Senin, 02 Maret 2015

Kekarut-marutan Soal Beras

Senin, 2 Maret 2015

Kita yang selalu bangga mengklaim diri sebagai bangsa agraris ternyata tidak pernah meraih kemakmuran dari bidang pertanian.

Kebijakan pertanian yang tepat ialah yang berpihak kepada petani.

HARGA beras yang telah mencapai Rp10.000 per kilogram mem buat rakyat menjerit. Kenaikan harga beras itu mungkin sudah di atas ambang psikologis yang bisa diterima. Mengandalkan beras sebagai pangan pokok berkonsekuensi pada upaya ekstra di bidang pertanian sehingga produksinya bisa mencukupi kebutuhan 250 juta penduduk Indonesia.
Menteri Perdagangan meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah siap dengan operasi pasar, dan itu akan terus dilakukan hingga harga beras turun. Dengan harga beras di tingkat operasi pasar Rp6.800-Rp7.400 per kg, hal itu diharapkan dapat membantu masyarakat agar tetap bisa mengakses beras.

Operasi langsung penjualan beras ada untung ruginya. Menjual langsung beras kepada masyarakat akan mampu meredam gejolak harga karena tidak melewati rantai pasar yang panjang, tetapi kapasitasnya mungkin tidak besar. Bila melalui pedagang, penjualan amat mungkin dapat menjangkau titik-titik yang lebih banyak, tetapi dampaknya bisa tidak efektif karena pedagang akan ikut bermain. Kalau pemerintah akan melakukan penjualan langsung, barangkali itu pilihan yang lebih baik untuk saat ini.

Keputusan pemerintah untuk tidak mengimpor beras menunjukkan keberpihakan kepada petani yang selama ini masih banyak yang dirundung kemiskinan. Sekaranglah saatnya petani harus diberdayakan sehingga kebutuhan dalam negeri akan beras bisa menjadi pasar yang menguntungkan bagi petani. Namun, entah mengapa, harga beras yang tinggi tidak selalu berkorelasi dengan kesejahteraan petani. Dengan kenaikan harga beras saat ini, seharusnya petani bisa menikmati harga gabah Rp6.500 per kg. Namun, kenyataannya, petani hanya menerima hasil penjualan gabah dengan harga stagnan Rp4.500 per kg.Anomali itu yang harusnya ditelaah, mengapa bisa terjadi demikian.

Ekonom pertanian Bustanul Arifin memperkirakan pasar membutuhkan operasi langsung sekitar 300 ribu ton beras per bulan. Namun, dengan prediksi panen raya yang sebentar lagi akan tiba, semoga krisis beras dapat segera diatasi.Pernyataan Menteri Pertanian menyebutkan Januari yang lalu 600 ribu hektare padi telah memasuki masa panen. Adapun Februari sekitar 1,2 juta hektare lahan padi akan panen. Total Januari-Februari ada panen 1,8 juta hektare, atau setara 10 juta-11 juta ton gabah. Artinya akan tersedia beras sekitar 9 juta ton. Itu ditambah lagi Jawa Timur mulai Maret akan panen 500 ribu hektare lahan padi sehingga kondisi perberasan akan segera aman. Dengan masih adanya stok beras nasional sejumlah 1,5 juta ton, stok itu saja diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan enam bulan ke depan.Krisis pangan Kondisi paceklik yang berlangsung lama telah menyebabkan siklus hama terputus.Namun, Kementerian Pertanian sebaiknya tidak lalai untuk melakukan pantauan terusmenerus sehingga potensi panen hingga Maret nanti tetap aman dan bisa terwujud.Krisis pangan harus diwaspadai jangan sampai memunculkan krisis politik.

Kalau rakyat bisa makan dengan kenyang, urusan politik biarlah diurus politisi, para birokrat eksekutif dan legislatif serta pengamat politik di luar lingkaran pemerintahan. Namun, apabila rakyat kelaparan karena harga beras mahal dan pendapatan kurang, kekhawatiran akan ketidakstabilan politik semakin besar.

