Rabu, 24 Juni 2015

Bulog Gandeng Koperasi di Sentra Padi

Selasa,  23 Juni 2015

JAKARTA - Perum Bulog menggandeng koperasi di seluruh Indonesia dalam rangka menyerap gabah dan beras dari petani.

Hal ini dilakukan untuk mengejar defisit penyerapan gabah dan beras. Diketahui, hingga 16 Juni lalu, serapan beras Bulog baru mencapai 1,3 juta ton. Jumlah ini masih jauh dari target yang dicanangkan Presiden Joko Widodo yang tahun ini dipatok 4 juta ton.

”Perum Bulog akan mengakselerasi atau mempercepat serapan dengan meminta bantuan Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah untuk membantu membuka akses ke petani,” ujar Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti dalam keterangan tertulisnya kemarin.

Dalam rangka kerja sama tersebut, kata Djarot, dilakukan Rapat Koordinasi Perkembangan Produksi dan serapan gabah/ beras 2015 bersama Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga dan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman di Kantor Kementerian Pertanian, Selasa (16/6) lalu.

Amran Sulaiman mengatakan, arah politik pangan di era Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla bahwa kedaulatan pangan menjadi prioritas pemerintahan. Untuk itu, setidaknya ada lima strategi dasar yang harus dilakukan, antara lain pengembangan usaha tani berbasis agrobisnis dan agroindustri.

Selain itu, peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani, revitalisasi dan penguatan kelembagaan petani, pengembangan teknologi tepat guna berbasis kearifan lokal melalui revitalisasi dan penguatan lembaga riset, serta pembangunan infrastruktur pertanian dan pedesaan. ”Strategi dasar itu harus mencapai sasaran kebijakan di level petani, lahan, infrastruktur, teknologi, industri, benih, dan kelembagaan,” kata Amran.

Puspayoga melanjutkan, keseimbangan pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan hasilhasil pembangunan dinilai penting sehingga perlu dilakukan revitalisasi dan penguatan koperasi sebagai kelembagaan ekonomi petani dalam peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.

”Ribuan koperasi siap bekerja sama dengan Bulog dalam mendukung pencapaian serapan 2 juta ton gabah di bulan Juni-Juli 2015,” ujarnya.

Oktiani endarwati

http://www.koran-sindo.com/read/1015856/150/bulog-gandeng-koperasi-di-sentra-padi-1435028794

Bulog Pede Punya 4 Juta Ton Beras Tanpa Impor

Selasa, 23 Juni 2015

JAKARTA - ‎Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) optimistis mampu mencapai target beras sebanyak 4 juta ton hingga akhir 2015. Perseroan pelat merah itu bahkan berani menggaransi mampu melakukannya tanpa impor.

Pasalnya, Bulog mendapatkan tambahan stok sebanyak dua juta ton sepanjang Juni hingga Juli. Stok beras tersebut didapat dari serapan sentra beras yang ada di seluruh tanah air.

"Jadi saya yakin sampai akhir tahun bisa dapat stok empat juta ton beras karena petani kita bisa menyediakan beras itu. Jadi enggak perlu impor demi ketahanan pangan kita," ujar Direktur Pelayanan Publik Perum Bulog, Wahyu Suparyono di Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (23/6).

Wahyu juga memastikan stok beras selama enam bulan ke depan tetap aman. Saat ini, Bulog masih memiliki cadangan beras sebanyak 1,4 juta ton. "Itu cukup hingga enam bulan ke depan dengan syarat pengadaan terus berjalan," kata Wahyu. (chi/jpnn)

Catat! Bulog Jamin tak Ada Lagi Beras Berkutu

Selasa, 23 Juni 2015

JAKARTA - Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) berupaya memperbaiki kualitas produknya. Perusahaan pelat merah ini bahkan menjamin tak ada lagi beras berkutu maupun yang berkualitas buruk.‎

Direktur Pelayanan Publik Perum Bulog Wahyu Suparyono mengatakan, pihaknya akan meninjau seluruh gudang Bulog yang saat ini berjumlah 1.500 gudang.

"Direksi telah sepakat akan kami perbaiki semua, termasuk manajemen gudang dan manajemen SDM. Supaya tidak ada beras berkutu lagi," ujar Wahyu saat ditemui di Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (23/6).

Selain itu, akan dilakukan penyemprotan dan pemrosesan kembali untuk memastikan beras lebih bermutu dan layak dikonsumsi. Sebab, kualitas gudang juga harus memenuhi sertifikat ISO dan harus bebas dari kuman.

