Kamis, 20 Maret 2014
Baturaja, BP
Hingga pertengahan Maret 2014, ada tujuh Kecamatan yang belum sama sekali menebus jatah beras untuk masyarakat miskin (raskin) 2014 dari bulan Januari. Hal ini diungkapkan kepala Bulog Subdrive III OKU, Maizarani SH didampingi Kasi Informasi Leonardo saat ditemui di ruang kerjanya Kemarin (18/3).
Dikatakannya, ketujuh Kecamatan yang terhitung dari bulan Januari hingga Maret belum pernah menebus jatah raskin tersebut adalah Kecamatan Sosoh Buay Rayab, Ulu Ogan, Pengandonan, Semidang Aji, Lubuk Raja, Sinar Peninjauan Dan Peninjauan.
Sedangkan, untuk Kecamatan Lengkiti dan Kecamatan Baturaja Timur, baru menebus raskin bulan Januari dan Februari. “Nah untuk Kecamatan Baturaja Barat baru bulan Januari. Sedangkan dua Kecamatan lain yakni Muara Jaya dan Lubuk Batang sudah rampung menebus raskin hingga bulan Maret” tutur Maizarani.
Ditambahkannya, pihaknya tidak memberikan batas waktu pada pihak Kecamatan yang ingin mengambil jatah raskin. Namun alangkah baiknya jika jatah raskin tersebut diambil tepat waktu mengingat banyak warga miskin yang benar-benar mengharapkan adanya beras raskin tersebut.
“Kapan saja ingin mengambil jatah raskin silahkan saja pihak Bulog selalu melayani, karena itu diharapkan segera mungkin beras raskin diambil karena kalau tidak diambil, kasihan dengan warga yang memang membutuhkan beras raskin tersebut” terang Maizarani.
Dalam kesempatan tersebut Maizarani meminta kepada pihak Kecamatan yang belum menebus raskin agar segera menebus raskin tersebut sehingga tidak terjadi penumpukan. “Kami himbau agar pihak kecamatan segera mengambil jatah raskin tri wulan pertama’ kasian warga yang sudah mengharapkan raskin,” pungkasnya.
Terpisah, Camat Peninjauan Fery Iswan AP MSI mengaku berdasarkan hasil rakor raskin di tingkat kabupaten baru-baru ini, pihaknya sepakat untuk mendistribusikan raskin ke masyarakat langsung tiga bulan.
Karena selama ini, pihaknya masih menunggu petunjuk Pagu dari Pusat terlebih dahulu. “Petunjuk Pagu dari Pusat sudah kita terima insya allah, dalam minggu ini juga raskin tersebut sudah kita ambil untuk selanjutnya kita distribusikan ke masyarakat” ujar Fery. #her
http://beritapagi.co.id/read/tujuh-kecamatan-belum-tebus-raskin.html
Kamis, 20 Maret 2014
Mendag: Impor Beras Klorin Tindakan Kriminal
Kamis, 20 Maret 2014
Jakarta – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi merasa kesal dengan ulah para importir yang mendatangkan beras asal Vietnam yang mengandung zat pemutih atau klorin. Maka dari itu, Lutfi menilai agar importir tidak hanya ditarik izin impornya namun juga mesti dibawa ke ranah hukum. Hal tersebut diungkapkan Lutfi usai menghadiri sosialisasi Pertauran Menteri Perdagangan (Permendag) No.70 tahun 2013 di Jakarta, Rabu (19/3).
Lutfi menjelaskan zat pemutih atau klorin adalah zat yang berbahaya bagi kesehatan manusia yang mengkonsumsi beras tersebut karena bisa mengakibatkan penyakit kanker. Maka dari itu, sambung dia, ketika ditemukan beras yang mengandung klorin maka mesti ditarik dari peredaran. “Dan untuk importirnya, bukan hanya ditarik izin impornya namun juga dituntut secara kriminal karena mengandung zat berbahaya,” jelasnya.
Dihubungi Terpisah, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan bahwa sebelum adanya pelarangan menggunakan zat pemutih terhadap beras, para petani pada zaman dahulu masih menggunakan klorin untuk membuat tampilan beras lebih bagus. Akan tetapi, tatkala keluar aturan pelarangan sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 32/2007 tentang zat klorin yang dilarang penggunaannya ke sumber karbohidrat seperti beras misalnya untuk penggilingan. “Dulu para petani masih ada yang menggunakan klorin. Akan tetapi sekarang sudah bersih semua karena menuruti aturan dari Permentan tersebut,” umbarnya.
Winarno menyatakan beras impor tidak hanya didatangkan dari Vietnam saja namun juga dari beberapa negara lainnya seperti India, Kamboja, dan Jepang. “Kalau saya punya keyakinan banyak, cuman harus dibuktikan dengan uji laboratorium,” tegasnya. Penggunaan klorin untuk beras sebelumnya dilakukan oleh produsen lokal. Akan tetapi setelah Undang-Undang (UU) Pangan, domestik menghentikan kegiatan tersebut. “Karena tidak aman bagi pangan,” ungkap Winarno.
Ia mengatakan pemerintah belum pernah melakukan uji laboratorium untuk menguji beras impor. "Tidak pernah ada pengujian, lengah pemerintah," tegasnya. Winarno mengungkapkan masyarakat patut mencurigai beras berwarna bening dan keruh setelah dicuci. Dugaannya mengandung zat klorin. Lalu beras yang direndam untuk jangka waktu 24 jam tidak menimbulkan bau kurang sedap artinya juga mengandung klorin.
Ia menegaskan pemerintah seharusnya merevisi pemberlakuan kebijakan tarif. Pasalnya, aturan itu gagal melindungi masyarakat. “Dengan bea masuk yang ditinggikan bisa dibayar,” tuturnya. Pemerintah seharusnya memberlakukan kebijakan non tarif untuk melindungi masyarakat. “Buah-buahan dari China, ada yg terlalu lama di kontainer, tidak rasa, bahkan mengandung lalat buah, hal itu harusnya menjadi kesempatan untuk ditolak untuk pasar dalam negeri,” tambahnya.
Sebelumnya, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Bachrul Chairi beralasan sesuai peraturan, yang merekomendasikan penunjukan importir beras adalah Ditjen P2HP Kementan. “Permentan nomor 32/2007 tentang pelarangan penggunaan bahan kimia untuk penggilingan padi, hilir, dan pencacahan beras itu memang dilarang penggunaan klorin. Kalau nanti memang ada maka kita akan berkoordinasi dengan Kementan khususnya P2HP dalam kaitannya untuk mengikat importir menarik dari peredaran,” kata Bachrul.
