Kamis, 12 Desember 2013

Dahlan: Bulog tidak impor beras boleh dirayakan

Kamis, 12 Desember 2013

Seorang petugas melintas di antara tumpukan beras di gudang Bulog. (FOTO ANTARA/Basri Marzuki)

Jakarta (ANTARA News) - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengizinkan Perum Bulog untuk merayakan secara besar-besaran keberhasilan perusahaan itu tidak lagi mengimpor beras.

"Mulai tahun ini (2013) Bulog tidak perlu lagi impor beras. Ini prestasi yang membanggakan dan pantas untuk dirayakan sebagai rasa syukur kita," kata Dahlan, usai menggelar Rapat Pimpinan Kementerian BUMN, di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis.

Menurut Dahlan, berkat kerja keras jajaran Bulog, Indonesia untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade  tidak perlu lagi impor beras.

Selama tahun 2013, persediaan Bulog mencapai 3,6 juta ton, diharapkan pada tahun 2014 bisa dipertahankan.

"Pesta syukuran itu agar seluruh masyarakat Indonesia tahu akan keberhasilan Bulog dalam mengelola perberasan nasional," tegas Dahlan.

Lokasi syukuran, ditambahkan mantan Dirut PT PLN ini terserah kepada Dirut Bulog Sutarto Alimoeso.

"Bisa di Monas, bisa juga digelar di semua divisi regional di seluruh Indonesia, terserah saja," ujar Dahlan.

Ia menambahkan, keberhasilan Bulog tersebut tercermin dari gudang yang saat ini dalam kondisi penuh di seluruh Indonesia.

Meski begitu Dahlan mengingatkan agar Bulog mengubah sistem pergudangannya karena kualitas beras Bulog yang tersimpan sedemikian lama telah menurunkan kualitas berasnya.

Untuk itu Bulog diminta mengubah porsi penyimpanannya, yaitu 80 persen beras, sedangkan sisanya 20 persen dalam bentuk gabah.

Editor: Fitri Supratiwi

http://www.antaranews.com/berita/409170/dahlan-bulog-tidak-impor-beras-boleh-dirayakan

Serapan Kedelai Lokal Masih Minim

Kamis, 12 Desember 2013

WILUJENG KHARISMA/"PRLM"
SEORANG petani di Kecamatan Sukaluyu saat panen kedelai terakhir di tahun ini sebelum musim penghujan beberapa waktu lalu. Pasokan kedelai di Cianjur aman, selain dari kedelai impor sebanyak 6.000 ton yang diimpor oleh Bulog, serapan kedelai lokal juga digenjot, meskipun susah didapatkan.*
CIANJUR, (PRLM).- Pasokan kedelai Jawa Barat (Jabar) dipastikan aman. Pasalnya, Bulog Jabar saat ini sudah mengimpor kedelai sebanyak 20 ribu ton kedela. Sedangkan Kabupaten Cianjur, mendapatkan sekitar 6.000 ton kedelai.

Demikian diungkapkan Kepala Bulog Subdivre Cianjur, Bogor, dan Sukabumi, Rizal Mulyawan saat ditemui "PRLM" di kantornya, Jalan Muwardi, Cianjur, Rabu (11/12/2013).

Meskipun demikian, serapan kedelai lokal terus ditingkatkan walaupun susah mendapatkan kedelai lokal dari petani. Pasalnya, petani lebih suka menjual keelai saat usia muda.

"Sesuai Peraturan Presiden (Perpres )No 32 Tahun 2013 Tentang Penugasan Kepada Perusahaan Umum Bulog Untuk Pengamanan Harga dan Penyaluran Kedelai, maka Bulog sudah mulai melakukan untuk menjaga pasokan kedelai dalam negeri," ucapnya.

Rizal menuturkan pasokan kedelai nanti akan didistrubisikan langsung ke masing-masing Kopti ((Koperasi Pengrajin Tempe Tahu Indonesia)di wilayah-wilayah karena sebelumnya untuk Cianjur sudah ada nota kesepahaman mengenai pendistribusian kedelai.