Di samping itu, Bulog juga akan terus mendukung hasil produksi petani lokal dalam mencapai ketahanan pangan dalam negeri. "Kami akan terus perdayakan para petani dalam negeri," tandas Wahyu. (chi/jpnn)

Selasa, 23 Juni 2015

Bulog Berharap Daging Impor Mampu Turunkan Harga

Selasa,  23 Juni 2015
 
JAKARTA - Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) berharap, dengan dibukanya keran impor daging potongan sekunder (secondary cut) sebanyak 1.000 ton akan mampu menekan harga daging di pasaran selama puasa dan Lebaran.

Direktur Pelayanan Publik Bulog Wahyu Suparyono mengungkapkan, lisensi impor telah diterbitkan Kementerian Perdagangan (Kemendag) pada 11 Juni 2015. Namun, saat ini belum direalisasikan.

"Belum turun (impor daging). Baru kita bagi-bagi PPI berapa, Berdikari berapa, dan RNI berapa," tuturnya di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (23/6/2015).

Daging impor ukuran secondary cut tersebut rencananya bakal didatangkan dari Australia untuk memenuhi kebutuhan Puasa dan Lebaran. "Iya untuk kebutuhan puasa dan lebaran. (impor) dari Australia," pungkasnya.

Dia mengatakan, alokasi 1.000 ton daging impor tersebut rencananya tidak hanya digarap Bulog. Namun juga menggandeng beberapa perusahaan pelat merah lain, seperti PT Berdikari (Persero), PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero).

Perbaiki Gudang, Bulog Ingin Tak Ada Lagi Beras Berkutu

Selasa, 23 Juni 2015

JAKARTA, KOMPAS.com — Perum Bulog berencana melakukan perbaikan gudang-gudangnya di seluruh Indonesia. Dengan perbaikan itu, mereka berharap tak ada lagi beras berkutu.

"Direksi sepakat akan kami perbaiki semua, manajemen gudang, manajemen SDM. Jumlahnya lebih dari 1.500 gudang di seluruh Indonesia. (Nanti) tidak ada beras berkutu lagi dengan perbaikan gudang," ujar Direktur Pelayanan Publik Bulog Wahyu Suparyono di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (23/6/2015).

Dia menuturkan, perbaikan gudang itu nantinya harus memenuhi standar International Organization for Standardization (ISO) sehingga tingkat sterilisasinya baik. Dengan begitu, mutu beras yang disimpan di gudang itu akan tetap terjaga.

"Iya, itu (gudang) harus kami perbaiki. Saya akan tinjau tiap-tiap gudang, kami akan lakukan spraying (penyemprotan), reprocessing, supaya beras kita mutunya layak konsumsi," kata dia.

Terkait stok beras Bulog, dia mengatakan bahwa jumlah itu cukup. Pasalnya, stok beras pada saat ini adalah 1,4 juta ton, dan bisa digunakan untuk 6 bulan ke depan. Di sisi lain, untuk meningkatkan stok beras, Bulog akan terus memanfaatkan beras dari petani.

"Tidak usah khawatir, lebih 1,4 juta ton beras, bisa sampai 6 bulan. Meski begitu, kami pengadaan terus. Bahkan, Juni-Juli ini (akan mencapai) 2 juta ton pengadaannya," ucap Wahyu.

"(Soal rencana impor), kami sepakat harus dengan mendayagunakan petani kita. Ketahanan pangan harus dari dalam negeri karena itu jati diri bangsa. (Beras) dari petani cukup," tandas dia.

Bulog Pastikan Tahun Depan Tidak Ada Raskin

Selasa, 23 Juni 2015


Jakarta, HanTer - Direktur Pengadaan Bulog, Wahyu, mengatakan, tahun depan beras raskin sudah tidak ada lagi karena Bulog membagi tiga jenis beras yang akan diproduksi.

"Pertama, beras medium. Kedua, beras premium dan terakhir, beras super. Sebelumnya, beras yang diproduksi Bulog adalah beras raskin, beras medium dan beras premium," katanya, Senin (22/6).

Selain itu, beras raskin tidak lagi diberikan dalam bentuk eceran, tapi kemasan. "Dalam proses pengarungan beras, Bulog akan melakukan pemeriksaan saat beras dikemas. Jika sebelumnya untuk beras raskin sebanyak 15 kg per bulan akan dikemas," jelasnya.

Jadi ke depan tidak ada perbedaan antara beras raskin dengan beras cadangan pemerintah ataupun beras untuk operasi pasar.

Semua beras Bulog berkualitas bagus dan sama. Pembedanya adalah bobot atau berat beras per kemasan. Bulog akan mengeluarkan tiga jenis beras dengan tiga kemasan, yakni berat 15 kg, 50 kg dan 100 kg.


(Anu)

Stabilisasi Harga Pangan

Selasa, 23 Juni 2015

New England Complex Systems Institute, Cambridge, Amerika Serikat, melakukan studi menarik berkaitan dengan krisis pangan dengan ketidakstabilan politik di Afrika Utara dan Timur Tengah. Secara teori, kerusuhan sosial merupakan refleksi dari berbagai faktor utama, di antaranya kemiskinan, pengangguran, dan ketidakadilan sosial.