Beras bagi bangsa Indonesia ialah komoditas strategis karena hampir seluruh rakyatnya makan beras. Kebijakan pertanian harus diupayakan agar bisa memberikan insentif yang menguntungkan bagi petani beras sehingga gairah menanam padi terus tumbuh dan kita menjadi tidak terlalu bergantung pada impor dari luar negeri.

Indonesia ialah negara besar dengan jumlah penduduk mencapai 250 juta jiwa. Negara kita akan mengalami instabilitas yang hebat apabila tidak bisa memacu bidang pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya. Gejolak beras di tingkat internasional akan membahayakan ketersediaan pangan Indonesia, bila kita terusmenerus mengandalkan impor beras. Untuk mengantisipasi krisis pangan, harus ada persepsi bahwa daerah-daerah tetap mempunyai kewajiban untuk mendukung ketersediaan beras nasional. Pemerintah pusat pun harus mempunyai grand design tentang pembangunan pertanian untuk penyediaan pangan nasional. Kepada setiap daerah perlu ditekankan pentingnya menciptakan ketahanan pangan. Isu ketahanan pangan mulai mencuat sejak dirumuskan dalam International Congress of Nutrition di Roma, 1992. Dinyatakan bahwa ketahanan pangan rumah tangga adalah kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kecukupan pangan anggotanya dari waktu ke waktu agar dapat hidup sehat dan mampu melakukan kegiatan sehari-hari.

Masyarakat miskin pasti akan mengalami ketidaktahanan pangan, tetapi mereka yang rawan pangan belum tentu hanya dari golongan miskin. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Batas kemiskinan di Indonesia mungkin ditetapkan dengan cut-off point terlalu rendah sehingga yang dikatakan rumah tangga miskin sebenarnya sudah masuk kategori sangat-sangat miskin dan mereka yang berada sedikit di atas garis kemiskinan sebenarnya sudah sangat miskin.

Ketahanan pangan sebenarnya menyangkut tiga hal penting, yaitu ketersediaan, akses, dan konsumsi pangan. Aspek ketersediaan pangan bergantung pada sumber daya alam, fisik, dan manusia. Pemilikan lahan yang ditunjang iklim yang mendukung dan disertai dengan SDM yang baik akan menjamin ketersediaan pangan yang kontinu. Perangkat lunak berupa kebijakan pertanian/pangan juga sangat menentukan pelaku produksi atau pasar untuk menyediakan pangan yang cukup secara nasional. Sementara itu, akses pangan hanya dapat terjadi apabila rumah tangga mempunyai penghasilan yang cukup.Apabila pendapatan stabil, tetapi harga pangan bergejolak dan mempunyai tendensi naik, akses pangan keluarga juga akan terganggu. Konsumsi pangan pun akan sangat menentukan apakah seluruh anggota rumah tangga nantinya bisa mencapai derajat kesehatan yang optimal.Ada ketidakberesan Di era otonomi daerah pembangunan pertanian harus menggeser paradigma dari pembangunan yang bersifat non-resource based menjadi resource based. Indonesia adalah negara agraris. Oleh karena itu, pemanfaatanresources agraris itu hendaknya dimaksimalkan. Daerah dipacu untuk menghasilkan komoditas pertanian yang bersifat site specific dan laku di pasar. Daerah-daerah penghasil beras dipertahankan, konversi lahan pertanian subur untuk kepentingan industri dan perumahan dihindari.

Krisis pangan yang muncul saat ini bisa menjadi indikator ketidakberhasilan pembangunan pangan. Krisis pangan artinya terjadi ketidakberesan di tingkat produksi, distribusi, dan daya beli (kesejahteraan). Semangat untuk berswasembada pangan (beras) tiga tahun yang akan datang memerlukan persiapan matang, termasuk bagaimana kita bisa meningkatkan penguasaan lahan di tingkat petani padi. Petani-petani guram memikul beban berat bila dipaksa memenuhi target swasembada. Oleh karena itu, pembukaan lahan-lahan baru untuk mendukung sektor pertanian harus segera diwujudkan. Pulau Jawa masih bisa diandalkan sebagai pro dusen padi utama, tetapi jangan abaikan peran pulau-pulau lain untuk menghasil kan padi sehingga menjadi penopang lumbung pangan nasional.

