Rabu, 02 April 2014

Tambah Stok, Bulog Maluku Beli 3.000 Ton Beras Sulsel

Selasa, 1 April 2014

Ambon - Berita Maluku. Perum Bulog Divisi Regional Maluku membeli lagi sedikitnya 3.000 ton beras asal Palopo, Sulawesi Selatan, untuk menambah stok.

"Saat ini sedang dilakukan pembongkaran di pelabuhan Yos Soedarso, Ambon, dan selanjutnya akan disimpan di gudang Bulog Ambon yang terdapat di Desa Galala, Kecamatan Sirimau, dan Kelurahan Air Salobar, Kecamatan Nusaniwe," kata Kabid penyaluran Devisi Regional (Divre) Perum Bulog Maluku Latif Malawat di Ambon, Selasa (1/4/2014).

Dia menjelaskan, untuk tahun ini selain membeli dari Palopo Bulog Maluku juga sedang membeli beras asal petani Pulau Buru masa panen tahun 2014, dimana pada bulan Maret telah berhasil membeli 25 ton beras.

"Kami target akan membeli beras Buru sebanyak 3.000 ton bahkan lebihpun Bulog bersedia asalkan petani mau penjualnya," ujarnya.

Sedangkan stok beras yang ada sekarang ini tercatat sebanyak 13.649 ton dan akan mengisi permintaan pasar hingga 3,4 bulan kedepan.

Rinciannya untuk gudang Kota Ambon tercatat sebanyak 9.020 ton, gudang Kota Ternate (Provinsi Maluku Utara) sebanyak 3.463 ton dan Kota Tual 1.166 ton.

"Jadi cukup aman, masyarakat tidak perlu takut apalagi menghadapi pelaksanaan pemilihan umum tanggal 9 April 2014 maupun perubahan cuaca yang sewaktu - waktu kurang bersahabat," katasnya.

Menurut Latif, biasanya stok beras yang ada di Kota Tual selama ini digunakan untuk melayani masyarakat di lima daerah masing - masing Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), Kabupaten Kepulauan Aru, Kabupaten Maluku Barat Daya dan Kota Tual, dan sewaktu - waktu akan disuplai dari Ambon kalau sangat membutuhkan.

Sedangkan Kota Ternate walaupun ibukota Provinsi Maluku utara namun Sub Bulognya masuk Devisi Regional Bulog Maluku, karena itu stok yang ada di sana pengadaannya dilakukan Bulog Maluku.

Sedangkan pengadaan beras secara nasional untuk kedua provinsi ini selalu dilakukan dari Sulawesi Selatan, dan lokal didatangkan dari Pulau Buru, bahkan beras asal daerah itu untuk konsumsi masyarakat setempat yang terdiri atas dua kabupaten masing - masing Kabupaten Buru dan Buru Selatan (Bursel). (ant/bm 10)