Ketiga faktor tersebut merupakan buah dari kegagalan sistem politik pemerintah dalam jangka panjang. Berbeda dengan teori tersebut, New England Complex Systems Institute (NECSI) menemukan bahwa kerusuhan sosial terjadi karena kegagalan pemerintah dalam jangka pendek untuk memberikan jaminan keamanan bagi penduduknya, yang dapat berupa proteksi terhadap ancaman dari luar hingga jaminan kecukupan pangan.

Pada tahun 2008 dunia mengalami krisis pangan yang ditandai dengan kenaikan harga jagung, kedelai, beras, dan gandum. Harga pangan meningkat rata-rata 75 persen dibandingkan dengan tahun 2000, beberapa bahkan 200-300 persen. Krisis pangan 2008 menimpa 37 negara berkembang di dunia, termasuk Indonesia. Indonesia kemudian dikeluarkan dari daftar itu karena iklim kemarau basah yang menyelamatkan produksi padi tahun tersebut. Tercatat 60 kerusuhan sosial terjadi di 30 negara di dunia dan 84 orang meninggal.

Pada tahun 2009 kondisi stok pangan dunia pulih dan indeks harga pangan turun drastis dari 220 menjadi 140. Masa bulan madu tersebut tidak berlangsung lama, pada tahun 2010 indeks harga pangan sudah berada di posisi ke-170. Pada tahun tersebut NESCI membuat laporan tentang bahaya krisis pangan dan keterkaitan erat antara harga pangan, kerusuhan sosial, dan instabilitas politik (Lagi dan Bar-Yam, 2010). Dunia membiarkan harga tetap liar dan indeks harga pangan tahun 2011 menorehkan rekor tertinggi sepanjang sejarah, yaitu 230, melampaui titik kritis sebesar 210.

Indeks harga pangan yang tinggi tersebut dengan segera melibas banyak negara berkembang terutama yang sangat tergantung pada impor pangan di Afrika Utara dan Timur Tengah. Banyak rezim dan pemerintahan di wilayah tersebut runtuh. Kejadian itu dikenal dengan istilah Arab Spring (Musim Semi Arab) yang dalam perjalanannya tidak lagi berupa "musim semi", tetapi musim kehancuran politik, ekonomi, kohesi sosial, infrastruktur, dan bahkan hancurnya berbagai peninggalan peradaban manusia yang agung.

Di tahun tersebut dalam tempo yang sangat singkat belasan ribu orang meninggal di Libya dan di negara-negara lain. Pada tahun-tahun berikutnya kekacauan tereskalasi yang menyebabkan ratusan ribu orang meninggal dan jutaan terpaksa meninggalkan negaranya. Kondisi tersebut semakin memburuk dan tidak tersembuhkan sampai saat ini.

Stabilisasi harga

Berkaitan dengan uraian di atas, sangat tepat apa yang disampaikan Presiden Jokowi yang menaruh perhatian khusus terhadap potensi krisis/rawan pangan dan upaya stabilisasi harga pangan. Dua peraturan presiden (perpres) disusun, yaitu Perpres tentang Penetapan Harga dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting serta Perpres tentang Badan Pangan Nasional.

Pada perpres pertama yang telah ditandatangani Presiden Jokowi, pemerintah akan melakukan pengawasan dari produksi, distribusi, hingga di tangan konsumen jenis barang kebutuhan pokok dan barang penting. Jenis barang kebutuhan pokok yang akan diatur adalah beras, kedelai bahan baku tahu dan tempe, cabai, bawang merah, gula, minyak goreng, tepung terigu, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan bandeng, ikan kembung, dan ikan tongkol/tuna/cakalang (Setkab, 18/6/2015).

Perpres kedua tentang Badan Pangan Nasional merupakan turunan Undang- Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pangan yang mengamanatkan pembentukan lembaga pemerintah yang menangani bidang pangan yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Lembaga tersebut memiliki enam fungsi utama, yaitu fungsi perumusan kebijakan, pelaksanaan dan supervisi, pemantauan dan evaluasi, pengelolaan data dan informasi pangan, serta pembinaan dan pengawasan. Badan Pangan Nasional akan mengoordinasikan aktivitas badan usaha milik pemerintah dari produksi, pengadaan, penyimpanan, distribusi, hingga stabilisasi harga pangan pokok.

Sulit diharapkan bahwa kedua perpres tersebut akan efektif dalam jangka pendek untuk meredam gejala kenaikan harga yang terjadi saat ini ataupun menjelang Lebaran nanti. Dalam jangka panjang, kedua perpres tersebut berpotensi bertabrakan satu sama lain karena mengurus hal yang hampir sama sehingga memicu masalah dalam koordinasi dan tumpang tindih kebijakan antar-kementerian dan lembaga terkait.