Negara besar seperti Amerika Serikat sebelum menjadi negara industri seperti saat ini berjuang keras selama 100 tahun (1836-1936) untuk memiliki kekuatan di bidang pangan. Setelah menjadi negara maju, mereka tidak melupakan sektor maju, mereka tidak melupakan sektor pertanian. Sampai saat ini Amerika te tap menjadi salah satu lumbung dunia untuk komoditas pangan tertentu.

Perlu disadari di sini bahwa ter cukupinya kebutuhan pangan bagi seluruh anggota masyarakat ialah wujud penerapan HAM di bidang pangan. Namun, hal itu jangan dilakukan dengan mengorbankan petani melalui kebijakan pertani an yang disinsentif. Petani harus tetap mempunyai posisi tawar yang baik sehingga pendapatan nya memenuhi syarat untuk hidup layak.

Di sisi lain, negara wajib menyediakan pangan bagi rakyatnya dengan harga ter jangkau sehingga tujuan akhir berupa terbentuknya masyarakat yang sehat da pat terwujud. Pemerintah telah sejak lama mendis tribusikan raskin (beras untuk keluarga miskin) bagi golongan masyarakat yang kurang beruntung dari segi ekonomi. Dengan harga hanya Rp2.000 per kg, raskin telah menyela matkan jutaan rakyat dari kemungkinan kurang pa ngan akibat harga beras normal yang tinggi.

Harus dipahami, petani tidak bisa hidup tenteram karena kemelaratan, pegawai negeri tak dihormati karena korupsi, dan pedagang pun banyak yang bangkrut karena produknya tak mampu bersaing dengan produk impor. Kita yang selalu bangga mengklaim diri sebagai bangsa agraris ternyata tidak pernah meraih kemakmuran dari bidang pertanian. Kebijakan pertani an yang tepat ialah yang berpihak ke pada petani. Sa lah kebijakan, korbannya ialah per taruhan nasib jutaan petani. Hal itu akan mening katkan jumlah o rang miskin di Indonesia. Fokus pem bangunan pertanian ialah keberdayaan petani, daya saing produk, dan kelestarian lingkungan. Inilah paradigma baru pertanian di abad ke-21.


http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/



Tengkulak Mulai Borong Beras Hasil Panen

Senin, 2 Maret 2015

Keberadaan tengkulak ini memperpanjang rantai perdagangan dan mendongkrak harga beras.

ANCAMAN pidana bagi spekulan be ras sepertinya tidak digubris. Para tengkulak di berbagai daerah telah menyerbu lahan sawah siap panen dan membeli langsung dari petani.
Petani pun tidak memiliki pilihan karena para tengkulak berani membayar tunai dengan harga yang cukup tinggi. Tentu saja, para tengkulak pun mengambil margin atau keuntungan yang cukup tinggi saat menjual kembali ke pedagang.

Serbuan tengkulak ini terjadi di wilayah Banyumas dan Cilacap, Jawa Tengah, yang kini memasuki masa panen. “Para tengkulak asal Jawa Barat ini membawa truk dan langsung membeli gabah petani yang masih ada di sawah,“ ungkap Manajer KUD Patikraja Banyumas, Faturrahman, saat ditemui kemarin.

Menurutnya, tengkulak berani membeli gabah basah dengan harga Rp5.000/kg dan gabah kering Rp5.200/kg. Harga beli langsung ke petani ini cukup tinggi, yang biasanya hanya Rp4.000/kg untuk gabah basah dan Rp4.500/kg untuk gabah kering.

“Karena harga cukup tinggi dari tengkulak, petani tidak lagi bawa hasil panen ke rumah, melainkan langsung membawa pulang uang,“ ujarnya.

Hal ini dibenarkan Sukarto, petani di Rawalo, Banyumas.Menurutnya, petani butuh dana cepat untuk menggarap sawah kembali, selain untuk keperluan rumah tangga. “Biasanya saya jual ke pedagang beras. Namun, karena tengkulak berani bayar tinggi, ya kita jual saja langsung ke tengkulak,“ ujarnya.