Sementara itu, aturan yang ada di Kemendag mengenai produk SNI (Standarisasi Nasional Indonesia) beras tidak diwajibkan SNI sehingga Kemendag tidak dapat melakukan pengawasan lebih mendalam. “Berdasarkan SNI kita namun parameter dalam SNI tidak tercantum secara spesifik mengenai kadar klorin itu dapat diartikan tidak boleh, namun SNI ini belum diterapkan sebagai SNI wajib. Sehingga dari Kemendag yang bisa melakukan pengawasan karena dia bukan SNI wajib, maka kita tidak bisa melakukan pengawasan yang lebih mendalam,” tuturnya.
Namun Kemendag sampai saat ini masih menunggu laporan resmi dari DJBC atas isu adanya kandungan klorin di dalam beras yang disita DJBC. “Bahwa informasi berdasarkan analisa lab dari Bea Cukai, sampai saat ini Bea Cukai belum keluarkan hasil dan Kemendag belum dapat informasi apakah benar hasil lab tersebut resmi yang dilaksanakan Bea Cukai, sampai sekarang belum ada informasi yang pasti karena memang masih perlu menunggu hasil,” katanya
Selain melanggar Peraturan Menteri Pertanian dan aturan kepabeanan, kandungan klorin dalam beras ini mengindikasikan adanya pelanggaran Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Jika terbukti mengedarkan barang tersebut, pelaku bisa terkena pidana penjara lima tahun dan denda Rp 2 miliar.
http://www.neraca.co.id/article/39681/Mendag-Impor-Beras-Klorin-Tindakan-Kriminal
Jakarta – Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi merasa kesal dengan ulah para importir yang mendatangkan beras asal Vietnam yang mengandung zat pemutih atau klorin. Maka dari itu, Lutfi menilai agar importir tidak hanya ditarik izin impornya namun juga mesti dibawa ke ranah hukum. Hal tersebut diungkapkan Lutfi usai menghadiri sosialisasi Pertauran Menteri Perdagangan (Permendag) No.70 tahun 2013 di Jakarta, Rabu (19/3).
Lutfi menjelaskan zat pemutih atau klorin adalah zat yang berbahaya bagi kesehatan manusia yang mengkonsumsi beras tersebut karena bisa mengakibatkan penyakit kanker. Maka dari itu, sambung dia, ketika ditemukan beras yang mengandung klorin maka mesti ditarik dari peredaran. “Dan untuk importirnya, bukan hanya ditarik izin impornya namun juga dituntut secara kriminal karena mengandung zat berbahaya,” jelasnya.
Dihubungi Terpisah, Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir mengatakan bahwa sebelum adanya pelarangan menggunakan zat pemutih terhadap beras, para petani pada zaman dahulu masih menggunakan klorin untuk membuat tampilan beras lebih bagus. Akan tetapi, tatkala keluar aturan pelarangan sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 32/2007 tentang zat klorin yang dilarang penggunaannya ke sumber karbohidrat seperti beras misalnya untuk penggilingan. “Dulu para petani masih ada yang menggunakan klorin. Akan tetapi sekarang sudah bersih semua karena menuruti aturan dari Permentan tersebut,” umbarnya.
Winarno menyatakan beras impor tidak hanya didatangkan dari Vietnam saja namun juga dari beberapa negara lainnya seperti India, Kamboja, dan Jepang. “Kalau saya punya keyakinan banyak, cuman harus dibuktikan dengan uji laboratorium,” tegasnya. Penggunaan klorin untuk beras sebelumnya dilakukan oleh produsen lokal. Akan tetapi setelah Undang-Undang (UU) Pangan, domestik menghentikan kegiatan tersebut. “Karena tidak aman bagi pangan,” ungkap Winarno.
Ia mengatakan pemerintah belum pernah melakukan uji laboratorium untuk menguji beras impor. "Tidak pernah ada pengujian, lengah pemerintah," tegasnya. Winarno mengungkapkan masyarakat patut mencurigai beras berwarna bening dan keruh setelah dicuci. Dugaannya mengandung zat klorin. Lalu beras yang direndam untuk jangka waktu 24 jam tidak menimbulkan bau kurang sedap artinya juga mengandung klorin.
Ia menegaskan pemerintah seharusnya merevisi pemberlakuan kebijakan tarif. Pasalnya, aturan itu gagal melindungi masyarakat. “Dengan bea masuk yang ditinggikan bisa dibayar,” tuturnya. Pemerintah seharusnya memberlakukan kebijakan non tarif untuk melindungi masyarakat. “Buah-buahan dari China, ada yg terlalu lama di kontainer, tidak rasa, bahkan mengandung lalat buah, hal itu harusnya menjadi kesempatan untuk ditolak untuk pasar dalam negeri,” tambahnya.
Sebelumnya, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Bachrul Chairi beralasan sesuai peraturan, yang merekomendasikan penunjukan importir beras adalah Ditjen P2HP Kementan. “Permentan nomor 32/2007 tentang pelarangan penggunaan bahan kimia untuk penggilingan padi, hilir, dan pencacahan beras itu memang dilarang penggunaan klorin. Kalau nanti memang ada maka kita akan berkoordinasi dengan Kementan khususnya P2HP dalam kaitannya untuk mengikat importir menarik dari peredaran,” kata Bachrul.
Sementara itu, aturan yang ada di Kemendag mengenai produk SNI (Standarisasi Nasional Indonesia) beras tidak diwajibkan SNI sehingga Kemendag tidak dapat melakukan pengawasan lebih mendalam. “Berdasarkan SNI kita namun parameter dalam SNI tidak tercantum secara spesifik mengenai kadar klorin itu dapat diartikan tidak boleh, namun SNI ini belum diterapkan sebagai SNI wajib. Sehingga dari Kemendag yang bisa melakukan pengawasan karena dia bukan SNI wajib, maka kita tidak bisa melakukan pengawasan yang lebih mendalam,” tuturnya.
Namun Kemendag sampai saat ini masih menunggu laporan resmi dari DJBC atas isu adanya kandungan klorin di dalam beras yang disita DJBC. “Bahwa informasi berdasarkan analisa lab dari Bea Cukai, sampai saat ini Bea Cukai belum keluarkan hasil dan Kemendag belum dapat informasi apakah benar hasil lab tersebut resmi yang dilaksanakan Bea Cukai, sampai sekarang belum ada informasi yang pasti karena memang masih perlu menunggu hasil,” katanya
Selain melanggar Peraturan Menteri Pertanian dan aturan kepabeanan, kandungan klorin dalam beras ini mengindikasikan adanya pelanggaran Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Jika terbukti mengedarkan barang tersebut, pelaku bisa terkena pidana penjara lima tahun dan denda Rp 2 miliar.
http://www.neraca.co.id/article/39681/Mendag-Impor-Beras-Klorin-Tindakan-Kriminal
Bulog pasok 1.134 ton daging impor
Kamis, 20 Maret 2014
JAKARTA - Perum Bulog meminta dukungan semua pihak, untuk menstabilkan harga daging sapi. Pasalnya, Perum Bulog merasa ada hambatan untuk menstabilkan harga daging sapi yang diimpor dan dipasarkan di sejumlah tempat, bahkan ditolak di pasar-pasar strategis walaupun harganya di bawah harga umum.