Intervensi sektor pangan

Selama 30 tahun terakhir ini, rekomendasi lembaga-lembaga internasional berkaitan dengan kebijakan stabilisasi harga pangan hampir selalu mengacu pada tiga hal: 1) hindari intervensi langsung terhadap pasar melalui integrasi sistem pangan nasional ke sistem pangan global dan liberalisasi pasar, 2) bantu masyarakat kurang mampu melalui jaring pengaman sosial, dan 3) promosikan instrumen manajemen risiko berbasis pasar (Gouel, 2015).

Tiga kaidah tersebut secara masif telah diadopsi pemerintah selama 15 tahun terakhir ini. Melalui adopsi tersebut, dengan cepat peran pemerintah dalam mengatur dan mengendalikan pangan diambil alih oleh kalangan swasta. Semakin lama swasta yang bergerak di sektor pangan semakin besar dan kuat. Importir juga memainkan peran yang semakin lama semakin besar. Hal itu yang menyebabkan terpuruknya sektor pertanian pangan di Indonesia, terjadi fluktuasi harga pangan yang cukup tinggi, dan peningkatan impor pangan sebesar 346 persen selama 10 tahun terakhir ini.

Berbeda dengan saran dan rekomendasi analis kebijakan dan lembaga pangan dunia, negara-negara yang terbukti mampu menjaga stabilitas harga pangan dan pejal terhadap krisis pangan justru yang melakukan intervensi sangat kuat terhadap sektor pangan, stok dan perdagangan pangan, misalnya India dan Tiongkok.

Manmohan Singh awal tahun 2009 berhasil terpilih lagi menjadi perdana menteri India karena kesuksesannya melindungi India dari krisis pangan tahun 2007/2008. Ketika harga beras dunia meningkat 160 persen, harga beras di India hanya meningkat 7,9 persen (Gouel, 2013).

Sejarah kebijakan stabilisasi harga pangan antara India dan Tiongkok dengan Indonesia sangat berbeda. Kedua negara tersebut menjalankan kebijakan stabilisasi harga sudah sangat lama dan secara konsisten dijalankan. India mengawali sejak tahun 1955 dengan mengeluarkan The Essential Commodities Act yang praktis tidak berubah kecuali amandemen kecil terkait dengan jenis dan jumlah barang yang dilindungi. Undang-undang tersebut memberikan dasar hukum yang kuat bagi pemerintah dan sanksi yang tegas bagi yang melanggarnya.

Di Tiongkok pada awalnya pangan pokok hanya boleh dibeli dan dijual oleh pemerintah. Meskipun telah berubah, sektor pangan tetap menjadi salah satu sektor yang secara ketat dikendalikan oleh pemerintah. Dengan demikian, dari sisi legislasi pengendalian harga melalui perpres tidak cukup kuat, apalagi terjadi disharmoni antara satu peraturan dan peraturan lain. Pembentukan kelembagaan pangan yang kuat dengan kewenangan besar jauh lebih penting dari sekadar penerbitan perpres pengendalian harga.

Hal lain yang sangat penting, setiap kebijakan terkait pengendalian harga pangan tidak akan pernah berjalan apabila sisi produksi tidak dibenahi. India mampu melakukan pengendalian harga beras melalui pelarangan ekspor beras non-Basmati sehingga terjadi peningkatan stok domestik. Di Indonesia, stok beras justru terus menurun selama tiga tahun terakhir ini, dari 7,4 juta ton (awal tahun 2013), 6,45 juta ton (2014), menjadi 5,5 juta ton (2015), dan diperkirakan akan menurun lagi sebesar 15 persen pada akhir tahun 2015 (DA Santosa, "Waspada Pangan 2015", Kompas, 10/3/2015).

Selama ini pembenahan sisi produksi selalu top-down dan bersifat charity melalui bagi-bagi pupuk, benih, traktor, pompa air, serta alat dan mesin pertanian (alsintan) lainnya. Kebijakan tersebut terbukti tidak efektif, yang dicirikan dengan stagnasi produksi dan impor yang membesar. Kebijakan perlu fokus ke peningkatan kesejahteraan dan kedaulatan petani. Ketika kesejahteraan petani meningkat, kegairahan bertani dan ketertarikan di dunia pertanian meningkat sehingga produksi secara otomatis meningkat.

Apabila sisi produksi tidak berhasil dibenahi, upaya stabilisasi harga pangan akan jadi "isapan jempol belaka".

DWI ANDREAS SANTOSA GURU BESAR IPB; KETUA UMUM ASOSIASI BANK BENIH DAN TEKNOLOGI TANI INDONESIA (AB2TI)

http://epaper1.kompas.com/kompas/books/150623kompas/#/6/