Tidak hanya di Jawa, aksi tengkulak juga terjadi di Kabupaten Ku pang, Nusa Tenggara Timur.Para tengkulak ini membeli beras langsung dari penggilingan petani dengan harga Rp8.500/ kg untuk kemudian dijual ke pedagang beras di kota dengan harga Rp9.500/kg. Di tingkat konsumen, harga beras ini dijual bervariasi mulai Rp10.500/ kg hingga Rp11.000/kg.

“Kami di untungkan karena lang sung dapat uang tunai tanpa repot repot mem bawa beras ke pedagang di kota,“ ujar Thomas, petani di Desa Oesao, Kecamatan Kupang Timur, kemarin.Berangsur normal Keberadaan tengkulak ini memperpanjang rantai perdagangan beras dan turut mendongkrak harga. Namun, operasi pasar (OP) beras yang dilakukan peme rintah masih efektif menekan lonjakan harga beras.

Di Pasar Induk Cipi nang, harga beras berangsur normal.

“Sudah turun rata rata Rp1.500/kg hari ini. Untuk beras me dium sudah Rp9.000/kg, beras premium Rp10.500/ kg,“ ujar Billy Haryanto, pedagang beras saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Menurutnya, OP yang dilancarkan Perum Bulog di Pasar Induk Cipinang dengan menggelontorkan 106 ton kemarin berdampak besar. Selain itu, beberapa daerah di Jawa Tengah sudah mulai memasok hasil panennya yang berimbas pulihnya stok beras di Pasar Induk Cipinang. OP beras juga dilakukan di sejumlah daerah, seperti Ciamis (Jabar) dan Bali.Perum Bulog Divre Jawa Timur pun menggelar OP hingga ke pelosok kampung, desa, dan rumah susun.

Terkait dugaan kartel dalam perdagangan beras, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Nawir Messi belum melihat adanya praktik kartel dalam perdagangan beras.

“Berdasarkan pantauan di lapangan, salah satu persoalan mendasar ialah kekurangan pasokan di lapangan,“ ujarnya saat dihubungi, kemarin.

Nawir juga meragukan anggapan ada pedagang yang menahan stok hingga 3 minggu ke depan. Menurutnya, pedagang yang melakukan hal itu sama dengan orang bodoh. “Karena mereka menahan penjualan untuk menderita kerugian akibat oversuplai barang di pasaran nantinya ketika panen raya terjadi,“ tandasnya. (Tim/X-10) liliek@mediaindonesia.com Berita terkait hlm 13



EMAIL
liliek@mediaindonesia.com

http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/

Harga Mahal, Petani 'Tebas' Padi di Sawah

Minggu, 1 Maret 2015

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUMAS -- Tingginya harga beras dan gabah, membuat cukup banyak petani di wilayah eks Karesidenan Banyumas menjual padinya di sawah dengan sistem tebas.
Tanaman padi yang mereka jual secara tebas umumnya tanaman yang tidak lama lagi panen, sehingga harga tebasnya pun relatif tinggi.

"Memang ada petani yang mulai menjual padinya dengan sistem tebas. Namun karena tanaman yang mereka jual secara tebas tinggal dua atau tiga minggu lagi panen, maka harga tebasnya juga cukup tinggi," kata Sekretaris Assosiasi Perberasan (APB) Kabupaten Banyumas, Faturrahman, Ahad (1/3).

Hal ini juga dibenarkan Humas Bulog Sub Divre IV Banyumas, Priyono. Dia menyebutkan, petani menjual padinya dengan sistem tebas karena memanfaatkan kondisi harga gabah dan beras yang saat ini masih tinggi. Karena itu, harga tebasnya juga tidak terlalu rendah.