"Kami mengimpor daging sapi untuk membantu rakyat, untuk memilih daging sapi beku apa segar yang ada dipasar-pasar dengan harga yang lebih murah." ujar Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso, di Jakarta seperti dirilis Bulog.
Sutarto mengatakan, pihaknya telah berupaya untuk menurunkan harga daging sapi. Upaya yang dilakukan Perum Bulog adalah dengan mempercepat pemasukan daging jenis secondary cuts asal Australia menggunakan pesawat udara selain pemasukan melalui Pelabuhan Tanjung Priok.
"Meski demikian, dengan berbagai upaya kami dapat memasukkan daging melalui Bandara Soekarno-Hatta pada 16 Juli, dan operasi pasar langsung digelar pada 17 Juli. Sebenarnya, mendatangkan daging menggunakan pesawat udara membutuhkan biaya jauh lebih besar dibandingkan kapal laut yang memerlukan waktu sekitar 10 hari," ucapnya.
Pihaknya telah menghitung harga daging yang didatangkan dengan menggunakan pesawat udara dijual dengan harga Rp. 67.000,- sampai Rp. 77.000,-/kg dan dijual pedagang ke konsumen Rp 75.000,- sampai Rp. 85.000,-/kg. Setelah kedatangan melalui kapal laut terjadi penyesuaian harga akibat perbedaan jenis transportasi, harga jualnya menjadi Rp. 64.000,- sampai Rp. 73.000,-/kg dan dijual pedagang ke konsumen menjadi Rp. 77.000,- sampai Rp. 79.000,-/kg.
Sejak izin keluar pada 12 Juli lalu, Bulog telah mendatangkan 1.134 ton daging dari impor 3.000 ton yang ditugaskan pemerintah. Menurutnya, ini sudah termasuk cepat, sebab tidak ada importir daging yang dalam waktu satu bulan bisa memasukkan 1.000 ton. Adapun, daging yang telah terserap konsumen baru sekitar 302 ton, sehingga masih ada sisa 832 ton daging yang disimpan Bulog dalam coldstorage.
"Izin 3.000 ton ini sebenarnya sampai 31 Desember 2013. Kami sepakat dipercepat impornya, tapi menyalurkannya tidak mudah karena ada pihak-pihak yang dirasa menghambat. Antara lain ada isu daging sapi yang diimpor Bulog tidak halal, tidak segar dan mengandung hormon. Padahal, sebelumnya tidak ada isu seperti ini " tuturnya.
Dia memaparkan, untuk menurunkan harga daging sapi ini perlu melihat persoalan dari hulu sampai hilir. Misalnya, sebelum ke konsumen, daging dijual pedagang pasar dan ada juga yang masuk melalui industri pengolahan, misalnya untuk dibuat bakso dan sosis. Pedagang pasar dan industri pengolahan mendapatkan daging melalui distributor. Distributor mendapat daging dari rumah pemotongan hewan (RPH) atau dari importir. RPH mendapatkan daging melalui feedlotter atau dari peternak sapi lokal. Feedlotter mendapatkan sapi dari impor atau peternak dalam negeri.
"Kalau ingin memperbaiki harga, melihatnya dari hulu sampai hilir. Pertama, yang menentukan adalah ketersediaan sapi yang dipotong. Ketersediaan dari mana. diutamakan peternak dalam negeri dan dari feedlotter. Dari peternak cukup atau tidak, impor bagaimana? Kalau hitungan ini benar, harga pasti bisa dikendalikan dengan baik. Ini saja yang harus kita lihat. Ini harus dievaluasi, di mana letak bottleneck-nya," katanya.
Sebetulnya, kata Sutarto, pemerintah dapat mengandalkan Bulog menurunkan harga daging sapi apabila ada stok daging sebanyak 8% sampai 10% dari total jumlah konsumsi. Berkaca pada beras, Bulog berhasil mengendalikan harga beras lantaran memiliki stok beras sebanyak 8% sampai 10% dari total konsumsi untuk melakukan operasi pasar.
"Jumlah 3.000 ton daging sapi yang diimpor Bulog sangat kecil dibandingkan dengan jumlah konsumsi nasional yang mencapai 500.000 ton. Bahkan, dibandingkan dengan kuota impor daging 80.000 ton tahun ini ditambah sapi siap potong, jumlah 3.000 ton itu kecil sekali," ujarnya.
(dat03/wol)
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=319573:bulog-pasok-1134-ton-daging-impor&catid=18:bisnis&Itemid=95
JAKARTA - Perum Bulog meminta dukungan semua pihak, untuk menstabilkan harga daging sapi. Pasalnya, Perum Bulog merasa ada hambatan untuk menstabilkan harga daging sapi yang diimpor dan dipasarkan di sejumlah tempat, bahkan ditolak di pasar-pasar strategis walaupun harganya di bawah harga umum.
"Kami mengimpor daging sapi untuk membantu rakyat, untuk memilih daging sapi beku apa segar yang ada dipasar-pasar dengan harga yang lebih murah." ujar Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso, di Jakarta seperti dirilis Bulog.
Sutarto mengatakan, pihaknya telah berupaya untuk menurunkan harga daging sapi. Upaya yang dilakukan Perum Bulog adalah dengan mempercepat pemasukan daging jenis secondary cuts asal Australia menggunakan pesawat udara selain pemasukan melalui Pelabuhan Tanjung Priok.
"Meski demikian, dengan berbagai upaya kami dapat memasukkan daging melalui Bandara Soekarno-Hatta pada 16 Juli, dan operasi pasar langsung digelar pada 17 Juli. Sebenarnya, mendatangkan daging menggunakan pesawat udara membutuhkan biaya jauh lebih besar dibandingkan kapal laut yang memerlukan waktu sekitar 10 hari," ucapnya.
Pihaknya telah menghitung harga daging yang didatangkan dengan menggunakan pesawat udara dijual dengan harga Rp. 67.000,- sampai Rp. 77.000,-/kg dan dijual pedagang ke konsumen Rp 75.000,- sampai Rp. 85.000,-/kg. Setelah kedatangan melalui kapal laut terjadi penyesuaian harga akibat perbedaan jenis transportasi, harga jualnya menjadi Rp. 64.000,- sampai Rp. 73.000,-/kg dan dijual pedagang ke konsumen menjadi Rp. 77.000,- sampai Rp. 79.000,-/kg.