"Kami saat ini belum mempunyai gudang penyimpanan khusus kedelai. Jadi, kalaupun harus diinapkan di gudang kami rencananya menggunakan gudang pinjaman di Cibitung, Bekasi," ujarnya.

Harga kedelai impor oleh Bulog, kata rizal, sesuai dengan harga yang ditetapkan menteri perdagangan. Sehingga dipastikan pasokan kedelai akhir tahun aman dan ini juga merupakan langkah untuk membuat pasokan kedelai ke depan lebih stabil sehingga para pengrajin tempe tidak perlau khawatir lagi adanya gejolak harga kedelai.

Selain itu, kata Rizal, Bulog juga ditugaskan untuk menyerap kedelai lokal. Namun, hal tersebut tidak semudah yang dikira. Pasalnya, pasokan kedelai dari petani lokal juga susah dicari.

"Kami baru dapat menyerap sekitar lima ton saja dalam sebulan lalu. Itupun mencari pasokan kedelai lokal susah. Kami dapat pasokan dari Jampang, Sukabumi. Kalau dari Cianjur, justru tidak ada karena kebiasan petani kedelai di Cianjur menjual kedelai yang masih muda beserta kulitnya," ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Kopti Cianjur, Hugo Siswaya menuturkan langkah tersebut merupakan salah satu langkah yang baik untuk memberikan rasa aman mengenai pasokan yang selama ini dipusingkan oleh para pengrajin tahu tempe.

"Tanpa pasokan, harga tempe tidak akan stabil. Keterlambatan impor saja akan mempengaruhi harga kedelai. Ini yang sering dipusingkan oleh para pengrajin tempe tahu. Jika memang bulog sudah mulai mengimpor, kami inginkan ada kontinuitas sehingga harga kedelai tidak selalu begejolak," ujarnya. (A-186/A-89)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/262049

Rabu, 11 Desember 2013

Bulog Serap Beras Petani Rp8.200/Kg

Rabu, 11 Desember 2013

Headline

INILAH.COM, Jakarta - Badan Urusan Logistik (Bulog) menyebutkan telah menyerap beras petani dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Harga HPP akan dievaluasi mengingat sudah ada kenaikan harga barang.

Kelapa Bulog, Soetarto Alimuso mengatakan pihaknya menyerap beras petani dengan harga Rp8200-Rp8300 per kg. "Mengingat semua harga memang sudah naik. Saya kira sudah waktunya HPP beras diperbincangkan lagi," ujar Soetarto pada tema Kupas Tuntas Kebijakan Impor Pemerintah di Jakarta, Rabu (11/12/2013).

Soetarto menyebutkan beras yang tersimpan pada gudang-gudang Bulog mencapai 2.133 juta ton. Namun sepanjang tahun Bulog telah membeli sebanyak 3.453 juta ton beras petani.

"Anggaran membeli beras tersebut mencapai Rp20 triliun. Kelebihan beras tersebut dapat mencukupi kebutuhan beras hingga 8 bulan pada tahun depan," jelasnya.

Mantan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian ini menjelaskan tahun mendatang Bulog menghadapi tantangan penyerapan beras petani. Sebab lahan yang terbatas mengakibatkan produksi beras dapat turun padahal kebutuhan pangan meingkat. "Terjadi peningkatan kebutuhan pangan sementara lahan pangan masih terbatas," katanya. [hid]

http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2055403/bulog-serap-beras-petani-rp8200kg#.Uqhb2icy9ek

Dahlan Iskan Minta Bulog Syukuran di Puncak Monas

Rabu, 11 Desember 2013

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan (kiri) bersama Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso. Foto: Echi/JPNN.com

Indonesia Sudah tak Impor Beras Lagi
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan meminta Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso berserta jajarannya untuk mengelar acara syukuran atas pencapaian perseroan yang membanggakan tahun ini.