Untuk itu, kata Priyono, tidak semua pedagang bersedia membeli tanaman padi petani dengan sistem tebas. "Pedagang yang berani membeli dengan sistem tebas, harus benar-benar bisa memperkirakan hasil produksi sawah yang ditebas. Kalau keliru, bisa-bisa malah rugi," katanya.
Faturrahman yang juga menjabat sebagai Manajer KUD Patikraja dan bergerak dalam usaha tata niaga beras, bahkan menyebutkan harga tebas yang dipatok petani saat ini sangat tinggi.
"Kami dari KUD Patikraja tidak berani membeli dengan sistem tebas. Soalnya kami tidak bisa memperkirakan secara pasti berapa hasil gabahnya," katanya.

Dia menyebutkan, dari beberapa kali keliling lahan persawahan di wilayah eks Karesidenan Banyumas, dia mengaku ditawari beberapa petani yang hendak menjual tanaman padinya dengan sistem tebas. Namun harga yang ditawarkan sudah sangat tinggi, sekitar Rp 18 juta hingga Rp 20 juta per bau (8.000 meter persegi).

"Dengan harga tawaran setinggi itu, terus terang kami tidak berani membeli. Soalnya, kalau sudah membeli dengan sistem tebas, berarti semua proses panen sampai angkut, nanti kami yang menangani," katanya.

Untuk itu, Fatur menyebutkan, sampai sekarang pihaknya hanya mau membeli gabah dengan sistem langsung. Baik membeli langsung di sawah dalam bentuk gabah basah, maupun gabah kering. "Risikonya terlalu tinggi bila kami membeli dengan sistem tebas," katanya.

Dia menyebutkan, saat ini harga gabah masih bertahan tinggi. Di sawah, dalam bentuk gabah basah, masih diharga Rp 5.300 per kg. Sedangkan harga gabah kering, masih bertahan pada kisaran Rp 6.500 per kg.
Sedangkan untuk wilayah eks Karesidenan Banyumas, areal persawahan yang mulai panen baru di sebagian wilayah Kecamatan Maos Kabupaten Cilacap, dan sebagian wilayah di Kabupaten Purbalingga.
"Yang panen masih belum terlalu banyak, sehingga harga masih tinggi," katanya.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/03/01/nkj5j6-harga-mahal-petani-tebas-padi-di-sawah

Bulog Bantah Kenaikan Harga Beras karena Ulah Mafia

Minggu, 1 Maret 2015

TEMPO.CO, Jakarta - Tudingan adanya permainan mafia di balik kenaikan harga beras, seperti yang pernah dilontarkan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, dibantah oleh Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik. Menurut Bulog, kenaikan harga beras saat ini lebih disebabkan adanya kekosongan stok selama tiga bulan antara November-Desember 2014 dan Januari 2015.

Direktur Pelayanan Publik Perum Bulog Leli Pritasari Subekti mengatakan Bulog bertugas mengeluarkan 232 ribu ton beras miskin tiap bulan. Namun, pada November-Desember 2014, stoknya tidak ada. "Dan masih berlanjut hingga Januari," kata Leli, Sabtu, 28 Februari 2015.

Leli menjelaskan stok beras pada November dan Desember sudah ditarik terlebih dulu pada Februari dan Maret 2014. Akibatnya, kata Leli, terjadi kekosongan sebesar 462 ribu ton.

Dengan kondisi seperti itu, Bulog hanya bisa menggelontorkan 71 ribu ton beras pada Desember 2014 dan Januari 2015, sehingga kurang efektif dalam menurunkan harga beras. "Hitungannya, 462 ribu stok yang kosong hanya ditutup dengan 71 ribu. Akhirnya, ya, kurang nendang," kata Leli.

Stok yang berkurang ini semakin diperparah dengan terlambatnya pasokan beras pada Januari akibat launching yang baru diresmikan pada 28 Januari 2015. Dengan demikian, total kekosongan stok beras mencapai hampir 700 ribu ton. Selain itu, adanya isu penghapusan raskin berpengaruh secara psikologis maupun administratif terhadap pemerintah daerah.

Terkait dengan kelangkaan stok beras di pasar, pengamat pertanian Khudori juga berpendapat hal itu terjadi karena faktor alam, bukan ulah mafia beras seperti yang disebut Menteri Rachmat Gobel. Faktor alam yang dimaksud ialah musim paceklik yang berlangsung lama, sehingga mengakibatkan mundurnya jadwal panen raya di Indonesia.