Sejak izin keluar pada 12 Juli lalu, Bulog telah mendatangkan 1.134 ton daging dari impor 3.000 ton yang ditugaskan pemerintah. Menurutnya, ini sudah termasuk cepat, sebab tidak ada importir daging yang dalam waktu satu bulan bisa memasukkan 1.000 ton. Adapun, daging yang telah terserap konsumen baru sekitar 302 ton, sehingga masih ada sisa 832 ton daging yang disimpan Bulog dalam coldstorage.
"Izin 3.000 ton ini sebenarnya sampai 31 Desember 2013. Kami sepakat dipercepat impornya, tapi menyalurkannya tidak mudah karena ada pihak-pihak yang dirasa menghambat. Antara lain ada isu daging sapi yang diimpor Bulog tidak halal, tidak segar dan mengandung hormon. Padahal, sebelumnya tidak ada isu seperti ini " tuturnya.
Dia memaparkan, untuk menurunkan harga daging sapi ini perlu melihat persoalan dari hulu sampai hilir. Misalnya, sebelum ke konsumen, daging dijual pedagang pasar dan ada juga yang masuk melalui industri pengolahan, misalnya untuk dibuat bakso dan sosis. Pedagang pasar dan industri pengolahan mendapatkan daging melalui distributor. Distributor mendapat daging dari rumah pemotongan hewan (RPH) atau dari importir. RPH mendapatkan daging melalui feedlotter atau dari peternak sapi lokal. Feedlotter mendapatkan sapi dari impor atau peternak dalam negeri.
"Kalau ingin memperbaiki harga, melihatnya dari hulu sampai hilir. Pertama, yang menentukan adalah ketersediaan sapi yang dipotong. Ketersediaan dari mana. diutamakan peternak dalam negeri dan dari feedlotter. Dari peternak cukup atau tidak, impor bagaimana? Kalau hitungan ini benar, harga pasti bisa dikendalikan dengan baik. Ini saja yang harus kita lihat. Ini harus dievaluasi, di mana letak bottleneck-nya," katanya.
Sebetulnya, kata Sutarto, pemerintah dapat mengandalkan Bulog menurunkan harga daging sapi apabila ada stok daging sebanyak 8% sampai 10% dari total jumlah konsumsi. Berkaca pada beras, Bulog berhasil mengendalikan harga beras lantaran memiliki stok beras sebanyak 8% sampai 10% dari total konsumsi untuk melakukan operasi pasar.
"Jumlah 3.000 ton daging sapi yang diimpor Bulog sangat kecil dibandingkan dengan jumlah konsumsi nasional yang mencapai 500.000 ton. Bahkan, dibandingkan dengan kuota impor daging 80.000 ton tahun ini ditambah sapi siap potong, jumlah 3.000 ton itu kecil sekali," ujarnya.
(dat03/wol)
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=319573:bulog-pasok-1134-ton-daging-impor&catid=18:bisnis&Itemid=95
Bulog Kejar Pengadaan 2,31 Juta Ton Beras
Kamis, 20 Maret 2014
JAKARTA – Perum Bulog optimistis merealisasikan pengadaan beras sebanyak 2,31 juta ton hingga Juni ini, atau setara 60% dari target pengadaan tahun ini yang mencapai 3,85 juta ton. Dengan tercapainya target pengadaan sampai pertengahan tahun tersebut, BUMN penyangga pangan itu menjamin tahun ini tidak perlu impor beras.
Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengungkapkan, pihaknya terus berupaya mengoptimalkan penyerapan beras atau gabah di dalam negeri, sehingga target 2,31 juta ton sampai Juni ini tercapai. Hingga Rabu (19/3), realisasi pengadaan beras Bulog baru 100 ribu ton. “Kami, Sabtu- Minggu tetap kerja untuk mengejar target 2,31 juta ton sampai Juni, ini agar Indonesia tidak impor beras lagi tahun ini,” kata dia di Jakarta, Rabu (19/3).
Sebelumnya, Perum Bulog menargetkan pengadaan beras dari dalam negeri tahun ini sebesar 3,85 juta ton, atau naik 9,69% dari realisasi 2013 yang mencapai 3,51 juta ton. Target 3,85 juta ton itu sudah memperhitungkan penugasan penyaluran beras untuk rakyat miskin (raskin) ke-13 dan 14 oleh pemerintah. Apabila target tersebut tercapai, perusahaan pelat merah itu memastikan tidak ada impor beras pada tahun ini seperti halnya 2013.
Sutarto menuturkan, mulai bulan ini, Bulog mampu meningkatkan pengadaan secara signifikan karena bertepatan dengan waktu panen. Di saat yang sama, harga beras atau gabah turun karena pasar sudah mulai jenuh. Pengadaan Bulog saat ini mencapai 10 ribu ton per hari dibanding sebelum waktu panen datang yang hanya puluhan ton.
“Bulog optimistis pengadaan beras terus meningkat dengan datangnya panen raya pada April 2014. Pengadaan harian Bulog mulai minggu depan diharapkan minimal 20 ribu ton dan pada April naik menjadi 30-40 ribu ton,” ungkap Sutarto Alimoeso.
JAKARTA – Perum Bulog optimistis merealisasikan pengadaan beras sebanyak 2,31 juta ton hingga Juni ini, atau setara 60% dari target pengadaan tahun ini yang mencapai 3,85 juta ton. Dengan tercapainya target pengadaan sampai pertengahan tahun tersebut, BUMN penyangga pangan itu menjamin tahun ini tidak perlu impor beras.
Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengungkapkan, pihaknya terus berupaya mengoptimalkan penyerapan beras atau gabah di dalam negeri, sehingga target 2,31 juta ton sampai Juni ini tercapai. Hingga Rabu (19/3), realisasi pengadaan beras Bulog baru 100 ribu ton. “Kami, Sabtu- Minggu tetap kerja untuk mengejar target 2,31 juta ton sampai Juni, ini agar Indonesia tidak impor beras lagi tahun ini,” kata dia di Jakarta, Rabu (19/3).
Sebelumnya, Perum Bulog menargetkan pengadaan beras dari dalam negeri tahun ini sebesar 3,85 juta ton, atau naik 9,69% dari realisasi 2013 yang mencapai 3,51 juta ton. Target 3,85 juta ton itu sudah memperhitungkan penugasan penyaluran beras untuk rakyat miskin (raskin) ke-13 dan 14 oleh pemerintah. Apabila target tersebut tercapai, perusahaan pelat merah itu memastikan tidak ada impor beras pada tahun ini seperti halnya 2013.
