanam padi 2015 sekitar 16 juta hektar akan tercapai.
Menurut Menteri Pertanian, harga gabah atau beras yang tinggi mendorong petani giat menanam padi. Petani tak akan membiarkan lahan pertanian mereka menganggur tanpa ditanami.
Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir mengatakan, musim kemarau yang datang lebih awal tahun ini akan memengaruhi produksi padi nasional. Oleh karena itu, dampaknya terhadap produksi padi harus diantisipasi.
"Pemerintah perlu memastikan kepada petani soal perkiraan kemarau lebih awal sehingga petani bisa berhitung saat akan tanam demi mengurangi dampak kegagalan panen," katanya.
Dalam Kalender Tanam Terpadu Versi 2.1 untuk musim tanam 2015, pertanaman pangan untuk komoditas padi, jagung, dan kedelai pada musim kemarau April-September 2015 rawan terkena kekeringan dan serangan hama penyakit. Kondisi rawan ini terjadi di 11 provinsi sentra produksi pangan nasional.
Mengenai kewajiban Bulog membeli beras petani, Amran Sulaiman berharap tahun ini Bulog bisa membeli 4 juta ton setara beras. Bulog punya kesempatan penuh untuk membeli gabah atau beras produksi dalam negeri pada April dan Mei 2015. (MAS)
http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150404kompas/#/18/
JAKARTA, KOMPAS — Realisasi luas tanam padi periode Oktober 2014-Maret 2015 mencapai 8,8 juta hektar. Dengan perkiraan tambahan potensi tanam hingga Mei 2015, yakni seluas 5,8 juta hektar, akan ada pertanaman padi hingga Mei 2015 seluas 14,6 juta hektar.
Dengan kondisi itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, di Jakarta, Jumat (3/4), menegaskan, masih ada ruang gerak untuk meningkatkan produksi beras nasional 2015 di tengah ancaman kemarau yang datang lebih awal. Dengan produktivitas rata-rata 6 ton gabah kering giling per hektar di lahan yang masuk program upaya khusus, akan ada tambahan produksi padi 4,2 juta ton gabah kering giling dari pertanaman Oktober 2014-Maret 2015.
Realisasi pertanaman padi pada musim hujan Oktober 2014-Maret 2015 meningkat 700.000 hektar dibandingkan dengan periode sebelumnya, yakni 8,1 juta hektar.
Dengan realisasi tanam hingga Mei 2015 saja, diperkirakan sudah ada surplus luas tanam lebih dari 1 juta hektar dibandingkan dengan realisasi panen sepanjang 2014. Dengan tambahan pertanaman Juni-September 2015, Amran Sulaiman optimistis target luas tanam padi 2015 sekitar 16 juta hektar akan tercapai.
Menurut Menteri Pertanian, harga gabah atau beras yang tinggi mendorong petani giat menanam padi. Petani tak akan membiarkan lahan pertanian mereka menganggur tanpa ditanami.
Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan Winarno Tohir mengatakan, musim kemarau yang datang lebih awal tahun ini akan memengaruhi produksi padi nasional. Oleh karena itu, dampaknya terhadap produksi padi harus diantisipasi.
"Pemerintah perlu memastikan kepada petani soal perkiraan kemarau lebih awal sehingga petani bisa berhitung saat akan tanam demi mengurangi dampak kegagalan panen," katanya.
Dalam Kalender Tanam Terpadu Versi 2.1 untuk musim tanam 2015, pertanaman pangan untuk komoditas padi, jagung, dan kedelai pada musim kemarau April-September 2015 rawan terkena kekeringan dan serangan hama penyakit. Kondisi rawan ini terjadi di 11 provinsi sentra produksi pangan nasional.