Mestinya, kata Khudori, Februari hingga Mei sudah masuk panen raya. Namun, karena hujan datang terlambat, jadwal tanam dan panen ikut mundur 1,5 bulan. Musim pacekliknya lebih lama," kata Khudori.


Minggu, 01 Maret 2015

Bulog: Kenaikan Harga Beras karena Kekosongan Stok

Minggu, 1 Maret 2015

JAKARTA, KOMPAS.com - Perum Bulog mengungkapkan kenaikan harga beras disebabkan kekosongan stok dalam tiga bulan sebelumnya, yakni periode November-Desember 2014 dan Januari 2015.

"Bulog bertugas mengeluarkan 232.000 ton raskin (beras miskin) tiap bulan. Tapi, November-Desember 2014, stoknya tidak ada dan Januari masih seperti itu," kata Direktur Pelayanan Publik Perum Bulog Leli Pritasari Subekti dalam konperensi pers di Jakarta, Sabtu (28/2/2015), seperti dikutip Antara.

Hal tersebut disampaikannya merespons dugaan mafia beras sebagai penyebab kenaikan harga beras belakangan ini.

Leli menjelaskan, kondisi pada akhir 2014 itu, dikarenakan stok November dan Desember sudah ditarik terlebih dahulu pada Februari dan Maret 2014, sehingga menyebabkan kekosongan sebesar 462.000 ton.

Akibatnya, pada Desember 2014 dan Januari 2015, Bulog hanya menggelontorkan 71.000 ton beras, sehingga kurang efektif menurunkan harga.

"Hitungannya, 462 ribu stok yang kosong hanya ditutup dengan 71 ribu, akhirnya ya kurang nendang," kata Leli.

Hal tersebut diperparah dengan terlambatnya pasokan beras pada Januari akibat "launching" yang baru diresmikan pada tanggal 28 Januari 2015. Dengan demikian, total kekosongan stok beras mencapai hampir 700.000 ton.

Selain itu, adanya isu penghapusan raskin juga berpengaruh secara psikologis maupun administratif terhadap pemerintah daerah.

Terkait kelangkaan stok beras di pasar, pengamat pertanian Khudori juga berpendapat bahwa hal itu disebabkan karena faktor alam dan bukan ulah mafia beras seperti yang disebut pemerintah.

Faktor alam yang dimaksud ialah musim paceklik yang berlangsung lama, sehingga mengakibatkan mundurnya jadwal panen raya di Indonesia.

"Mestinya Februari hingga Mei kita sudah panen raya, tapi karena hujan datang terlambat, maka jadwal tanam dan panen ikut mundur sekitar satu hingga 1,5 bulan. Musim pacekliknya lebih lama," kata Khudori.

Presiden Joko Widodo sebelumnya menduga kenaikan harga beras akhir-akhir ini akibat adanya permainan ilegal yang dilakukan oleh oknum tertentu. Menurut Jokowi, permainan ilegal itu ditempuh dengan tujuan Indonesia menggunakan beras impor. (baca: Jokowi: "Feeling" Saya Mengatakan Ada yang Bermain agar Kita Impor Beras)

Meski stok beras nasional saat ini hanya 1,4 juta ton dan sudah dikurangi dengan 300.000 ton beras rakyat miskin (raskin) ke masyarakat, Wakil Presiden Jusuf Kalla menjamin bahwa jumlah stok itu tidak mengkhawatirkan. (baca: Wapres: Stok Beras Nasional Aman)

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/03/01/082805026/Bulog.Kenaikan.Harga.Beras.karena.Kekosongan.Stok

Gandeng Bareskrim dan BIN, Kemendag Usut Praktik Mafia Beras

Sabtu, 28 Februari 2015

Jakarta -Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengendus adanya praktik mafia beras yang memicu kenaikan harga beras. Salah satu indikasi adanya praktik mafia beras adalah, menghilangnya beras operasi pasar dengan harga Rp 7.400/kg.