Sutarto menuturkan, mulai bulan ini, Bulog mampu meningkatkan pengadaan secara signifikan karena bertepatan dengan waktu panen. Di saat yang sama, harga beras atau gabah turun karena pasar sudah mulai jenuh. Pengadaan Bulog saat ini mencapai 10 ribu ton per hari dibanding sebelum waktu panen datang yang hanya puluhan ton.
“Bulog optimistis pengadaan beras terus meningkat dengan datangnya panen raya pada April 2014. Pengadaan harian Bulog mulai minggu depan diharapkan minimal 20 ribu ton dan pada April naik menjadi 30-40 ribu ton,” ungkap Sutarto Alimoeso.
Jelang Pemilu Bulog harus Jaga Pasokan Beras
Kamis, 20 Maret 2014
INILAHCOM, Jakarta - Pelaku usaha sektor pertanian mengharapkan pada pemilu kali ini, Badan Urusan Logistik (Bulog) menjaga stok beras.
Kebutuhan beras merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Sebabnya tanpa beras banyak beredar inflasi akan melesat tinggi.
"Justru dengan pemilu gudang Bulog jangan kosong. Dalam gudang Bulog bufffer stok cukup," ujar Nellys Soekidi, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi saat menghadiri Pembukaan Gelaran Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian di Kementan, Rabu (19/3/2014).
Dengan mulainya panen raya padi sejak Maret ini, lanjut Nellys, Bullog dapat memanfaatkan panen raya untuk menyerap beras petani. Sebab Bulog akan mengadakan pengadaan serapan beras sebanyak 60% dari petani.
Sisanya bisa melalui impor atau panen reguler. "Berapa jumlah pengadaan Bulog, berani. Setelah tahu jumlahnya cukup kira -kira bisa gak 3 juta ton seluruhnya," paparnya.
Nellys menyebutkan, pada tahun lalu Bulo menyerap 2,5 juta ton. Dengan Bulog berani mengambil sikap pengadaan beras 3 juta ton tahun ini untuk menghindari spekulasi beras. "Ini Bulog harus ambil sikap agar pelaku usaha beras nggak spekulatif," jelasnya.[hid]
http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2084488/jelang-pemilu-bulog-harus-jaga-pasokan-beras#.Uyp3ROOSwuM
INILAHCOM, Jakarta - Pelaku usaha sektor pertanian mengharapkan pada pemilu kali ini, Badan Urusan Logistik (Bulog) menjaga stok beras.
Kebutuhan beras merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Sebabnya tanpa beras banyak beredar inflasi akan melesat tinggi.
"Justru dengan pemilu gudang Bulog jangan kosong. Dalam gudang Bulog bufffer stok cukup," ujar Nellys Soekidi, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Penggilingan Padi saat menghadiri Pembukaan Gelaran Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian di Kementan, Rabu (19/3/2014).
Dengan mulainya panen raya padi sejak Maret ini, lanjut Nellys, Bullog dapat memanfaatkan panen raya untuk menyerap beras petani. Sebab Bulog akan mengadakan pengadaan serapan beras sebanyak 60% dari petani.
Sisanya bisa melalui impor atau panen reguler. "Berapa jumlah pengadaan Bulog, berani. Setelah tahu jumlahnya cukup kira -kira bisa gak 3 juta ton seluruhnya," paparnya.
Nellys menyebutkan, pada tahun lalu Bulo menyerap 2,5 juta ton. Dengan Bulog berani mengambil sikap pengadaan beras 3 juta ton tahun ini untuk menghindari spekulasi beras. "Ini Bulog harus ambil sikap agar pelaku usaha beras nggak spekulatif," jelasnya.[hid]
http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2084488/jelang-pemilu-bulog-harus-jaga-pasokan-beras#.Uyp3ROOSwuM
Rabu, 19 Maret 2014
Petani Tolak Kesepakatan Harga Gula RNI-Bulog
Rabu, 19 Maret 2014
TEMPO.CO, Surabaya - Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Arum Sabil, memprotes kesepakatan jual beli gula tebu antara PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dengan Perum Bulog. PT RNI dan Bulog sepakat melakukan jual beli gula sebanyak 12 ribu ton dengan harga Rp 8.600 per kilogram. Bila asumsi rendemen 7 persen dengan produksi tebu 80 ton, kata Arum, maka biaya produksi gula petani tembus Rp 10.000 per kilogram.
Di lain pihak, Dewan Gula Indonesia mengusulkan harga patokan petani senilai Rp 9.500 per kilogram. "Mengapa RNI dan Bulog melakukan perjanjian jual beli gula seharga Rp 8.600 per kilogram? Ini bisa menjadi preseden buruk terhadap harga gula petani pada tahun giling 2014," kata Arum Sabil kepada Tempo, Rabu, 19 Maret 2014.
Secara psikologis, ia melanjutkan, kesepakatan itu akan menyeret turunnya harga gula di tingkat petani. Pihaknya mengecam keras tindakan PT RNI dan Bulog tersebut. Ia menuding kesepakatan itu didorong oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan. "Tolong sampaikan kepada Ismed (Dirut RNI) kalau tindakanya telah melukai petani," Arum menegaskan.
Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro mengatakan kesepakatan jual beli gula tebu ini diharapkan akan mendorong terjadinya pembentukan harga yang lebih baik bagi produsen maupun konsumen. Menurut dia, langkah ini penting agar harga gula tidak terpuruk dan kesejahteraan petani tebu terjamin.
DIANANTA P. SUMEDI
http://www.tempo.co/read/news/2014/03/19/090563632/Petani-Tolak-Kesepakatan-Harga-Gula-RNI-Bulog
TEMPO.CO, Surabaya - Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Arum Sabil, memprotes kesepakatan jual beli gula tebu antara PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dengan Perum Bulog. PT RNI dan Bulog sepakat melakukan jual beli gula sebanyak 12 ribu ton dengan harga Rp 8.600 per kilogram. Bila asumsi rendemen 7 persen dengan produksi tebu 80 ton, kata Arum, maka biaya produksi gula petani tembus Rp 10.000 per kilogram.
Di lain pihak, Dewan Gula Indonesia mengusulkan harga patokan petani senilai Rp 9.500 per kilogram. "Mengapa RNI dan Bulog melakukan perjanjian jual beli gula seharga Rp 8.600 per kilogram? Ini bisa menjadi preseden buruk terhadap harga gula petani pada tahun giling 2014," kata Arum Sabil kepada Tempo, Rabu, 19 Maret 2014.