Bulog Hanya Mampu Serap 7 Persen Hasil Panen Lamongan

Selasa, 1 April 2014


SURYA Online, LAMONGAN - Kemampuan Bulog untuk membeli hasil panen petani di Kabupaten Lamongan hanya sebesar tujuh persen dari total hasil panen petani Lamongan sebanyak 900 ribu ton gabha kering giling.
Realita itu diungkapkan Asisten Kepala Perum Bulog Subdivre Jatim Sukandar SN saat melakukan Sosialisasi Program Satu Desa Satu Lumbung Pangan dan  Pengadaan Gabah di Dalam Negeri, di Pendopo Lokatantra, Selasa (1/4/2014).
Diungkapkan,  Sukandar, target pengadaan beras dalam negeri (Ada DN) untuk wilayah Sub Divre Bojonegoro tahun ini sebesar 200 ribu ton. Rinciannya, untuk Bojonegoro dijatah penyerapan 100 ribu ton, Tuban dijatah 66 ribu ton dan jatah paling rendah untuk Lamongan sebesar 34 ribu ton.
Sedangkan realisasi penyerapan beras hingga 28 Maret 2013, masih menurut Sukandar, tercapai 17.119 ton atau sebesar 8,6 persen untuk wilayah Sub Divre Bojonegoro. Dengan rincian penyerapan Bojonegoro sebesar 3.566 ton atau 3,6 persen, Tuban sebesar 5.186 ton atau 7,9 persen dan penyerapan terbesar adalah di Lamongan sebesar 8.367 ton atau sebanyak 24,6 persen dari target.
“Program satu desa satu lumbung pangan yang dicanangkan Bupati Fadeli merupakan program yang bagus untuk menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga komoditas,”ungkapnya.
Sementara  Fadeli pada kesempatan itu  menyebutkan.  ketahanan pangan merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional. Petani memiliki kedudukan yang strategis namun sering kali petani dirugikan karena jatuhnya harga komoditas pangan di saat panen raya, keterbatasan modal usaha baik untuk pengolahan, penyimpanan maupun distribusi sedangkan saat musim tanam harga komoditas menjadi tinggi.
Oleh karena itulah,  untuk membangun ketahanan pangan, tahun ini Fadeli  mencanangkan Program Satu Desa Satu Lumbung Pangan untuk menjaga stabilitas harga komoditas, terutama padi Kabupaten Lamongan.
 “Dari 474 desa dan kelurahan di Kabupaten Lamongan, masih terdapat 229 desa yang belum mempunyai lumbung pangan. Oleh karena itu di tahun 2014, Pemerintah Daerah menganggarkan dana sebesar Rp. 1.000.000 bagi setiap desa untuk memfasilitasi pembangunannya,”ungkap Fadeli berharap dari 19.611 ha lahan yang saat ini siap panen, hasil panen tersebut tidak langsung dijual namun dapat disimpan di lumbung pangan desa setempat. Sehingga ada nilai tambah bagi gabah yang dipanen dan bisa lebih memberi kesejahteraan.

http://surabaya.tribunnews.com/2014/04/01/bulog-hanya-mampu-serap-7-persen-hasil-panen-lamongan

Selasa, 01 April 2014

Bulog Bangka Siap Stabilkan Harga Kedelai

Selasa, 1 April 2014

Pangkalpinang (Antara Babel) - Perum Bulog Subdivre Bangka, Provinsi Bangka Belitung (Babel) menyatakan kesiapannya membantu pemerintah daerah menstabilkan harga kedelai yang mengalami kenaikan cukup tinggi.


"Saat ini kami menunggu permintaan dari Pemerintah Provinsi Bangka Belitung untuk menstabilkan kembali harga kedelai tersebut," kata Kepala Perum Bulog Subdivre Bangka, Nur Untung Wahyudi di Pangkalpinang, Senin.


Ia menjelaskan, pada tahun ini Perum Bulog tidak hanya mengurusi pengelolaan produksi dan pendistribusian beras, namun juga berperan menangani produksi kedelai dan gula pasir yang harganya sedang melonjak drastis.


"Informasi sementara dari pemerintah provinsi yang diterima, stok kedelai untuk memenuhi kebutuhan warga masih cukup dan belum diperlukan peran Bulog untuk menambah stok guna menstabilkan harga komoditas tersebut," ujarnya.


Menurut dia, selama ini untuk memenuhi kebutuhan kedelai dan gula pasir Bangka Belitung masih tergantung pasokan dari daerah sentra produksi di Pulau Jawa dan Sumatera, sehingga potensi kenaikan harga yang lebih tinggi cukup besar.


"Sekitar 95 persen kedelai ini didatangkan dari luar karena hasil kedelai petani lokal yang sangat kurang, sehingga ketetapan harga di daerah ini masih berdasarkan hukum pasar," ujarnya.


