Jumat, 18 Maret 2016

RASKIN BASTEM BAU, DI PONRANG HARGA MELAMBUNG

Kamis, 17 Maret 2016

BELOPA -- Program pembagian beras untuk warga kurang mampu (Raskin) di daerah nampaknya tak pernah berhenti dari keluh kesah penerima. Hal ini mendorong sejumlah elemen di Kabupaten Luwu mendesak agar Pemkab Luwu menolak program Raskin untuk masyarakat.
Informasi yang dihimpun Palopo Pos menyebutkan, di Kecamatan Ponrang, masalah yang dihadapi warga setempat terkait pembagian Raskin menyangkut soal harga jual yang tinggi dan tidak sesuai aturan pemerintah, dimana seharusnya sebesar Rp24 Ribu per sak (berat 15 Kg) tetapi ternyata dijual lebih mahal hingga mencapai Rp30 Ribu.
"Di Padang Sappa Pak kami beli Raskin seharga Rp30 Ribu per sak. Sementara setahu kami harganya hanya Rp24 Ribu, " ungkap salah seorang warga, Amir (47), Rabu 16 Maret 2016.
Tidak hanya masalah harga yang dikeluhkan masyarakat terkait Raskin. Di Kecamatan Basse Sangtempe bahkan lebih tragis. Dimana mereka mendapat suplai Raskin yang sangat tidak layak dikonsumsi, karena kondisi beras yang diterima berwarna kuning, berbau dan bahkan bulirnya pecah-pecah dan ada yang menggumpal.
"Raskin yang diterima warga Basse Sangtempe ini sangat tidak layak pak, berwarna kuning, dan baunya luar biasa, kami tidak tahu apakah Raskin ini sudah lama di gudang atau bagaimana. Yang ada warga yang mengangkutnya dengan motor dan saat jatuh karungnya langsung terbelah dua," ungkap Yunus kepada salah seorang pejabat eselon II Pemkab Luwu.
Kepala Bagian (Kabag) Ekonomi Setdakab Luwu, Rakhmat Arifuddin, menjelaskan bahwa harga per kilogram beras raskin sesuai harga yang di keluarkan pihak bulog, sebesar Rp1.600. Dan untuk satu sak dengan berat 15 Kg dihargai Rp24 Ribu saja.
"Tak ada kenaikan harga raskin, harganya masih normal dari Bulog yaitu sebesar Rp24 Ribu per saknya, " kata Rakhmat.
Terpisah, Forum Pemuda Pemantau Kinerja Eksekutif dan Legislatif (FP2KEL) Kabupaten Luwu, Ismail Ishak, mengatakan, sejak program Raskin bergulir, hampir setiap saat keluhan datang dari masyarakat penerima Raskin, baik dari sisi kuantitas dan kualitas Raskin maupun persoalan harganya yang dimainkan sehingga tidak sesuai aturan.
"Kami jenuh mendengar disana sini keluhan Raskin tidak pernah berhenti, padahal sudah ada LSM pendamping Raskin. Tetapi ternyata proses pembagian Raskin ini tidak pernah berhenti dari keluhan yang memilukan hati," jelas Ismail Ishak.
Ismail Ishak mengatakan program Raskin sesungguhnya telah menjatuhkan wibawa Pemerintah daerah maupun masyarakat Kabupaten Luwu yang notabene daerah ini adalah salah satu lumbung padi di Provinsi Sulawesi Selatan.
"Masyarakat Kabupaten Luwu ini mayoritas adalah petani sawah dan menghasilkan beras yang berkualitas untuk di konsumsi. Bahkan karena produksi beras yang melimpah, kabupaten Luwu mengekspor berasnya ke daerah lain, tetapi sungguh miris, tidak sedikit dari petani kita malah mengkonsumsi Raskin," ungkap Ismail Ishak.
Ismail Ishak mengatakan, terkait program Raskin ini, seharusnya pemerintah dan wakil rakyat Kabupaten Luwu dapat mencermati visi misi daerah Kabupaten Luwu, yaitu maju mandiri, berdaya saing dan bernuansa religi. Dari visi misi ini tergambar pula bahwa Kabupaten Luwu ini memiliki kemandirian dari sisi pengelolaaan dan hasil pangan (gabah,red).
"Kita mampu mandiri dalam pengelolaan pangan, sawah-sawah di Luwu sangat subur, ini dibuktikan dengan penghasilan beras petani di kabupaten Luwu sangat melimpah, tetapi yang memprihatinkan, tidak sedikit dari petani kita justru mengkonsumsi Raskin," sebut Ismail Ishak.
Terkait hal itu, kata Ismail Ishak, pihaknya mendesak agar Pemkab Luwu bersama wakil rakyat di DPRD kabupaten Luwu kiranya dapat menolak program Raskin di Kabupaten Luwu.
"Ada daerah di Indonesia mereka bukan penghasil beras, tetapi Bupatinya berani menolak Raskin, yaitu Kabupaten Muko-muko di Bengkulu. Kabupaten Luwu ini adalah daerah penghasil beras, masa kita tetap menerima program Raskin. Harusnya pemerintah pusat juga bisa memilah dan memilih mana saja daerah yang layak menerima Raskin mana yang tidak," tandas Ismail Ishak.(and/rhm)