Secara psikologis, ia melanjutkan, kesepakatan itu akan menyeret turunnya harga gula di tingkat petani. Pihaknya mengecam keras tindakan PT RNI dan Bulog tersebut. Ia menuding kesepakatan itu didorong oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan. "Tolong sampaikan kepada Ismed (Dirut RNI) kalau tindakanya telah melukai petani," Arum menegaskan.
Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro mengatakan kesepakatan jual beli gula tebu ini diharapkan akan mendorong terjadinya pembentukan harga yang lebih baik bagi produsen maupun konsumen. Menurut dia, langkah ini penting agar harga gula tidak terpuruk dan kesejahteraan petani tebu terjamin.
DIANANTA P. SUMEDI
http://www.tempo.co/read/news/2014/03/19/090563632/Petani-Tolak-Kesepakatan-Harga-Gula-RNI-Bulog
Duh, Indonesia Negara yang Campur Klorin dalam Beras
Rabu, 19 Maret 2014
Para pedagang beras di beberapa negara diduga menggunakan zat klorin yang dicampur ke dalam beras untuk mempercantik fisik beras agar lebih putih sehingga harganya menjadi lebih tinggi.
"Ada tiga negara yang sering mencampurkan klorin ke beras yaitu kita (Indonesia), Vietnam dan Myanmar," ungkap penjual beras sekaligus mantan importir beras yang tidak mau disebutkan namanya di Jakarta akhir pekan lalu.
Seperti diketahui, sebanyak 32 kontainer isi 800 ton beras impor asal Vietnam disita Bea Cukai di Pelabuhan Tanjung Priok. Pedagang beras itu mengatakan praktik mencampurkan klorin seperti ini sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu namun sayangnya tidak ditindaklanjuti secara berkelanjutan.
Padahal zat klorin masuk kategori zat yang cukup berbahaya. Sementara itu praktik pemolesan beras dengan klorin lazim dilakukan pedagang beras karena ketidakmampuan mereka membeli alat pemoles beras atau yang biasa disebut Rice Polishing Machine.
Dikatakan dia, harga Rice Polishing Machine cukup mahal yaitu hingga mencapai Rp 1 miliar/unit. Dia mengatakan salah satu negara yang sudah banyak menggunakan mesin ini adalah Jepang dan Thailand.
Sehingga pemolesan beras dengan klorin khususnya di Thailand sangat sedikit terjadi atau bahkan tidak ada."Kalau Thailand sudah jarang karena pertanian mereka sudah maju dan mereka sudah mampu membuat mesin ini," katanya.
Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tak membantah soal adanya kabar temuan beras impor asal Vietnam yang mengandung klorin. Klorin merupakan unsur halogen yang dipisahkan menjadi gas yang bersifat racun dan berbau menyesakkan, dipakai sebagai zat pemutih dan pembunuh kuman dalam air.
"Kandungan klorin di beras impor bukan isu yang tidak benar, tetapi kami masih perlu waktu untuk mengklarifikasi ke teman-teman unit pengawasan, yang jelas kalau dari Priok tidak pernah ajukan uji lab untuk klorin," ungkap Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Susiwijono Moegiarso.
Kepala Bagian Kerjasama dan Humas Badan Karantina Pertanian Antarjo Dikin mengungkapkan zat Klorin sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Ia mengaku mendapatkan laporan ada atau tidaknya kandungan klorin pada beras."Klorin itu dilarang peredarannya. Klorin masuk kimia berbahaya dan terlarang," ungkapnya.
Antarjo menambahkan sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 32/2007 dijelaskan Klorin dilarang dicampur pada sumber karbohidrat seperti beras. Aturan itu sudah dipatuhi oleh negara-negara pengekspor beras ke Indonesia.
"Otomotis negara luar dia sudah baca peraturan ini dan tidak mungkin memasukan (beras mengandung klorin). Ini bahaya dan mereka (negara pengekspor) beras terancam kena reputasi buruk dan bisa saja dituntut Indonesia," imbuhnya. Terimakasih.
Facebookers :
"Indonesia mengalami krisis kepemimpinan yang akut sehingga berdampak ke seluruh sektor kehidupan masyarakat. Penguasa negeri ini sibuk memerkaya kelompoknya saja. Sibuk tuding-tudingan pada lawan partainya. Sepeninggalnya Pak Harto sebenrnya Indonesia semakin parah korupsi trang2an bisa tak tergugat adu otot secara politik. Padahal harga cermin itu murah tapi pejabat sekarang tak mau berkaca diri untuk sifatnya dan pengabdiannya sebagai pejabat."
Aguztin Siregar
"Hati2 beli beras"
Abdul Manan
"Semakin PARAH aja negara ini."
Fithriiy SinOehazhiie
"Hidup Petani lanjutkan perjuanganmu."
Teuku Hamzah
"Itu informasinya dah seminggu yg lalu beredar !"
Desimah Yusraini
"Mari beli beras lgsg dr kilang padi terdekat.ayoo media,caritau dan kasi solusi."
Fina Ginting
"Jangan heran para pemburu Rupiah ngga' heran lg,biji kopi yg blm di gongseng ceritanya srg di campur serbuk semen."
Regar Margana
"Demi mendapatkan hasil finansial yg lebih tinggi, nyawa manusia jadi taruhan. Sungguh perbuatan yg sangat terkutuk & perlu sanksi yg berat."
Cesc Fadlee Dong-chul
"Negara kita sengaja bos dirusak dari segi manapun....dari makanan....minuman obat obatan...itu semua karna yang mimpin negri ini ngak beres"
Torang Silaban
"SeLain masyarakat hrs berhat-hati, pemerintah juga hrs menindakLanjuti hal tsb sbLum ada jatuh korban dgn menginspeksi pasar secara rutin !!!"
Sehat S M Silalahi
"Seharusnya masalah begini harus cepat-cepat diatasi,mau berapa orang lagi yang kena akibat ulah mereka yang hanya mementingkan diri nya saja."
Vera Prastika Hutauruk
"Beras produksi indonesia masih bagus loh,apalagi beras kampung yang di panen oleh petani kita, walaupun agak kotor sedikit yang penting kwalitasnya tidak kalah.,mantap tuh. "
Harun Al Rasyid
Black Berry Messenger :
"Wahhh,sungguh amat mengerikan.terlalu pintar jg bs salah gunakan. *pensive* *pensive*"
Suyamti
"Ampun dah nanggung amat kalo mau nyiksa rakyat engga sekalian aja tembak mati rakyat kecil,pake nambahin zat berbahaya di beras. Mana direktorat pajak & dinas kesehatan yang tugasnya ngawasin beras import. #hidup medan bisnis"
Arbain
"Msa sih gk snggup bli tuch mesin, pdhal pndpat indonesia tdk sdkit dlm bbrp devisa dll,, jd, ap ygg murni drii indonesia,untk indonesia? Prhatian pmerintah sngat kurang, d saat pmeriantah mberi prhatian dsaat itu pula trlambat,,,tnggu bnyk korban jiwa sprtinya."