Mengenai kewajiban Bulog membeli beras petani, Amran Sulaiman berharap tahun ini Bulog bisa membeli 4 juta ton setara beras. Bulog punya kesempatan penuh untuk membeli gabah atau beras produksi dalam negeri pada April dan Mei 2015. (MAS)
http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150404kompas/#/18/
Bulog Selektif Beli Beras Petani
Jumat, 03 April 2015
REPUBLIKA.CO.ID, KENDARI -- Perusahaan Umum Badan Urusan Lgistik (Bulog) Divisi Regional Sulawesi Tenggara akan semakin selektif dalam membeli beras petani lokal di daerah itu.
Kepala Divre Bulog Sultra, Ramli Hasan mengatakan upaya itu dilakukan agar kualitas beras yang disalurkan kembali ke masyarakat bisa terjamin.
"Saat ini ada keluhan dari masyarakat tentang adanya kasus raskin yang dinilai tidak layak konsumsi tersebar ke warga. Ini bisa jadi saat membeli di petani ada yang terselip kualitas tidak bagus, sehingga saat disalurkan kembali yang disalahkan Bulog," kata Ramli, Jumat (3/4).
Bulog, kata Ramli, menginstruksikan pengusaha mitra pengadaan beras Bulog agar memperketat uji kualitas beras yang dibeli ke petani dan jangan hanya berorientasi pada kuantitas pengadaan tetapi diutamakan kualitas.
Apalagi saat ini, lanjut Ramli, harga pembelian pemerintah (HPP) beras sudah mengalami peningkatan dari Rp6.600 per kilogram naik menjadi Rp7.300 per kilogram.
"Lumayan, ada kenaikan harga pembelian pemerintah sebesar Rp700 per kilogram dari harga sebelumnya. Dengan harga pembelian tersebut, diharapkan para petani bisa menjaga kualitas berasnya," kata dia.
Menurut dia, target awal pembelian beras petani lokal tahun ini hanya 25.000 ton, tetapi itu bisa lebih jika produksi beras petani meningkat.
"Berapapun yang diproduksi petani dan dijual ke Bulog akan dibeli dengan harga terbaru, asalkan beras yang dijual petani tersebut memenuhi kualitas standar," katanya.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/04/03/nm7tp4-bulog-selektif-beli-beras-petani
REPUBLIKA.CO.ID, KENDARI -- Perusahaan Umum Badan Urusan Lgistik (Bulog) Divisi Regional Sulawesi Tenggara akan semakin selektif dalam membeli beras petani lokal di daerah itu.
Kepala Divre Bulog Sultra, Ramli Hasan mengatakan upaya itu dilakukan agar kualitas beras yang disalurkan kembali ke masyarakat bisa terjamin.
"Saat ini ada keluhan dari masyarakat tentang adanya kasus raskin yang dinilai tidak layak konsumsi tersebar ke warga. Ini bisa jadi saat membeli di petani ada yang terselip kualitas tidak bagus, sehingga saat disalurkan kembali yang disalahkan Bulog," kata Ramli, Jumat (3/4).
Bulog, kata Ramli, menginstruksikan pengusaha mitra pengadaan beras Bulog agar memperketat uji kualitas beras yang dibeli ke petani dan jangan hanya berorientasi pada kuantitas pengadaan tetapi diutamakan kualitas.
Apalagi saat ini, lanjut Ramli, harga pembelian pemerintah (HPP) beras sudah mengalami peningkatan dari Rp6.600 per kilogram naik menjadi Rp7.300 per kilogram.
"Lumayan, ada kenaikan harga pembelian pemerintah sebesar Rp700 per kilogram dari harga sebelumnya. Dengan harga pembelian tersebut, diharapkan para petani bisa menjaga kualitas berasnya," kata dia.
Menurut dia, target awal pembelian beras petani lokal tahun ini hanya 25.000 ton, tetapi itu bisa lebih jika produksi beras petani meningkat.
"Berapapun yang diproduksi petani dan dijual ke Bulog akan dibeli dengan harga terbaru, asalkan beras yang dijual petani tersebut memenuhi kualitas standar," katanya.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/04/03/nm7tp4-bulog-selektif-beli-beras-petani
Langganan:
Postingan (Atom)