"Saya rasa Pak Sutarto dan seluruh karyawan perlu mengadakan syukuran kecil-kecilan atau agak besar juga enggak apa-apa syukurannya," ujar Dahlan di Hotel Puri Denpasar, Jakarta, Rabu (11/12).

Dahlan menilai syukuran ini perlu digelar agar seluruh masyarakat Indonesia tahu akan keberhasilan Bulog dalam mengelola beras tahun ini.

"Untuk pertama kalinya Indonesia enggak melakukan impor beras lagi. Kalau perlu adakan syukuran di puncak Monas Jakarta biar semua orang bisa lihat atau sewa EO (Event Organizer) sekalian," papar mantan Dirut PLN itu dengan wajah sumingrah.

Untuk tahun depan, Dahlan juga memastikan bahwa Bulog memiliki cadangan beras yang cukup. "Bulog persediaannya berasnya sudah 3,4 juta ton. Gudang-gudang Bulog sekarang juga sudah penuh berisi beras, tahun depan saya minta ini dipertahankan," pungkas menteri yang ogah pakai pengawalan ini. (chi/jpnn)




http://www.jpnn.com/read/2013/12/11/205201/Dahlan-Iskan-Minta-Bulog-Syukuran-di-Puncak-Monas-

Politik Impor dengan Tiga Indikator

Rabu, 11 Desember 2013

Mengapa Bulog berhenti mengimpor beras? Mengapa Bulog masih mengimpor kedelai dan daging sapi? Itulah beberapa pertanyaan yang mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) Kupas Tuntas Kebijakan Impor Pemerintah yang berlangsung di Puri Denpasar Hotel, Jakarta, Rabu 11 Desember 2013.

Kebijakan impor bahan pangan pokok masyarakat memang selalu menarik perhatian. Kebijakan itu selalu aktual, sering diwarnai dengan gejolak harga komoditi dalam negeri terkait stok, produksi dan tingkat konsumsi. Kebijakan impor bahan pangan dan kewajiban pemerintah untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat mengharuskan Bulog selalu menggunakan tiga indikator dalam menjalankan tugasnya.

Tiga parameter di dalam negeri yang selalu digunakan Bulog untuk memutuskan harus mengimpor atau menghentikan impor bahan pangan adalah: produksi, harga dan stok. Apakah produksi dalam negeri apakah cukup? Apakah harga komoditi di dalam negeri naik terus atau normal? Apakah stok yang dimiliki Bulog aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat? ‘’Bila ketiga-tiganya oke, berarti kita tidak perlu impor,’’ jelas Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso.

Sutarto menjelaskan, tahun 2013 Bulog tidak mengimpor beras. Tetapi masih mengimpor kedelai dan daging sapi. Beras tidak perlu impor lagi karena jumlah produksi cukup, harganya tetap normal dan jumlah stok yang dimiliki Bulog sangat cukup. ‘’Saat ini Bulog memiliki stok beras 2 juta ton, jumlah yang sangat aman,’’ kata Sutarto.

Berbeda dengan beras, Sutarto mengakui bahwa Bulog masih mengimpor kedelai. ‘’Kebutuhan kedelai di dalam negeri mencapai 2 juta ton. Sedangkan produksi dalam negeri hanya 800 ribu ton. Bila tidak dilakukan impor kedelai, bagaiaman memenuhi kebutuhan perajin tahu dan tempe di dalam negeri? Demikian pula soal impor daging sapi. Bulog masih mengimpor daging sapi karena kebutuhan di dalam negeri tidak bisa dipenuhi dari produksi di dalam negeri.’’ jelas Sutarto.