DiaS Kahfi
"Satu2nya langkah menghetikan ini pemerintahlah yg harus turun tangan untuk mengawasi kepada pihak yg melakukan kecurangan ini. Karena beras adalah bahan pokok utama kita.sudah seharusnya ada sanksi yg tegas dan BPOM mengawasi perkembangan beras yg d jual d pasaran."
Tama Azaa Nst
"Gawat sekali jika beras yang kita makan selama ini mengandung zat yg berbahaya seperti klorin. Rakyat Indonesia sudah miskin, banyak yang kurang gizi, ehh malah makanan pokok seperti beras saja ditambah klorin untuk memperindah bentukk fisiknya. Kepada pemerintah harus menindak tegas pada pedagang dan pengusaha berass yang nakal, jangan sampai generasi mudah Indonesia banyak yang kurang gizi dan sakit lalu mati karena berass yang kita makan tak sehat dan malah berbahaya karena mengandung Racun. Kami rakyat Indonesia ingin Sehat. Apa yang mau kami makan. Ketika beras saja sudah berbahaya untuk dikonsumsi."
Yoga Natadiningrat
"Beras cantik memang tak selamanya bagus. Itu terbukti dengan banyaknya kandungan pemutih dalam beras. Sehingga untuk mengurangi zat berbahaya dalam hal ini klorin kita harus mencuci beras berulang kali. Walau hal itu bisa mengurangi vitamin yang ada diberas tsbt. Indonesia sebagai negara agraris seharusnya malu karena tidak bisa memenuhi konsumsi beras dalam negeri. Al hasil kita mengimpor beras. Nah ini beras - beras imporan ini banyak mengandung klorin yang berbahaya bagi konsumen jika dikomsumsi. Bea Cukai sebagai pengawas juga acap kali membiarkan hal tsb. Entah apa alasannya. Inilah lemahnya negara kita membiarkan hal yang buruk dikonsumsi warganegaranya. Pemerintah harus bertindak cepat."
Randa FH
"Beras bercampur klorin sangat membahayakan masyarakat, untuk itu perlu dilakukan razia pasar. Namun, yang perlu dicermati dalam kasus beras bercampur klorin ini, kenapa bisa lolos dari importir? Sementara beras berklorin itu banyak yang datang dari Vietnam. Apa untungnya beras impor asal Vietnam yang mengandung klorin di pasarkan? Yang iyanya hanya membunuh masyarakat luas khususnya masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah secara perlahan-lahan. Untuk itu, saya berharap Indonesia yang memiliki banyak lahan dan seharusnya difungsikan lagi, agar beras tidak perlu di import dari negera-negara lain. Berdikari jauh lebih baik apalagi Indonesia yang memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruas. Hentikan impor tapi perkuat kemandirian, setelah mandiri secara otomatis akan mengekspor."
Bukit Bebera Ribuna S.Sos
"Yang saya tahu penggunaan zat Klorin berlebihan digunakan sebagai alat pemutih kertas dan tekstil, sedangkan reaksi yang dapat langsung terlihat secara kasat mata jika dimakan manusia adalah akan terasa mual dan muntah-muntah. Secara ekonomi hal ini hanya menguntungkan sebelah pihak saja, sedangkan secara kesehatan sangat merugikan masyarakat banyak, namun sepertinya keadaan ini seperti air mengalir tanpa ada halangan maupun tindakan tegas dari pihak yang berwajib. "
Husni Hastina
http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/03/19/85426/duh_indonesia_negara_yang_campur_klorin_dalam_beras/#.UykEHSejLFw
Para pedagang beras di beberapa negara diduga menggunakan zat klorin yang dicampur ke dalam beras untuk mempercantik fisik beras agar lebih putih sehingga harganya menjadi lebih tinggi.
"Ada tiga negara yang sering mencampurkan klorin ke beras yaitu kita (Indonesia), Vietnam dan Myanmar," ungkap penjual beras sekaligus mantan importir beras yang tidak mau disebutkan namanya di Jakarta akhir pekan lalu.
Seperti diketahui, sebanyak 32 kontainer isi 800 ton beras impor asal Vietnam disita Bea Cukai di Pelabuhan Tanjung Priok. Pedagang beras itu mengatakan praktik mencampurkan klorin seperti ini sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu namun sayangnya tidak ditindaklanjuti secara berkelanjutan.
Padahal zat klorin masuk kategori zat yang cukup berbahaya. Sementara itu praktik pemolesan beras dengan klorin lazim dilakukan pedagang beras karena ketidakmampuan mereka membeli alat pemoles beras atau yang biasa disebut Rice Polishing Machine.
Dikatakan dia, harga Rice Polishing Machine cukup mahal yaitu hingga mencapai Rp 1 miliar/unit. Dia mengatakan salah satu negara yang sudah banyak menggunakan mesin ini adalah Jepang dan Thailand.
Sehingga pemolesan beras dengan klorin khususnya di Thailand sangat sedikit terjadi atau bahkan tidak ada."Kalau Thailand sudah jarang karena pertanian mereka sudah maju dan mereka sudah mampu membuat mesin ini," katanya.
Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tak membantah soal adanya kabar temuan beras impor asal Vietnam yang mengandung klorin. Klorin merupakan unsur halogen yang dipisahkan menjadi gas yang bersifat racun dan berbau menyesakkan, dipakai sebagai zat pemutih dan pembunuh kuman dalam air.
"Kandungan klorin di beras impor bukan isu yang tidak benar, tetapi kami masih perlu waktu untuk mengklarifikasi ke teman-teman unit pengawasan, yang jelas kalau dari Priok tidak pernah ajukan uji lab untuk klorin," ungkap Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Susiwijono Moegiarso.
Kepala Bagian Kerjasama dan Humas Badan Karantina Pertanian Antarjo Dikin mengungkapkan zat Klorin sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Ia mengaku mendapatkan laporan ada atau tidaknya kandungan klorin pada beras."Klorin itu dilarang peredarannya. Klorin masuk kimia berbahaya dan terlarang," ungkapnya.
Antarjo menambahkan sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 32/2007 dijelaskan Klorin dilarang dicampur pada sumber karbohidrat seperti beras. Aturan itu sudah dipatuhi oleh negara-negara pengekspor beras ke Indonesia.
"Otomotis negara luar dia sudah baca peraturan ini dan tidak mungkin memasukan (beras mengandung klorin). Ini bahaya dan mereka (negara pengekspor) beras terancam kena reputasi buruk dan bisa saja dituntut Indonesia," imbuhnya. Terimakasih.