Kamis, 17 Maret 2016

Bulog (Janji) Serap Jagung Petani Bila Harga Turun

Kamis, 17 Maret 2016

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG -- Bulog Jawa Barat menyatakan kesiapannya dalam menyerap hasil produksi jagung hibrida jika kondisi harga menjadi di bawah harga patokan. Harga patokan untuk jagung hibrida per kilogramnya yakni Rp 3.150.

Kepala Divre Bulog Jabar Alif Affandi menuturkan, Bulog Jabar bakal membeli jagung yang diproduksi petani jika di tahun ini terjadi penurunan harga. Namun, ia melihat harga jagung saat ini masih stabil sehingga pihaknya pun tidak perlu menyerap hasil produksi jagung petani.

"Saat ini harga (jagung) masih stabil, masih di atas harga patokan itu," kata dia, saat menghadiri panen raya jagung di Cicalengka, Rabu (16/3).

Namun, Alif melanjutkan, penurunan harga jagung bisa saja terjadi ketika panennya secara serentak di beberapa wilayah. Jika demikian, kata dia, tentu ada kemungkinan harga akan turun. Dalam kondisi ini, Bulog bakal menyerapnya untuk dijual kembali. "Pasti laku, karena memang masih kurang untuk memenuhi kebutuhan jagung," tutur dia.

Di tahun ini, ada lahan seluas 80 hektare di Jawa Barat yang ditanami jagung, termasuk di kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung. Dengan rata-rata produksi satu hektare menghasilkan delapan ton jagung.

Sementara itu, Kepala Badan Karantina Kementan Banun Harpini mengatakan aparat setempat, baik itu Babinsa ataupun petugas dari dinas pertanian yang terlibat pada kegiatan pertanian di suatu daerah, perlu melapor jika ditemukan harga jagung di bawah harga patokan.

"Nanti melalui Bulog akan langsung dibeli agar harga menjadi terkendali, makanya kita ke mana-mana bawa orang dari Bulog untuk memantau harga," kata dia.

Masyarakat Marah Timbangan Beras Bulog Curang

Kamis, 17 Maret 2016


KISARAN, WOL – Proses penimbangan beras Bulog yang akan didistribusikan kepada masyarakat diduga curang. Akibatnya, masyarakat yang merasa ditipu langsung menyerbu kantor Lurah Tebing Kisaran, Kecamatan Kisaran Barat, Rabu (16/3).

Mereka menuntut proses penimbangan dan pendistribusian beras Bulog lebih transparan. Sebab, mereka mengaku harus membayar beras seharga Rp2.000 per kilogram dan masing-masing mendapat jatah 15 kg. Setelah ditimbang, ternyata berat beras Bulog tersebut hanya 13 kilogram.

“Janganlah masyarakat kecil ditipu! Kami membayar, bukan meminta gratis!” seru masyarakat Lingkungan V di Kantor Lurah Tebing Kisaran.

Menurut masyarakat, kejadian ini sudah berlangsung lama, namun masyarakat tetap sabar menerimanya. Ternyata, pengurangan timbangan beras Bulog semakin bertambah. Akibatnya, warga menuntut transparansi dan keadilan.

Lurah Tebing Kisaran, Suryani Limbong, mengatakan pihaknya tidak pernah melakukan pengurangan timbangan. Namun karena minimnya fasilitas, pihaknya tidak menimbang dan membaginya secara rata.

“Saat kami timbang satu karung beras yang disalurkan Bulog seberat 50 kg, ternyata beratnya hanya 44-46 kg setiap karungnya,” papar warga.(wol/aa/waspada/data2)

http://waspada.co.id/sumut/masyarakat-marah-timbangan-beras-bulog-curang/

Panen Raya, Bulog Jateng Buka Pelayanan Pada Akhir Pekan

Rabu, 16 Maret 2016

Bisnis.com, SEMARANG - Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Jawa Tengah (Jateng) bakal melayani petani pada akhir pekan guna memaksimalkan penyerapan beras yang dimulai saat panen raya pada bulan ini.

Saat ini, penyerapan digencarkan karena beberapa daerah di Jateng mengadakan panen raya.