Ia mengatakan, kenaikan harga kedelai yang tinggi tentu akan memberatkan ekonomi masyarakat, khususnya perajin tahu dan tempe.


"Bebarapa bulan terakhir perajin tahu dan tempe mengeluhkan kenaikan harga sehingga mereka terpaksa memperkecil ukuran tahu tempe agar tidak merugi," ujarnya.


Selain itu, kenaikan harga kedelai juga memperlambat perkembangan usaha kecil menengah, bahkan ada yang terpaksa menghentikan usahanya karena biaya produksi tidak sesuai dengan penjualan yang terus mengalami penurunan seiring melemahnya daya beli masyarakat.


"Sebagai bagian dari instansi pemerintah kami selalu siap jika diberikan mandat dan tugas untuk menangani produksi kedelai," ujarnya.

http://www.antarababel.com/berita/8393/bulog-bangka-siap-stabilkan-harga-kedellai

Sutarto Alimoeso "Membangun Kedaulatan Pangan"

Selasa, 1 April 2014

Sutarto Alimoeso Direktur Utama Perum Bulog menjelaskan, peran bulog untuk dua kegiatan tersebut tidaklah mudah. Jati diri bulog sesungguhnya adalah sebagai stabilisator. Sehingga Bulog mencoba cara untuk mengkombinasikan Public Service Obligation (PSO) dan komersial. Kegiatan komersial dilakukan untuk mendukung PSO sebagaimana mestinya.

“Penyesuaian yang kita lakukan dalam beberapa tahun belakangan ini adalah mulai merubah paradigma. Dimana dulunya kalau harga jatuh di pasaran, Bulog akan membeli. Sebaliknya kalau harga bagus, bulog membiarkan saja. Itu harus dirubah dengan tiga indikator penting yang saat ini menjadi dasar pedoman kegiatan Bulog yaitu, produksi, harga, dan stok,” ujar Sutarto.

Sutarto memaparkan kombinasi PSO dengan kegiatan komersial bulog melalui tiga indikator tersebut. Begitu produksi bagus kecenderungan harga akan turun, stok bulog akan lebih besar. Namun, bila produksi rendah, harga cenderung naik dan stok bulog turun. “Produksi, harga, dan stok itulah yang dikombinasikan, bagaimana kita komersial tetapi mampu ikut menjaga stabilisasi,” imbuhnya.

Untuk tahun 2014 ke depan, Bulog tidak lagi menggunakan ketahanan pangan sebagai tujuan kerjanya. Menciptakan kedaulatan pangan telah digagas oleh Sutarto sebagai tujuan di tahun mendatang.

“Ketahanan pangan itu beda. Kalau ketahanan pangan, soal impor tidak dipermasalahkan. Tapi kan masyarakat menghendaki untuk impor itu nanti dulu. Walaupun kurang-kurang sedikit ya jangan impor. Maka dari itu tujuan kita sekarang bersama mewujudkan kedaulatan pangan,” jelasnya.

Sutarto menuturkan, dalam membangun kedaulatan pangan Bulog bekerja dari sektor hulu hingga hilir. Itu di awali dengan membangun infrastruktur penunjang dari hulu hingga hilir. Di hulu Bulog akan berusaha untu memiliki unit bisnis pengolahan yang didukung dengan alat mesin pertanian. Lalu pada distribusi Bulog membangun perusahaan sendiri yang merupakan anak perusahaan dari Perum Bulog khusus sektor distribusi. “Untuk bagian hilirnya, kita ada Bulog Mart yang merupakan pusat-pusat distribusi pangan,” imbuhnya.

Mengatasi Impor Tahun 2014

Kebutuhan domestik dalam negeri akan pangan sangatlah tinggi, adakalanya stok domestik mengalami kekurangan. Langkah yang dilakukan untuk segera menyesuaikan stok salah satunya melalui impor.