Kemendag pada beberapa kesempatan menemukan harga beras di pasar umum dengan kualitas medium lebih dari Rp 8.500/kg.

"Kita lihat di dalam penyaluran beras khususnya di dalam pedagang dan distribusinya belum baik. Kemana ini barang, kok menghilang di pasar," ungkap Direktur Bapokstra, Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag Robert J Bintaryo di acara Polemik Sindo Trijaya FM dengan tema 'Harga Beras Tidak Waras' di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (28/02/2015).

Robert memang mengakui ada alasan lain yang menyebabkan harga beras naik tajam. Seperti tidak dilakukan pembagian beras miskin (raskin) pada November-Desember 2014 yang menyebabkan kepanikan masyarakat.

"Memang kita akui, salah satu faktor kenapa terjadi gejolak harga ada unsur spekulasi. Kenapa harga beras tahun ini meningkat cukup tajam? kita tahu beras raskin untuk 15,5 juta RTS (Rumah Tangga Sasaran) tidak dibagikan. Bila ini tidak tersedia, maka rakyat masuk ke pasar," paparnya.

Untuk mencari kebenaran terkait simpang siur kenaikan harga beras, Kemendag telah menggandeng Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Badan Intelijen Negara (BIN) dan Lembaga Surveyor. Tugas utama ketiga lembaga ini menyelidiki sekaligus mengudit gudang beras yang ada di seluruh Indonesia.

"Kita besok turun ke lapangan dengan tim audit yang sudah dibentuk. Bareskrim dan BIN juga akan turun. untuk mendapatkan data detil termasuk mekanisme distribusi, apakah ada kemungkinan praktik penyimpangan, khususnya untuk beras Bulog," jelasnya.

(wij/rrd)

http://finance.detik.com/read/2015/02/28/162315/2845744/4/gandeng-bareskrim-dan-bin-kemendag-usut-praktik-mafia-beras

Jokowi Instruksikan Tangkap Kartel dan Mafia Beras

Sabtu, 28 Februari 2015

Ada yang bermain dengan tujuan agar Indonesia impor beras.

VIVA.co.id - Melonjaknya harga beras dalam sepekan terakhir terjadi karena beberapa masalah. Hal itu diungkapkan Presiden Joko Widodo di sela-sela blusukannya ke pasar-pasar di Jakarta, Sabtu siang, 28 Febuari 2015.

Menurut Jokowi, masalah yang dia maksud adanya ketidaknormalan di lapangan terkait manajemen distribusi dan panen yang terlambat. Selain itu, ada saja kartel dan mafia beras yang memanfatkan situasi seperti saat ini. Ia menyatakan, akan menelusuri siapa yang membuat ketidaknormalan distribusi beras ini.

"Apakah manajemen di Bulog atau ada yang bermain, ada manajemen yang mengatur entah kartel atau siapapun akan kita cari," kata Jokowi di Pasar Pagi Rawamangun, Jakarta Timur.

Jokowi menambahkan, tidak akan ada impor beras karena masa panen raya akan segera tiba. Ia yakin bahwa harga beras akan segera turun dalam waktu satu hingga dua minggu lagi.

"Orang melihat stok Bulog seperti apa tetapi juga ini feeling saya mengatakan ada juga yang mau bermain. Ada yang mau bermain dengan tujuan agar kita impor. Saya sampaikan tidak ada impor. Karena sebentar lagi kita panen," katanya.

Jokowi menekankan bahwa ia akan melakukan tindakan tegas bagi siapapun yang mengganggu perekonomian bangsa. Setelah diidentifikasi, pihak-pihak yang mengganggu akan langsung ditangkap dan dikenakan pidana.

"Kalau ada yang mengganggu perekonomian, apalagi ini masalah bahan pokok, siapapun yang ganggu saya perintahkan tangkap. Saya pastikan itu," ujarnya di depan para pedagang dan pengunjung pasar.

http://nasional.news.viva.co.id/news/read/595756-jokowi-instruksikan-tangkap-kartel-dan-mafia-beras