Kepala Bulog Divre Jateng Usep Karyana mengatakan instansinya mendapat penugasan dari pemerintah untuk ikut mengintervensi dan menyerap gabah dari panen raya yang berlangsung dari Maret sampai April ini.

Untuk Publik Service Obligation (PSO), ujarnya, Bulog Jateng diberi anggaran dari pusat senilai Rp4 triliun untuk serapan gabah sebanyak 500.000 ton gabah untuk diserap.

Dana tersebut hanya bisa dipakai untuk membeli 500.000 ton gabah dari petani. Padahal, panen raya di Jateng tahun 2015 berpotensi menghasilkan 11,3 juta ton.

"Biar serapan gabah maksimal, kami berikan pelayanan di akhir pekan," ujarnya, Rabu (16/3/2016).

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta Bulog menyediakan layanan akhir minggu, sehingga, petani tetap bisa melakukan transaksi gabah, walaupun di hari libur.

Permintaan tersebut disampaikan Ganjar untuk menyukseskan Program Serbu Serap Gabah Petani (Sergap) yang dirilis oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

"Selama Maret hingga awal April ini, Bulog harus standby. Bahkan, melakukan layanan khusus pada akhir minggu. Jadi, weekend services-nya dibuka," tegasnya.

Ganjar juga mengingatkan, penyuluh untuk ikut melakukan penyerapan gabah. Apalagi, Menteri Amran Sulaiman sebelumnya sudah memerintahkan agar penyuluh yang akan diangkat, wajib menyerap gabah.

http://industri.bisnis.com/read/20160316/99/528778/panen-raya-bulog-jateng-buka-pelayanan-pada-akhir-pekan

Bulog Karawang Borong Beras Impor

Rabu, 16 Maret 2016

Karawangplus..com – Tatkala Karawang masih jadi andalan pemerintah pusat mendulang beras, kabupaten ini justru malah kekurangan stok pangan utama ini. Tak tanggung-tanggung, Bulog Divre Karawang mengimpor beras Thailand dan Vietnam sebanyak 92 ribu ton. Rupanya, beras-beras luar negeri ini sengaja didatangkan untuk memenuhi kebutuhan Beras Miskin (Raskin).

Kepala Bulog Subdivre Karawang Alexander mengungkapkan total impor beras yang masuk ke Kabupaten Karawang sebanyak 92 ribu ton.”Total impor ke karawang 92 ribu ton. Itu tidak hanya untuk karawang tapi kita juga salurkan ke wilayah lain,” katanya saat ditemui di gudang beras Bulog Rawa Gabus, (10/3).

Alexander menyebut saat ini beras di gudang didominasi oleh beras impor. Beras inilah yang kini jadi tumpuan bagi warga penerima beras miskin. “Tapi tidak selamanya beras  impor. Kita juga suplai untuk Cirebon juga,”imbuhnya

Sementara, ditempat yang sama Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaoeron saat ini bulog tidak bisa berbuat banyak untuk menyerap gabah petani. Mengingat bulog tidak mampu membeli gabah petani diatas Harga Pembelian Pemerintah (HPP.”Bulog hanya boleh membeli Rp. 7300 dan dibatasi oleh HPP. Kalau bulog tidak menyerap gabah masyarakat karena diatas HPP,”ujarnya

Oleh sebab itu, pihaknya mengecek langsung kondisi harga gabah yang ada di lapangan. Mengingat banyak laporan bulog tidak membeli gabah petani. “Saya hanya ingin mengecek karena harga gabah anjlok. Katanya bulog tidak membeli gabah,” imbuhnya

Namun dalam hal ini pihaknya tidak menyalahkan bulog mengingat bulog hanya melaksanakan tugas untuk membeli gabah sesuai HPP. Untuk jalan keluarnya, yaitu terus melakukan impor atau meminta kenaikan HPP.”Solusinya adalah menikan HPP atau impor,”katanya.
Meskipun demikian, pihaknya akan menekankan terlebih dahulu agar pemerintah kenaikan HPP. Mengingat sejauh ini harga gabah yang ada diatas HPP.”Kalau untuk pengadaan tidak ada yang HPP. Solusinya jangan impor dulu tapi minta kepada pemerintah untuk menaikan HPP. Bulog hanya melaksanakan tugas,” tukasnya. (redaksi)

Ada Kerugian Negara, KPK Turun ke Jatim

Rabu, 16 Maret 2016

Persoalan Tata Niaga Beras

Di tengah serbuan barang impor dan banyaknya persoalan tata niaga beras, membuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun tangan. Lembaga anti-rasuah ini bakal serius mentau tata niaga beras di Jatim, mulai Mei mendatang. Seperti apa teknisnya?