“Soal impor kalau kurang ya kita impor. Target kita untuk impor tahun depan, Bulog mampu bersinergi dengan BUMN. Prinsip dasar dalam bersinergi itu tetap sama yaitu pemerintah harus mempunyai stok, distribusi harus terjamin, sehingga harga juga dapat terjamin,” ujar Dirut Bulog yang telah memimpin sejak November 2009 silam itu.

Untuk mengurangi impor, tambahnya, Bulog sedang menuju ke arah itu. Bulog harus dapat memperhitungkan matang-matang karena impor itu telah memiliki sistem dagang yang terbentuk sebelumnya. Sedang Bulog merupakan pemain baru dalam sistem itu. Untuk itu Bulog harus membangun jaringan dengan menyiapkan infrastruktur awalnya, membangun pusat-pusat distribusi pangan untuk membuka jaringan pasar baru.

“Sistem komoditas pangan itu sudah terbentuk. Dengan telah terbentuknya itu mari kita lihat itu adil atau tidak. Ternyata kan cenderung tidak adil. Kenapa tidak adil? Dilihat dari harga yang bergejolak naik turun naik turun. Nah disitulah dengan undang-undang yang ada pemerintah wajib memiliki instrumen untuk mengendalikan harga itu,” tutur Sutarto.

Harapan Bulog, tambahnya, untuk mengurangi impor, pemerintah melakukan seperti halnya menangani beras. Ada cadangan untuk beras pemerintah. Kemudian dengan adanya infrastruktur yang dibangun dari hulu hingga hilir itu, pemerintah paham bahwa itu agar dikelola oleh bulog. Ocha Witnesteka

http://www.agrofarm.co.id/read/pertanian/443/sutarto-alimoeso-membangun-kedaulatan-pangan/#.Uzp8yeOSzME

Produksi Padi Turun akibat Hama

Selasa, 1 April 2014

TEGAL, KOMPAS — Harga gabah di wilayah Tegal dan Brebes, Jawa Tengah, anjlok seiring musim panen yang mulai berlangsung. Kondisi itu diperparah dengan penurunan produktivitas padi akibat serangan hama di beberapa wilayah.
Panen padi di Kota Tegal antara lain berlangsung di Kelurahan Kalinyamat Kulon, Kecamatan Margadana, sedangkan di Kabupaten Brebes seperti terlihat di Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, serta di wilayah Kecamatan Wanasari.

Asmawi (54), petani di Kelurahan Kalinyamat Kulon, Senin (31/3), mengatakan, harga gabah terus turun dalam dua pekan terakhir. Selama ini, petani di wilayahnya biasa menjual gabah dengan sistem tebas (penjualan secara borongan di sawah).

Sebelumnya, dari panen seluas 1.667 meter persegi bisa diperoleh hasil jual sekitar Rp 3,5 juta. Namun pekan lalu turun menjadi Rp 3 juta, dan pada panen saat ini hanya terjual Rp 2,2 juta. ”Sekarang petani rugi, harga gabah murah,” katanya.

Roji (36), petani lain di Kelurahan Kalinyamat Kulon, mengatakan, produktivitas gabah juga turun akibat tanaman terserang hama sundep atau penggerek batang. Dari lahannya seluas seperempat bau (sekitar 1.667 meter), saat ini hanya diperoleh sekitar 4,8 kuintal gabah. Padahal biasanya bisa mencapai 6 kuintal.

Jika dijual dengan sistem tebas, hasil panennya hanya ditawar Rp 1 juta oleh tengkulak. Hasil itu tidak bisa menutup biaya produksi yang mencapai Rp 1,5 juta. Akibatnya saat ini, dia terpaksa memanen sendiri dan membawa pulang gabahnya.