Berdasarkan tiga indikator itu, kran impor komoditi bahan pangan bisa dibuka atau ditutup setiap saat. Bulog melakukan impor atau menghentikan impor dengan tujuan memenuhi kebutuhan masyarakat, stabilitasi harga dan mengamankan persediaan nasional.(***)


Penulis : Joko Intarto

http://m.kompasiana.com/post/read/618314/2

Bulog Dianggap Sukses, Dahlan Iskan Cari Penyakitnya

Rabu, 11 Desember 2013

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengingatkan agar Perum Bulog tak terlalu terlena dengan capaian kesuksesan perseroan dalam mencukupi ketersediaan beras. Tahun ini Bulog untuk pertama kalinya tidak melakukan impor beras.

"Bulog saat ini sudah sukses mengelola beras. Tapi semua sukses itu ada penyakitnya," ujar Dahlan di sela acara diskusi 'Kupas Tuntas Kebijakan Impor Pemerintah' di Puri Denpasar Hotel, Jakarta, Rabu (11/12).

Mantan Dirut PLN ini lantas mengantisipasi hal-hal yang mungkin dapat terjadi setelah Bulog memiliki persediaan beras yang cukup, yakni kualitas beras. "Meski saat ini beras tercukupi dan tidak ada impor, ada penyakit selanjutnya. Ternyata beras tidak baik jika terlalu lama disimpan di gudang, karena bisa menurunkan kualitas beras itu. Ini yang akan menjadi penyakit Bulog selanjutnya," beber Dahlan.

Nah untuk memecah penyakit tersebut, Dahlan berusaha mencari jalan keluar dengan melakukan diskusi dengan para petani di Bantul beberapa bulan lalu. "Saya minta saran dari mereka. Usul petani di sana sederhana sekali. Dia bilang ke depan Bulog sebaiknya jangan melakukan pengadaan dalam bentuk beras semua, tapi juga dalam bentuk gabah. Kalau digabah kualitasnya bisa agak lama," papar dia.

Setelah mendengar ide itu, menteri yang ogah pakai pengawalan ini langsung berkonsultasi dengan Dirut Bulog Sutarto Alimoeso. "Kata Pak Sutarto ide itu sangat masuk akal, ya sudah jalankan tahun depan," tutur Dahlan.

"Bulog sebetulnya sudah memulai itu (membeli gabah), tapi jumlahnya masih terlalu kecil," saut Sutarto yang duduk bersebelahan dengan Dahlan. (chi/jpnn)

http://www.jpnn.com/read/2013/12/11/205195/Bulog-Dianggap-Sukses,-Dahlan-Iskan-Cari-Penyakitnya-

Senin, 09 Desember 2013

Bulog DIY Serap 52 Ribu Ton Beras

9 Desember 2013


YOGYA (KRjogja.com) - Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre DIY menyampaikan penyerapan beras DIY telah mencapai 52 ton per pekan awal Desember 2013. Pencapaian tersebut hampir mencapai 90 persen dari target penyerapan 2013 sebesar 55 ribu ton. Namun, mengalami koreksi dari 60 ribu ton menjadi 55 ribu ton.

Kepala Bulog Divre DIY, Awaludin Iqbal mengatakan stok beras di gudang Bulog DIY masih Rp 29 ribu ton yang cukup hingga empat sampai 5 bulan ke depan. Pasokan tersebut diperkirakan akan mencapai 30 ribu ton hingga akhur tahun ini.

"Masih tersisa 3.000 ton lagi hingga akhir tahun supaya kita capai target penyerapan. Masih ada sekitar 150 ton beras yang masuk setiap harinya ke Bulog, meskipun November-Desember ini sedang musim tanam," katanya kepada KRjogja.com, Senin (09/12/2013).

Sementara terkait target penyerapan yang mengalami koreksi dari 60 ribu ton menjadi 55 ribu ton pada tahun 2013 ini, Iqbal mengaku optimis dapat terpenuhi. Sebab hingga saat ini realisasi penyerapan beras telah mencapai 52 ribu ton. "Jadi secara umum kami jamin pasokan beras DIY aman dan masyarakat tidak perlu khawatir," ungkapnya. (*-24)

http://kr.co.id/read/196667/bulog-diy-serap-52-ribu-ton-beras.kr