Facebookers :
"Indonesia mengalami krisis kepemimpinan yang akut sehingga berdampak ke seluruh sektor kehidupan masyarakat. Penguasa negeri ini sibuk memerkaya kelompoknya saja. Sibuk tuding-tudingan pada lawan partainya. Sepeninggalnya Pak Harto sebenrnya Indonesia semakin parah korupsi trang2an bisa tak tergugat adu otot secara politik. Padahal harga cermin itu murah tapi pejabat sekarang tak mau berkaca diri untuk sifatnya dan pengabdiannya sebagai pejabat."
Aguztin Siregar
"Hati2 beli beras"
Abdul Manan
"Semakin PARAH aja negara ini."
Fithriiy SinOehazhiie
"Hidup Petani lanjutkan perjuanganmu."
Teuku Hamzah
"Itu informasinya dah seminggu yg lalu beredar !"
Desimah Yusraini
"Mari beli beras lgsg dr kilang padi terdekat.ayoo media,caritau dan kasi solusi."
Fina Ginting
"Jangan heran para pemburu Rupiah ngga' heran lg,biji kopi yg blm di gongseng ceritanya srg di campur serbuk semen."
Regar Margana
"Demi mendapatkan hasil finansial yg lebih tinggi, nyawa manusia jadi taruhan. Sungguh perbuatan yg sangat terkutuk & perlu sanksi yg berat."
Cesc Fadlee Dong-chul
"Negara kita sengaja bos dirusak dari segi manapun....dari makanan....minuman obat obatan...itu semua karna yang mimpin negri ini ngak beres"
Torang Silaban
"SeLain masyarakat hrs berhat-hati, pemerintah juga hrs menindakLanjuti hal tsb sbLum ada jatuh korban dgn menginspeksi pasar secara rutin !!!"
Sehat S M Silalahi
"Seharusnya masalah begini harus cepat-cepat diatasi,mau berapa orang lagi yang kena akibat ulah mereka yang hanya mementingkan diri nya saja."
Vera Prastika Hutauruk
"Beras produksi indonesia masih bagus loh,apalagi beras kampung yang di panen oleh petani kita, walaupun agak kotor sedikit yang penting kwalitasnya tidak kalah.,mantap tuh. "
Harun Al Rasyid
Black Berry Messenger :
"Wahhh,sungguh amat mengerikan.terlalu pintar jg bs salah gunakan. *pensive* *pensive*"
Suyamti
"Ampun dah nanggung amat kalo mau nyiksa rakyat engga sekalian aja tembak mati rakyat kecil,pake nambahin zat berbahaya di beras. Mana direktorat pajak & dinas kesehatan yang tugasnya ngawasin beras import. #hidup medan bisnis"
Arbain
"Msa sih gk snggup bli tuch mesin, pdhal pndpat indonesia tdk sdkit dlm bbrp devisa dll,, jd, ap ygg murni drii indonesia,untk indonesia? Prhatian pmerintah sngat kurang, d saat pmeriantah mberi prhatian dsaat itu pula trlambat,,,tnggu bnyk korban jiwa sprtinya."
DiaS Kahfi
"Satu2nya langkah menghetikan ini pemerintahlah yg harus turun tangan untuk mengawasi kepada pihak yg melakukan kecurangan ini. Karena beras adalah bahan pokok utama kita.sudah seharusnya ada sanksi yg tegas dan BPOM mengawasi perkembangan beras yg d jual d pasaran."
Tama Azaa Nst
"Gawat sekali jika beras yang kita makan selama ini mengandung zat yg berbahaya seperti klorin. Rakyat Indonesia sudah miskin, banyak yang kurang gizi, ehh malah makanan pokok seperti beras saja ditambah klorin untuk memperindah bentukk fisiknya. Kepada pemerintah harus menindak tegas pada pedagang dan pengusaha berass yang nakal, jangan sampai generasi mudah Indonesia banyak yang kurang gizi dan sakit lalu mati karena berass yang kita makan tak sehat dan malah berbahaya karena mengandung Racun. Kami rakyat Indonesia ingin Sehat. Apa yang mau kami makan. Ketika beras saja sudah berbahaya untuk dikonsumsi."
Yoga Natadiningrat
"Beras cantik memang tak selamanya bagus. Itu terbukti dengan banyaknya kandungan pemutih dalam beras. Sehingga untuk mengurangi zat berbahaya dalam hal ini klorin kita harus mencuci beras berulang kali. Walau hal itu bisa mengurangi vitamin yang ada diberas tsbt. Indonesia sebagai negara agraris seharusnya malu karena tidak bisa memenuhi konsumsi beras dalam negeri. Al hasil kita mengimpor beras. Nah ini beras - beras imporan ini banyak mengandung klorin yang berbahaya bagi konsumen jika dikomsumsi. Bea Cukai sebagai pengawas juga acap kali membiarkan hal tsb. Entah apa alasannya. Inilah lemahnya negara kita membiarkan hal yang buruk dikonsumsi warganegaranya. Pemerintah harus bertindak cepat."
Randa FH
"Beras bercampur klorin sangat membahayakan masyarakat, untuk itu perlu dilakukan razia pasar. Namun, yang perlu dicermati dalam kasus beras bercampur klorin ini, kenapa bisa lolos dari importir? Sementara beras berklorin itu banyak yang datang dari Vietnam. Apa untungnya beras impor asal Vietnam yang mengandung klorin di pasarkan? Yang iyanya hanya membunuh masyarakat luas khususnya masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah secara perlahan-lahan. Untuk itu, saya berharap Indonesia yang memiliki banyak lahan dan seharusnya difungsikan lagi, agar beras tidak perlu di import dari negera-negara lain. Berdikari jauh lebih baik apalagi Indonesia yang memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah ruas. Hentikan impor tapi perkuat kemandirian, setelah mandiri secara otomatis akan mengekspor."
Bukit Bebera Ribuna S.Sos
"Yang saya tahu penggunaan zat Klorin berlebihan digunakan sebagai alat pemutih kertas dan tekstil, sedangkan reaksi yang dapat langsung terlihat secara kasat mata jika dimakan manusia adalah akan terasa mual dan muntah-muntah. Secara ekonomi hal ini hanya menguntungkan sebelah pihak saja, sedangkan secara kesehatan sangat merugikan masyarakat banyak, namun sepertinya keadaan ini seperti air mengalir tanpa ada halangan maupun tindakan tegas dari pihak yang berwajib. "
Husni Hastina
http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/03/19/85426/duh_indonesia_negara_yang_campur_klorin_dalam_beras/#.UykEHSejLFw
Langganan:
Postingan (Atom)