Kondisi serupa dialami petani di Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Subhkan (38), mengatakan, saat ini petani sedang rugi. Hasil panen yang diperolehnya sedikit akibat tanaman terserang wereng.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Brebes, Juwari, mengatakan, kondisi itu diperparah dengan serangan hama wereng yang mengakibatkan produktivitas sebagian lahan menurun. (WIE)

http://epaper.kompas.com/kompas/books/140401kompas/#/18/

Harga Gabah di Indramayu Rendah

Senin, 31 Maret 2014

INDRAMAYU, (PRLM).-Harga gabah pada permulaan panen padi di Kabupaten Indramayu rendah. Adanya permainan tengkulak dan hukum supply-demand dianggap sebagai penyebabnya.

Memasuki minggu-minggu terakhir Maret 2014, terlihat sejumlah sawah di beberapa kecamatan sudah mulai panen. Beberapa di antaranya berada di Kecamatan Sindang, Indramayu, Cikedung, Terisi, Kroya, Gabuswetan, Gantar dan Haurgeulis. Di daerah-daerah itu, harga gabah kering panen (GKP) berkisar antara Rp 3.500 per kg sampai Rp 4.000 per kg.

Wakil Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kabupaten Indramayu, Sutatang mengatakan, harga itu pada dasarnya masih lebih tinggi dibandingkan harga pembelian pemerintah (HPP) GKP di tingkat petani yang mencapai Rp 3.300 per kg. Namun, bila dibandingkan awal Maret lalu, harga gabah kering simpan (gabah yang telah dijemur hingga kering) masih sebesar Rp 6.000 per kg.

Sutatang menilai, adanya kondisi itu membuat harga gabah anjlok. Menurut dia, anjloknya harga gabah disebabkan adanya permainan tengkulak. "Para tengkulak yang mendatangi sawah petani mengaku tidak mau membeli gabah petani. Mereka berdalih, tidak memiliki uang banyak," katanya saat dihubungi, Senin (31/3/2014).

Dia mengatakan, dengan alasan itu, para tengkulak menyatakan hanya mau membeli gabah petani dengan harga rendah. Dengan demikian, para petani tidak memiliki pilihan lain kecuali bersedia menjual gabahnya.

http://www.pikiran-rakyat.com/node/275941

Masuk Panen, Harga Gabah di Temanggung Turun

Senin, 31 Maret 2014

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Dalam beberapa pekan terakhir harga gabah di Kabupaten Temanggung mengalami penurunan. Hal ini diperkirakan karena banyaknya persediaan seiring mulai masuknya panen padi di tingkat petani.

Supardi (48), petani asal Desa Badran, Kecamatan Kranggan, mengatakan sebelumnya harga Gabah Kering Sawah (GKS) berkisar antara Rp 3.000-Rp 3.500/kg. Namun, kini harganya turun menjadi Rp 2.500-Rp 3.000/kg. Sedangkan untuk harga gabah kering giling (GKG) yang sebelumnya berkisar antara Rp 3.500-Rp 4.000 turun Rp 500/kg.

"Harganya turun meski tidak banyak, tapi ini memang biasa, kalau sedang banyak gabah karena musim panen jadi harganya turun. Saya tidak langsung menjual semuanya, tapi sebagian saya simpan dulu sambil menunggu harga membaik. Sebagian lagi untuk konsumsi keluarga,"ujarnya, Senin (31/3).

Menurutnya, untuk menghadapi penurunan harga para petani harus memiliki strategi, yakni menjaga agar jumlah barang di pasaran tidak melebihi kuota standar agar tidak terlalu berpengaruh terhadap harga.

Nurmoyo (55), warga Desa Bulu, Kecamatan Bulu, menuturkan hal senada. Menurutnya, penurunan harga belum menyentuh angka signifikan dan masih dalam batas wajar. Pasalnya standar harga gabah masih berada pada kisaran harga tersebut.

"Meski turun tapi masih wajar, baru kalau nanti turun lagi sampai drastis baru namanya harganya anjlok. Tapi semoga tidak seperti itu," katanya.

( Raditia Yoni Ariya / CN38 / SMNetwork )

http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2014/03/31/196677