Guna memulai tugasnya, KPK telah membentuk tim Satuan Tugas (Satgas) Beras. Tim khusus yang dibentuk awal Maret itu beranggotakan lima orang pegawai KPK dan akan bertugas memperbaiki tata niaga beras. Satgas ini juga bertugas untu memantau beras yang diharapkan bisa menurunkan harga beras karena rantai distribusi beras yang terlalu panjang

“KPK akan turun pada bulan Mei untuk mengecek beras, mana yang benar, BPS (Badan Pusat Statistik) atau petani?. Ini karena sering kali ada perbedaan data,” kata Soekarwo, belum lama ini.

Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Soekarwo mengatakan, salah satu provinsi yang mendapatkan perhatian khusus yakni Jawa Timur. Berdasarkan data yang dirilis KPK, idealnya harga beras saat ini berada di kisaran Rp 7.000 per kilogram (kg). Namun yang terjadi, harga beras saat ini mencapai Rp 11.000 per kg.

Tingginya harga beras itu dinilai berpotensi menyebabkan kerugian negara. Sebab setiap tahun pemerintah membeli beras untuk diberikan kepada masyarakat miskin lewat program beras miskin (raskin) dan harga beras yang dibeli pun ikut melambung dari harga seharusnya.

Satgas Beras akan bekerjasama dengan Bulog dan Kementerian Pertanian (Kemtan) untuk terjun langsung ke pasar beras dan daerah penghasil beras. Dari hasil pantauan di lapangan, Satgas Beras bakal memberikan rekomendasi kebijakan kepada pimpinan KPK untuk ditindak lanjuti pemerintah.

Menanggapi rencana kedatangan KPK itu, Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Jatim, Jumadi mengatakan, Pemprov Jatim telah melakukan sejumlah kebijakan dalam menekan inflasi. Diantaranya Subsidi Ongkos Angkut, serta meningkatkan produksi.

Pemprov bekerjasama dengan Bulog untuk melakukan Subsidi Ongkos Angkut Operasi Pasar, yang dilakukan pada moment-moment tertentu. Semisal pada menjelang puasa hingga lebaran, lalu Natal dan Tahun baru serta ketika terjadi kenaikan harga BBM.

Jumadi menambahkan, sesuai data seharusnya produksi beras di Jatim masih surplus, namun kewenangan dalam melakukan penyerapan beras di Jatim dilakukan Bulog. Bulog sendiri mempunyai tupoksi untuk memenuhi kebutuhan bukan hanya di Jatim melainkan juga Indonesia Timur. "Jadi soal stabilitas pangan, di Jatim sudah surplus tinggal Bulog," tandasnya kemarin. n arf

Rabu, 16 Maret 2016

Fadli Zon Minta Bulog Aktif Beli Gabah Rakyat Tani Saat Panen

Rabu, 16 Maret 2016


Jakarta_Barakindo-Sejak Maret hingga April ini, sebagian daerah sentra produksi padi sudah mulai memasuki musim panen. Hal itu menarik perhatian DPR dalam menyikapi kinerja pengamanan stok pangan nasional oleh pemerintah.

Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, mendorong pemerintah melalui Perum Bulog aktif membeli gabah produksi rakyat tani lokal, terutama pada masa panen raya 2016 ini.

"Memasuki musim panen ini, Perum Bulog harus aktif turun langsung untuk membeli gabah petani. Hal sama juga harus dilakukan oleh Pemerintah Daerah sebagai wujud perlindungan terhadap rakyat tani nasional," kata Fadli dalam siaran pers yang diterima Barak Online Group, Selasa (15/3/2016).

Kata pria yang juga menjabat Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPN HKTI) itu, pembelian gabah langsung ke rakyat tani harus dilakukan agar harga tidak anjlok dibawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

“Jika hanya mengandalkan mitra kerja Perum Bulog, maka kemungkinan rakyat tani tidak akan menikmati HPP akan terbuka lebar," tegasnya.

Lebih jauh, Fadli menjelaskan, langkah Pemkab Ponorogo yang mengalokasikan anggaran untuk langsung membeli gabah rakyat tani patut menjadi contoh. "Jadi, ada baiknya Pemda mengalokasikan anggaran untuk langsung membeli gabah dari rakyat tani," katanya.

Demi mewujudkan perlindungan terhadap rakyat tani, Fadli bahkan mengusulkan agar ada sinergitas antara Perum Bulog dengan Pemda. “Kalau perlu bentuk forum kedaulatan pangan disetiap kabupaten dan kota untuk, “tandasnya. (Red)*

http://beritabarak.blogspot.co.id/2016/03/fadli-zon-minta-bulog-aktif-beli-gabah.html#more